Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Thursday, 14 July 2011

Gagal Menggapai Puncak

Sabtu, 18 Juni 2011. Hari itu aku diajak oleh kakak keponakanku untuk mendaki Merbabu melalui jalur Wekas. Otomatis aku menyetujuinya, karena ini adalah kesempatan yang tergolong langka bagiku. Perjalanan menuju puncak Merbabu kali ini adalah perjalanan ke 2 kalinya setelah pada tahun sebelumnya aku juga mengadakan perjalanan ke puncak Merbabu bersama 2 orang temanku. Karena sudah pernah berhasil menggapai puncak Merbabu sebelumnya, maka aku merasa siap menghadapinya, persiapanpun ku lakukan hampir seperti persiapan sebelumnya. Namun persiapan itu ternyata masih kurang, dan merupakan sebuah kesalahan besar menganggap diriku sudah siap untuk menggapai puncak Kenteng Songo (puncak Merbabu) saat itu. Sangat disayangkan, aku tak melakukan persiapan fisik yang dekat dengan hari-H karena 2 minggu itu aku sedang menghadapi ujian maka tidak sempat melakukan olah fisik yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mendaki gunung. Akibatnya nanti akan diceritakan…

 (Merbabu)

            Sabtu sore aku bersiap-siap, karena sudah setahun tidak muncak ditambah dengan tas carrier yang baru pertama kali digunakan, aku sempat kesulitan packing sehingga membutuhkan waktu agak lama, namun akhirnya kelar juga. Akupun berangkat sore petang, bersama kakak sepupu menggunakan sepeda motor menuju Wekas. Setibanya di sana udara cukup dingin, namun aku merasa rindu dengan dingin yang seperti itu setelah sekian lama merindukan kegiatan mendaki gunungl. Hari itu di base camp penuh dengan pendaki dari berbagai daerah, setelah makan dan berdoa, aku dan kakak sepupuku mulain melangkah menuju puncak Kenteng Songo.
            Pemandangan malam itu sungguh indah, saat menengok ke belakang pemandangan yang spektakuler tersaji. Bintang-bintang tak hanya bertebaran di langit, namun di bawah cahaya lampu kota Magelang bagaikan bintang-bintang yang berwarna-warni, sementara cerahnya malam itu membuat Gunung Sumbing-Sindoro terlihat samar di langit malam. Bulan purnama mengintip dari celah-celah pepohonan menambah indahnya malam pendakian itu, rasanya makin bersemangat untuk terus melangkahkan kaki menuju puncak.
            Perjalanan terasa menyenangkan pada awalnya, namun entah mengapa lama kelamaan jantung ini berdetak begitu kencang, kencang sekali sampai seperti pindah ke belakang telinga, mungkin karena aku tak sempat klimatisasi (penyesuaian terhadap iklim gunung) juga minimnya latihan fisik selama 2 minggu sebelumnya. Jdinya aku sering beristirahat untuk menenangkan detak jantung saat detaknya bagiku terlalu kencang. Sungguh tidak menyenangkan rasanya.
            Tak kusangka, sekian lamanya vakum mendaki gunung membuatku kaget saat melintasi tanjakan-tanjakan di Merbabu malam itu, ditambah dengan jalan yang berdebu membuat perjalanan semakin berat, walaupun begitu semangatku masih membara untuk bisa menggapai puncak. Semakin lama berjalan semaki tinggi pula tempat yang kupijak, akupun bertemu dengan rombongan dari UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Pertama-tama aku tak begitu mempedulikan mereka, aku dan keponakanku tetap terus melaju sambil member salam, namun karena kecepatan kami melambat akhirnya kami berjalan bersama dengan mereka, lumayan karena berjalan dengan kelompok akan lebih mengurangi rasa lelah karena mereka mewarnai perjalanan kami dengan canda tawa.
            Kamipun terus melangkah, akhirnya kami melewati jalan dengan pipa-pipa air di tepinya, salah satu orang dari rombongan UII tersebut mengatakan bahwa sebentar lagi kita akan tiba di pos 2 dan bisa segera beristirahat. Satu hal yang tidak aku sangka-sangka, ketika beberapa dari kami beristirahat sejenak tiba-tiba saja angin dingin berhembus sebentar saja, namun meski sebentar angin itu mampu membuat kami semua menggigil kedinginan, padahal saat kami berjalan tadi udara tidak sedingin itu, salah satu dari rombongan pun mengatakan bahwa di pos 2 nanti udara akan sangat dingin. Yah, akupun bersiap-siap, sarung tangan yang kubeli di base camp tadi pun segera kupakai.
            Tak lama kami melangkah, tibalah kami semua di pos 2. Pos 2 jalur Wekas ini berupa sebuah dataran yang sangat luas yang dikelilingi oleh tebing-tebing puncak gunung Merbabu, saking luasnya, di pos ini mingkin bisa untuk mendirikan banyak tenda. Sesampainya di pos 2 pemandangan indah di bawah selimut langit yang bertabur bintang memang menyambut kami, namun udara yang sangat dingin seolah mencegah kami untuk menikmatinya. Ya udara benar-benar sangat dingin, dingin sekali, inilah udara terdingin yang pernah aku rasakan, aku samasekali tak menyangka, pendakianku yang sebelumnya ke Merapi, Lawu dan juga ke Merbabu tak pernah kujumpai udara sedingin ini. Kami segera bergegas untuk membuat api, pertama-tama bahan untuk dibakar seperti ranting kayu, dedaunan, dan lain-lain harus dikumpulkan, kamipun segera menerobos dinginya malam itu untuk mencarinya, sungguh berat usaha untuk mengumpulkan ranting-ranting tersebut di bawah udara yang sangat dingin. Setelah berusaha keras, akhirnya terkumpul juga bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat api unggun, namun belum selesai karena untuk menyalakanya juga sangat sulit, ranting-ranting dan dedaunan yang kami kumpulkan kondisinya agak basah oleh kabut, tapi akhirnya berhasil juga dengan parafinku dan air spirtus dari rombongan kakak-kakak UII, rasanya enak sekali mandapat kehangatan dari api unggun itu. Setelah menghangatkan diri kami mulai membuat makanan dan minuman untuk lebih menghangatkan diri, setelah itu kami memutuskan untuk beristirahat saja. Tidur di udara sangat dingin sangat tidak nyaman, berbeda sekali dengan tidur di atas kasur yang empuk dalam kamar yang hangat, terlebih lagi aku tidak membawa sleeping bag sehingga aku makin kedinginan, untunglah ada kakak dari UII yang meminjamkan sleeping bag nya karena ia tidak bisa tidur, yasudah aku pakai.., terima kasih banyak, akan tetapi meski sudah mengenakan sleeping bag udara dingin masih tetap membuatku menggigil kedinginan, benar-benar dingin udara saat itu, apalagi saat kabut mulai turun.
                   Malam yang dingin perlahan berganti dengan pagi. Akupun terbangun dari tidurku, namun badanu benar-benar tidak enak sekali rasanya, kepalaku pusing sekali ditambah dengan nyeri di sekujur tubuh, sepertinya aku terkena demam karena udara dingin semalam. Samar-samar di atas dedaunan terlihat embun yang membeku, benar-benar dingin udara malam tadi bahkan ada yang bilang bahwa suhu udara malam tadi mancapai -5 derajad celcius. Pemandangan di pos 2 ini memang indah, tebing-tebing hijau di sekelilingnya terlihat cantik di bawah langit biru, sementara di sebelah barat gunung Sumbing dan Sindoro juga terlihat menawan bermandikan cahaya matahari pagi. Namun fisik yang payah membuatku tak bisa full menikmatinya.

 (Tebing di sekeliling pos 2)

(Sumbing-Sindoro)

(Pos 2 Merbabu <Wekas>)

(Pos 2 Merbabu <Wekas>)

 (Teman-teman UII)

Karena sudah terlanjur melangkah jauh semalam, aku tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, namun kondisi badan sungguh tidak enak untuk berjalan apalagi membawa tas carrier yang cukup berat. Sungguh berbeda dengan perjalanan semalam menuju pos 2 di mana aku bisa berjalan dengan lincah. Kali ini aku berjalan lunglai sekali, seluruh tubuhku terasa sakit terutama di bagian persendian dan cepat sekali lemas, sehingga harus banyak istirahat. Untunglah ada kakak dari UII yg mau mendampingiku, sebenarnya aku sudah menyuruhnya untuk berjalan duluan, namun beliau tetap mendampingi perjalananku yg terkesan sangat lambat ini.
            Setelah sekian lama berjalan, akhirnya aku sampai di pertemuan 3 jalur Kopeng yaitu dari Thekelan, Cunthel, dan Wekas. Setelah istirahat beberapa menit, akupun memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan menuju punca, namun rombongan dari UII memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka sampai di sini saja karena fisik mereka ternyata juga drop akibat udara dingin semalam dan bekal mereka juga sudah menipis, yah tinggal aku dan keponakanku saja yang tetap lanjut. Sebenarnya keputusanku untuk tetap melanjutkan perjalanan ini tergolong nekat, namun karena aku merasa kondisi tubuh sudah agak baikan akupun nekat melaju. Ternyata itu adalah keputusan yang salah…..

(teman-teman UII)

(Selepas pos 2)

(Selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)

(Selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)

(selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)


(Selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)


(Selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)


(Pos Pemancar)


(selepas pertemuan 3 jalur Kopeng)



Sebuah kesalahan karena aku telah memaksakan fisikku yang sudah payah ini untuk terus melaju. Semakin tinggi ketinggian yang kudapat, kembali kondisi fisik drop. Sampai pada akhirnya fisikku sampai pada batasnya. Rasanya semakin sakit setiap sendi-sendi di tubuhku, serta detak jantung yang baru sebentar berjalan sudah berdetak kencang sekali, bahkan hanya berdiri pun jantung sudah berdetak kencang sekali. Akhirnya aku akhiri perjalananku, padahal sedikit lagi aku bisa mencapai puncak Merbabu, benar-benar mengecewakan.
            Perjalan turun terasa berat bagiku, mungkin dengan kondisi fisik yang fit perjalanan turun tidak akan terasa berat, namun dengan kondisi fisik yang payah benar-benar berat rasanya. Perjalanan turun yang sebenarnya bisa ditempuh dengan cepat tidak berlaku bagiku. Saat matahari tenggelam aku baru bisa mencapai base camp Wekas.
Benar-benar merupakan suatu kekecewaan, namun melalui kegagalan ini aku mendapatkan banyak pelajaran berharga.
  1. ·         Paling utama, jangan pernah remehkan alam walaupun kau pernah berhasil ke sana.
  2. ·         Jangan merasa fisik sudah sanggup, terus latih fisikmu agar benar-benar siap saat mendaki
  3. ·         Jangan memaksakan diri apabila kondisi fisik sudah payah
  4. ·         Safety first, Tenda dan Sleeping Bag sangat penting saat melakukan pendakian.
  5. ·         Perlunya obat-obatan untuk mengatasi fisik yang drop.
Semoga dapat dijadikan pelajaran..


No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda