MENYAMBANGI DANAU KALDERA TERTINGGI SE-ASIA TENGGARA

Posting Komentar
Konten [Tampil]
Kamis, 27 Agustus 2015; Perjalanan Belum Berakhir

Dini hari kembali hadir sama seperti sebelumnya dengan kumandang adzan subuh yang kembali nyaring dari speaker masjid Desa gunung Labuh. Entah mengapa pula dingin pada pagi hari ini bisa menembus selimut tebal yang kami kenakan hingga menusuk sampai ke tulang. Pertanyaan pun muncul dalam benak kami berempat, “apakah dingin ini akibat fisik kami yang kelelahan usai menyelesaikan PENDAKIAN KE GUNUNG KERINCI kurang dari 12 jam yang lalu..?”
Letak Danau Gunung Tujuh
Kedua mata ini mulai perlahan terbuka, walaupun rasanya seakan kelopak mata atas dan bawah adalah medan magnet yang berlawanan. Perjuangan untuk kembali bangun semakin berat dengan badan yang terasa sakit seakan usai diinjak gajah; tapi entahlah, saya sendiri belum pernah diinjak gajah, yang jelas rasanya masih sakit – sakit di sekujur badan.
Kami di Puncak Kerinci
Credit: Bang Aiip

Hari ini kembali kami akan dihadapkan oleh sebuah perjalanan ke sebuah tempat istimewa di Bumi Kerinci yaitu Danau Gunung Tujuh. Amat disayangkan apabila usai menyambangi puncak gunung api tertinggi di Indonesia, tetapi tidak turut menyambangi danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara. Yap, seperti yang baru saja saya tulis, Danau Gunung Tujuh merupakan danau kaldera tertinggi di kawasan Asia Tenggara yang permukaannya terletak pada ketinggian 1950 meter di atas permukaan laut. Sungguh, Kabupaten Kerinci di Provinsi Jambi yang terletak di pulau besar paling barat Indonesia ini begitu beruntung karena mempunyai 2 tempat dengan predikat tertinggi yaitu Gunung Kerinci sebagai gunung api tertinggi di Republik Indonesia dan Danau Gunung Tujuh; seperti yang sudah dijelaskan.

Danau Gunung Tujuh sebagai danau kaldera terbentuk sebagai akibat dari letusan gunung api pada masa lampau yaitu Gunung Tujuh sehingga terbentuklah kaldera besar yang terisi oleh air hujan dan menjadi sebuah danau. Air dari danau ini mengaliri ke beberapa sungai di Porvinsi Jambi yang salah satunya adalah Sungai Batanghari. Nama Gunung Tujuh disematkan kepada danau ini karena ada 7 gunung yang mengelilingi danau ini yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 meter), Gunung Madura Besi (2.418 meter), Gunung Lumut (2.350 meter), Gunung Selasih (2.230 meter), Gunung Jar Panggang (2.469 meter) dan Gunung Tujuh (2.735 meter). Tidak lupa pula sebagai informasi; Danau Gunung Tujuh juga merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. Benar – benar membanggakan.


Menuju Danau Gunung Tujuh

Letak Danau Gunung Tujuh tidaklah jauh dari Gunung Kerinci, bahkan masih masuk dalam Taman Nasional Kerinci Seblat tepatnya di Desa Pekompek, Kecamatan Kayu Aro. Pagi itu usai bersiap dan sarapan pagi, kami mulai melakukan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh sekitar pukul 09.30 WIB.

Jarak yang dinilai cukup dekat dengan Gunung Kerinci tidak serta merta membuat kami berjalan kaki dari kediaman Mas Giyanto. Beruntung karena saat itu kami dipinjami motor oleh Mas Giyanto, kali ini pula beliau turut mendampingi perjalanan kami. 
Motoran

Total ada 3 sepeda motor yang kami gunakan; Bang Tebeh dengan Bang Reza, Bang Aiip dengan Mas Giyanto, sementara saya sendiri. Kesempatan ini pula adalah untuk pertama kalinya saya naik motor di luar Pulau Jawa.
Saia Motoran (Di sana helm hanyalah mitos)
Credit: Bang Aiip

Cuaca pagi itu begitu cerah, berbeda jauh dengan hujan deras yang turun pada sore sebelumnya saat kami menyelesaikan pendakian ke Gunung Kerinci. 
Gunung Kerinci dan Kebun Teh Kayu Aro

Langit biru yang berpadu dengan hijaunya daun teh Perkebunan Teh Kayu Aro senantiasa menghiasi pemandangan awal perjalanan kami ini. Tentunya motor yang dikendarai Mas Giyanto ada di depan, sementara 2 motor lainnya mengikuti beliau dari belakang.
Bang Tebeg & Bung Reza

Perjalanan sampai ke gerbang masuk menuju Danau Gunung Tujuh sebenarnya tidaklah jauh; hanya sekitar 1 jam dari kediaman Mas Giyanto. Kami mengambil arah utara saat melintasi jalan utama Jambi – Padang (Sumatera Barat) kemudian berbelok ke arah kanan saat ada pertigaan dengan plang arah ke Danau Gunung Tujuh.
Plang Penunjuk Arah

Kami cukup mengikuti jalan tersebut dengan kondisinya yang tidak terlalu bagus alias cukup banyak lubang. Akhirnya kami tiba juga di gerbang masuk Danau Gunung Tujuh dan segera memarkir motor – motor kami di tempat penitipan yang ada.
Sampai 


Perjalanan yang Tidak Sesuai Dugaan

Pagi itu entah mengapa tidak ada petugas jaga yang mengurusi administrasi untuk masuk Danau Gunung Tujuh sehingga kami memutuskan untuk langsung masuk dan mengurusnya saat kembali nanti, toh kami juga bersama Mas Giyanto yang sudah berpengalaman ke danau ini. 
Gerbang Masuk

Kami mulai berjalan kaki menyusuri jalan tanah usai memasuki gerbang sekitar pukul 10.30 WIB. Rute awal perjalanan kami berupa jalan tanah yang cukup lebar dengan perkebunan di sampingnya.
Rute Awal

Perjalanan kami menyusuri jalan ini berakhir usai terdapat plang penanda arah menuju Danau Gunung Tujuh, kami pun mulai berbelok ke arah yang ditunjukkan oleh plang tersebut dan mulai menapaki jalan setapak yang lebih sempit. Sebelum melangkah lebih lanjut Mas Giyanto mengajak kami untuk berdoa terlebih dahulu.
Belok Dimari

Usai berdoa mulailah kami memasuki jalan setapak yang lebih sempit tersebut. Terdapat perkebunan – perkebunan di sisi jalan pada awal perjalanan kami. Usai perkebunan kami mulai memasuki hutan dengan rute yang mulai menanjak seperti pendakian gunung pada umumnya. Mulai dari sini kami mulai menyadari bahwa perjalanan menuju Danau Gunung Tujuh tidak seperti dugaan kami. Awalnya kami mengira bahwa danau ini terletak tidak jauh dari jalan yang bisa ditempuh oleh kendaraan dan jalurnya tidak lagi menanjak, akan tetapi ternyata Mas Giyanto menjelaskan bahwa rute menuju Danau Gunung Tujuh kurang lebih sama seperti rute dari gerbang pendakian Gunung Kerinci sampai shelter 1. Kami tentunya cukup terkejut dengan penjelasan tersebut, terlebih Bang Aiip, Bang Reza, dan Bang Tebeh hanya mengenakan sandal jepit, sementara saya agak beruntung karena memakai setelan yang sama seperti saat mendaki ke Gunung Kerinci kemarin.
Jalur Pendakian

Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menyusuri rute yang becek, menanjak, serta banyak akar sehingga cukup licin dilalui terlebih dengan menggunakan sandal jepit. Sykurlah Bang Aiip, Bang Reza, dan Bang Tebeh begitu bersemangat dalam melalui jalur ini sehingga kami tetap melaju. Kami bertemu dengan rombongan lain di tengah perjalanan.
Rame

Sekitar pukul 13.30 WIB kami akhirnya sampai di puncak tertinggi dari jalan yang kami lalui dengan ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut. Entah puncak apakah ini karena puncak gunung di sekitarnya tidak ada yang berketinggian 2100 meter.
Saia di Puncak "????"

Sesampainya kami di puncak ini bukan berarti kamu sudah sampai di danau, masih ada perjalanan turun sekitar 15 menit untuk sampai di tepian, walaupun Danau Gunung Tujuh sudah mulai terlihat dari puncak ini di antara pepohonan.

Danau Gunung Tujuh
Danau Gunung tujuh

Alhamdulillah, pada akhirnya sekitar pukul 14.00 WIB kami sampai di tepi danau tertinggi se-Asia Tenggara. Semilir angin cukup kencang membelai kami dan juga menimbulkan gelombang di permukaan danau. Jajaran pegunungan yang mengelilingi danau bagaikan benteng – benteng raksasa yang menjulang tinggi. Cuaca saat itu agak berkabut sehingga pegunungan di seberang danau tempat kami berpijak tidak nampak, tetapi kami cukup beruntung karena tidak hujan.
Danau Gunung tujuh

Hanya ada suara angin dan gemercik air danau di sana sehingga suasana begitu mendamaikan. Tentunya saya tidak lupa untuk membasuh muka dan meneguk air langsung dari danau ini. Sebenarnya teman – teman yang lain terutama Bang Tebeh ingin menceburkan diri ke danau ini, akan tetapi entah mengapa rasanya kami begitu mager.
Danau Gunung tujuh

Kami pun hanya berfoto dan berjalan – jalan di sekeliling danau untuk menikmati suasana, sementara Mas Giyanto memasakkan makanan untuk kami di balik bebatuan agar terlindung dari angin.
Saia

Cukup lama kami menikmati suasanda Danau Gunung Tujuh ini karena baru sekitar pukul 16.00 WIB kami mulai berjalan untuk kembali. Terlihat sebuah perahu nelayan sedang melintas di tengah gelombang danau.
Perahu Nelayan

Sebenarnya akan sangat baik jika bermalam di tepi danau sehingga bisa menyongsong matahari terbit pada keesokan paginya, akan tetapi kami memutuskan untuk kembali saja.
Atas: Bang Aiip, Mas Giyanto, saia; Bawah: Bang Tebeh, Bang Reza
Credit: Bang Aiip

Hanya butuh 1,5 jam saja perjalanan kami hingga pintu gerbang sehingga langit masih cukup terang untuk menerangi perjalanan kami. Usai adzan maghrib kami baru memacu kembali motor – motor kami kembali ke rumah Mas Giyanto. 
Kesel Cuy
Credit: Bang Aiip

Tentu saja perjalanan kembali kami kali ini harus menerjang hari yang sudah gelap. Selain kegelapan malam, udara dingin rasanya begitu menggigit mengingat saat berkendara maka otomatis kami terkena angin dingin. Syukur Alhamdulillah karena kami bisa sampai ke rumah Mas Giyanto dengan selamat. Usai mandi dan makan malam kami kembali tidur; masih ada perjalanan yang masih kami tempuh keesokan harinya.

Jumat, 28 Agustus 2015; Perjalanan Panjang Tuk Kembali Pulang
Saat - saat Terakhir Liat Ginian

Hari ini merupakan hari terakhir kami di Kabupaten Kerinci karena memang sudah menjadi jadwal kami untuk memulai perjalanan pulang. Seperti beberapa hari sebelumnya, kami mengawali hari dengan bersiap – siap dan sarapan. Tidak terasa kami sudah  5 hari berada di Kabupaten Kerinci ini sekaligus di Rumah Mas Giyanto. Usai berpamitan dengan keluarga Mas Giyanto, kami diantarnya menuju jalan utama Kerinci – Padang untuk mendapatkan transportasi ke Kota Sungai Penuh.
Saya dan Tugu Macan

Sekitar pukul 10.30 WIB kami semua sampai di jalan utama. Terdapat sebuah patung macan yang mana berfoto di sana merupakan sebuah kewajiban bagi mereka para pendaki Kerinci.
Kami dan Tugu Macan

Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan langka ini untuk berfoto di Tugu Macan ini. Usai berfoto tibalah saat berpisah dengan Mas Giyanto. Kembali kami berterima kasih kepada beliau atas segala yang telah diberikan kepada kami selama 5 hari di Kabupaten Kerinci ini. Semoga keberkahan dan keselamatan selalu menyertai Mas Giyanto  sekeluarga. Aamiin

Sebenarnya sebelum mulai naik angkot kami berencana untuk membeli suvenir terlebih dahulu, akan tetapi sayangnya entah mengapa toko – toko suvenir yang ada di pinggir jalan tutup. Beruntung kami masih bisa membeli teh dan kopi Kerinci sebagai oleh – oleh saat kembali pulang nanti. Sekitar pukul 10.45 WIB kami sudah mendapatkan angkot yang akan mengantar kami ke Kota Sungai Penuh. Sebagai langkah untuk menghemat waktu, Bang Aiip sudah menghubungi pengendara mobil carteran sejak pagi untuk menunggu kami di dekat Lapangan Kota Sungai Penuh.
Ngangkot Lagi

Sekitar tengah hari kami tiba di Kota Sungai Penuh, tepatnya di Pasar Kota Sungai Penuh. Kami pun harus berjalan untuk mencapai tempat pertemuan dengan pengendara mobil carteran. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit bagi kami untuk sampai di tempat yang dijanjikan.
Lapangan Kota Sungai penuh

Sekitar pukul 13.00 WIB mobil carteran mulai bergerak meninggalkan Kota Sungai Penuh menuju Kota Bangko. Benar saja, jika langsung menghubungi pengemudinya kami hanya membayar Rp 100.000,00 untuk jasanya. Kami langsung masuk ke dalam mobil yang akan membawa kami menuju Kota Bangko.
Naik Mobil Lagi


Mata – mata kami sebenarnya mengantuk sehingga ingin rasanya untuk tidur, tetapi kami tetap berusaha untuk menikmati pemandangan karena kami berangkat dari Kota Bangko kemarin pada malam hari sehingga pemandangan tidak terlihat, sementara sekarang perjalanan kami adalah pada saat siang hari sehingga pemandangan yang tidak terlihat di malam hari menjadi terlihat. Keadaan jalan yang kami lewati menuju Kota Bangko cukup lengang. Kami melewati sebuah danau besar di pinggir jalan utama; Danau Kerinci. Kami tidak turun, hanya sempat mengabadikan gambar dengan singkat saja karena kami harus kembali melanjutkan perjalanan, terlebih kami juga harus mengejar bus ALS yang melewati Kota Bangko sekitar pukul 16.00 WIB.
Danau Kerinci

Kembali mobil melaju dengan kencangnya melintasi jalan yang berliku dengan medan berupa pegunungan dan hutan di samping kanan dan kirinya. Pengemudi mobil memberikan informasi kepada kami bahwa saat ini kami sedang membelah Taman Nasional Kerinci Seblat yang ternyata benar – benar luas. Kondisi jalan cukup baik dan halus, tetapi naik – turun dan berkelok. Untunglah pengemudi mobil sudah sangat berpengalaman sehingga mobil bisa dengan gesitnya melalui jalanan tersebut seolah pengemudi sudah hafal di luar kepala belokan mana saja yang akan dilalui. Ada sedikit hambatan di tengah perjalanan kami menuju Kota Bangko, yaitu saat kami melewati suatu daerah entah apa namanya itu, ada banyak sapi yang berdiri di tengah jalan, bukan sebuah masalah yang berarti karena mobil bisa kembali melaju kencang.
Dihadang Sapi

Syukurlah Allah SWT masih memberi kami keselamatan sampai di Kota Bangko setelah melewati perjalanan panjang dari Kota Sungai Penuh selama kurang lebih 4 jam. Sebuah perjalanan yang panjang tentunya. Tidak terbayang jika sampai ada barang penting yang tertinggal di rumah mas Giyanto. Berkat kepiawaian pengemudi juga kami sampai di Kota Bangko tepat sebelum bus ALS lewat di jalan lintas Sumatera. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada pengemudi mobil yang telah berjasa mengantarkan kami dari Bangko – Sungai Penuh – pulang – pergi. Tidak lama kemudian bus ALS pun tiba, segera saja kami memasukkan barang ke dalam bagasi, kemudian masuk ke dalam bus. Entah mengapa bus yang kami pakai untuk kembali ini lebih bagus, bahkan dilengkapi dengan kamar kecil juga. Kami pun memulai perjalanan pulang kembali, meninggalkan Kota Bangko yang semakin jauh di belakang kami. Sampai Jumpa lagi Kota Bangko, semoga semakin berjaya dari waktu ke waktu.
Suatu Ketika di Jalan Lintas Sumatera

Kembali lagi kami harus mengalami perjalan panjang selama lebih dari 24 jam ke depan untuk tiba kembali ke Jakarta. Yah, tidak masalah; lelah sudah pasti jelas, akan tetapi perjalanan seperti ini yang akan selalu berkesan dan terkenang sepanjang hayat. Bus ALS melaju melewati jalan yang sama saat kami berangkat ke Bangko beberapa hari yang lalu, perbedaannya kali ini bus melaju menuju arah selatan. Beberapa kali pula bus berhenti di rumah makan yang sama saat kami berangkat, mungkin memang sudah melakukan kerja sama supaya bus ALS berhenti di rumah makan tertentu agar sama – sama saling menguntungkan untuk pemilik rumah makan dan manajemen armada bus ALS. Pengalaman berangkat tentu saja kami gunakan ketika memilih makanan supaya dompet kami tidak semakin tipis, terlebih pengeluaran kami sudah banyak sejak pertama kali berangkat.


29 AGUSTUS 2016: SAYONARA SUMATERA

Bus ALS yang kami kendarai masih melaju ke arah selatan membelah jalur lintas barat Sumatera. Suatu kejadian yang menyebalkan terjadi saat sebagian besar penumpang tertidur dan matahari tidak bersinar. Saat kami sedang mencoba untuk terlelap, tiba – tiba tercium bau yang berasal dari kamar kecil. Ternyata ada penumpang yang melanggar aturan dengan menggunakan kamar kecil tersebut untuk buang air besar, padahal sudah ada tulisan besar yang melarang penumpang untuk buang air besar di dalam kamar kecil tersebut. Jadilah kami dan penumpang yang lain harus menahan bau tersebut sambil dongkol di dalam hati tentunya. Bahkan ibu – ibu di samping bang Reza mengomel dengan bahasa Padang karena kejadian tersebut. Saat kami berhenti di Lahat untuk makan, kami pun membicarakan dan melampiaskan kedongkolan kami atas kejadian tadi. Kejadian yang cukup lucu tetapi memang menjengkelkan jika diingat sampai sekarang.

Langsung skip ke sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB karena tidak ada yang spesial pada perjalan dengan bus ALS sampai akhirnya kami tiba di pelabuhan Bakauheni. Sebelum bus ALS kami memasuki pelabuhan, tiba – tiba seorang petugas dari Badan Narkotika Nasional naik ke dalam bus dan melakukan pemeriksaan. Kami juga tidak luput dari pemeriksaan, entah mengapa pula pemeriksaan kami agak lama padahal tampang – tampang kami jauh dari kesan kriminal dan tidak seperti orang yang kecanduan narkoba. Syukurlah karena kami bisa melewati pemeriksaan itu tanpa hambatan karena memang kami tidak terlibat dengan barang haram tersebut.
Naik Kapal Lagi

Setengah jam kemudian kami sudah masuk ke dalam kapal yang akan membawa kami menyeberangi Selat Sunda. Beruntung bagi kami karena kondisi belum terlalu gelap saat itu sehingga kami bisa menikmati suasana lalu – lalang kapal di pelabuhan Bakauheni. Cuaca yang sedikit berawan membuat suasana sore itu sedikit suram, matahari tidak menampakkan dirinya secara sempurna karena sedikit terhalang oleh awan. 
Kapal & Pelabuhan Bakauheni

