Laman

Thursday, 15 May 2014

HULU - HILIR SELOKAN MATARAM

Nama “Selokan Mataram” sepertinya memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, pendatang, sampai mahasiswa yang berdomisili di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selokan ini seringkali dilewati oleh masyarakat karena letaknya yang melewati daerah ramai seperti belakang kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).


Selokan Mataram; Daerah Istimewa Yogyakarta

Selokan Mataram yang membentang dari kali Progo dan berakhir di kali Opak dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX saat zaman penjajahan Jepang dengan tujuan agar lahan pertanian di Yogyakarta yang kebanyakan berupa sawah tadah hujan dapat tetap diairi pada saat musim kemarau sehingga dapat memasok kebutuhan padi tentara Jepang dan tentunya juga demi kesejahteraan masyarakat Yogyakarta sendiri. Keberadaan Selokan Mataram ini juga tidak lepas dari sebuah legenda, diceritakan bahwa Sunan Kalijaga pernah berujar bahwa Yogyakarta bisa makmur apabila kali progo dan Opak bersatu. Mungkin ada benarnya perkataan beliau; walaupun kali Progo dan Opak tidak bersatu secara alami, adanya Selokan Mataram mapu membuat ratusan hektar sawah di sisinya selalu terairi sepanjang tahun.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Berawal dari sebuah rasa penasaran ES (Entry Starter) mengenai Selokan Mataram inilah yang membuat pada suatu Ahad, ES memberanikan diri untuk menjelajah dan mencari tahu di mana selokan ini berawal. Memang, jika sudah ada niat yang datang selanjutnya adalah nekat karena ES sendiri belum pernah melakukan perjalanan menuju hulu Selokan Mataram sebelumnya, bahkan gambaran mengenai rute yang membentang di depan pun ES belum tahu. Jadilah ES berangkat dengan modal nekat saja; tentunya modal sejumlah uang yang tidak banyak sebagai antisipasi jika ada hal – hal yang tidak diinginkan terjadi semisal ban bocor atau lapar.


Motor ES

Langsung saja, perjalanan ES berawal dari jembatan Teknik di sebelah barat kampus UGM kemudian terus ke barat menyebrang perempatan jalan Monjali. ES memutuskan untuk mengikuti jalan yang membentang di sepanjang selokan Mataram dengan harapan jalan itu akan membawa ES ke hulu Selokan Mataram. Terus saja ES melewati jalan tersebut sambil tentunya tetap berhati – hati terutama saat menyeberangi perempatan – perempatan yang memotong jalan tempat ES melintas seperti perempatan Jalan Magelang.

Tak begitu lama sejak awal perjalanan, tibalah ES di perempatan yang paling besar dan berbahaya yaitu perempatan Ring Road barat, untuk menyebranginya harus sedikit memutar melewati tiga pembatas jalan untuk bisa sampai ke sisi seberang; tidak terlalu susah sebenarnya, hanya saja tetap harus berhati – hati. ES terus memacu motor menyusuri Selokan Mataram usai menyebrangi Ring Road, tak lama kemudian kondisi jalan mulai berubah. Jalan berupa aspal yang halus mulai berubah; tetap dari aspal namun mulai berlubang dan tak lagi halus sehingga otomatis mengurangi kenyamanan ES dalam berkendara. Mulai dari sini konsentrasi dalam berkendara harus ditingkatkan terutama untuk menghindari lubang – lubang di jalan. Pemandangan berupa hamparan sawah dan kebun di samping kiri dan kanan senantiasa menemani ES di titik ini.


Menerobos Jalan Setapak

Terus berjalan menyusuri jalan di samping Selokan Mataram, tiba – tiba perjalanan ES terhenti sejenak; ES sempat dibuat bingung pada saat melintasi sebuah pertigaan. Sebuah pertigaan yang membingungkan karena jalan beraspal yang terus ES lewati tadi tidak terlihat lagi di depan ES, yang ada hanyalah jalan setapak. Karena bingung dan tidak ada orang, ES pun tetap melewati jalan setapak itu dengan hati – hati. Sampai pada akhirnya ES tiba lagi di sebuah perempatan yang mana jika lurus masih berupa jalan setapak; bedanya di sini ES bertemu dengan seorang warga sehingga ES bisa bertanya. Mulai dari sini ES berbelok ke arah kiri melewati jalan beraspal semakin menjauhi Selokan Mataram karena jalan setapak yang ada di depan ES tidak bisa untuk dilalui kendaraan bermotor. Usai berbelok ke arah kiri, tak lama kemudian ada sebuah pertigaan sehingga ES berbelok ke arah kanan. Sempat was – was juga perasaan ES sambil tentunya berharap agar ES bisa menemukan kembali jalan di sisi Selokan Mataram.


Selamat Jalan Yogyakarta

Tak lama kemudian ES melihat sebuah plang bertuliskan “Selamat Jalan” yang menandakan bahwa ES tak lagi ada di Yogyakarta, melainkan sudah memasuki wilayah provinsi Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Magelang. Tidak menyangka juga jika akhirnya ES masuk ke kabupaten Magelang karena sebelumnya ES mengira bahwa Selokan Mataram ini berawal dari kabupaten Kulon Progo atau Purworejo. Beberapa menit kemudian ES kembali menemukan Selokan Mataram sekaligus jalan yang kembali beraspal di sampingnya. Langsung saja ES kembali mengikuti jalan tersebut.


Kembali ke Samping Selokan Mataram

Kondisi jalan selanjutnya bisa dibilang sedikit lebih buruk daripada sebelumnya dikarenakan semakin tidak ratanya permukaan jalan, walaupun masih terbuat dari aspal. Harapan ES tentunya ialah jalannya akan tetap berada di samping selokan mataram hingga hulu sungai, namun ternyata harapan ES sirna saat menjumpai sebuah pertigaan lagi yang mana tidak ada jalan beraspal lagi di samping selokan mataram. ES pun langsung mengambil inisiatif untuk berbelok ke arah kiri dan mengikuti jalan yang tidak jauh berada di samping Selokan Mataram; melalui sebuah perkampungan. Selokan Mataram masih terlihat dari jalan ini, namun pada akhirnya mulai tertutup oleh bangunan – bangunan sehingga ES harus menggunakan feeling dan berharap agar ES menemukan kembali Selokan Mataram tersebut.


Jalan Kampung

Selokan Mataram di Kanan Jalan

Akhirnya ES tiba di ujung jalan yang berupa sebuah pertigaan; tepat di sebelah pertigaan tersebut terdapat SD yang bernama SD Blingo 1; ES berbelok ke arah kanan karena tadi Selokan Mataram berada di sebelah kanan ES. 


Pertigaan Lagi

SD nya

Ternyata ES kembali kehilangan jejak Selokan Mataram setelah itu karena yang terlihat hanyalah areal persawahan yang membentang luas. ES pun memutuskan untuk kembali ke pertigaan tadi dan mengambil belokan ke arah sebaliknya. Alhamdulillah akhirnya ES kembali menemukan Selokan Mataram yang ternyata sudah dekat dengan bendungan Sungai Progo yang merupakan ujung dari Selokan Mataram menurut informasi seorang bapak – bapak yang sempat ES tanyai setelah itu.


Selokan Mataramnya Ilang

Akhirnya Nemu lagi

Langsung saja ES mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh bapak – bapak tadi, ES pun kembali mengikuti selokan Mataram yang kembali berada di sisi kanan ES. Tak lama kemudian ES melihat sebuah sungai besar dengan bebatuan di sepanjang alirannya membentang di sisi kiri ES, secara spontan ES langsung menebak bahwa sungai itu adalah Sungai progo. Akhirnya ES tiba di sebuah tempat berbentuk semacam bendungan yang merupakan awal dari Selokan Mataram, Alhamdulillah sampai juga setelah dua jam berkendara.


Kali Progo Tampak

Sampai Gan

Kondisi cuaca saat itu tidak begitu baik dengan awan hitam yang menggantung di langit, ES sempat turun ke bantaran sungai untuk mengeksplorasi lebih dekat dan juga menikmati suasana sejenak. Suara aliran sungai dan juga angin yang semilir serasa mengusir semua rasa kelelahan dan kejenuhan dari tubuh ES. 


Tanggul Kali Progo

Turun

ES juga turun ke bendungan yang mana adalah awal dari aliran Selokan Mataram. Akan tetapi tak lama ES berada di sana karena hujan sudah mulai turun dan bahkan mulai lebat, ES pun tak ingin mengambil risiko terlebih lagi kamera ES adalah kamera pinjaman.


