Laman

Friday, 23 November 2012

5 CM.. APA JADINYA SEMERU NANTI..??


5cm. Frasa tersebut tentunya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang di Indonesia. Ya, itu adalah judul dari sebuah novel karangan Donny Dirgantoro yang telah berhasil membuat banyak orang penasaran dengan ceritanya yaitu tentang petualangan menggapai “Puncak Abadi Para Dewa” yang merupakan julukan dari puncak Mahameru, puncak dari gunung Semeru, tanah tertinggi di pulau Jawa.  Apalagi pada tanggal 12 Desember 2012 nanti film ini bakal tampil di layar lebar di seluruh Indonesia yang tentunya akan menyebabkan makin banyak orang yang penasaran dengan petualangan di gunung Semeru.

5cm.:

Tentu saja aku sendiri senang dengan novel dan film tersebut karena baru kali ini ada novel yang mengisahkan tentang sebuah petualangan pendakian gunung, sesuai dengan kegemaranku yaitu jalan-jalan menjelajah indahnya alam pegunungan. Bahkan sekarang aku sudah tidak sabar menantikan hari Rabu tanggal 12 Desember 2012, hari di mana film tersebut mulai diputar di bioskop.

Namun sebenarnya dibalik kesenanganku akan munculnya novel dan film tersebut terdapat sebuah kekhawatiran, bagaikan bayangan gelap di balik cahaya terang. Apakah itu..?? Novel dan film itu kemungkinan besar akan menyebabkan lonjakan jumlah pendaki gunung Semeru pada musim pendakian besok (Juli – Oktober 2013). Orang – orang yang telah menyaksikan petualangan Arial dan kawan-kawan menggapai puncak Mahameru di dalam novel maupun film 5cm pastinya juga ingin untuk bisa menapakan kaki di “atap pulau Jawa tersebut”. Hmm..., lalu di mana letak salahnya..??

Puncak Mahameru:
Memang sih, tidak ada salahnya bagi setiap orang untuk melakukan sebuah pendakian, namun aku sendiri prihatin dan kasihan dengan gunung Semeru itu sendiri yang namanya akan menjadi semakin terkenal setelah film 5cm tayang. Lalu kenapa menjadi semakin terkenal malah kasihan..? Jawabannya ialah membludaknya jumlah pendaki dipastikan akan menyebabkan menurunnya kualitas ekosistem dan kelestarian alam gunung Semeru. Jumlah pendaki gunung Semeru saja sebelum novel 5cm muncul sudah terlampau banyak apalagi nanti setelah film 5cm hadir menghiasi layar lebar di Tanah Air, keadaan akan semakin parah.


Perlu diketahui bahwa jumlah pendaki yang banyak tiap tahunnya tersebut selalu menyisakan berbagai masalah menjelang setiap akhir musim pendakian. Salah satu masalah yang ditimbulkan ialah seperti yang telah dijelaskan tadi yaitu rusaknya ekosistem di sepanjang jalur pendakian gunung Semeru. Saat jumlah pendaki Semeru semakin banyak maka makin banyak pula tanaman yang mati atau rusak, semakin tercemarnya air di danau Ranu Kumbolo karena minyak dan deterjen yang dibuang oleh pendaki di dalamnya. Jika terus dibiarkan maka sudah tentu semakin besar pula kerusakan yang dihasilkan. Masalah sampah juga merupakan masalah klasik di dunia pendakian, semakin banyak pendaki menapaki Semeru, semakin banyak pula jumlah sampah yang dihasilkan mulai yang organik berupa sampah hasil sisa makanan dan sampah hasil pencernaan hingga sampah non organik seperti sampah plastik. Memang sampah organik bisa diuraikan oleh alam, namun penguraian tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apabila setiap hari Semeru selalu dijejali oleh para pendaki lalu kapan alam bisa tuntas menguraikan sampah tersebut..?? Yang paling parah adalah sampah non organik seperti plastik, sampah ini walaupun sudah seratus tahun sekalipun belum bisa diuraikan oleh alam sehingga keberadaannya akan sangaat mengancam kelestarian alam. Memang sudah banyak pendaki yang sadar untuk membawa turun sampah-sampah plastiknya, namun tidak sedikit pula pendaki yang masih malas untuk membawa turun sampah plastiknya. Jika terus dibiarkan bisa jadi gunung Semeru akan menjadi tempat pembuangan sampah”.        

Sampah Pendaki:
Masalah tidak hanya ditujukan kepada alam gunung Semeru saja. Masalah juga pantas ditujukan kepada pendaki juga. Perlu diketahui juga bahwa di balik keindahan alamnya, sudah banyak korban meninggal atau hilang di tanah Semeru. Jika nanti setelah film 5cm tayang di bioskop sehingga jumlah pendaki meningkat drastis, maka kemungkinan juga akan terjadi peningkatan jumlah “korban” gunung Semeru.


Korban Semeru:
Harapan untuk tetap menjaga kelestarian alam semeru tentunya akan sangat digantungkan kepada Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) selaku pihak pengelola. Sebuah ketegasan tentunya sangat diperlukan baik dalam membatasi jumlah pendaki Semeru sampai dalam memberikan sanksi bagi para pelanggar aturan dan juga para “perusak” alam yang mengaku-ngaku sebagai pecinta alam.


photo:

Yah, semoga saja kekhawatiranku tentang rusaknya ekosistem gunung Semeru hanyalah sebatas kekhawatiran belaka saja dan tidak terjadi. Tentunya tidak ada kan yang ingin kecantikan serta keindahan gunung setinggi 3676 Meter di atas permukaan laut itu sirna..   

1 comment:

  1. Halo.... Salam Kenal..

    Benar sekali kekhawatirannya...
    Tapi klw saya tidak salah sekrang biaya registrasi simaksi pendakian sudah dinaikkan 5x lipat, ya semoga saja usaha dr TNBTS ini semakin mengurangi orang yang ke Semeru...

    Saya sendiri ingin sekali mencoba menapaki puncak Mahameru, tapi setelah film ini keluar saya blm punya waktu yg pas, dan kalau ada waktupun itu di hari libur/long weekend yg pasti Semeru rame bgt sementara kita ke gunung adalah untuk mencari ketenangan. sejak Juni 2013 saya ingin ke Semeru sampe skrg saya masih memilih untuk belum mengunjunginya.

    kalau berkenan dan sempat kunjungi blog saya juga ya... dan tinggalkan komen;
    penikmatnafas.blogspot.com

    ReplyDelete