Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Monday, 11 June 2012

MERU API SANG PENEMPA DIRI

Prologue

Jumat, awal bulan ke enam di tahun 2012. Siang itu aku berniat akan mengadakan perjalanan menuju puncak Merapi setelah dua minggu sebelumnya aku melakukan pendakian ke sana terlebih dahulu bersama teman-teman dari Belantara Indonesia, teman-teman dari Pamekasan serta legenda pendaki Indonesia, Arya Cahya Mulyana Sugianto. Melalui kisah pendakian itulah aku berhasil membuat penasaran beberapa teman-temanku untuk mendakinya sehingga mereka mau untuk aku ajak mendaki Merapi. Dan pada akhirnya aku mendapatkan 3 orang temanku yang bersedia untuk aku ajak mendaki, mereka adalah dua orang teman kuliahku yaitu Afrizal dan Baron, dan teman SMA ku, Eros.

(Bersama Arya Cahya Mulyana Sugianto)


(Bersama teman-teman Pamekasan)

Perjalanan kami dimulai dari kota Yogyakarta jam empat sore dengan menggunakan sepeda motor menuju base camp Selo melalui kota Boyolali untuk menjemput Eros terlebih dahulu yang berdomisili di Solo. Usai mengisi perut di kota Boyolali kami segera melanjutkan perjalanan menuju Selo, ternyata cukup jauh juga perjalanan menuju ke sana, apalagi ditambah dengan motorku yang mengalami kebocoran ban membuat perjalanan semakin lama. Alhasil kami sampai di Selo pukul 21.15 WIB, benar-benar meleset dari jadwal yaitu pukul 19.00 WIB.

Oke, tanpa membuang-buang waktu lagi kami segera pemanasan sejenak dan kemudian berangkat menuju puncak Merapi tentunya setelah sebelumnya mendaftar terlebih dahulu di base camp Selo. Dan perjalanan kami pun dimulai menuju puncak gunung paling aktif di muka bumi, Merapi.


Menuju Base Camp

Gunung Merapi berdiri menjulang tinggi di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta dengan ketinggian mencapai 2968 meter di atas permukaan laut. Jalur pendakian yang populer adalah dari kecamatan Selo, Boyolali. Untuk mencapai base camp dari Yogyakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi bisa melalui dua arah yaitu Solo atau Magelang.

(base camp Merapi)

Lewat Solo : Dari Jogja ke arah Solo seperti biasanya, saat sampai di pertigaan Kartasura belok ke arah kiri (Boyolali), sampai di kota Boyolali cari belokan ke arah kiri (arah barat) yang terdapat plakat menuju Selo, belokan ini tepatnya setelah melewati pasar Boyolali, setelah belok ke arah barat akan ada sebuah gapura yang menunjukkan arah Selo, ikuti jalan itu terus sampai akhirnya tiba di kecamatan Selo. Di kecamatan Selo nanti ada sebuah pertigaan ke arah kiri yang di sana terdapat plakat “joglo Merapi”, dari pertigaan belok kiri melalui jalan yang menanjak dan base camp Merapi ada di kiri jalan.

Lewat Magelang : Dari Jogja ke arah Magelang seperti biasanya, setelah keluar dari Muntilan dan sebelum masuk kota Magelang, ada sebuah pertigaan ke arah Timur menuju Ketep. Pertigaan ini tak berplakat sehingga lebih baik bertanya pada warga di sana. Apabila sudah menemukan pertigaan itu, belok ke arah Timur, lurus menuruti jalan tersebut. Saat tiba di Ketep, ambil jalan yang sebelah kanan, dan hampir sama seperti jika dari Solo, setibanya di Selo, akan ada pertigaan kali ini di kana jalan yang ada plakat “joglo Merapi”, belok kanan dan base camp Merapi akan ada di kiri jalan.

