Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Monday, 21 November 2011

Menggapai Hargo Dumilah 3265 MDPL

 PROLOG

            15 Oktober 2011. Sabtu itu mungkin berjalan seperti biasanya bagi kebanyakan orang, namun tidak dengan aku. Pada hari itu SMA Negeri 4 Surakarta mengadakan sebuah acara yaitu pendakian massal ke Gunung Lawu yang merupakan acara tahunan ekstra kurikuler Plasma (nama ekskul pecinta alam di SMA 4) yang dibuka untuk umum. Bagiku ini sebuah kesempatan untuk bisa kembali merasakan puncak sekaligus mencegah agar 2011 tidak menjadi “tahun tanpa puncak”, setelah beberapa pendakian yang sebelumnya yaitu ke Merbabu dan Sumbing selalu kandas tidak sampai puncak karena sakit dan yang satu lagi karena kehabisan air. Seharusnya tak ada masalah jika saja saat itu aku masih menjadi siswa SMA 4, namun karena sudah 2 tahun yang lalu lulus maka muncul beberapa masalah untuk bisa mengikuti pendakian tersebut. Masalah yang paling utama adalah karena sudah 2 tahun yang lalu lulus, susah sekali untuk mengajak teman-teman seangkatanku untuk menjadi teman selama pendakian nanti. Wajar, hanya tinggal sedikit sekali orang-orang yang ku kenal di SMA itu, bahkan guru-gurunya pun sudah pada lupa kalau aku tidak mengenakan kembali jaket kelasku SMA dulu saat berkunjung ke SMA, itupun aku tidak tahu apakah orang-orang yang ku kenal itu ikut pendakian atau tidak. Akhirnya aku tidak menemukan seorangpun dari angkatanku untuk menjadi teman di pendakian nanti, sempat bimbang juga apakah jadi mau ikut atau tidak. Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup hebat akhirnya aku memutuskan untuk ikut, melihat tulisan di internet “Gunung Mempertemukan Kita” membuatku yakin bahwa tidak masalah kalau tidak ada teman di pendakian ini, pasti nanti bakal dapat teman-teman baru.

Jadilah pada hari itu aku pulang ke Solo terlebih dahulu karena domisiliku memang di Yogyakarta. Setelah mempersiapkan diri dengan perlengkapan strandard pendakian minus tenda aku berangkat, namun karena aku berangkat kesorean jadi sudah ketinggalan rombongan, ya sudah aku langsung menuju base camp Cemoro Sewu karena aku pernah ke sana sebelumnya sehingga masih hapal jalannya. Perjalanan menuju Cemoro Sewu memakan waktu kurang-lebih satu jam, perjalanan seorang diri pada saat petang benar-benar merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Jalan menanjak, udara dingin, serta petang yang suram menjadi temanku di atas sepeda motor yang aku kendarai, tapi syukurlah aku tiba di base camp dengan selamat.

Jalan di sekitar Cemoro Sewu


Sesampainya di base camp rasanya seperti orang asing, ya memang benar-benar orang asing karena memang sudah lulus. Yah, walaupun begitu aku tetap mencoba santai kemudian langsung menghubungi ketua panitia untuk mendaftar. Setelah istrahat, sholat, makan, dan kemudian pembagian kelompok, akhirnya pendakian pun dimulai. Saat itu jam 9 malam, aku mendapat tempat di kelumpok terakhir (4) jadi berangkat paling akhir juga.

PENDAKIAN


Pendakian pun dimulai, sekitar jam sembilan-nan kelompok empat berangkat. Sempat canggung juga, tapi masih ada beberapa orang yang kenal, walaupun begitu lama-kelamaan keadaanya seperti aku adalah masih salah satu siswa di SMA 4 karena di perjalanan kami bercengkerama satu sama lain dengan akrab. 

