Laman

Friday, 12 August 2016

Mudik Asik 2016

Indonesia memang memiliki beragam kebudayaan dari ujung timur hingga ujung barat. Salah satu budaya yang mungkin hanya ada di Indonesia dan tidak ada di negara lain adalah budaya mudik hari raya Idul Fitri. Mudik sendiri adalah kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama sanak keluarga.

Mudik


Mulai pertengahan Bulan Ramadhan hingga hari –H Idul Fitri, siaran televisi Republik Indonesia senantiasa menayangkan berita mengenai kondisi arus mudik di jalur – jalur utama yang dilalui oleh para pemudik. Berita mengenai kemacetan di jalur mudik pun rasanya sudah menjadi hal biasa pada saat arus mudik Idul Fitri.

Macett

ES (Entry Starter) sendiri sebagai seorang WNI (Warga Negara Indonesia) tentunya juga turut menjadi bagian dalam budaya mudik pada tahun 2016 ini. Kesibukan cukup senggang serta domisili yang masih memungkinkan untuk melakukan mudik membuat ES kembali mengadakan perjalanan untuk pulang ke kampung halaman di Kota Solo.


Mudik Anti Mainstream

ES memulai perjalanan menuju kampung halaman pada hari Rabu tanggal 29 Juni 2016. Entry ini dibuat karena perjalanan ES kali ini berbeda dari biasanya dan berbeda pula dari apa yang kebanyakan orang lakukan saat mudik. Jika biasanya dan yang dilakukan orang – orang saat mudik adalah mengambil rute tercepat agar sampai ke kampung halaman; ES malah sebaliknya. Perjalanan kali ini ES mengambil rute memutar. Jika pada umumnya perjalanan dari Yogyakarta menuju Solo ditempuh melalui rute jalan utama Klaten – Delanggu – Kartasura – Solo, kali ini ES tidak melalui jalan tersebut.

Road to Solo
Mainstream = Ijo // Anti Mainstream = Merah


Perjalanan Dimulai

Perjalanan mudik yang berbeda kali ini awal mulanya disebabkan karena ES harus mengembalikan flash disk pinjaman milik teman bernama Eko yang berdomisili di Pundong, Kabupaten Bantul. Jadilah ES menuju daerah tersebut dengan tujuan mengembalikan flash disk pinjaman tersebut sekaligus membuang waktu perjalanan supaya waktu berbuka semakin dekat. Akan tetapi di tengah perjalanan entah mengapa ES berpikir untuk tetap melanjutkan perjalanan ke selatan atau arah pantai, baru kemudian lanjut ke arah timur.

Eko:


ES memulai perjalanan pada pukul 08.30 WIB dari kosan di daerah Tawangsari, Sleman, Yogyakarta. Seperti yang sudah ES tulis tadi, tujuan pertama adalah mengembalikan flash disk di daerah Pundong Bantul. Rute ke daerah tersebut searah dengan jalan menuju Pantai Parangtritis yang dapat dicapai dengan terus menyusuri Jalan Parangtritis ke arah selatan. Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam bagi ES untuk sampai ke rumah pemilik flash disk karena petunjuk jalan yang sudah diberikan oleh teman sebelum perjalanan dimulai.


Masih di Yogyakarta

Hanya sebentar saja ES singgah di rumah teman tersebut karena masih dalam suasana Ramadhan. Jika tidak, mungkin ES akan singgah lebih lama dengan menikmati suguhan minuman segar dari tuan rumah. Perjalan pun ES lanjutkan kembali menyusuri Jalan Parangtritis ke arah selatan hingga akhirnya sampai ke Pantai Parangtritis. Beruntung karena ES tidak ditarik biaya retribusi karena tujuan akhir ES adalah mudik; bukan untuk rekreasi di pantai. Walaupun sebenarnya memang ada tujuan untuk sekaligus rekreasi.


Menyusuri Pantai Selatan Yogyakarta

Kondisi cuaca saat itu sangat cerah langit biru seakan menyapa ES dengan senyumnya. Kini jalan mulai mengarah ke timur di sepanjang Pantai parangtritis. Sebenarnya ada keinginan untuk berhenti sejenak di gumuk pasir atau pantainya, tetapi entah mengapa rasa malas untuk berhenti lebih kuat sehingga ES terus melaju, sebenarnya yang lebih berat adalah rasa malas jika harus membayar parkir.

Paris

Saat hampir meninggalkan kawasan Pantai Parangtritis, entah mengapa ES berkeinginan untuk mampir ke pantai. Pancen ora cetha, ES pun akhirnya membelokkan motor ke arah pantai sebelum jalan menanjak menuju perbukitan. Tibalah ES di perbatasan antara daratan dan lautan alias pantai. Lokasi ES saat itu ada di Pantai Parangtritis agak ke timur, sebelum memasuki area Parang Kusumo. Hanya sebentar saja, sekitar 15 menit ES menikmati suasana pantai dan mengambil foto. Suasana pantai begitu mendamaikan hati dengan angin semilir dan deburan ombaknya.


Paris


Failed Exploration: Pantai Ngunggah

Awalnya rencana ES adalah terus melaju ke arah timur tanpa berhenti, akan tetapi rencana tersebut berubah total saat terdapat plang kayu ke arah selatan bertuliskan Pantai Ngunggah. Penasaran dengan pantai tersebut, ES pun akhirnya membelokkan kuda besinya ke arah yang ditunjukkan oleh plang kayu tersebut. 

Rute menuju pantai rupa – rupanya jauh dari perkiraan ES. Jika kebanyakan rute menuju pantai di daerah Gunung Kidul sudah baik, maka kali ini sebaliknya. Rute yang ES tempuh pada awalnya adalah berupa jalan desa yang tidak terbuat dari aspal melainkan semen yang kondisinya tidak terlalu baik. Semakin ke arah selatan kondisi jalanan malah semakin parah, kali ini struktur penyusun jalannya hanya dari bebatuan saja ditambah keadaannya yang naik – turun dengan samping kanan dan kirinya yang tidak berpenghuni, bayangan akan bocornya roda motor kian menghantui ES sepanjang perjalanan. Kekhawatiran ES semakin bertambah dengan adanya anjing – anjing yang bersliweran di pinggir jalan menuju pantai, namun entah mengapa ES tetap terus melaju. Pancen ASU tenan..!!!

ASU:


Perjalanan menuju pantai seakan tidak sampai – sampai, wajar karena motor hanya bisa dipacu dengan kecepatan rendah untuk menghindari resiko roda bocor dan jatuh ke jurang. Perlahan tapi pasti laut biru di ujung selatan mulai terlihat, walaupun tempat ES berada saat itu rasanya bagaikan terasing dari peradaban. Akhirnya ES sampai juga di ujung jalan yang bisa ditempuh dengan motor saat terdapat gubug sederhana di tepi tebing dengan laut biru yang membentag luas di hadapan. Ujung jalan bukan berarti ES sampai di pantai Ngunggah karena untuk bisa mencapai lokasi bibir pantau diharuskan untuk berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter lagi.

Samudera Indonesia

ES pun memarkirkan motor dan kemudian mulai menyusuri jalan setapak. Jangan dibayangkan jika jalan setapak tersebut datar karena ternyata jalurnya menuruni bukit yang cukup terjal dengan semak belukar yang masih tergolong rapat sehingga kedua tangan masih harus menyingkirkan semak yang menghalangi jalan. Jalur semakin sulit dengan pijakan yang cukup licin.

Perlahan – lahan ES menyusuri jalan setapak tersebut, cukup melelahkan pastinya ditambah lagi saat itu tentu saja ES melaksanakan ibadah puasa, sementara kondisi cukup lembab sehingga membuat keringat mengucur deras. Setelah menempuh perjalan cukup jauh, sekitar 100 meter lagi menuju bibir pantai, perjalanan ES tiba – tiba terhenti. Bukan karena kelelahan atau medan yang berat, tapi karena terdengar suara gonggongan anjing dari kejauhan. Entah kenapa mental petualangan ES runtuh seketika saat itu, tiba – tiba rasa panik dan takut menguasai ES. Yang ada di dalam pikiran ES saat itu adalah: “Asssssuuuuuuuuuuuuu....!!! Let’s get fuck’n outta here A.S.A.P....!!!

Reaksi ES Lagi:


ES saat itu memang bukan dalam kondisi siap berpetualang. Setelan yang ES kenakan saat itu adalah setelan untuk mudik, khususnya sepatu warrior dan celana kain. Terlebih bawaan ES saat itu cukup merepotkan dengan tas besar berisi baju dan laptop sehingga harus berpikir berulang kali jika sampai menemui hal yang tidak diinginkan, plus saat itu ES sendirian di tengah semak. Jadilah akhirnya ES kembali menaiki bukit dengan berlari di tengah teriknya matahari siang dalam kondisi berpuasa.

Menuju Pantai Ngunggah

Syukur Alhamdulillah karena ES bisa kembali ke motor dengan selamat tanpa hadangan apapun, walapun nafas kian terengah – engah usai berlari. Segera saja ES kembali mengendarai  motor kembali ke arah jalan utama. Perjalanan kembali terasa lebih cepat, padahal saat perjalanan menuju pantai rasanya memakan waktu begitu lama dan tidak sampai – sampai. ES pun tiba kembali di jalur lintas selatan kemudian langsung memacu kuda besinya ke arah timur.

Lengangnya Jalur Pantai Selatan


Sampai di Bali

Sekitar satu jam kemudian kuda besi ES sampai di sebuah pantai dengan sebuah puranya yang berada di tepi lautan. Terdapat pula patung – patung yang berbaris rapi di tepi samudera denga deburan ombaknya. Benar – benar suasana serupa dengan yang ada di Pulau Dewata. Mungkin jika ada orang yang terdampar di tepi pantai yang sedang ES kunjungi saat itu, ia akan berpikir bahwa tempatnya terdampar adalah di Pulau Bali.

Bali..??

Pantai dengan suasana khas Pulau Dewata yang ES singgahi tersebut adalah Pantai Ngobaran yang terletak di Dusun Gebang, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya memang ES pernah membuat ENTRY MENGENAI PANTAI NGOBARAN, akan tetapi dalam kunjungan terakhir ini ada perubahan mencolok di pantai Ngobaran.

Bali van Jogja

Beberapa hal yang membuat Pantai Ngobaran berbeda dari pantai – pantai lainnya salah satunya adalah adanya sebuah pura di tepi laut. Keberadaan pura ini termasuk baru karena pada kunjungan ES yang terakhir ke pantai ini pada tahun 2014 belum ada sebuah pura yang berdiri di pantai Ngobaran. Hal – hal lainnya adalah adanya sebuah candi dan juga deretan patung yang menambah suasana Bali di pantai Ngobaran. Tidak hanya nuansa Hindhu saja yang ada di pantai Ngobaran ini karena terdapat pula sebuah masjid yang letaknya ada di antara pura dan candi. Masjid ini beralaskan pasir putih pantai dan yang aneh adalah mimbarnya yang menghadap ke selatan (laut selatan), padahal mimbar masjid – masjid di Indonesia hampir seluruhnya menghadap ke barat sesuai arah kiblat.

Masjid Menghadap Selatan

Pantai Ngobaran bersebelahan dengan Pantai Nguyahan yang terletak di sebelah baratnya. Terdapat pula sebuah jalan menuju atas sebuah bukit yang berada di sekitar selatan tengah jalan yang menghubungkan Pantai Ngobaran dan Nguyahan. Kondisi jalan ke atas tersebut cukup baik namun cukup menanjak pula sehingga diperlukan tenaga untuk menapaki anak tangganya. Tidak terlalu jauh jarak untuk sampai ke puncak bukit. Sesampainya di puncak, pemandangan membentang ke arah pantai ngobaran tersaji di sisi timur, sementara di sisi barat pemandangan membentang ke arah Pantai Nguyahan tersaji dengan kontur perbukitan hijaunya.

Pantai Nguyahan

Ngobaran dari Atas

Garis Pantai

Pura Pantai Ngobaran

Cuaca yang terik ditambah kaki yang melangkah ke sana – ke mari membuat persediaan air di dalam tubuh kian berkurang drastis. Andai sedang tidak dalam Bulan Ramadhan pastilah tenggorokan ini sudah diguyur dengan air es kelapa muda yang diperjualbelikan di sekitar pantai. Sekitar pukul 13.00 WIB ES mulai meninggalkan Pantai Ngobaran. Panasnya cuaca membuat ES melepas jaket untuk menikmati semilirnya angin.


Lanjut ke Timur Hingga Jawa Tengah

Lanjuut
Kuda besi ES kembali melanjutkan perjalanannya ke arah timur menyusuri jalur lintas pantai selatan Yogyakarta. Tak lama kemudian ES tiba ke kompleks pantai Baron – Kukup – Krakal yang merupakan deretan 3 pantai yang berdekatan. Mulai dari Pantai Baron ke timur, pemandangan berupa laut selatan senantiasa menghiasai pandangan karena letaknya yang tidak jauh dari laut selatan.

ES cukup menikmati suasana dari atas motor tanpa harus menepi ke pantai, akan tetapi saat melihat garis pantai yang terlihat dekat, kuda besi ES pun berbelok ke selatan ke arah pantai tersebut. Tibalah ES di Pantai Krakal dengan warna biru langit dan lautan yang seakan menyatu dan membentang di sisi selatan. Hanya sebentar saja ES berhenti di pantai Krakal ini untuk sekedar mengambil foto.

Pantai Krakal

Perjalanan menyusuri pantai selatan pun berlanjut. Selanjutnya banyak sekali ditemukan plang – plang nama pantai yang berbaris di selatan Yogyakarta seperti Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Sadranan, dan pantai – pantai lainnya. ES terus melaju ke arah timur tanpa mengunjungi pantai – pantai tersebut karena pastinya akan menyita waktu. Pantai yang terakhir ES lihat di pantai selatan adalah Pantai Indrayanti karena jalur pantai selatan tepat berada di sampingnya. Selanjutnya perjalanan mulai masuk ke area pedalaman.

Masih di Krakal

Jalur selatan yang ES ikuti bisa dibilang berakhir saat ES sampai di sebuah pertigaan yang mana jika ke selatan maka akan sampai di Pantai Sadeng dan jika ke utara maka akan sampai di daerah Pracimantoro. ES pun mengambil rute ke arah utara menuju Pracimantoro karena tujuan utama adalah pulang kembali ke kampung halaman di Kota Solo. Jalan yang ES tempuh selanjutnya mengarah cukup jauh ke utara, setelah cukup jauh mengikuti jalan tersebut akhirnya sampailah juga pada pertigaan dengan plang petunjuk arah ke Pracimantoro yang mengarah ke Timur. Jadilah ES membelokkan kuda besi ke arah yang ditunjukkan plang tersebut.

Hanya sekitar 15 menit sebelum akhirnya ES mulai meninggalkan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memasuki Provinsi Jawa Tengah. Perbedaan besar terlihat dari kondisi jalan yang ES lalui yang mana jalan menjadi berkurang kualitasnya saat memasuki Provinsi Jawa Tengah. ES beristirahat sejenak di sebuah Masjid di pinggir jalan untuk menunaikan ibadah sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembali.

Mampir Masjid


Finishing Touch

Jalan yang ES lalui akhirnya sampai pada sebuah perempatan Pasar Pracimantoro yang mana jika ke arah barat adalah menuju Yogyakarta melalui Museum Karst, jika ke arah timur adalah menuju Pacitan; Jawa Timur, dan jika ke arah utara adalah menuju Wonogiri dan Surakarta. Empat tahun silam ES pernah melewati perempatan ini saat menuju PANTAI NAMPU bersama teman – teman.

Surakarta yang menjadi tujuan utama membuat ES terus melaju ke arah utara dari perempatan Pasar Pracimantoro ini. Kondisi jalan semakin ke utara semakin ramai dengan lalu – lalang kendaraannya, bisa dibilang suasana jalanan khas mudik lebaran mulai bisa dirasakan dengan adanya kendaraan dari luar daerah dengan barang bawaannya.

Waduk Gajah Mungkur

Terus melaju ke arah utara, pemandangan ES tertuju pada sebuah waduk besar di sisi timur sebelum memasuki Kota Wonogiri. Waduk tersebut tak lain adalah Waduk Gajahmungkur yang terlihat membentang luas di sisi kanan jalan. Keindahannya membuat ES sempat berhenti sejenak untuk mengabadikan keindahan Waduk Gajahmungkur.

Kuda Besi ES

Tak lama kemudian ES mulai memasuki Kota Wonogiri. Kondisi jalan sudah benar – benar ramai mulai Kota Wonogiri ke utara karena memang merupakan jalan utama sehingga banyak kendaraan yang berlalu – lalang mulai dari motor, mobil, bus, hingga truck. Tentu saja konsentrasi ES tingkatkan saat melewati jalan utama ini, terlebih kondisi fisik sudah lelah karena perjalanan panjang sebelumnya.

Sekitar pukul 16.30 WIB akhirnya ES sampai di rumah. Benar – benar perjalanan panjang pulang ke kampung halaman selama depalan jam yang tentunya melelahkan terlebih dengan kondisi yang tengah berpuasa. Hal terpenting adalah ES bisa sampai tujuan dengan selamat, syukur Alhamdulillah jelas ES panjatkan kepada Allah SWT yang telah senantiasa memberikan perlindungan-Nya hingga sampai tujuan.........

No comments:

Post a Comment