Menuju base camp Merapi dengan menggunakan kendaraan umum hanya bisa ditempuh melalui Solo. Menggunakan bus dari Jogja menuju terminal Tirtonadi, solo oper dengan menggunakan bus jurusan Semarang, sampai di terminal Boyolali oper lagi dengan bus jurusan Selo, bus ini akan berhenti di pertigaan yang ada plakat “joglo merapi”. Perjalanan menuju base camp harus ditempuh dengan jalan kaki melalui jalan menanjak, atau bisa juga naik ojek apabila membawa uang saku lebih.  

(base camp Merapi) 


Pendakian

Perjalanan kami pun dimulai dengan keluar dari base camp melalui jalan aspal yang menanjak ke arah joglo merapi. Tidak terlalu jauh jalan aspal ini, kamipun tiba di joglo merapi beberapa menit setelah berjalan. Keadaan joglo ini gelap saat malam, warung-warung yang biasanya ramai saat siang telah tutup.

Dari joglo merapi jalan menuju puncak ada di sebelah kirinya, berupa jalan setapak yang menanjak. Pada track awal pendakian kali ini masih banyak terdapat kebun-kebun penduduk. Jalan yang menanjak membuat kami membayangkan betapa harus susah payahnya bagi warga untuk setiap harinya bolak-balik menggarap lahan mereka, bersyukurlah bagi kita yang tidak perlu melakoni hal tersebut untuk mendapatkan sesuap nasi.

(Joglo Merapi)

Perjalanan yang sebenarnya dimulai saat kami mulai menemukan sebuah plakat bertuliskan “Taman Nasional Gunung Merapi”, dari plakat itu medan pendakian sudah berupa hutan tanpa terlihat lagi perkebunan penduduk. Sebenarnya kami ingin lewat jalan memutar yaitu jalur kartini yang rutenya tak begitu menanjak, tapi aku lupa dimana itu belokannya karena memang tidak ada petunjuk apapun, daripada aku membahayakan teman-temanku dengan resiko nyasar lebih baik aku memutuskan untuk lewat jalur konvensional walaupun rutenya sangat menanjak.

Rute menuju Pasar Bubar melalui jalur konvensional terbilang cukup berat. Jalur terus menanjak dan bahkan saat mencapai batas vegetasi tanjakan semakin menjadi-jadi. Cukup menguras tenaga dan membuat kaki sakit, beruntung kami mendaki pada malam hari karena jika kami mendaki pada siang hari pasti akan sangat menguras cairan tubuh kami sehingga persediaan air bekal juga akan terkuras.