 Gerbang Pendakian Cemoro Sewu (siang)

Depan Gerbang Pendakian Cemoro Sewu (siang)

            Malam itu langit cerah, bulan tampak mengintip dari celah-celah dedaunan berlatar belakang hamparan bintang-bintang yang menghiasai langit malam. Udara malam itu tidak begitu dingin, mungkin karena perjalanan mendaki yang membuat tubuh malah menjadi berkeringat. Perjalanan dimulai dari gerbang pendakian Cemoro Sewu, rute setelah gerbang berupa batu-batu yang disusun sedemikian rupa sehingga jalan setapaknya terbuat dari batu-batu dan terlihat jelas, rute awal adalah melalui hutan kemudian tidak jauh dari gerbang pendakian terdapat pos 1 bayangan. Di pos 1 terdapat semacam pondok yang dapat digunakan pendaki untuk berteduh dari hujan ataupun panas matahari. Setelah beristirahat sejenak, kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Rute selanjutnya adalah melalui perkebunan sayur penduduk yang berada di samping kanan-kiri jalur pendakian, dan tak lama setelah itu tibalah kami di pos 2 bayangan. Keadaan di pos 2 bayangan hampir sama dengan pos 1 bayangan tadi, hanya letaknya saja yang lebih tinggi. Kami hanya sejenak istirahat di pos 2 bayangan ini sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan masih melalui perkebunan penduduk. Rute berupa perkebunan penduduk akhirnya telah terlewati, kami kembali memasuki rute hutan, dan tak lama setelah itu sampailah kami di pos 1. 

Pos 1 berupa sebuah pondok seperti 2 pos bayangan sebelumnya, namun di pos ini terdapat warung yang menjual makanan dan minuman ringan seperti air mineral, dan sebagainya. Karena sudah malam tentu saja warung ini tutup, namun dari dalam samar-samar ada cahaya lampu, mungkin pemilik warung menginap di situ pada waktu malam. Usai rehat untuk sekedar ambil nafas, perjalanan pun dilanjutkan. Perjalanan menuju pos 2 bisa dibilang yang paling panjang, melalui hutan dengan rute berupa jalan berbatu yang terasa seperti tidak ada habisnya, beruntung waktu itu malam sehingga tidak terlalu menguras stamina dan tenaga.

 Pos 1 Cemoro Sewu

 
Setelah sekian lama berjalan akhirnya kami tiba di pos 2, bisa kami sudah menempuh setengah perjalanan ketika sampai di pos ini. Pos 2 berupa dataran cukup luas yang bisa dugunakan untuk mendirikan beberapa tenda, di sini juga terdapat sebuah pondok untuk berteduh. Cukup lama di sini kami beristirahat, bukan cuman kelompokku (kelompok 4) saja, tapi semuanya mulai dari kelonmpok 1 hingga terakhir beristirahat di sini. Kami semua mengisi kembali tenaga dengan membuat makanan dan minuman, yah di sini aku merasa sendiri lagi karena teman-teman yang lain bergabung dengan teman-teman mereka yang mereka kenal. Tak apa lah, toh aku juga sudah mempersiapkan bekal untuk konsumsi pribadi. Cukup lama kami beristirahat di pos 2, kurang-lebih sekitar 1 jam, setelah dirasa cukup lama rombongan pun berangkat kembali. Kali ini tidak lagi sesuai dengan kelompok-kelompok, rombongan pendakian massal berangkat secara bersamaan, mereka yang sudah tak mampu lagi melanjutkan perjalanan memilih tetap tinggal di pos 2 saja.
Pos 2 Cemoro Sewu (siang)

Pos 2 Cemoro Sewu (siang)

Rute menuju pos 3 tidak sejauh pos 1 ke pos 2, namun kali ini keadaanya lebih menanjak sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga. Sering kali teman-teman meminta berhenti karena memang melelahkan. Memang berjalan di malam hari tidak panas sehingga bisa lebih menghemat air, tapi di malam hari tumbuh-tumbuhan mengeluarkan karbon dioksida sehingga akan sulit untuk menghela nafas segar. Cukup melelahkan juga, tapi akhirnya kami tiba di pos 3. Pos 3 berupa sebuah pondok untuk berteduh, secara garis besar dari pos 1 bayangan hingga pos 3 sama-sama berupa pondok. Kami beristirahat hanya sebentar saja, tak lama kemudian kami langsung melanjutkan lagi perjalanan menuju pos selanjutnya.

Pos 3 Cemoro Sewu
Rute selanjutnya mungkin adalah rute paling menanjak di jalur pendakian Cemoro Sewu. Jalan berbatu begitu menanjak sehingga sangat melelahkan, rasanya panjang sekali rute menanjak ini seperti tidak sampai-sampai, tapi walaupun begitu kami tetap bersemangat mengejar sun rise yang akan muncul beberapa jam lagi. Sayang, di tengah jalan sesuatu menghambat perjalanan kami sehingga nyaris saja membuat gagal acara pendakian massal kali ini. Di tengah jalan selepas pos 3 kami bertemu dengan tim SAR dari UNS yang memberitahukan bahwa terjadi kebakaran yang cukup besar di kawasan atas, mereka menganjurkan kami semua untuk mengakhiri perjalanan. Sebuah pukulan berat, kami sudah berjalan sejauh ini, rombongan pun berhenti, hanya duduk sambil menikmati dinginnya udara saat itu. Saat itu rasanya kecewa sekali sekaligus marah kepada sesuatu yang menyebabkan kebakaran itu terutama jika sampai ada pendaki tolo yang tidak mematikan api unggun yang dibuatnya, aku sendiri sempat berpikir bahwa ini akan menjadi hattrick kegagalanku menggapai puncak di tahun 2011. Hmm, meskipun demikian aku tidak merasa gagal, aku merasa aneh karena jika memang para pendaki harus turun maka otomatis pendaki-pendaki yang sudah lebih dulu berjalan dari kami akan turun, namun saat itu kami tidak menjumpai satupun pendaki yang turun, akumpun memutuskan untuk bertahan di posisi sementara ini menunggu kejelasan bagaimana kondisi di atas.

Satu per satu rombongan mulai bergerak turun, tinggal 8 orang termasuk aku sendiri. Panitia yang terakhir meninggalkan kami sempat menunjuk saya sebagai sweeper sukarela dan satu orang yang lain sebagai PPPK, tak mengapa lah. Fajar pun mulai muncul, sinar matahari pagi mulai menyinari lekuk-lekuk bukit dan lereng Lawu, menambah cantiknya keadaan pagi itu, tentu saja kami rombongan yang tersisa memanfaatkanya untuk berfoto sebelum turun. Setelah cukup puas berfoto kamipun mulai bersiap untuk turun, namun suatu hal yang mengubah segalanya terjadi. Kami bertemu dengan beberapa pendaki dari atas, mereka berkata bahwa keadaan di atas aman-aman saja, tetntu saja kami mengubah rencana untuk terus melanjutkan perjalanan dan 6 orang termasuk aku sendiri yang melanjutna perjalanan. Karena cukup lama duduk rasanya fisikku terasa drop, susah untuk menjaga kestabilan detak jantung serta mudah lelah. Tak lama berselang kami tiba di sebuah tanah kapur yang mungkin adalah pos 4, mulai pos 3 ke atas tidak ditemukan pos yang terdapat pondok. Pemandangan di tanah kapur tersebut sangat indah, dari ketinggian menghadap ke arah selatan terbentang ukiran-ukiran bukit yang terlihat sangat indah bermandikan cahaya matahari pagi, di sekitar arah tenggara telaga Sarangan terlihat seperti kubangan air saja. Sedikit menyesal sebenarnya karena apabila tadi kami sedikit saja melanjutkan perjalanan maka sun rise dapat kami nikmati di sini, meskipun demikian pemandangan indah di sini seakan mengusir semua kekecewaan itu.

 
View

View

 Jalak Lawu

Setelah cukup puas berfoto perjalanan dilanjutkan, ternyata jarak menuju pos 5 begitu dekat dan rutenya pun sudah tak begitu menanjak lagi. Pos 5 adalah pos terakhir menuju puncak, tidak ada lagi pondok seperti pos 1 bayangan sampai pos 3. Kami hanya lewat saja karena memang tempatnya tidak begitu luas. Rute yang kami lewati selepas pos 4 sudah bukan lagi hutan, tumbuhan yang tumbuh sudah berupa pohon yang tak begitu tinggi dan juga semak. Bunga keabadian Edelweiss sudah mulai tampak pada ketinggian ini, sebuah pemandangan yang langka tentunya karena bunga ini tak akan bisa ditemukan di daerah perkotaan. Tidak terlintas sama sekali di dalam pikiran untuk memetik bunga itu walaupun langka sekalipun, bagiku haram hukumnya. Tanjakan yang tak lagi kejam membuat kami bisa untuk menikmati indahnya pemandangan di daerah sekitaran puncak gunung Lawu, kami mengira bahwa kebakaran itu hanya bohong belaka karena tidak terlihat asp yang mengepul, namun akhirnya kami sampai juga ke titik kebakaran itu. Saat kami tiba di sana kondisinya sudah membaik, titik api hanya terlihat beberapa saja. Benar-benar menyedihkan melihat bunga edelweiss terpanggang, maka dari itu aku tak pernah membuat api di alam bebas agar tidak membuat kebakaran semacam itu.

 Edelweiss lambang keabadian

Aku dan kebakaran

Kebakaran

Edelweisnya kebakar gan

Menjelang puncak, terdapat sebuah sendang (semacam telaga) bernama sendang Derajad, namun karena musim kemarau airnya kering, di dekat sendang ini terdapat sebuah warung yang hampir sama seperti di pos 1, cukup heran juga bagaimana pemilik warung bisa membangunnya dan juga berjualan makanan pada ketinggian tersebut. Yang disesakan adalah kondisi di sekitar lokasi itu sangat kotor, banyak sampah berserakan serta tidak lagi terlihat natural. Perjalanan selanjutnya adalah summit attack menuju puncak Hargo Dumilah yang tugunya sudah mulai tampak, dengan semangat kami melangkahkan kakimenuju puncak ke-6 tertinggi di pulau Jawa tersebut.

Sendang Derajad

Depan Sendang Derajad


Akhirnya, setelah perjalanan panjang dari malam hari kami 6 orang dari sekitar 50 orang total seluruh rombongan tiba di puncak Hargo Dumilah. Lelah, namun rasa itu seolah terhapus, di puncak Hargo Dumilah terdapat sebuah tugu yang menandakan bahwa inilah puncak tertinggi Lawu dengan ketinggian mencapai 3265 meter di atas permukaan laut, de daerah puncak terdapat kawah mati bernama kawah Telogo Kuning yang merupakan kawah lama gunung Lawu. Pemandangan di puncak tentu saja sangat indah, di musim kemarau yang langitnya tidak begitu berkabut, pemandangan ke arah timur berupa hamparan dataran luas dengan beberapa bukit menghiasinya berlatar belakang matahari yg bersinar terang di atas langit biru, di sebelah utara dan selatan ukiran-ukiran Yang Maha Kuasa menambah takjub siapapun yang menyaksikannya, sementara di sebelah barat Gunung Merapi-Merbabu tampak bersebelahan dan di belakangnya mengintip si kembar Sumbing-Sindoro. Benar sebuah pemandangan yang sangat indah, apalagi tepat di sebelah puncak terdapat sebuah dataran memanjang yang biasanya disebut irung petruk atau ujing dunia.

 Menjelang puncak

Petilasan di dekat puncak

Tugu Hargo Dumilah

Di puncak

Kawah Telaga Kuning (musim kemarau kering)

Aku di Ujing Dunia
 EPILOQUE


            Rasanya benar-benar berat untuk meninggalkan puncak, ingin untuk bisa terus menikmati pemandangan indah karya Sang Pencipta di puncak. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada puncak Hargo Dumilah kami segera bergerak turun. Perjalanan turun melewati jalan yang berbatu terasa cukup sulit, karena jika menginjak batu yang tajam kaki akan terasa sakit, sesampainya di pos 2 beberapa rekan panitia sudah menunggu kami, rasanya nggak enak juga karena kami tetap melanjutkan perjalanan ke puncak walaupun yang lain sudah turun sehingga membuat mereka menunggu. Yah itulah catatan perjalanan di pendakian kali ini, terima kasih tentu saja kepada Allah SWT yang telah mengizinkan saya untuk bisa kembali menikmati puncak, serta semua teman-teman dari PLASMA SMA Negeri 4 Surakarta yang telah mengizinkan saya untuk bergabung dan mendapatkan pengalaman yang tidak akan terlupakan ini.








4 comments:

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda