Laman

Sunday, 4 January 2015

Review Pendakian 2014

PROLOGUE

Bulan Januari hingga Desember senantiasa pasti selalu hadir di setiap tahunnya. Bulan – bulan yang berjumlah dua belas tersebut juga selalu senantiasa berputar sebagai sebuah siklus abadi alam semesta ini. Selalu ada berbagai peristiwa yang terjadi pada masing – masing bulan.





Salah satu siklus yang selalu berputar setiap tahunnya adalah musim. Banyak musim di dunia ini; mulai dari musim semi, panas, gugur, dan dingin yang terjadi di negeri empat musim, hingga musim hujan dan kemarau yang terjadi pada negeri di daerah tropis. Bahkan juga ada musim – musim lainnya seperti musim buah; contohnya adalah musim durian, musim mangga, dan sebagainya.



Musim  yang ada di negara Republik Indonesia adalah musim hujan dan kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober hingga April, sementara musim kemarau terjadi pada bulan April hingga Oktober. Jelas yang namanya musim hujan ialah yang mana pada saat itu banyak turun hujan, sementara kebalikannya yaitu musim kemarau yang mana jarang turun hujan.




Bagi saya sendiri sebagai warga negara Republik Indonesia, setiap musimnya selalu ada agenda tersendiri. Agenda untuk musim hujan ialah mengumpulkan uang sebanyak – banyaknya yang dipergunakan untuk berpetualang di musim kemarau sehingga musim hujan saya anggap sebagai musim menabung. Sementara musim kemarau yang mana cuacanya bagus adalah musim petualangan dan pendakian. Musim kemarau tahun 2014 yang saat postingan ini ditulis sudah habis dan berganti dengan musim penghujan memiliki cerita tersendiri.


MENERJANG BADAI 3371


Perjalanan pada tahun 2014 ini saya awali dari sebuah gunung dengan ketinggian 3371 mdpl. Gunung tersebut merupakan jajaran tanah tertinggi di pulau Jawa yang secara administratif berada di tiga kabupaten yaitu Temanggung, Wonosobo, dan Magelang; bernama gunung Sumbing.

Sebenarnya tidak ada rencana saya untuk mendaki gunung Sumbing, tapi mungkin memang sudah takdirnya saya menginjakkan kaki kembali di gunung itu. Berawal dari postinga teman saya di facebook bahwa ia akan mendaki gunung Sumbing, jadilah saya bergabung. Pendakian ini dilaksanakan pada akhir bulan April.

Bulan April seharusnya cuaca sudah bagus karena sudah memasuki musim kemarau, tapi tidak untuk saat itu. Musim kemarau yang seharusnya tiba pada bulan April sekan masih belum menampakkan tanda – tandanya. Cuaca masih buruk dengan intensitas hujan yang tinggi. Jadilah pendakian di gunung Sumbing ini dilakukan di atas tanah yang becek dan di bawah langit yang suram karena awan hitam.


Perjalanan yang dilakukan di tengah cuaca buruk benar – benar menguras fisik dan stamina karena medan yang menjadi bertambah sulit karena licin. Keadaan juga bisa berbahaya saat terjadi hujan deras disertai petir karena punggungan bukit adalah tempat yang rawan terkena sambaran petir. Tentu saja pemandangan menjadi tidak terlihat karena kabut tebal yang sering menyelimuti gunung pada saat musim hujan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT karena Dia tetap memberi saya dan juga semua anggota tim keselamatan.


Evaluasi dari perjalanan kali ini adalah sebaiknya tidak melakukan pendakian di musim hujan jika niat melakukan pendakian adalah untuk menikmati perjalanan dan suasana. Hal tersebut dikarenakan cuaca buruk membuat medan pendakian menjadi semakin sulit, sementara pemandangan juga kemungkinan besar akan terhalang kabut tebal yang sering kali muncul di musim penghujan. Resiko juga meningkat drastis di cuaca buruk; mulai dari medan yang licin yang semakin meningkatkan resiko kecelakaan, kabut tebal yang mengurangi jarak pandang akan meningkatkan resiko tersesat, hingga resiko tersambar petir yang akan meningkat drastis saat terjadi badai.