Menjelang batas vegetasi kondisi medan semakin terbuka, membuat hembusan angin semakin kencang menerpa kami tanpa penghalang apapun. Memang kondisi cuaca di malam itu terbilang cukup dingin ditambah dengan hembusan angin yang cukup keras membuat udara semakin dingin sehingga kami harus berlindung di balik batu besar saat istirahat agar tidak terkena masuk angin. Malam itu cuaca cukup cerah, di langit bulan hampir purnama bersinar cerah dengan latar belakang bintang-bintang yang bertaburan bagaikan berlian. Di tempat ini juga pemandangan benar-benar sangatlah indah, menghadap ke arah timur cahaya lampu kota Solo berkelap-kelip serta berwarna-warni, sementara di arah barat cahaya lampu kota Magelang dan Temanggung menghiasi kaki gunung Sumbing-Sindoro yang terlihat samar di langit malam, menghadap ke arah utara saudara tua Merapi, Merbabu tampak diam berdiri menjulang tinggi berlatar langit malam dengan bintang-bintang di belakangnya. Hanya diam di sini membuat kami semua takjub akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Memasuki batas vegetasi rute semakin menanjak, ditambah lagi jalur yang penuh batu membuat kondisi pendakian menjadi semakin sulit. Mulai dari sini sudah tidak ada lagi tumbuhan, hanya bebatuan berserakan yang sering kali membuat kami terpeleset. Sempat aku bingung apakah jalur ini adalah jalur yang benar atau tidak karena pada pendakianku yang sebelumnya aku tidak melalui jalur ini, ditambah lagi jalur ini berada di sebelah timur laut puncak sehingga semakin ragu rasanya bagi kami melangkah. Untunglah saat itu kami bertemu dengan pendaki lain yang menunjukkan jalan menuju puncak sehingga perjalanan kami pun berlanjut. Jalur yang akan kami lalui di depan berupa tanjakan yang penuh batu dengan kerikil-kerikil lepas yang akan longsor jika dipijak, ditambah lagi kabut mulai perlahan-lahan menyelimuti kami sehingga kolaborasi antara angin dan kabut benar-benar menambah dinginnya malam itu. Kerlap-kerlip cahaya lampu kota Solo mulai memudar tertutup oleh kabut, jarak pandang kami pun terbatas, bahkan headlamp yang aku kenakan pun hanya mampu untuk menerangi jalan beberapa meter di depanku saja, benar-benar suasana yang mencekam saat itu. Menjelang pasar bubar jalan tidak lagi menanjak dan aku sendiri sudah ingat dengan jalan tersebut, suasana semakin membaik dengan hilangnya kabut yang menyelimuti kami sehingga kerlap-kerlip lampu kota Solo mulai terlihat kembali, sementara di depan kami puncak Merapi tampak berdiri tegak berlatar langit malam yang cerah, kamipun terus melangkah walau sudah dalam kondisi mengantuk dan lelah.

(Pasar Bubrah)

(Pasar Bubrah)

Sekitar lima menit kemudian kami tiba di pos terakhir sebelum puncak yaitu pos pasar bubar. Pasar bubar berada tepat di bawah puncak Merapi, tempat ini berupa tanah lapang yang luas yang penuh dengan bebatuan hasil erupsi Merapi. Konon dinamai pasar bubar karena tempat ini diyakini sebagai pasarnya makhluk halus, para pendaki terkadang mendengar suara seperti keramaian pasar yang dipercaya berasal dari suara makhluk halus di area ini. Walau katanya angker kami tidak memikirkannya, kami hanya fokus untuk segera mendirikan tenda dan istirahat. Cukup susah juga untuk mencari sebuah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda karena banyaknya batu-batu yang berserakan, bahkan saat kami sudah menemukan tempat yang bagus dan kemudian mendirikan tenda, di bawah tenda kami masih ada batu yang mengganjal punggung saat kami tidur, tapi karena sudah terlalu lelah kami tak mempedulikannya. Pokoknya tidur, waktu menunjukkan pukul 04.00.

                                                                (Pagi)

Pagi pun perlahan tiba. Niat kami adalah menyaksikan matahari terbit dari sebelah timur, namun karena dinginnya udara pagi itu ditambah dengan kondisi mata yang masih berat, kami pun melewatkan matahari terbit itu, padahal aku juga sudah menyalakan alarm pukul 05.30, tapi aku matikan saja karena aku sendiri juga masih ngantuk.

(Puncak)

Pukul 06.30 aku mulai membangunkan teman-teman untuk persiapan melakukan summit attack atau perjalanan menuju puncak. Cuaca pagi itu sangat cerah, saat kami keluar kami disambut dengan langit biru yang cerah tanpa awan sedikitpun, pemandangan dari tempat kami berpijak pun sungguh indah sekali, di sebelah utara gunung Merbabu tampak berdiri gagah dengan lekuk-lekuk jurangnya bermandikan cahaya matahari, di sebelah timur gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang tampak seperti melayang di langit pagi, di sebelah barat dua bersaudara yaitu gunung Sumbing dan Sindoro tampak berdiri berdampingan dengan damainya, di ujung barat puncak tertinggi Jawa Tengah yaitu gunung Slamet terlihat kecil menghiasi ufuk barat, sementara itu di sebelah selatan kami puncak Merapi sudah berdiri tegak, menunggu kami untuk menggapai puncaknya. Pagi itu udara cukup dingin walaupun cahaya matahari pagi menyinari kami dengan hangatnya. Setelah melakukan pemanasan kamipun segera berangkat menuju puncak gunung paling aktif di Bumi tersebut. Sayang, Eros menolak untuk melakukan pendakian menuju puncak karena kondisi fisiknya drop, hasilnya hanya aku, Afi, dan Baron yang melanjutkan perjalanan sementara Eros menunggu di pasar Bubar.