Awal Selokan Mataram

Closer

ES segera kembali lagi ke Yogyakarta di bawah guyuran hujan yang menemani ES, di tengah perjalanan sesuatu mencegat ES sehingga ES harus berhenti, rupanya ada seekor kerbau yang melintang menghalangi jalan, jadilah ES harus menunggu sampai jalan bisa dilalui kembali. 


Dicegat

Alhamdulillah ES sampai lagi ke kost dengan selamat walaupun hujan turun dengan derasnya saat itu. Setidaknya satu rasa penasaran ES akan ujung dari Selokan Mataram telah berakhir setelah perjalanan ini.


HILIR SELOKAN MATARAM

Ada ujung tentunya ada hilir. Beberapa minggu setelah ES melakukan perjalanan ke ujung Selokan Mataram, kini ES penasaran akan hilir atau akhir dari Selokan Mataram ini. Tidaklah terlalu sulit unutk memulai perjalanan karena ES tinggal menyusuri Selokan Mataram dari tengah kota Yogyakarta yang jalannya sudah tersedia di sampingnya. Terus saja ES ikuti jalan tersebut, yang membutuhkan perhatian lebih adalah saat menyebrangi ringroad timur dan juga jalan raya Jogja – Solo karena jalannya ramai dan harus berputar sedikit untuk menyebranginya.


Jalan Solo Daerah Kalasan

Belok Kiri (Jalan Setapak)


Perjalanan mulai sedikit menyusahkan setelah menyebrangi jalan raya Jogja – Solo karena jalanan setelahnya adalah melewati jalan setapak yang tidak beraspal dan menyebrangi jembatan (bukan jembatan sebenarnya), cukup ragu juga sebelumnya bagi ES untuk melalui jalan tersebut, namun setelah ES melihat ada motor yang juga melintasinya ES pun melaju dengan sedikit menambah rasa keberanian tentunya. 


Lewat Sini

Pemandangan

Setelah menyebrang jalan yang dilalui berupa jalan setapak sehingga membutuhkan konsentrasi yang lebih untuk dapat melalui jalan tersebut dengan baik. Hanya sebentar saja melewati jalan setapak tersebut karena tak lama kemudian ES tiba kembali ke jalan beraspal. Terus melaju ke utara ES menjumpai sebuah pertigaan yang mana di depan ES terbentang jalur kereta api, sementara itu Selokan Mataram masih berlanjut di seberang rel. ES pun berbelok ke arah kiri hingga akhirnya ES menemukan palang pintu perlintasan kereta api untuk menyebranginya.


Palang Pintu Kereta Api

Usai menyebrangi rel jalan cukup baik, namun tak lama kemudian ES kembali menjumpai jalan setapak untuk tetap mengikuti Selokan Mataram, ES pun melaluinya. Tak butuh waktu lama karena akhirnya ES tiba di akhir dari Selokan Mataram yang bermuara di kali Opak. Ternyata muara atau hilir dari selokan Mataram tidak semegah hulunya. Bisa dibilang seperti selokan dalam artian yang sebenarnya, bahkan tidak ada alirannya.


Jalan Setapak Lagi

Ujung Jalan


Kering


Hilir di Kali Opak

Akhirnya tuntas sudah perjalanan ES mengarungi selokan Mataram dari hulunya di kali Progo, Magelang sampai muaranya di kali Opak, Yogyakarta. Sebuah perjalanan yang tentunya menambah pengalaman dan pengetahuan ES. Tertarik kah anda untuk mencoba mengarunginya juga...???       

6 comments:

  1. thanks, bro...
    ane juga pernah penasaran..
    udah nyampe SDN Bligo1..
    tapi trus bingung..
    trus pulang.. ahahaha..
    usahanya kurang keras neh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dicoba lagi aja bang.. Kalo nyasar tanya.. haha

      Delete
  2. Berapa km kira2 itu mas? Soalnya pernah pula baca blok pengalaman menelusuri selokan mataram tapu orangnya pake sepeda. Cuma gak ada infonya juga berapa km pa
    njangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekitar 20 kilometer.. Kalau di Google Map g ada yg menyediakan rute via selokan Mataram.. Adanya rute tercepat..

      Delete
  3. Seru banget mengeksplorasi selokan mataram. Sendiri aja bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang.. Sendirian aja dulu biar tau jalan..
      Daripada nyasarin orang lain ntar.. haha

      Delete