CATPER LENGKAP


SEORANG DIRI MENGGAPAI SANG LAWU

Bulan selanjutnya yaitu Mei. Bulan ini bukanlah bulan biasa; bersamaan dengan cuaca yang semakin membaik dengan semakin berkurangnya intensitas hujan maka ini adalah pertanda bahwa musim pendakian sudah semakin dekat. Entah dari mana datangnya tiba – tiba muncul ide nekat dari dalam diri saya untuk melakukan pendakian ke gunung Lawu seorang diri.



Ide saya tersebut karena sudah dua tahun ini saya tidak berkunjung ke puncak Lawu yang setiap cuaca bagus selalu menghiasi pemandangan langit timur kota kampung halaman saya; Solo. Selain itu karena saya juga masih penasaran dengan jalur Cemara Kandang yang mana pada tahun 2012 saya pernah melaluinya namun hanya sampai pos III saja.

Melakukan pendakian seorang diri jelas lebih beresiko, meskipun menurut informasi jalur Cemara Kandang merupakan jalur termudah untuk menggapai puncak Lawu. Oleh karena itu saya memutuskan untuk melakukannya pada akhir pekan sewaktu banyak orang yang melakukan pendakian. Pendakian ini akhirnya dimulai pada hari Sabtu malam tanggal 17 Mei 2014.


Alhamdulillah karena pada pendakian kali ini semuanya berjalan lancar, walaupun sebenarnya cukup menyeramkan juga karena baru kali pertama saya melakukan pendakian seorang diri. Hal yang paling menyeramkan terutama adalah saat saya mendengar teriakan hewan yang menggema di tengah kegelapan malam, ditambah saat itu saya sedang berjalan seorang diri dan tidak ada pendaki lain di sekitar saya. Untungnya tidaklah berlangsung lama ketakutan saya tersebut, usai pos 3 setelah saya bertemu dengan rombongan lain sehingga saya tidak merasa sendiri lagi. Saya tiba di puncak sekitar pukul 05.30 WIB dan kembali sampai di pos registrasi Cemara Kandang pada pukul 13.00 WIB.



Evaluasi dari pendakian kali ini adalah memang melakukan pendakian seorang diri sangat tepat untuk para pencari kedamaian dan ketenangan. Akan tetapi persiapan fisik, mental, perlengkapan dan logistik haruslah benar – benar matang karena memang hanya diri sendiri lah yang melakukan perjalanan tersebut. Tidak akan ada orang lain yang bisa diajak bekerja sama atau minimal menjadi teman bicara selama perjalanan, terkecuali jika bertemu dengan rombongan lain dan itupun kemungkinan hanya singkat saja.

CATPER LENGKAP


SINDORO, KEMBALI LEWAT BANSARI

Selang 17 hari setelah pendakian seorang diri saya ke Lawu, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk menggapai puncak gunung lagi. Kali ini saya mendapat ajakan dari teman – teman tim karawitan FIB UGM dengan tujuan gunung Sindoro dengan ketinggian 3153 mdpl. Kunjungan ke Sindoro kali ini adalah kali ke dua bagi saya setelah kunjungan pertama pada tahun 2013 silam, namun jalur pendakian kali ini berbeda karena melalui rute Bansari di kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Pendakian kali ini bisa dibilang merupakan yang paling menyenangkan di tahun 2014 karena alokasi waktu yang cukup panjang yaitu 3 hari dan juga bersama teman – teman yang seru dengan jumlah total seluruh tim adalah 9 orang, cukup banyak tentunya sehingga terasa ramai juga.

Total lama perjalanan adalah 49 jam yang dimulai pada hari Rabu malam tanggal 28 Mei 2014 pukul 22.00 WIB. Awal perjalanan adalah menuju base camp Sindoro di Bansari, tim tiba di lokasi sekitar tengah malam. Pendakian baru dimulai pada pagi hari tanggal 29 Mei 2014 sekitar pukul 07.00 WIB dan baru tiba di campground pos terakhir sebelum puncak 11 jam kemudian pada pukul 18.00 WIB. Lamanya waktu perjalanan membuat tim dapat menikmati perjalanan tersebut tanpa harus memaksakan diri sehingga waktu istirahat dapat sering kali dilakukan jika lelah, bahkan sering pula tim tidur di tengah perjalanan. Saat hari gelap pun tim bisa fokus untuk beristirahat karena waktu yang panjang. Paginya saya sampai di puncak pada pukul 06.00 WIB dan perjalanan turun dimulai pukul 10.00 WIB dan pada akhirnya kami sampai di Yogyakarta kembali pada pukul 23.00 WIB malam harinya.



Evaluasi pendakian kali ini adalah jika ingin menikmati perjalanan memang membutuhkan alokasi waktu yang lebih lama. Lamanya waktu perjalanan membuat waktu istirahat menjadi lebih panjang sehingga fisik tidak terkuras. Waktu malam hari juga akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk beristirahat.

CATPER LENGKAP


SINGGASANA LEGENDARIS SANG DEWI ANJANI

Perjalanan ke-4 di tahun 2014 ini tak akan pernah terlupakan sepanjang hayat. Pendakian kali ini bukanlah pendakian biasa karena juga sekaligus menggapai sebuah impian yang sudah lama terpendam. Impian tersebut adalah untuk menggapai puncak Rinjani yang legendaris.



Sebenarnya sudah ada beberapa agenda untuk mewujudkan impian tersebut di tahun – tahun sebelumnya. Sayangnya semuanya harus berakhir dengan kegagalan dikarenakan faktor waktu, biaya, serta rekan perjalanan. Beruntung pada tahun 2014 ini datang ajakan untuk berpetualang menuju Rinjani. Terima kasih untuk Kaskus dan tentu saja bang Aiip atas ajakannya.

Perjalanan menuju Rinjani dimulai pada hari Sabtu pagi 23 Agustus 2014. Perjalanan dilaksanakan selama 9 hari bagi saya karena saya memulai dan mengakhirinya di Solo yang mana 12 jam lebih cepat untuk berangkat dan pulangnya sehingga total menghemat 24 jam. Sembilan hari tersebut terbagi menjadi beberapa agenda yaitu 3 hari untuk pulang – pergi , 5 hari untuk mengarungi belantara Rinjani, kemudian satu hari sisanya adalah untuk mengeksplorasi indahnya pulau Lombok di tempat selain Rinjani yang mana tujuan kali ini adalah pantai Kuta / Mandalika, pantai Tanjung Aan, Batu Payung, desa wisata Sade, dan rumah singgah Lombok Backpacker.



Secara keseluruhan ini adalah perjalanan yang menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan. Mendapat kesempatan untuk menggapai mimpi di Rinjani sudah merupakan anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Terlebih mendapat kesempatan untuk menyaksikan dengan kedua mata kepala sendiri keindahan pulau Lombok seakan sebuah bonus yang besar dari-Nya.

Memang perjalanan ini terasa menyenangkan dan berkesan, namun tetap saja ada beberapa rintangan yang tim saya hadapi, terutama saat dalam perjalanan di Rinjani. Evaluasi paling penting adalah untuk tetap mematuhi jadwal perjalanan dari awal dan tidak memaksakan diri. Pengetahuan mengenai kemampuan fisik tim juga perlu diperhatikan untuk membuat rencana perjalanan. Lebih penting lagi adalah untuk terus melakukan latihan fisik jauh – jauh hari sebelum perjalanan dimulai supaya lebih siap saat dihadapkan dengan situasi yang menguras fisik selama perjalanan.

CATPER LENGKAP


KUNJUNGAN KETIGA DI MERAPI

Sepulangnya dari Rinjani, bukan berarti perjalanan menggapai puncak berakhir. Musim kemarau yang masih berlangsung di Indonesia membuat cuaca masih baik untuk untuk melakukan kegiatan pendakian sehingga akan sangat disayangkan apabila kisah pendakian di tahun 2014 ini diakhiri saat itu juga.

Tidak jauh dari tempat domisili saya karena gunung tersebut selalu menghiasi langit utara Yogyakarta saat cuaca cerah. Gunung tersebut juga sering kali menghiasi layar televisi nasional terutama saat terjadi erupsi. Hal tersebut dikarenakan seringnya erupsi gunung tersebut dengan interval waktu empat sampai lima tahun yang membuat gunung ini menjadi gunung paling aktif di Indonesia, bahkan konon katanya juga dunia. Tak lain lagi adalah gunung Merapi yang terletak di antara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sebenarnya tidak ada rencana khusus untuk mendaki Merapi, bisa dibilang pendakian ke Merapi kali ini dilakukan secara mendadak. Adalah teman saya bernama JW yang menjadi tersangka nya karena antara ajakan dan hari pendakian hanya terpaut sehari saja. Tidak hanya itu karena yang melakukan pendakian hanya dua orang saja.

Konsep pendakian yang kami lakukan adalah one night trip, berangkat dari Yogyakarta pada pukul 21.00 WIB dan mulai mendaki pukul 23.30 WIB. Hanya dengan durasi waktu 3 jam saja kami sampai di Pasar Bubrah; pos terakhir menjelang puncak karena dinginnya suasana membuat kami tidak bisa berlama – lama berjalan dan beristirahat. Syukur Alhamdulillah pendakian dapat tetap berjalan walaupun pada saat itu angin berhembus sangat kencang.  Cukup untuk mengobati rasa kerinduan saya pribadi kepada Merapi yang sudah dua kali saya sambangi pada tahun 2012 silam.



Tetap saja terdapat beberapa kendala dan kesulitan walaupun secara keseluruhan pendakian berjalan dengan lancar. Kami sengaja tidak membawa tenda karena pendakian hanya dilakukan semalam saja; sebenarnya target kami adalah sampai Pasar Bubar saat matahari sudah terbit, namun hembusan angin dingin membuat kami mempercepat langkah kami sehingga dalam interval tiga jam kami sudah sampai Pasar Bubrah. Hal tersebut membuat kami harus menahan dinginnya malam itu sampai matahari terbit di balik bebatuan Pasar Bubrah, beruntung karena saat itu kami membawa Sleeping Bag, namun tetap saja masih terasa sangat dingin.

Evaluasinya adalah; akan sangat lebih baik apabila pendakian direncanakan sebaik mungkin sejak jauh hari. Keberadaan tenda juga akan sangat dibutuhkan terutama pada saat cuaca berangin kencang, sehingga sebaiknya selalu dibawa saat melakukan pendakian karena cuaca bisa saja memburuk tanpa bisa diprediksi terlebih dahulu.

TIDAK ADA CATPER LENGKAP (Mungkin di postingan selanjutnya)


AKHIR KISAH DI BAWAH LANGIT LAWU YANG CERAH

Tanggal 12, tiga bulan sebelum tahun 2014 berakhir. Hujan sudaj mulai turun walaupun intensitasnya masih ringan di beberapa daerah di Indonesia. Saat nama bulan sudah mulai berakhiran-ber, itu tandanya bahwa musim pendakian akan segera berakhir dengan seiring datangnya musim hujan.

Tanggal tersebut bukanlah hari biasa, pada tanggal tersebut saya berencana untuk melakukan pendakian penutup untuk tahun 2014 ini. Kondisi cuaca yang sudah mulai berawan serta keuangan yang mulai diproyeksikan untuk tahun depan membuat gunung yang terpilih untuk pendakian terakhir tahun 2014 ini adalah yang dekat saja; Lawu. Beruntung karena kali ini saya tidak mengadakan perjalanan sendiri lagi, melainkan bersama teman – teman dari UKJGS dengan komposisi enam orang; tiga laki – laki dan tiga perempuan.

Kami memulai perjalanan dari Yogyakarta pada hari Minggu sekitar pukul 12.00 WIB; terlalu siang sebenarnya, dikarenakan dua orang personel kaum hawa kami masih harus melakukan pementasan tari. Sekitar pukul 15.00 WIB kami baru tiba di pos Cemara Kandang, tentu saja kami tidak langsung mendaki melainkan beristirahat dan makan terlebih dahulu setelah sebelumnya melalui perjalanan panjang dari Jogja – Cemara Kandang. Hanya sekitar sejam kami beristirahat, sekitar pukul 16.00 WIB kami memulai pendakian.

Matahari mulai benar – benar menghilang saat kami sudah sampai di pos 2 sehingga headlamp dan senter harus kami gunakan untuk menerangi jalan. Entah kenapa perjalanan  menuju pos 3 kali ini terasa begitu melelahkan melewati rute Cemara Kandang yang walaupun tidak begitu menanjak tapi panjang, mungkin karena sudah kemalaman atau mungkin juga kondisi fisik saya yang memang sedang tidak terlalu fit. Walaupun demikian syukur Alhamdulillah sekitar pukul 01.00 WIB kami bisa mencapai pos 4 yang kami gunakan untuk mendirikan tenda dan tidur.



Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB kami melanjutkan perjalanan dengan hanya membawa logistik saja, sementara barang – barang lainnya kami tinggal di dalam tenda supaya perjalanan terasa ringan. Akhirnya selang sekitar satu jam setelahnya kami berhasil mencapai puncak Lawu; Hargo Dumilah. Kondisi puncak yang sepi benar – benar membuat kami bisa menikmati kedamaian alam. Setelah dirasa cukup kami turun dan mampir sebentar ke warung tertinggi di Indonesia; warung mbok Yem yang legendaris.

Kami mulai turun sekitar tengah hari. Hanya 4 jam saja perjalanan turun kami karena pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB kami sudah sampai di base camp Cemara Kandang. Setelah beristirahat sejenak kami segera kembali lagi ke kota Yogyakarta.

TIDAK ADA CATPER LENGKAP (Mungkin di postingan selanjutnya)


EPILOGUE

Hari – hari berlalu, bulan pun berganti, begitu juga dengan musim yang turut berganti mengikuti siklus tahunan semesta yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Langit yang senantiasa biru mulai seringkali berawan pekat yang mana hujan mulai mengguyur bumi Indonesia setelahnya. Tanda bahwa berakhirnya musim pendakian untuk tahun 2014 ini.

Sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan akan petualangan yang saya jalani pada tahun 2014 ini. Enam gunung mungkin masih bukan apa – apa bagi banyak orang yang tiap bulan bahkan tiap minggu menginjakkan kakinya di tanah yang tinggi itu, namun dari enam gunung itu Yang Maha Kuasa memberikan berjuta pelajarannya yang sangat berharga dan tak ternilai harganya.

Kisah pendakian untuk tahun 2014 ini memang telah berakhir. Mulai dari menerjang badai 3371, seorang diri menggapai sang Lawu, Sindoro; kembali lagi lewat Bansari, singgasana legendaris sang dewi Anjani, kunjungan ketiga di Merapi, hingga akhir kisah di bawah langit Lawu yang cerah ini akan selalu senantiasa terkenang sepanjang hayat.



Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT; Tuhan Semesta Alam yang mengizinkan saya untuk menjalankan semuanya, juga rasa terima kasih yang tiada tara kepada mereka orang – orang yang terlibat pula di dalamnya. Harapan tentu saja ialah pada tahun 2015 Allah SWT masih mengizinkan saya melakukan petualangan dan pendakian serta semoga petualangan serta pendakian di tahun 2015 nanti akan semakin seru dengan berjuta pelajaran yang semakin tak ternilai harganya pula.

Aamiin Ya Robball Aalamiin.

No comments:

Post a Comment