(Slamet, Sindoro, Sumbing)

(Lawu)

( Merbabu)

Summit attack dimulai, rute menuju puncak Merapi cukup membuat kami kesulitan untuk terus mendaki. Rute awal menuju puncak berupa pasir dan juga kerikil lepas yang benar-benar sulit untuk didaki, tiga kali melangkah dua kali terperosok, itulah gambaran betapa sulitnya jalur yang harus kami lalui, bahkan untuk melaluinya kami harus merangkak, hmm.., aku sempat berkata dalam hati “Mungkin spiderman pun tak akan bisa mendaki medan seperti ini.”.  Setelah melalui medan berpasir, rute selanjutnya berupa bebatuan sehingga bisa dibilang berbahaya. Menjelang puncak pendaki hendaknya tidak berjalan secara berurutan karena batu yang dipijak pendaki seringkali meluncur ke bawah sehingga berbahaya apabila berjalan tepat di belakang pendaki di depan. Rute menuju puncak pun semakin menanjak, seringkali kami harus menggapai bebatuan untuk bisa terus melaju.

(sulitnya mendaki)

(medan pasir bercampur kerikil)

(perjuangan mendaki)

(60 degree)

Setelah sekitar satu jam mendaki dari pasar bubar kamipun tiba di puncak Merapi, puncak gunung berapi paling aktif di muka Bumi. Puncak Merapi berupa sebuah limas yang mengelilingi kawah aktif di tengahnya, hanya ada sedikit tempat untuk berpijak di puncak Merapi sehingga untuk berfoto saja sulit, sedikit terpeleset saja bisa sangat berbahaya, namun berdiri di puncak Merapi selalu memiliki ke eksotosannya tersendiri. Pemandangan di puncak sangatlah menakjubkan, dari sini kami bisa untuk melihat sisi selatan dari Merapi, yaitu Yogyakarta. Di puncak kami bisa menyaksikan semacam “sungai aliran lava” yang berada di Kinahrejo. Menyaksikan kawah aktif yang terus mengeluarkan asap pun rasanya cukup mengerikan juga, terkadang asap belerang berhembus ke arah kami sering menyebabkan sedikit sesak untuk bernafas, rasanya sakit di paru-paru.

(kawah aktif)

(Yogyakarta)

(kawah sang Meru Api)


Setelah cukup menikmati pemandangan di puncak, kami segera turun. Perjalanan turun menuju pasar bubar ternyata tidaklah terlalu sulit. Saat mencapai medan berpasir perjalanan turun menjadi sangat menyenangkan, namun hendaknya tetap berhati-hati agar tidak jatuh terguling karena akan sangat berbahaya apabila sampai jatuh terguling. Sampai di pasar bubar kami langsung beristirahat, makan dan juga tidur sebentar.

(our tent)


Epiloque

            Matahari semakin meninggi, perlahan-lahan kabut mulai naik menyelimuti puncak Merapi. Saatnya turun pun tiba, langsung saja kami berkemas, melipat tenda, memasukkan kembali barang-barang ke dalam tas, hingga mengemas sampah. Setelah semuanya siap kamipun  segera turun. Itulah akhir dari pendakian kami menuju sang Meru Api. Selamat tinggal Merapi, kelak aku akan kembali lagi. .   

    (Selamat tinggal Merapi)   

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda