Laman

Friday, 10 October 2014

LOMBOK; THE ISLAND OF HEAVEN

PROLOGUE

Tuhan memang menciptakan indonesia dengan sejuta keindahannya. Mulai dari Sabang, ujung barat hingga Merauke yang terletak di ujung timur, keindaha Indonesia seakan tidak akan habisnya untuk dieksplorasi. Bahkan mungkin umur manusia tidak akan cukup waktunya apabila digunakan untuk menjelajah setiap jengkal keindahan di Bumi Pertiwi.

Lombok; Indonesia
Keindahan Indonesia bahkan sudah menggaung di kolong langit dunia. Banyak orang dari berbagai negeri berbondong – bondong ingin mengunjungi Indonesia; menyaksikan betapa maha besarnya Tuhan menebar keindahan yang terhampar luas di salah satu bagian dunia itu. Nama – nama seperti Bali, Bunaken, pulau Komodo tentunya sudah tak asing lagi di telinga masyarakat internasional, menunjukkan betapa eloknya pesona sang Ibu Pertiwi. Salah satu tempat yang di dalamnya terdapat berjuta keindahan adalah sebuah pulau yang terletak di Indonesia bagian tengah, pulau itu bernama Lombok; provinsi Nusa Tenggara Barat.


Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pulau Lombok memang memiliki pesona tersendiri. Kecantikan alamnya senantiasa dapat ditemukan di setiap jengkal sudut pulau ini yang tentu menjadi magnet tersendiri untuk memikat seluruh umat manusia dari berbagai penjuru dunia untuk mengunjunginya. Tempat – tempat dengan nama seperti Gili Trawangan, Gili Kondo, dan Gili Air bahkan berada di sana seakan berada di luar Indonesia karena saking banyaknya warga manca negara yang mengunjunginya.

Memang itulah keadaan pulau Lombok apa adanya, dan kisah ini masih merupakan lanjutan dari kisah ES (Entry Starter) setelah menggapai puncak Rinjani yang tertuang pada postingan sebelumnya. Perjalanan bukan berarti berakhir setelah sampai kembali dengan selamat di desa Bawak Nao. Perjalanan pun berlanjut.....


SAMPAI DI BAWAK NAO


ES dan anggota tim sampai di Bawak Nao sekitar tengah hari waktu Indonesia bagian tengah. Tentu saja sebuah momen yang menyenangkan karena beberapa hari sebelumnya kami berada jauh di tengah alam gunung Rinjani; jauh dari peradaban. Sesampainya di Bawak Nao kami langsung “menuntaskan” apa yang kami tidak bisa lakukan selama di Rinjani seperti membeli makanan serta minuman di warung dan juga mandi. Baterai kamera yang sudah sekarat membuat ES tidak lagi berfoto ria.

Rombongan mulai lengkap menjelang sore. Perjalanan kami selanjutnya adalah kembali menuju Sanggar Seni Sinar Harapan, Di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok – NTB yang merupakan kediaman mas Songket. Setelah tim siap, kami pun segera bergerak melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan saat berangkat karena kami diantar dengan menggunakan dua buah pick up. Kami mampir terlebih dahulu di sebuah klinik di Sembalun untuk mengobati luka kaki bang Reza yang terluka saat perjalanan turun.

Ternyata di sini kami mendapatkan sebuah bonus karena pada saat berhenti kami menyaksikan sebuah iring – iringan yang cukup heboh melintasi jalan yang kami lalui saat itu. Adalah sebuah acara bernama “Nyongkolan” yang lewat di depan kami; sebuah tradisi khas Lombok yang kata masyarakat setempat adalah menghantarkan sepasang pengantin ke rumah pengantin wanita yang bertujuan untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa si wanita sekarang sudah berstatus menjadi istri. Iring – iringan dilaksanakan dengan cara kedua mempelai diarak di sepanjang jalan dalam suatu rombongan dengan hiasan payung bali dan diiringi dengan musik dangndut. Keceriaan tampak di wajah rombongan pengantin tersebut. Suatu keberuntungan bagi kami karena mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung sebuah kebudayaan Lombok.


Nyongkolan atau Nganter Manten

Kami sampai kembali di rumah mas Songket menjelang maghrib. Langsung saja tim segera melakukan ishoma serta membereskan barang bawaan. Kami juga kembali dijamu makan oleh keluarga mas Songket; pokoke matur suwun sanget kagem mas Songket sak keluawargi. Malamnya kami berkumpul untuk melakukan obrolan setelah melakukan perjalanan dari Rinjani. Banyak yang kami sampaikan saat itu, namun yang jelas kami semua mengucapkan terima kasih dari hati terdalam kami kepada mas Aiip karena jika beliau tidak membuat trit di Kaskus kemungkinan besar perjalanan menuju Rinjani tidak akan bisa terlaksana; serta ungkapan prihatin dari kami karena malah mas Aiip yang belum diizinkan oleh Allah SWT untuk menggapai Rinjani. Malam itu kami lalui dengan perasaan senang sebelum akhirnya kami kembali tidur.


PANTAI KUTA

Pagi harinya kami mulai bersiap – siap untuk pergi. Lagi – lagi pagi harinya kami kembali ditawari sarapan oleh mas Songket sekeluarga; pokoknya sekali lagi matur suwun sanget kagem mas Songket sak keluwargi. Kami mulai bertolak sekitar pukul 08.00 WITA dengan menggunakan kendaraan yang pertama kali kami gunakan setelah menginjakkan kaki di pulau Lombok.


Berangkat Lagi

Perjalanan kami selanjutnya adalah menjelajah Lombok. Jelas kami sangat menantikan kesempatan ini karena kami akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung bagaimana indahnya pulau Lombok. Tujuan pertama kami adalah pantai Kuta; tentu saja bukan pantai Kuta di pulau Bali karena kami sedang berada di Lombok. Pantai ini berada di bagian selatan dari Lombok Tengah dengan jarak tempuh tiga jam dari kediaman mas Songket tadi, cukup jauh tentunya.



Pantai Kuta Lombok

Sekitar pukul 11.00 WITA kami tiba di pantai Kuta; Lombok Tengah. Pemandangan indah langsung menghampiri kami saat itu. Sebuah pantai dengan pasir yang putih serta air laut yang biru jernih membuat kami segera bergegas turun untuk menikmati suasana. 


ES

Kondisi langit yang biru cerah dan hamparan perbukitan di sekelilng pantai semakin mempercantik pantai yang memang sangat cantik itu. Yang membuat pantai ini sedikit unik adalah adanya sebuah pohon yang berdiri di atas sebuah karang, entah sudah sejak berapa lama pohon itu tumbuh di sana.


Pohon di Tengah Karang

Banyak pedagang yang berjualan pernak – pernik khas Lombok di pantai ini mulai dari kaos, hiasan kerang sampai mutiara Lombok. Harga termasuk murah tergantung seberapa pandai kita menawar. Setelah puas menikmati pemandangan dan tentunya berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke pantai lainnya.


TANJUNG AAN DAN BATU PAYUNG


White Shore of Tanjung Aan Beach

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju pantai Tanjung Aan yang terletak tidak jauh dari pantai Kuta dengan jarak tempuh sekitar dua puluh menit. Kecantikan dan keindahan pantai Tanjung Aan juga tak kalah dari pantai Kuta yang kami kunjungi tadi; masih dengan pasir putih serta air lautnya yang jernih. Salah satu nilai sangat positif di dua pantai ini adalah kebersihannya yang masih sangat terjaga sehingga terlihat masih alami. Pengunjung yang datang di kedua pantai ini pun masih sedikit sehingga suasananya masih sangat asri.


Enjoy

Saat berada di pantai Tanjung Aan, kami mendapat tawaran untuk berlayar menuju Batu Payung. Kami pun menyetujuinya dengan tarif dua puluh ribu rupiah pulang - pergi karena memang penasaran dan juga karena ingin memanfaatkan kesempatan “mumpung di Lombok” dengan sebaik – baiknya, walaupun ada beberapa rekan kami yang tidak ikut karena mabuk laut. 


Sailing Boat

Perjalanan menuju Batu Payung cukup mendebarkan menurut ES karena kapal yang kami naiki harus berlayar di atas gelombang yang lumayan besar untuk sampai ke sana. Sekitar setengah jam kami sampai di Batu Payung. 


Berlayar

Terdapat sebuah batu yang terkikis ombak sehingga bentuknya menyerupai payung karena memang bisa memayungi seseorang dari panasnya sinar matahari; mungkin inilah mengapa batu ini disebut sebagai Batu Payung. Opini ES pribadi tentunya. Kami naik ke atas sebuah bukit untuk menikmati pemandangan dan suasana yang memang menakjubkan.


Batu Payung

Sekitar pukul 02.30 WITA kami kembali ke pantai Tanjung Aan yang tentunya melalui perjalanan membelah ombak yang mendebarkan. Alhamdulillah akhirnya kami semua bisa sampai kembali dengan selamat. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali, meninggalkan pantai Tanjung Aan.


Laut Biru


DESA ADAT SADE

Kami mulai bergerak meninggalkan area pantai menuju utara, namun kami kembali berhenti di sebuah desa di pinggir jalan utama; desa Sade yang merupakan desa adat. Kami turun dan berjalan masuk area desa, dengan ditemani seorang tour guide kami mengeksplorasi desa Sade tersebut. Tour guide kami menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas mengenai desa tersebut. Jujur ES sangat kagum dengan masyarakat desa Sade yang masih memiliki kearifan lokal yang tinggi di tengah gempuran globalisasi modern ini.


Pemandu Wisata Desa Adat Sade

Berada di tengah desa adat Sade ini membuat kami merasa seperti kembali ke masa lampau di mana suasana tradisional masih sangat terasa di sini. Tour guide kami menjelaskan bahwa mata pencaharian masyarakat Sasak di desa Sade ini adalah dari sektor pariwisata dan juga dengan menenun benang kapas yang kemudian dijadikan beraneka ragam kain kerajinan. 


Rumah Adat Sade

Kami juga bisa menyaksikan secara langsung proses pembuatan beraneka ragam kerajinan kain; mulai dari bahan mentah sampai menjadi barang kerajinan dengan nilai tinggi. Memang mengenal budaya bangsa sendiri itu membanggakan.


Kain Songket Tradisional


BYE BANG AKBAR DAN HARUN

Setelah cukup menjelajah desa Sade kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini tujuan kami selanjutnya adalah bandara internasional Lombok. Bukan berarti bahwa kami akan meninggalkan Lombok dengan naik pesawat. Tujuan kami di bandara ini adalah untuk mengantar dua rekan kami yaitu bang Akbar dan Harun asal Lamongan yang akan kembali ke Surabaya dengan menggunakan pesawat.

Sedih tentunya bagi kami karena kebersamaan kami dengan bang Akbar dan Harun harus berakhir sampai di sini. Bagi ES jelas, karena selama di Rinjani ES satu tenda dengan mereka berdua. Memang kami berpisah sekarang ini, namun bagi kami kebersamaan rekan - rekan satu tim tidak akan pernah terlupakan. Well.. Good bye our friends; bang Akbar and bang Harun, have a save trip.


RUMAH SINGGAH LOMBOK BACKPAKER

Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Mataram; ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat untuk menuju rumah singgah lombok backpaker. Sekitar pukul 17.00 WITA kami sampai di sana dan langsung mengisi perut karena lapar karena kebetulan ada pedagang mie ayam Solo yang singgah di dekat kami saat itu sehingga serasa berada di Jawa.


Mie Ayam Bakso "Solo"

Rumah singgah lombok backpaker merupakan tempat singgah bagi mereka yang sedang berpetualang di Lombok, di sini pengunjung tidak dipungut biaya. Kami langsung disambut dengan seorang ibu pengelola tempat ini dengan sangat ramah, rasanya seperti berada di rumah sendiri saking ramahnya ibu itu, bahkan rasanya beliau adalah ibu kami.

Menjelang maghrib kami mulai bersiap untuk meninggalkan Lombok, sedih rasanya mengingat ini adalah saat – saat terakhir kami menginjakkan kaki di pulau Lombok yang entah kapan lagi kami akan menginjakkan kaki kembali di sini. Ternyata di sini pula kami berpisah dengan beberapa rekan rombongan kami karena mereka masih ingin menikmati Lombok lebih lama. Jadilah kita semua saling berpamitan. Well.. Goodbye friends; senang melakukan perjalanan dengan kalian.


BYE LOMBOK.. MENCEKAM DI TENGAH CALO PELABUHAN LEMBAR

Saat – saat kami meninggalkan pulau Lombok semakin dekat. Terbayang di benak ES selama perjalanan dengan melihat jendela akan rangkaian perjalanan yang ES alami dari awal sampai akhir. Rasanya bercampur menjadi satu antara senang, sedih, dan juga rasa syukur yang tiada tara.

Akhirnya kami tiba di pintu masuk pelabuhan Lembar, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Tiba – tiba mobil yang kami kendarai dikepung oleh segerombolan orang dengan kendaraan bermotor. Sopir mobil kami kemudian dipaksa untuk menepikan mobil, suasana mendadak ramai saat itu. Tentu saja perasaan kami menjadi was – was saat itu; khawatir akan keselamatan kami, tapi tetap saja kami berusaha untuk tenang. Setelah kami turun kami langsung disuruh untuk membeli tiket kapal dari mereka. Sebenarnya kami ingin membeli tiket secara resmi, tapi sepertinya kami tidak mempunyai pilihan lain karena kami terus dikepung. Akhirnya kami tetap membeli tiket dari mereka karena selain tidak ada pilihan lain, harganya pun sama dengan tiket yang dijual secara resmi.

???:
"Tidak sempat ambil foto karena fokus pada keselamatan dan brang bawaan kami"
Kami naik ke kapal dengan sesegera mungkin; berharap agar segera terbebas dari suasana mencekam di tengah para calo pelabuhan Lembar ini. Sebuah keadaan yang di luar perkiraan kami karena pada saat kami tiba di Lombok tidak ada hal seperti ini. Kapal yang kami naiki pun tidak sebagus kapal yang kami, namun kami tetap berusaha untuk menikmati semua ini; anggap saja sebagai bumbu agar perjalanan kami makin terasa. Bersamaan dengan berangkatnya kapal, maka saat itu juga kami mulai meninggalkan pulau Lombok. Bye Lombok.. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi suatu saat nanti..


BALI.. CALO LAGI..


Menuju Bali

Kapal yang kami tumpangi mulai melaju ke arah barat membelah gelapnya selat Lombok, bergerak dengan tujuan pelabuhan Padang Bai, Bali. Rasa kantuk yang menjadi – jadi membuat kami tertidur selama perjalanan, walaupun terkadang bangun untuk menikmati suasana malam di atas kapal; atau jika tidak menonton film Rhoma Irama yang secara terus menerus diputar oleh petugas kapal selama perjalanan.


Di Dalam Kapal

Cahaya lampu di sebelah barat semakin mendekat yang menandakan bahwa kami sudah semakin dekat dengan pulau Dewata; Bali. Kami segera bersiap – siap untuk turun dan saat kapal sudah merapat di dermaga pelabuhan Padang Bai kami mulai berjalan meninggalkan kapal dan menunggu bus yang akan mengantar kami ke Gilimanuk lagi. 


Merapat ke Bali

Kami menunggu kedatangan bus di tempat kami turun dari bus kemarin, dan karena saat itu masih gelap banyak di antara kami yang memutuskan untuk tidur kembali. Bus yang kami tunggu pun tiba, tapi masalah kembali menghampiri kami. Ternyata terjadi perselisihan soal harga antara kami dengan seseorang yang sepertinya adalah calo bus tersebut. Bang Aiip selaku pemimpin perjalanan menghendaki harga Rp35.000,00 karena menurut info yang dia dapatkan memang itulah harga bus yang sebenarnya, namun si calo tetap memaksakan harga pada Rp40.000,00. Negosiasi masih tetap alot karena baik bang Aiip masih terus berjuang, sementara si calo juga masih tetap bertahan dengan harga yang diajukannya.


Bali Lagi, Masalah Lagi

Saat perundingan tak kunjung menemui titik temu, kami memutuskan untuk berjalan kaki menjauhi pelabuhan. Ternyata hal tersebut membuat si calo jengkel sehingga membuat dia naik pitam. Sepanjang perjalanan dia berulang kali mencaci maki kami; hmm, gak sangka  kami mendapat caci makian dari seseorang di Bali yang terkenal dengan sopan santunnya, tapi tidak tahu juga apakah dia orang asli Bali atau bukan.


Naik Bus Lagi

Akhirnya bus yang sempat meninggalkan kami berbalik dan menghampiri lagi. Mungkin karena frustasi akhirnya kami mendapatkan kesepakatan harga Rp35.000,00. Jelas penumpang dalam jumlah banyak seperti kami merupakan rejeki bagi mereka. Yah, apapun yang terjadi tetap sama seperti sebelumnya; kami tetap berusaha menikmati perjalanan ini dan menganggap kejadian sebelumnya ini adalah bumbu untuk semakin mewarnai cerita perjalanan kami.

Gilimanuk Lagi

Siang hari sekitar pukul 13.00 WITA kami sampai di pelabuhan Gilimanuk. Kami tidak langsung menyeberang tapi kembali beristirahat. Penyeberangan akan kami lakukan menjelang sore. Waktu siang yang senggang kami gunakan dengan makan dan juga tidur, perjalanan yang melelahkan membuat mata ini sering mengantuk.


Otw Pelabuhan

Sore harinya kami mulai bergerak masuk ke pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke pulau Jawa. Perasaan kami sama seperti sebelumnya yaitu campuran antara rasa senang, sedih dan sangat bersyukur. Suasana sore itu agak berawan, mungkin tepat untuk mewakili rasa sedikit sedih kami karena perjalanan yang semakin mendekati akhir.


KEMBALI PULANG....


Penyeberangan pun dimulai saat kapal yang kami naiki mulai bergerak lagi – lagi menuju arah barat, menghantarkan kami ke pulau asal kami; Jawa. Pulau Bali perlahan semakin terlihat menjauh, sementara di sebelah barat pulau Jawa terlihat semakin dekat. Sekali lagi kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada pulau Dewata. Selamat tinggal Bali..


Selat Bali Sore Itu

Hari sudah mulai malam saat kami tiba kembali di Banyuwangi. Kami menginap terlebih dahulu di teras stasiun karena kereta Sri Tanjung yang akan kami naiki baru berangkat besok pagi.


Stasiun Banyuwangi Baru


Pagi pun tiba. Bersamaan dengan semakin meningginya matahari, maka semakin dekat pula waktu kami untuk mulai berkemas dan mulai memasuki kereta. Kami duduk secara terpisah, mungkin karena kami membeli tiket sendiri – sendiri. Tepat pada waktu keberangkatannya, kereta yang kami naiki; Sri Tanjung mulai bergerak. Yah, 12 jam lagi sebelum ES sampai rumah. Sementara masih sehari lagi untuk rekan – rekan yang berdomisili di Jakarta.


Tiket ES

Saat kereta sampai di stasiun Surabaya-Gubeng, kami turun dari kereta. Kali ini bukan untuk sekedar melepas penat selama di kereta atau buang air, namun lagi – lagi adalah sebuah momen perpisahan karena sebagian besar tim saat itu turun di sini untuk berpindah kereta yang akan membawa mereka ke Jakarta. Hanya ES dan bang Tebeh yang melanjutkan perjalanan dengan kereta Sri Tanjung, sementara yang lain turun dan bersiap untuk menuju stasiun Surabaya-pasar Turi. Well.. Then goodbye my friends.. Suatu kehormatan bisa melakukan pendakian bersama kalian semua.. Semoga keselamatan akan selalu menyertai kalian semua sampai tujuan nanti.


EPILOGUE

Perjalanan Pulang

Kereta Sri Tanjung terus bergerak kencang ke arah barat. Matahari yang semakin condong ke barat menandakan bahwa tujuan ES; stasiun Purwosari di kota Surakarta semakin dekat. ES berusaha untuk menikmati momen di mana sebentar lagi perjalanan ini akan berakhir. Sesuatu yang tidak akan pernah tergantikan tentunya.

Akhirnya sekitar ba’da maghrib kereta Sri Tanjung sampai di stasiun Purwosari, Surakarta. Jelas ucapan syukur adalah yang pertama ES ucapkan begitu turun dari kereta karena Allah SWT telah mengizinkan ES untuk melaksanakan petualangan yang tak kan pernah terlupakan sepanjang hayat..



Dan perjalanan panjang selama sepuluh hari telah berakhir. Sepuluh hari ini benar – benar akan selalu terkenang dalam memori. Bagaimana dengan mata kepala sendiri E mSelihat betapa indahnya negeri tempat ES dilahirkan ini. Bahkan pulau Lombok yang ES kunjungi masih bisa dibilang hanya salah satu tempat yang mempesona di bumi Indonesia ini. Sementara masih banyak lagi tempat – tempat indah yang terhampar luas di negeri ini; Pulau Komodo, Labuhan Bajo, dan danau Kelimutu di Flores; Raja Ampat di Papua; dan masih banyak lagi. Mungkin sisa umur sekarang tidak akan cukup untuk menjelajah semua keelokan yang terbentang di seluruh penjuru negeri ini...


Ya Allah. Terima kasih, Segala Puji Bagi-Mu karena Engkau telah mentakdirkan aku terlahir sebagai putra bangsa negara Indonesia. Negeri yang kau ciptakan dengan hamparan keindahan yang seolah tak ada habisnya. Lindungilah selalu negeri ini ya Allah. Buatlah aku bisa untuk setidaknya mampu berkontribusi memajukan negeri ini. Ya Allah, aku ingin sekali bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk negeri.


TANAH AIRKU

Tanah Air Ku Tidak Ku Lupakan..
Kan Terkenang Selama Hidupku..

Biarpun Saya Pergi Jauh..
Tidakkan Hilang Dari Kalbu..

Tanah Ku Yang Ku Cintai..
Engkau Ku Hargai..



Walaupun Banyak Negeri Ku Jalani..
Yang Mahsyur Permai Di Kata Orang..

Tetapi Kampung Dan Rumahku..
Di Sanalah Ku Merasa Senang..

Tanah Ku Tak Ku Lupakan..
Engkau Ku Banggakan..


FIN

No comments:

Post a Comment