Laman

Friday, 6 May 2016

3805 MDPL; PERJALANAN PANJANG MENGGAPAI ATAP VULKANIK REPUBLIK INDONESIA

Prologue

Indonesia memang memiliki berjuta pesona yang tersebar dari ujung timur hingga barat negeri. Keindahan negeri tersebut bahkan tak hanya tampak di depan mata, namun keindahan tersebut bahkan dapat ditemukan di bawah permukaan lautnya dan keindahan yang berada menjulang tinggi di atas langit biru Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gunung Kerinci; 3805 mdpl


Keindahan alam Indonesia tersebar di masing – masing pulaunya sebagai suatu negara kepulauan yang mungkin mustahil bagi umur manusia untuk menjelajah keindahan tiap jengkal kepulauannya. Negeri ini juga memiliki banyak gunung – gunung yang menjulang tinggi karena memang letaknya yang berada di jalur cincin api dunia. Gunung – gunung tersebut membentang dari timur hingga barat negeri sehingga membentuk suatu rangkaian pegunungan bagaikan paku kepulauan NKRI. Hal tersebut selain membuat Indonesia menjadi begitu luar biasa subur, juga menjadi magnet para pecinta ketinggian dari seluruh penjuru dunia.

Banyak gunung – gunung di tanah air yang namanya sudah mendunia, mulai dari Merapi sebagai gunung api paling aktif sedunia, Rinjani yang menawarkan pesona keindahan surga dunia, hingga Kerinci sebagai gunung api tertinggi se Indonesia. Khusus untuk nama terakhirlah yang menjadi spesial pada catatan perjalanan kali ini. Sebuah perjalanan yang dimulai dari mimpi yang dirangkai dengan doa dan harapan, sehingga syukur Alhamdulillah perjalanan menuju atap vulkanik Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dapat tertulis dalam catatan perjalanan.


Ajakan Tak Terduga

Sebenarnya tidak ada suatu ambisi besar di dalam hati ES (Entry Starter) untuk melakukan pendakian menuju atap Sumatera tersebut pada tahun 2015 ini. Berbeda dengan gunung Rinjani yang mana ES sangat ingin ke sana. Hal tersebut dikarenakan letak gunung Kerinci yang berada di provinsi Jambi; pulau Sumatera sehingga secara jarak sangatlah jauh dari tempat domisili ES sekarang di Yogyakarta. Jarak yang jauh tersebut tentunya akan membutuhkan banyak biaya untuk mencapainya, ditambah menurut catatan pendakian yang ES temukan di internet; kebanyakan mereka melakukan perjalanan dengan pesawat sehingga otomatis bukan merupakan perjalanan yang murah bagi ES yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini. Masih jarangnya catatan perjalanan menuju Kerinci via darat – laut juga membuat ES masih buta akan gambaran perjalanan menuju Kerinci. Kumpulan halangan tersebut membuat ES tidak berambisi besar untuk menggapai atap Sumatera, namun tentu saja harapan dan keinginan untuk suatu saat bisa menginjakkan kaki ini di puncaknya selalu ada dalam hati ini. Hanya bisa berusaha seperti biasa yaitu sering berdoa, berolahraga dan menabung sebanyak – banyaknya; tetap yakin bahwa Allah SWT tahu semua di dalam hati ini sehingga suatu saat Dia akan mengabulkan keinginan besar di dalam hati ini.

Ternyata tak membutuhkan waktu sampai bertahun – tahun bagi ES untuk dibukakan jalan oleh –Nya menuju atap pulau Sumatera karena pada pertengahan tahun 2015 ini datang suatu ajakan pendakian menuju puncak gunung Kerinci. Adalah sebuah ajakan dari orang yang sudah tidak asing lagi bagi ES, dia adalah bang Aiip yang pada tahun 2014 lalu juga mengadakan ajakan melakukan pendakian ke gunung Rinjani melalui sebuah TRIT di Kaskus. Syukur Alhamdulillah tentu saja ES panjatkan kepada Allah SWT karena telah membukakan jalan bagi harapan dan keinginan ini untuk tergapai. Tentu saja doa selalu ES panjatkan agar perjalanan menuju atap Sumatera akan tetap berjalan sesuai rencana sampai pulang kembali nanti.

Sumber: Facebook Akbar HS

Persiapan juga tentunya ES lakukan dengan berolahraga, mempersiapkan perlengkapan sebaik mungkin, pemanasan dengan melakukan pendakian di gunung sekitar tempat tinggal; dengan tujuan untuk sebisa mungkin tidak merepotkan tim pendakian ES menuju Kerinci nanti. Pendakian akan dimulai pada hari Sabtu siang tanggal 22 Agustus 2015 dari ibu kota Jakarta sehingga terlebih dahulu ES harus mempersiapkan tiket untuk menuju Jakarta dengan Kereta Api Senja Bengawan yang berangkat pada hari Kamis, 20 Agustus 2015. Syukur Alhamdulillah karena untuk urusan tiket tidak ada masalah.

Kereta Api Senja Bengawan

KAMIS, 20 AGUSTUS 2015; MENUJU IBU KOTA

Langsung saja menuju hari Kamis, 3 hari usai hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Siang itu cuaca kota Yogyakarta begitu panas saat perjalanan ES menuju stasiun Lempuyangan, namun entah mengapa udara begitu sejuk di peron stasiun; tempat di mana penumpang menunggu kedatangan kereta. Menurut jadwal di tiket, kereta api Senja Bengawan akan berangkat dari stasiun Lempuyangan pada pukul 15.30 WIB. Tepat pada pukul 15.30 WIB kereta Senja bengawan belum juga tiba yang kemudian disambung dengan pengumuman dari speaker stasiun bahwa terjadi keterlambatan kereta api Senja Bengawan.

Tidak terlalu lama ES menunggu karena sekitar pukul 15.45 WIB kereta api Senja bengawan dengan tujuan ibu kota Jakarta telah tiba. Jadilah ES segera naik untuk mencari tempat duduk sesuai dengan yang tercantum di tiket dan juga meletakkan kulkas mini di tempat barang karena memang berat. Hanya beberapa menit kemudian roda kereta mulai berputar ke arah barat bersamaan dengan bunyi klakson lokomotiv kereta. Sampai jumpa lagi Yogyakarta; semoga aku bisa kembali lagi dengan selamat nantinya. Aamiin.

Palang Lempuyangan

Sama seperti tahun sebelumnya saat ES melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api yang mana tujuannya saat itu adalah menuju Banyuwangi. Perjalanan dengan menggunakan jasa kereta api sangatlah nyaman, meskipun dengan fasilitas kelas ekonomi. Perjalanan dengan menggunakan jasa kereta api juga lebih cepat, serta terbebas dari kemacetan lalu – lintas.

Dalam Kereta

Kereta Senja Bengawan yang ES gunakan akan berhenti di stasiun Pasar Senen; Jakarta Pusat. Menurut jadwal yang tertera di tiket, kereta akan tiba di stasiun Pasar Senen pada pukul 00.00 WIB sehingga total perjalanan dari Yogyakarta adalah 8 jam. Selama perjalanan ES berkomunikasi dengan bang Aiip yang mengatakan bahwa ia akan menjemput ES di stasiun Pasar Senen pada pagi harinya.

Perjalanan ini

Sekitar pukul 23.30 WIB kereta sudah memasuki kawasan Derah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Pemandangan berupa gedung – gedung yang menjulang tinggi tampak dari balik jendela malam kereta api. Kereta juga beberapa kali melewati stasiun – stasiun kecil tempat kereta Commuter Line melayani masyarakat ibu kota di siang harinya. Sekitar pukul 00.10 WIB akhirnya kereta Senja Bengawan tiba di stasiun Pasar Senen sehingga semua penumpang turun termasuk ES.

Stasiun Pasar Senen

Suasana stasiun saat itu cukup ramai dengan lalu lalang penumpang kereta. Wajar karena stasiun ini adalah salah satu pintu masuk utama masyarakat menuju ibu kota Jakarta. ES memutuskan untuk tidur di emper stasiun malam itu, tentunya terlebih dahulu ES mengamankan barang – barang berharga seperti dompet dan kamera di tempat yang tidak mudah dijangkau saat tidur nanti.


JUMAT, 21 AGUSTUS 2015; BERTEMU KAWAN LAMA

Dini Hari di Pasar Senen

Pagi pun perlahan hadir. ES terbangun saat pemilik salah satu toko membangunkan penumpang yang tidur di depan toko tersebut karena akan buka. Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB sehingga ES memutuskan untuk shalat subuh di mushalla terdekat. Setelah itu ES berjalan – jalan sambil sesekali berhenti mendengarkan musik untuk membuang waktu sampai bang Aiip menjemput ES nanti. Sambil berharap juga bang Aiip tidak bangun kesiangan.

Sekitar pukul 06.30 WIB bang Aiip kembali menghubungi ES bahwa sebentar lagi ia akan sampai di stasiun Pasar Senen. ES segera berjalan ke depan pintu masuk stasiun, ternyata di sana sudah ada bang Aiip dengan motornya. Langsung saja ES menyalaminya, sebuah keharusan bagi masyarakat dengan adat timur tentunya saat bertemu dengan temannya. Tak lama kemudian bang Aiip langsung memacu motornya setelah ES dan kulkas mini siap di jok belakang. Suasana Jakarta pagi itu sudah mulai ramai dengan aktivitas masyarakatnya di sepanjang jalan. Kediaman bang Aiip tidak jauh dari stasiun Pasar Senen, hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke sana. Kegiatan ES selanjutnya adalah mandi pagi setelah perjalanan yang cukup membuat lelah, dan melanjutkan tidur karena istirahat malam di emper stasiun tidaklah maksimal.

Jakarte

Sekitar 2 jam setelah ES tidur, bang Aiip membangunkan ES karena anggota tim selanjutnya; seseorang asal Semarang yang juga merupakan tim ke Rinjani tahun lalu yaitu bang Aldila Tabah atau bang Tebeh tiba. Tentu saja ES menyalaminya karena sudah setahun tidak bertemu. Kami pun bercerita satu sama lain mengenai kesibukan dan hobi masing-masing. Tidak terasa pula waktu hampir menunjukkan tengah hari yang berarti bahwa waktu untuk melaksanakan kewajiban sholat Jumat hampir tiba. Kami bertiga langsung berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan kewajiban sholat Jumat di dekat kediaman bang Aiip yang juga berada di samping sungai Ciliwung yang terkenal melalui media massa karena sering banjir pada musim hujan.


Jumatam

Usai sholat kami menghabiskan waktu dengan banyak beristirahat karena memang perjalanan menuju Jakarta melelahkan, terlebih kami harus mengadakan perjalanan panjang menuju Jambi pada keesokan harinya. Oleh karena itu istirahat sangat penting bagi kami. Saat matahari mulai terbenam, bang Aiip mengajak kami untuk menikmati suasana malam di sebuah taman di daerah Menteng, sayangnya ES lupa apa nama taman itu pada saat mulai menulis catatan perjalanan ini. Bersamaan dengan waktu ES bersama bag Aiip dan bang Tebeh sast itu, teman-teman lama kuliah ES yaitu Iqbal dan Eric menghampiri ES untuk bertemu sekaligus menghabiskan waktu bersama karena memang sudah lama tidak bertemu. Jadilah ES berpamitan kepada bang Aiip dan bang Tebeh untuk pergi bersama 2 teman kuliah ES tersebut.

Night

Bersama Kawan Sastra Inggris 2009

Kami bertiga akhirnya mengelilingi ibu kota dengan menggunakan mobil Eric. Sepanjang perjalanan kami saling berbagi cerita mengenai kesibukan masing-masing usai kami berpisah beberapa waktu yang lalu karena memang Iqbal dan Eric sudah menyelesaikan kuliah dan kembali ke daerah asal mereka. Tujuan kami yang pertama adalah menuju sebuah mall yang terletak di pusat ibu kota, mereka berdua mengajak ES untuk bermain billiar. Sebenarnya agak canggung bagi ES yang merupakan kaum angkringan dan burjois untuk melakukan hal semacam itu, tapi tak apalah untuk sekali-kali melakukannya. Ada satu teman ES lagi yang akan datang menyusul pada malam itu yaitu Afrizal Lutfi atau yang dipanggil Afi karena dia juga sedang ada di ibu kota untuk melaksanakan tugas dari kantornya. Tak lama kemudian Afi tiba sehingga total kami berempat bermain billiar, jujur saja ES yang paling kaku dalam bermain karena memang sangat jarang bermain.


Es: Paling Belakang, Afi: Depan ES
Eric: Kaos Merah. Iqbal: Kaos Abu-abu

Usai bermain billiar, kami duduk dan mengobrol di sebuah warung burger di mall yang sama sembari mengobrol tentang banyak hal terutama mengenai dunia kerja yang sudah digeluti oleh Afi dan Iqbal. Bagi ES tentu saja merupakan sebuah pembelajaran yang berharga karena beberapa bulan lagi Insya Allah ES akan wisuda dan mulai memasuki dunia kerja, jadi obrolan dengan Afi dan Iqbal mengenai dunia kerja akan sangat bermanfaat. Mungkin obrolan ini juga bermanfaat bagi Eric yang juga sedang berjuang menemukan pekerjaan yang baik. Menjelang tengah malam kami kembali ke mobil dan mengantarkan Afi ke kantor tempat dia menginap karena dia harus kembali ke Yogyakarta besok pagi sebab ada acara yang harus dia hadiri di Yogyakarta keesokan harinya. Usai berpisah dengan Afi, kami berkeliling ibu kota sejenak sampai akhirnya kami berhenti di tempat peristirahatan di sekitar jalan Tol Bekasi untuk tidur.


SABTU, 22 AGUSTUS 2015; PERJALANAN PANJANG DIMULAI

Pada pagi harinya Iqbal dan Eric mengantarkan ES kembali ke tempat bang Aiip, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam sampai akhirnya ES tiba di kembali di tempat bang Aiip. Kami akhirnya berpisah, tentu saja ES mengucapkan terima kasih kepada teman lama ES tersebut karena telah diajak berkeliling ibu kota sebelum akhirnya kami berpisah.

Sesampainya ES kembali ke rumah bang Aiip, bang Tebeh dan bang Aiip tidak ada di tempat, mungkin mereka sedang sarapan. ES pun juga sarapan dengan nasi goreng semalam yang belum sempat ES makan karena ditraktir makan oleh teman-teman lama ES. Tak lama kemudian bang Aiip dan bang Tebeh kembali dengan membawa sarapan, jadilah kami bersama lagi pagi itu. Usai sarapan kami segera bersiap dengan mandi dan melakukan packing kembali untuk mempersiapkan barang bawaan sebaik mungkin. Sekitar pukul 09.00 WIB, orang terakhir di rombongan yaitu bang Reza tiba di tempat bang Aiip, dengan ini maka lengkaplah tim kami yang terdiri dari 4 orang. Bang Reza juga merupakan salah satu anggota rombongan perjalanan ke Rinjani tahun lalu.

Mulai Berangkat

Menjelang pukul 11.00 WIB kami akhirnya mulai bergerak untuk memulai perjalanan panjang menggapai atap vulkanik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjalanan kami mulai dengan berjalan kaki dari tempat bang Aiip ke jalan besar. Awalnya kami berencana untuk menggunakan jasa busway untuk menuju terminal Rawamangun, tapi sayangnya untuk naik busway harus menggunakan kartu khusus, sementara kami tidak memilikinya. Akhirnya kami menggunakan jasa taksi untuk sampai di terminal Rawamangun.


Naksi

Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di terminal Rawamangun. Langsung saja kami segera membeli tiket bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan di tanah Sumatera. Bus yang akan kami gunakan adalah bus milik PT. Antar Lintas Sumatera (ALS) yang memang melayani perjalanan dari pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Sekitar tengah hari bus mulai berangkat dari terminal Rawamangun, namun bus yang kami tumpangi saat itu bukanlah bus yang akan membawa kami ke Sumatera karena di tempat pemberhentian bus ALS kami harus berganti dengan armada bus yang akan mengantar kami ke tanah Sumatera.


Naik Antar Lintas Sumatera

Cukup lama kami menunggu karena baru pukul 13.30 WIB armada bus yang akan membawa kami ke Sumatera tiba. Langsung saja kami mencari tempat duduk yang tertera di tiket, sementara barang bawaan kami diletakkan di bagasi. Kami sempat takjub dengan armada bus tersebut karena banyaknya barang-barang yang diangkutnya di atap dan juga bagasi. Pasti bus tersebut begitu berat, semoga saja perjalanan kami nanti akan lancar jaya sentosa. Aamiin.

Sekitar pukul 14.00 WIB bus mulai bertolak dari ibu kota ke arah barat. Rute yang ditempuh adalah rute menuju pelabuhan Merak yang merupakan tempat penyeberangan dari Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Perjalanan menuju pelabuhan Merak cukup lancar dengan melewati beberapa jalan Tol.




Sekitar pukul 16.30 WIB bis ALS berhenti di sebuah warung yang terletak di dekat pelabuhan Merak. Kami segera makan karena perjalanan dari Jakarta cukup membuat kami lapar. Entah mengapa firasat ES mengatakan bahwa harga makanannya akan mahal sehingga ES hanya mengambil nasi sayur dan satu tempe goreng dengan minuman air putih. Syukur Alhamdulillah karena hanya menghabiskan biaya Rp 8000,00 untuk hidangan tersebut, walaupun sebenarnya masih terlalu mahal bagi ES. Ada hal cerita menyebalkan terutama bagi bang Aiip; untuk menghemat biaya makan dia sebenarnya sudah membawa nasi dengan lauk telur dari rumah sehingga hanya memesan kerupuk dan teh hangat di warung tersebut, tetapi tidak disangka karena biaya yang harus dia bayarkan adalah Rp 10.000,00, bahkan lebih mahal daripada ES yang makan berat di warung tersebut. Hal tersebut cukup membuat bang Aiip kesal. Kamipun berpendapat bahwa untuk ke depannya harus makan sesederhana mungkin karena harga makanan akan mahal.



Sekitar pukul 17.15 WIB bus mulai memasuki area pelabuhan untuk memulai penyeberangan menuju pulau Sumatera. Bus mulai memasuki kapal ferry pada pukul 17.30 WIB, kami mulai turun dan mulai berjalan ke geladak kapal untuk menikmati suasana di atas kapal. Kami berempat berjalan ke atap kapal sehingga pemandangan ke arah pelabuhan terlihat luas. Suasana pelabuhan Merak cukup padat dengan lalu-lintas kapalnya; baik itu kapal kecil, ferry pengangkut penumpang, sampai kapal barang. Wajar karena pelabuhan ini adalah penghubung utama antara pulau Jawa dengan Sumatera, terlebih kawasan industri daerah Cilegon juga tampak dari pelabuhan Merak sehingga tentu transportasi untuk industri cukup sibuk di pelabuhan ini. Kapal ferry pun lebih besar daripada yang ada di pelabuhan Ketapang – Gilimanuk yang menghubungkan Jawa dengan Bali.


Kawasan Pelabuhan Merak

Kapal mulai bergerak dari pelabuhan Merak sekitar pukul 18.00 WIB. Entah mengapa suasana masih belum begitu gelap, mungkin karena pelabuhan Merak berada di sebelah barat pulau Jawa sehingga matahari terbenam agak lebih akhir daripada di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kami masih tetap mengambil tempat di atap kapal, untuk berlindung dari embusan angin kami mengambil tempat tepat di belakang tempat kendali kapal yang bisa menghalangi angin. Ada yang menarik di kapal yaitu saat suara adzan maghrib dan isya berkumandanga dengan kencang di speaker kapal. Kami menunaikan ibadah sholat dengan bergantian karena harus ada yang menjaga barang bawaan. Selepas matahari terbenam kami masih setia berada di tempat kami berada sebelumnya sambil bercerita mengenai kisah petualangan kami masing-masing sebelumnya.


Kawasan Pelabuhan Merak

Usai isya, kami berpindah ke tempat duduk di geladak bawah karena cahaya lampu di sisi barat semakin dekat, mengindikasikan bahwa perjalanan kami dengan menggunakan kapal ferry akan segera tiba di pelabuhan Bakauheni di Provinsi Lampung. Bagi ES, bang Aiip dan bang Tebeh, ini adalah pertama kalinya kami akan menginjakkan kaki di tanah pulau besar yang berada di paling barat Negara Kesatuan Republik Indonesia; Sumatera. Sementara bagi bang Reza, dia berasal dari Lampung sehingga bisa dianggap sudah pernah menginjakkan kaki di Sumatera sebelumnya.


Halo Sumatera

Pelabuhan Bakauheni, Lampung

Sekitar pukul 20.30 WIB kami mulai kembali memasuki bus ALS untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian bus mulai bergerak keluar kapal dan pelabuhan Bakauheni. Gelapnya malam menyambut perjalanan kami yang sebagian besar baru pertama kali berada di atas tanah pulau Sumatera. Bus ALS yang kami tumpangi berjalan menembus gelapnya jalanan provinsi Lampung. Kondisi jalan cukup baik sejauh ini dan juga cukup lengang, mungkin karena sudah malam. Sekitar satu jam berjalan, bus kembali berhenti di restoran masakan Padang. Sesuai yang kami duga sebelumnya, harganya cukup mahal. ES memesan nasi kuah dengan sayur seharga Rp 10.000,00; sementara 3 orang lainnya membeli nasi goreng seharga Rp 15.000,00, yang penting adalah perut kami kembali kenyang. Saat bus kembali berjalan kami mulai mengantuk sehingga memutuskan untuk tidur, sementara bus ALS terus melaju melanjutkan perjalanannya menyusuri jalur lintas Sumatera.


MINGGU, 23 AGUSTUS 2015; MENELUSURI JALUR LINTAS SUMATERA

Pagi harinya sekitar sehabis subuh ES terbangun karena memang pada jam segitu waktunya bangun sholat subuh. Pas sekali karena bus ALS berhenti di pom bensin untuk memberi kesempatan bagi penumpangnya untuk menunaikan ibadah sholat subuh di mushalla pom bensin atau ke kamar mandi. Usai semua penumpang menyelesaikan ibadah dan urusan ke kamar mandi, bus kembali melaju. Langit yang mulai cerah membuat pemandangan ke luar mulai terlihat. Hamparan lahan pertanian, perkebunan, dan pepohonan terlihat mendominasi pemandangan di luar jendela, walaupun sesekali permukiman penduduk yang tidak terlalu luas terlihat.

Sekitar pukul 07.00 WIB bus berhenti di pinggir jalan yang berada di wilayah Desa Meraksa, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Tidak ada rumah makan di area ini, melainkan hanya ada masjid dan warung kecil yang menjual roti, minuman, dan pop mie sebagai makanan berat. 



Berhenti di Sini

Banyak juga penumpang yang bertanya-tanya mengapa bus berhenti di daerah ini. Mungkin sopir ingin memberi kesempatan penumpang untuk makan walaupun warung hanya menjual makanan ringan dan juga merebahkan diri usai perjalanan panjang semalam.


Tempat MCK

Ada hal menarik di daerah ini, ternyata tidak ada kamar mandi bagi masyarakanya. Jika ingin pergi ke kamar mandi masyarakat menggunakan sungai untuk berbagai keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Saat bus berhenti, penumpang yang ingin ke kamar mandi pun harus menggunakan sungai yang ada di sekitar lokasi bus berhenti.


Jalan Lintas Sumatera

Sekitar setengah jam berhenti, bus ALS kembali melaju. Karena sudah terang kami bisa menikmati perjalanan bus yang terus melaju di atas jalur lintas Sumatera. Pemandangan di luar jendela berupa hutan, jalanan yang kami lalui cukup berkelok membelah pegunungan dengan hutan di samping kanan dan kiri jalan. Rumah-rumah penduduk di provinsi Sumatera Selatan dari daerah Ogan Komering Ulu sampai Muaraenim yang dilalui bus ALS berbentuk khas dengan bentuk seperti rumah panggung yang mana masyarakat tinggal di lantai kedua. Ternyata Sumatera memang luas karena pada tengah hari kami baru sampai di Lahat saat bus berhenti lagi di sebuah rumah makan Padang. Tentu saja kami masih menyadari bahwa harganya pasti mahal sehingga ES hanya memesan nasi kuah yang harganya Rp 7.000,00. Cukup lama bus ALS berhenti di Lahat, sepertinya ada sedikit kerusakan di mesinnya sehingga harus diperbaiki. Sekitar satu setengah jam bus berhenti sebelum akhirnya kembali melaju melanjutkan perjalanannya.


Rusak Rek

Sore harinya sekitar pukul 17.15 WIB bus kembali berhenti, kali ini bukan di rumah makan tetapi karena bus mengalami gangguan mesin. Hanya sekitar 15 menit saja bus berhenti sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali. Tentu saja penumpang bus berharap agar ke depannya tidak ada lagi gangguan mesin pada bus yang akan mengantar kami semua sampai tujuan ini. Sekitar maghrib bus mulai memasuki Kota Lubuklinggau, rasanya melelahkan karena kami sudah melakukan perjalanan selama 30 jam dan belum juga sampai tujuan, bahkan lokasi kami saat itu masih di provinsi Sumatera Selatan. Malam harinya sekitar pukul 19.30 WIB, bus kembali berhenti di sebuah rumah makan padang. Sama seperti sebelumnya yang mana kami hanya memesan makanan termurah yaitu nasi kuah, semoga ini adalah rumah makan terakhir yang kami kunjungi dalam perjalanan dari Jakarta sampai Bangko. Setelah bus kembali berjalan kami kembali tidur karena perjalanan panjang benar-benar sangat melelahkan.


SENIN, 24 AGUSTUS 2015; MENUJU KABUPATEN KERINCI

Menjelang tengah malam kernet bus mengatakan bahwa bus akan segera memasuki kota Bangko yang merupakan ibu kota Kabupaten Merangin di Provinsi Jambi. Kami segera bangun dan melakukan persiapan, walaupun dengan mata yang berat karena tengah malam adalah waktunya beristirahat. Setidaknya akhirnya perjalanan panjang kami dengan ALS berakhir karena memang benar-benar melelahkan dan juga menjenuhkan dengan terus duduk di bangku bus selama perjalanan yang mencapai 36 jam.

Panser ALS

Akhirnya kami turun di pinggir jalan, entah mengapa bus tidak menurunkan kami di terminal Kota Bangko. Setelah kami turun dan kembali menggendong tas carrier kami, segera saja kami menepi untuk beristirahat sejenak; sementara bus ALS yang kami naiki tadi terus melaju ke arah utara. Yah, terima kasih ALS yang telah mengantarkan kami dari Jakarta sampai Kota Bangko di Provinsi Jambi. Kami memang sudah sampai di Kota Bangko, tapi bukan berarti perjalanan kami berakhir karena kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Sungai Penuh yang merupakan ibu kota Kabupaten Kerinci yang terletak di Provinsi Jambi sebelah barat, bersebelahan dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat.

Malam itu jelas tidak banyak kendaraan umum yang berlalu-lalang di jalan utama Kota Bangko. Setelah mencari-cari informasi ternyata cara paling cepat untuk mencapai Kota Sungai Penuh adalah dengan mencarter sebuah mobil. Jadilah akhirnya kami mencarter sebuah mobil untuk menuju Kota Sungai Penuh, tapi sayang kehadiran calo membuat kami harus merogoh kocek hingga sekitar Rp 150.000,00. Mobil pun mulai bergerak menuju Kota Sungai Penuh, dari obrolan dengan supir kami mendapatkan informasi bahwa biaya untuk mencarter mobil sebenarnya hanya Rp 100.000,00 per orang jika langsung menghubungi sopir. Oleh karena itu bang Aiip meminta nomor sopir untuk perjalanan pulang besok. Yah, memang perjalanan pertama kemungkinan akan terjebak oleh calo semacam ini; anggap saja sebagai bumbu agar perjalanan semakin terasa.

Hari yang sudah memasuki tengah malam membuat kami berempat mengantuk sehingga akhirnya tertidur, sementara mobil tetap melaju menuju Kota Sungai Penuh. Entah apa yang terjadi dengan perjalanan malam itu karena kami semua tertidur. Sempat ES terbangun sebentar dan saat melihat kondisi jalan ternyata kabut tebal menyelimuti jalanan, namun mobil tetap melaju dengan kencang sehingga terasa seperti terbang. Sebenarnya merupakan hal yang mengerikan dengan kondisi semacam itu, tapi karena sudah mengantuk membuat ES tidak peduli dengan kondisi seperti itu dan melanjutkan tidur.


Masjid Sungai Penuh

Sekitar pukul 04.00 WIB akhirnya mobil sampai di Kota Sungai Penuh. Kondisi udara cukup dingin, mungkin karena letak kota ini yang cukup berada di ketinggian ditambah dengan suasana pagi yang dingin. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir, kami berjalan menuju masjid besar yang letaknya tidak jauh dari tempat kami turun. Kami duduk dan rebahan di sekitar masjid sampain akhirnya pintu masjid dibuka karena sudah masuk waktu subuh. Kami segera masuk untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh terlebih dahulu kemudian usai sholat, kami tidur di dalam masjid yang suasananya cukup nyaman.


Rebahan

Kami mulai bangun kembali pada sekitar pukul 07.00 WIB dan berjalan keluar masjid. Perjalanan kami belumlah selesai karena masih harus melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai ke pos registrasi pendakian Gunung Kerinci yang terletak di Desa Kersik Tuo. Kami berjalan sampai ke jalan utama Kota Sungai Penuh untuk mecari angkot yang akan membawa kami ke Desa Kersik Tuo. Sebelumnya kami sarapan terlebih dahulu dengan makanan yang kami beli di pinggir jalan, kali ini harganya lebih terjangkau dan rasanya lebih enak daripada nasi kuah di rumah makan Padang pada perjalanan kami kemarin.


Sarapan

Kota Sungai Penuh

Akhirnya kami mendapatkan angkot untuk menuju Desa Kersik Tuo dengan biaya Rp 10.000,00 per orang. Ternyata perjalanan dari Kota Sungai Penuh sampai ke Desa Kersik Tuo cukup jauh, membutuhkan 2 jam lebih untuk mencapainya. Perjalanan sudah tidak lagi jauh saat angkot mulai memasuki area perkebunan teh Kayu Aro yang berada di kaki Gunung Kerinci. Pemandangan di sini sangat memanjakan mata karena sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh menghiasi pandangan sejauh mata memandang. Sementara Gunung Kerinci berdiri dengan gagahnya di antara hamparan perkebunan teh.

Naik Angkot

Akhirnya setelah perjalanan panjang, sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba di pos pendaftaran pendakian Gunung Kerinci. Kami terlebih dahulu beristirahat dengan tiduran di bawah pohon. Kami juga menunggu teman bang Tri; salah satu anggota tim pendakian ke Rinjani tahun lalu, bernama mas Giyanto yang mana kami akan menginap di rumahnya dan juga beliau akan memandu kami selama berada di kawasan Gunung Kerinci. Ternyata di daerah Kersik Tuo terdapat banyak orang Jawa, mereka berkomunikasi dengan bahasa Jawa, ada juga yang berkomunikasi dengan bahasa ngapak.


Kantor Taman Nasional Kerinci Seblat

Tak lama kemudian orang yang bernama mas Giyanto tiba. Kami segera memperkenalkan diri dan menyalami beliau. Kemudian kami mulai melakukan pendaftaran untuk keesokan harinya. Usai mendaftar kami mulai berangkat menuju kediaman mas Giyanto dengan menggunakan mobil pick up. 


Ndaftar

Kediaman mas Giyanto terletak di Desa Gunung Labuh yang merupakan sentra perkebunan di Kabupaten Kerinci. Pemandangan berupa perkebunan menghiasai pandangan mata sepanjang perjalanan menuju rumah mas Giyanto.


Turut Ndeso

Hanya 10 menit perjalanan dari pos pendaftaran Gunung Kerinci sampai ke rumah mas Giyanto. Kami langsung rebahan setelah perjalanan panjang, kami juga langsung mandi karena memang sudah 40 jam lebih tidak mandi. Setelah mandi kami dijamu dengan makanan dengan lauk yang diambil langsung dari perkebunan di sekitar rumah mas Giyanto. Memang masyarakat di Desa Gunung Labuh tidak kesulitan saat ingin makan karena memang hasil perkebunan begitu melimpah, selain itu Kabupaten Kerinci banyak akan sawah yang membuat produksi padi cukup melimpah.


Rumah Mas Giyanto

Sore harinya kami diajak oleh mas Giyanto mengunjungi kebunnya untuk memanen bahan makanan untuk makan malam. Mas Giyanto meminjamkan kami motor sehingga kami transportasi menuju kebun tidaklah sulit. 


OTW Kebon

Sesampainya di kebun kami segera diarahkan oleh mas Giyanto untuk memanen tanaman yang memang siap untuk dipanen seperti tomat, kol, kubis, dan sebagainya. Ternyata memang perkebunan di area Desa Gunung Labuh begitu luas, mas Giyanto juga menceritakan bahwa hasil panen perkebunan dikirim ke kota-kota besar seperti Jambi, Padang, Palembang, bahkan sampai ke Jakarta.


Sobo Kebon

Tomat

Malam harinya kami kembali dijamu makan malam dengan bahan-bahan dari tanaman yang kami panen tadi. Sembari makan kami saling bertukar cerita dengan mas Giyanto; membicarakan mengenai kisah pendakian Gunung Kerinci hingga kondisi masyarakat di Desa Gunung Labuh. Sekitar pukul 21.00 WIB kami tidur ruang tamu, kondisi udara cukup dingin karena memang letak Desa Gunung Labuh yang berada di ketinggian dan kaki Gunung Kerinci sehingga kami harus mengenakan jaket dan sarung agar tidak kedinginan.


SELASA, 25 AGUSTUS 2015; PERJALANAN MENGGAPAI ATAP SUMATERA DIMULAI

Adzan subuh mulai berkumandang memecah keheningan malam Desa Gunung Labuh. Kami segera bangun untuk menghilangkan dingin. Tidak lupa ES pergi ke masjid di mana adzan subuh berkumandang untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Saat matahari semakin tinggi kami segera mempersiapkan diri untuk perjalanan menggapai atap Sumatera yang akan dimulai beberapa saat lagi. Setelah mandi kami mulai menata barang bawaan kami, meninggalkan apa yang tidak dibutuhkan saat pendakian nanti, hingga melengkapi yang masih kurang.


Welcome to Kerinci

Rules

Kami langsung menuju gerbang pendakian Gunung Kerinci dengan menggunakan motor. Sekitar pukul 08.20 WIB kami tiba di pintu gerbang pendakian Gunung Kerinci. Kami ditemani oleh rekan mas Giyanto bernama Pak Alex untuk berjaga-jaga karena kami berempat baru pertama kali melakukan pendakian ke Gunung Kerinci. Usai berfoto di tulisan Taman Nasional Kerinci Seblat, kami segera berjalan memasuki kawasan pendakian Gunung Kerinci.


Pintu Rimba

Kewaspadaan langsung kami tingkatkan begitu memasuki pintu rimba karena menurut informasi yang kami dapatkan, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah habitat dari harimau Sumatera. Selain itu gajah liar juga masih banyak ditemukan di kawansan TNKS sehingga kami harus berhati-hati jika secara mendadak kami bertemu dengan mereka. Rute awal begitu kami memasuki pintu rimba adalah hutan yang lebat di samping kanan dan kiri jalur. Kondisi begitu lembap karena di beberapa tempat genangan yang tertutup oleh bayangan pepohonan yang membuat cahaya matahari terhalang untuk mencapai tanah. Beberapa tempat juga cukup becek karena hujan masih sering turun di area Gunung Kerinci sehingga kami harus berhati-hati dalam melangkah untuk menjaga alas kaki kami agar tetap kering.

Rute Awal

Hutan Hujan Tropis Sumatera

Sekitar satu jam kemudian dari pintu rimba, kami tiba di pos I Gunung Kerinci. Terdapat tempat duduk di pos ini. Kami juga bertemu dengan rombongan pendaki lain yang cukup banyak di pos I ini. Hanya sebentar kami beristirahat di pos I karena kami belum terlalu lelah. Perjalanan kami lanjutkan kembali menyusuri hutan hujan tropis Gunung Kerinci. Rute pendakian masih sama dengan sebelumnya yaitu dengan hutan yang lebat di sisi kanan dan kiri jalur dan kondisi yang begitu lembap. Sekitar satu jam kemudian kami tiba di pos II Gunung Kerinci. Pos II Gunung Kerinci cukup sederhana dengan hanya berupa tanah datar dengan plang penanda bahwa itu adalah pos II Gunung Kerinci.


Bung @aiipsrude, @rezha_anwar, @beardpacker

Kami beristirahat di pos II sekitar 15 menit sebelum akhirnya kembali melangkahkan kaki menuju pos selanjutnya. Rute mulai menanjak usai pos II sehingga cukup membutuhkan usaha lebih untuk melaluinya. Kondisi jalur juga masih becek di beberapa titik sehingga kaki masih harus berhati-hati dalam melangkah, sementara lembapnya udara membuat air dan tenaga kami terasa menguap. Cukup cepat kami melangkah karena sekitar setengah jam kemudian kami sampai di pos III Gunung Kerinci. Pos III Gunung Kerinci berupa tanah datar dengan shelter dan tempat duduk, di sini kami bertemu dengan rombongan besar pendaki dari daerah Jawa Barat.


Lanjut

Pos III

Sama seperti pada saat kami ada di pos II, hanya membutuhkan waktu 15 menit bagi kami untuk beristirahat kemudian berjalan kembali. Kami melanjutkan perjalanan bersama dengan rombongan dari Jawa Barat tersebut. Ternyata mereka begitu cepat dalam melangkah sehingga membuat kami sempat heran, tetapi setelah kami bertanya kepada pemandu mereka ternyata barang bawaan mereka yang berat dipasrahkan kepada pemandu tersebut sehingga barang bawaan mereka tidaklah berat. Pantas saja kecepatan mereka begitu tinggi dalam melangkah. Membutuhkan waktu sekitar 75 menit sampai kami tiba di shelter I Gunung Kerinci. Perlu diketahui bahwa batas aman untuk berkemah adalah di shelter I ini karena di bawah shelter I harimau Sumatera dan gajah liar masih sering berkeliaran.

Lanjut Lagi

Shelter I

Kami beristirahat sekitar 15 menit di shelter I ini. Sekitar pukul 11.43 WIB kami berjalan kembali menuju shelter II. Kondisi jalur mulai penuh dengan tanjakan usai shelter I. Banyaknya tanjakan lebih dari saat kami melangkah di area pintu rimba hingga pos III. Cukup melelahkan untuk melewati tanjakan-tanjakan usai shelter I, bahkan membuat kami harus memakan cemilan di tengah jalan karena usaha melewati tanjakan membuat kami lapar. Membutuhkan waktu 4 jam bagi kami untuk melewati tanjakan menuju Shelter II. Rasanya sangat bersyukur sekali saat kami sampai di shelter II.


Tenda ES di Shelter II

Sebenarnya kami berencana untuk melanjutkan perjalanan sampai shelter III karena tempat itu adalah yang biasa digunakan pendaki Kerinci untuk bermalam sebelum melakukan summit attack menuju puncak Gunung Kerinci. Sayangnya keadaan membuat kami merasa ragu-ragu karena di langit suara petir terdengar bergemuruh. 


Cuaca Mendung

Pak Alex menyarankan kami untuk berkemah di shelter II saja untuk mengantisipasi jika turun hujan. Akhirnya kami memilih untuk mengambil amannya saja dengan berkemah di shelter II. Kami mulai mendirikan tenda yang merupakan tenda milik ES yang akhirnya sampai ke tanah Kerinci juga. 


Masak

Tenda kami dirikan dengan flysheet ganda untuk mengantisipasi dingin dengan flysheet satu lagi milik bang Reza. Setelah tenda berdiri kami segera menata barang-barang dan memasak untuk mengisi perut sebelum tidur. Menu makan kali ini adalah nasi dengan mie rebus dengan sambal kentang yang diberikan mas Giyanto sebelum kami melakukan pendakian.

Mangan

Setelah makan kami segera tidur untuk mempersiapkan perjalanan menuju puncak yang rencananya akan kami laksanakan pada malam hari.


RABU, 26 AGUSTUS 2015; ATAP VULKANIK REPUBLIK INDONESIA


Sekitar pukul 01.30 WIB kami bangun dan memulai persiapan Summit Attack menuju puncak Gunung Kerinci dengan ketinggian 3805 meter di atas permukaan laut. Persiapan yang kami lakukan terutama adalah mengenai barang bawaan yang akan kami bawa ke puncak. Tentu saja bawaan yang berat tidak kami bawa. Sama seperti saat akan melakukan Summit Attack ke puncak Mahameru di Jawa yang hanya membawa bawaan seperlunya. Malam itu kami membawa air minum, cemilan, alat elektronik dan bawaan pribadi yang tidak memberatkan untuk dibawa naik, sementara senter-senter kami sudah siap untuk menerangi rute pendakian yang gelap.

Sekitar setengah jam kemudian kami mulai berjalan menuju atap Sumatera. Rute yang menanjak langsung menyambut kami begitu kami mulai melangkah. Rute menuju shelter 3 semakin menyusahkan saat kami terus melangkahkan kaki secara perlahan, bahkan seringkali kami harus berpegangan kepada akar untuk melewati sebuah tanjakan terjal yang bagaikan dinding di depan kami. Diperlukan wawasan yang luas untuk mencari cara alternatif melewati tanjakan terjal tersebut karena seringkali pula kami harus mundur beberapa langkah dari dinding tanjakan di depan kami untuk mencari pijakan guna melangkah naik melalui tanjakan tersebut. Rute menuju shelter III berbentuk seperti terowongan alami karena banyak tumbuhan yang tumbuh hingga membentuk terowongan. Sulitnya rute menuju shelter III ternyata juga membuat kami sangat bersyukur untuk berkemah di shelter II dan meninggalkan barang bawaan yang berat di sana. Terbayang betapa susahnya jika kami harus membawa barang bawaan berat dengan carrier kami melalui rute yang sulit semacam ini.

Sekitar pukul 03.45 WIB kami akhirnya sampai di shelter III pendakian Gunung Kerinci. Pepohonan sudah tidak tampak lagi di shelter III ini, yang ada hanyalah rerumputan yang tumbuh di sekitar shelter terakhir pada rute pendakian Gunung Kerinci ini. Medan mulai terbuka di sini sehingga jika angin bertiup suhu udara akan mejadi dingin, beruntung karena angin tidak berembus kencang saat itu sehingga kami tidak kedinginan, walaupun tentunya tetap saja udaranya dingin. Terdapat beberapa tenda yang dugunakan oleh pendaki untuk berkemah di shelter III ini, namun kebanyakan belum ada aktivitas dari dalam tenda.

Malam Seribu Bintang
Photo by: Bang Aiip

Malam itu langit di atas Gunung Kerinci cukup cerah, walaupun terkadang kami melihat ada beberapa titik awan yang berjalan dengan samar di tengah gelapnya langit malam. Ribuan bintang berhamburan di atas kepala kami, sebuah karya agung ciptaan Allah SWT yang sangat luar biasa. Sesekali angin malam berhembus, menyebabkan suhu udara bertambah dingin, terlebih kami sedang dalam posisi beristirahat yang mana tidak melakukan banyak gerakan untuk menghangatkan badan. Indahnya suasana saat itu tentunya tidak dilewatkan oleh bang Aiip begitu saja yang membawa serta kamera DSLR nya. Satu-per satu kami berfoto dengan latar belakang hamparan bintang yang menakjubkan. Sebuah foto kenangan yang tentunya tidak akan pernah terlupakan.

Pak Alex & Bang Tebeh
Photo By: Bang Aiip

Kedua kaki kami mulai melangkah menapaki terjalnya rute akhir menuju puncak setelah kami puas mengabadikan momen. Rute selanjutnya adalah rute khas gunung api sebelum puncak yang mana tanjakan semakin terjal dengan pasir, kerikil, dan bebatuan yang kami tapaki. Tidak ada lagi tumbuhan di sekitar kami tempat kami berjalan malam itu. Kondisi medan yang mulai terbuka menyebabkan angin berhembus dengan bebasnya menerpa tubuh kami, menyebabkan kedinginan saat berhenti beristirahat sehingga mau tidak mau kami harus terus melangkah naik dan tidak beristirahat terlalu lama. Kondisi gelap membuat kami harus ekstra waspada dalam memilih pijakan untuk terus melangkah naik. Lereng yang kami daki saat itu juga cukup luas sehingga kami harus pintar-pintar memilih sisi mana yang akan dilalui. Beruntung saat itu kami ditemani oleh pak Alex yang memang sudah berpengalaman dalam melakukan pendakian ke Gunung Kerinci sehingga beliau memilihkan kami rute yang cukup mudah untuk dilalui.


Kawasan Tugu Yudha

Langit sudah mulai cerah saat kami sampai di Tugu Yudha. Tempat ini merupakan dataran luas dengan banyak bebatuan yang berserakan, agak mirip dengan Pos Pasar Bubrah di Gunung Merapi. Tempat kami berada saat itu dinamakan Tugu Yudha karena di sana terdapat sebuah memoriam bertuliskan Yudha Sentika; pendaki Kerinci yang hilang pada tahun 1991 silam. Memoriam tersebut juga merupakan penanda bagi para pendaki Gunung Kerinci sebagai jalur pendakian yang benar. Puncak Indrapura Gunung Kerinci membentang di depan kami, berupa sebuah tanjakan terjal terakhir yang akan kami lalui sebelum puncak. Kami beristirahat sejenak di sini, menunggu agar langit sedikit lebih terang lagi karena suhu udara akan sangat dingin di puncak nanti apabila kami sampai di puncak terlalu pagi.


In Memoriam Yudha Sentika

Mulai Terang

Saat langit sudah dirasa cukup terang, kami mulai berjalan naik menuju Indrapura. Perlahan tapi pasti langit timur mulai terang sehingga akhirnya matahari pagi pun menampakkan dirinya dari ufuk timur di atas langit Pulau Sumatera.


Sunrise Langit Sumatera

Rest

Tentunya sebuah pengalaman tak terlupakan bagi kami semua menyaksikan indahnya matahari terbit dari salah satu titik tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia.


SANG PENYANGGA LANGIT SUMATERA


Puncak Indrapura, 3805 mdpl

Sekitar pukul 07.40 WIB, akhirnya jiwa dan raga ini sampai juga di puncak gunung berapi tertinggi di tanah Merah-putih. Rasanya sungguh luar biasa, sebuah pencapaian yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata; bagaimana perjalanan yang sebelumnya serasa mustahil untuk dilakukan akhirnya bisa terwujud. 


Timur

Rasanya benar-benar masih sulit dipercaya walaupun kedua mata ini sudah melihat plang penanda bahwa tempat tersebut adalah puncak Gunung Kerinci; atap vulkanik NKRI. Tentu saja yang utama adalah rasa syukur atas berkah dan karunia Allah SWT; Tuhan semesta alam yang telah membuat jiwa dan raga ini sampai ke Puncak Indrapura. 

Alhamdulillah

Saat itu masih sulit untuk percaya bahwa tanah berpasir yang ada di bawah sepatu ini memiliki ketinggian 3805 meter di atas permukaan laut. Entah apa yang bisa membuat jiwa dan raga ini percaya bahwa saat itu berada di atap Pulau Sumatera sekaligus atap vulkanik Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Tepi Langit

Atap puncak Gunung Kerinci berupa lubang kawah yang menganga luas tepat di samping tempat kami berpijak. Dasar kawah tidak tampak karena saking dalamnya ditambah kondisi kawah yang mengeluarkan asap belerang semakin menghalangi pandangan ke arah dasar kawah. 


Kawah Kerinci

Pemandangan terbuka tersaji di ujung Sumatera, akan tetapi cuaca yang cukup berawan membuat pandangan tidak bisa jauh ke ujung cakrawala. Beberapa awan hujan dengan kilatan petirnya tampak dari kaki langit arah selatan, barat, dan barat laut mengelilingi Gunung Kerinci sehingga membuat kami khawatir jika akan terjadi badai. Cuaca yang cukup berawan bukan berarti membuat pemandangan tidak indah, keelokan hamparan pemandangan terbuka dari berbagai sisi tetap tersaji di depan mata kami. 




Jauh di sis timur tampak jajaran Gunung Tujuh yang mana di sana terdapat Danau Gunung Tujuh; danau tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Terlihat di sekeliling gunung masih terselimuti hutan yang lebat, sementara pemandangan perkotaan tidak tampak dari puncak Kerinci. Hal tersebut menandakan bahwa Taman Nasional Kerinci Seblat sangatlah luas; yang mana merupakan habitat alami bagi harimau sumatera, gajah sumatera, serta flora dan fauna lainnya. Semoga kelestarian alamnya akan terus terjaga hingga kapanpun.


Sujud Syukur

Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak Kerinci. Wajar saja karena kapan lagi kami bisa melakukan hal tersebut. Bagaimanapaun juga kesempatan untuk bisa berdiri di atas ketinggian 3805 meter di atas permukaan laut itu adalah kesempatan yang langka bagi kami. Matahari semakin lama semakin naik dari ujung ufuk timur, sebenarnya kami masih ingin berlama-lama berada di puncak, akan tetapi kami khawatir jika hujan akan turun karena banyaknya awan hujan di sekeliling gunung. Kamipun akhirnya turun sekitar pukul 08.30 WIB, cukup berat rasanya untuk meninggalkan puncak karena mungkin membutuhkan waktu lama bagi kami untuk kembali ke sana lagi. Ucapan syukur sekali lagi kami ucapkan, sekaligus ucapan selamat tinggal kepada Puncak Indrapura yang merupakan tujuan sebagian pendaki di tanah berkibarnya bendera merah-putih ini.


SAMPAI JUMPA LAGI INDRAPURA

Down The Indrapura

Perjalanan menuju puncak Kerinci yang menurut kami tidak sesulit perjalanan menuju puncak Mahameru membuat kami sempat berpikir bahwa perjalanan turun akan mudah. Sayangnya pemikiran kami tersebut salah karena medan berupa batuan, kerikil, serta pasir halus membuat medan yang kami lalui cukup licin sehingga seringkali membuat kami terpeleset beberapa kali. Kondisi medan yang licin diperparah dengan struktur batuan di sekitar yang merupakan batuan tajam. Bahkan saat tangan mencoba untuk ikut menopang berat badan saat melangkah turun, batuan tajam tersebut cukup membuat tangan perih, terlebih jika sampai terpeleset dan jatuh di atas batuan tajam tersebut pasti jelas rasanya akan begitu menyakitkan. Perjalanan turun dari puncak Kerinci juga membutuhkan wawasan dan kewaspadaan tinggi mengenai rute turun yang benar karena jalan turun yang benar adalah yang melewati Tugu Yudha kembali; sebagai patokan jalan turun yang benar. 


Pakai Toga

Usai melewati Tugu Yudha, perjalanan menuju Shelter III juga masih sama, kewaspadaan hingga kecermatan tinggi wajib dimiliki oleh pendaki karena rute yang benar adalah sedikit ke arah kanan. Beruntung saat itu tenda-tenda di Shelter III terlihat sehingga kami bisa menentukan arah turun kami. 


Menuju Atap Sumatera

Jika sampai salah mengambil jalur maka bukannya akan tiba di Shelter III Gunung Kerinci, tetapi akan sampai di tempat yang dinamakan Lembah Dewa. Kedengarannya memang seperti tempat yang indah, tetapi itu adalah salah satu jalan buntu di mana pendaki bisa tersesat.


Shelter III lagi

Medan turun masih sulit bahkan usai sampai di Shelter III yang merupakan batas vegetasi dan medan khas menuju puncak gunung api. Medan menuju Shelter II yang kami lewati semalam ternyata cukup sadis untuk dilalui turun. Resiko terpeleset masih ada karena walaupun medan yang kami lalui sudah berupa tanah, kondisinya basah sehingga cukup licin. 


Jalur Pendakian Shelter III-Shelter II

Jalan yang kami lalui saat itu begitu terjal untuk dituruni. Kondisi jalur berupa hutan yang cukup rapat, walaupun tinggi pohonnya tidak seberapa, bahkan di beberapa titik terdapat jalur yang tampak seperti terowongan gelap karena pepohonan tumbuh melingkar di atas jalur pendakian. Pantas saja keadaannya becek karena selain masih sering diguyur hujan, tumbuhan yang menutupi permukaan tanah menghalangi penguapan air. Keterjalan jalur turun juga membuat kami berulang kali menyiksa lutut dengan memaksa melompat turun dari ketinggian yang bahkan lebih tinggi dari badan kami. 


Jalur Pendakian Shelter III-Shelter II

Tentunya kami tetap berhati – hati serta tetap berusaha untuk mengukur kemampuan fisik ini mengenai setinggi apa turunan yang kami lompati. Jelas saja, kami tidak ingin sampai cedera akibat melompat dari tempat yang terlalu tinggi. Kami akhirnya tiba di shelter II; tempat tenda kami berada sekitar pukul 11.00 WIB, kami beristirahat dahulu di sini dengan berbaring, makan, hingga menjemur pakaian kami yang basah.

Setelah dirasa cukup beristirahat, kami mulai mengemasi barang-barang dan juga melipat tenda. Tidak butuh waktu lama, kami segera melanjutkan perjalanan turun setelah itu. Kondisi jalur pendakian sudah tidak lagi menyusahkan seperti sebelumnya, akan tetapi jalur dari shelter II ke shelter I inilah yang paling panjang di mana saat kami naik kemarin membutuhkan waktu sekitar 4 jam sehingga tetap saja melelahkan. Jika saat naik kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam, maka untuk menuruninya kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kira-kira pukul 13.30 WIB kami sampai di shelter I, jelas saja kami langsung beristirahat dan tidak lupa sholat dzuhur. Ada banyak orang di shelter I ini, kebanyakan mereka sedang dalam perjalanan naik. Beberapa orang bertanya kepada kami berapa lama lagi jarak menuju shelter selanjutnya, kami pun menjawabnya dengan jujur bahwa masih 4 jam lagi dengan kecepatan sedang, tidak lupa pula dengan beberapa kalimat penyemangat.

Bang Tebeh & Bang Aiip di Shelter I

Kami mulai berjalan saat merasa sudah cukup beristirahat. Kembali kami melewati rute hutan hujan tropis Sumatera di mana udara lembap dan pepohonan berdiri lebat di samping kiri dan kanan kami. Sesampainya di sini, kami dihantui oleh perasaan was - was jika bertemu dengan binatang buas seperti harimau atau gajah Sumatera liar. Jika ada suara dari balik semak kami langsung waspada, padahal suara itu ditimbulkan oleh tupai. Beruntung kami tidak bertemu dengan binatang buas tersebut sampai akhirnya kami tiba kembali di pintu rimba sekitar pukul 17.00 WIB.

Sampai Bawah Lagi

Sesampainya di pintu rimba, kami agak sedikit bingung untuk menghubungi mas Giyanto kalau kami sudah sampai kembali. Beruntung akhirnya kami bisa menghubungi beliau, akan tetapi kami harus menunggu cukup lama karena hujan tiba – tiba turun dengan derasnya. Mungkin mas Giyanto juga kesulitan untuk memilih alat transportasi untuk kami saat hujan seperti ini karena setahu kami hanya ada pick up dan motor yang digunakan untuk mengantar kami dari pos registrasi kemarin. Perbedaan cuaca dengan di Pulau Jawa terasa saat ini, yang mana saat cuaca di Jawa sedang kering dan rawan kebakaran hutan, cuaca di Kerinci malah hujan deras seperti ini.

Hujan Deras

Setelah menunggu sekitar 45 menit, mas Giyanto tiba dengan mobil rekannya bersamaan dengan redanya hujan. Kami pun akhirnya masuk ke dalam mobil yang usai digunakan untuk mengantarkan sayuran ke Kota Bangko. Kami sedikit bercerita tentang perjalanan kami di Gunung Kerinci yang baru saja berlalu di dalam mobil tersebut. Perjalanan dengan mobil kembali ke rumah mas Giyanto tidaklah lama, hanya sekitar 15 menit kemudian kami sampai kembali di sana. Kami langsung meletakkan barang-barang kami begitu tiba dan meluruskan kaki - kaki yang baru saja dihajar oleh terjalnya track Gunung Kerinci. Syukurlah akhirnya kami bisa turun dengan selamat, tanpa mengalami kecelakaan. Satu – per satu dari kami langsung mandi dengan air yang dinginnya seperti es di kulkas. Suatu tantangan tentunya untuk mandi dengan air yang sangat dingin, bahkan tubuh ES mengeluarkan asap usai mandi dengan air dingin tersebut.


ISTIRAHAT KEMBALI

Malam harinya sebelum tidur, kami makan malam bersama di depan perapian sambil saling bercerita tentang pendakian kami di Gunung Kerinci. Melalui obrolan dengan mas Giyanto, kami menjadi tahu banyak mengenai hal – hal seputar Gunung Kerinci; mulai dari proses pencarian pendaki asal Bekasi yang hilang bernama Setiawan Maulana, cerita saat beliau bersama anggota TNI melakukan pemantauan habitat harimau Sumatera, hingga cerita saat ada harimau Sumatera yang nangkring di atas pintu rimba. Benar – benar cerita yang menarik karena tentu saja pengetahuan kami semakin bertambah pula. Malam itu kami kembali tidur di ruang tamu dengan selimut tebal pemberian mas Giyanto. Istirahat yang nyaman bagi kami mengingat betapa pegalnya kaki – kaki kami, berharap supaya rasa pegal itu segera hilang pada keesokan harinya karena perjalanan kami belum usai...

No comments:

Post a Comment