Air di sekitar pelabuhan tampak keruh, wajar saja karena banyak kapal – kapal yang melintasi perairan ini sehingga membuat air keruh. Warna langit sore oranye bercampur dengan warna abu – abu awan, sementara pandangan ke arah jauh seakan terhalang oleh uap air yang seakan menyibakkan tirai transparan keabu – abuan. Kapal kami pun berangkat, secara perlahan meninggalkan Pulau Sumatera mengantar kami kembali ke Pulau Jawa.
Sailing

Kapal kami pun mulai bergerak membelah Selat Sunda. Berdiri di geladak kapal sambil menikmati semilirnya angin laut benar – benar menenteramkan hati, tentunya sesekali harus menghindar dari angin tersebut agar tidak terkena masuk angin. 
Dek Kapal

Langit pun semakin gelap seiring dengan kembalinya matahari ke peraduannya. Kapal pun teteap melaju membelah gelapnya malam di atas Selat Sunda. Pemandangan yang sudah tidak terlihat lagi membuat beberapa dari kami memutuskan untuk tidur saja. Terlebih di kapal tersedia tempat tidur untuk berbaring.
Menara Siger

Sekitar pukul 20.00 WIB kapal sudah merapat di pelabuhan Merak. Bus ALS yang kami naiki pun mulai berjalan kembali meninggalkan lambung kapal, kemudian kembali berjalan menuju ibu kota setelah sebelumnya berhenti sebentar di rumah makan. Malam hari itu sekitar pukul 23.00 WIB akhirnya kami tiba kembali di ibu kota. Jauh lebih cepat tentunya perjalanan kembali ini daripada saat kami berangkat. Syukur juga kondisi lalu – lintas di Jakarta tidaklah macet sehingga bus ALS kami bisa dengan leluasa melenggang melalui jalanan ibu kota. Alhamdulillah karena pada tengah malam kami sampai kembali di rumah mas Aiip yang merupakan titik kumpul kami sebelum berangkat dengan selamat, serta tidak kurang suatu apapun. Bang Reza langsung kembali ke rumahnya karena dia memang domisili Jakarta, sementara saya dan bang Tebeh menginap lagi terlebih dahulu di rumah bang Aiip karena kami masih harus menunggu jadwal kereta api yang akan membawa kami ke kota kami masing – masing.
Jekardah lagi

Epilogue

Perjalanan saya sebenarnya masih belum berakhir karena jadwal kereta api yang akan membawa saya kembali ke Yogyakarta adalah pada tanggal 1 Septermber 2015. Saya menghabiskan waktu menunggu jadwal kereta dengan mengunjungi sepupu di daerah Serpong; terima kasih untuk mas Jalu dan mbak Ulfa yang telah menampung saya selama 2 hari saat menunggu jadwal kereta.
Lost in Serpong

Akhirnya tanggal 1 Septermber 2015 pun tiba. Akhirnya saya bisa kembali dengan kereta api Senja Bengawan yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.00 WIB. 
Naik KRL

Perjalanan panjang saya pun berakhir saat kereta api Senja Bengawan yang saya naiki sampai di Stasiun Lempuyangan; Daerah Istimewa Yogyakarta.
KA Senja Bengawan

Benar – benar sebuah perjalanan panjang selama 13 hari yang sangat berkesan. Suatu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, yang mana akhirnya saya bisa mengalami perjalanan panjang ini dengan sejumlah pencapaian yang menggembirakan. Memang, jika Allah SWT sudah berkehendak, maka apa yang kita kira tidak mungkin / tidak sanggup / atau mustahil “PASTI” akan terjadi juga. Sama seperti perjalanan menuju Gunung Kerinci ini yang mana sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan saya lalui dengan berhasil.

Sampai Cirebon

Sebuah perjalanan panjang yang tidak akan pernah terlupakan, terima kasih untuk bang Aiip yang telah mengajak, bang Tebeh dan bang Reza sebagai rekan perjalanan, mas Giyanto yang telah menampung kami selama di Sumatera, bang Tri yang telah mengenalkan kami dengan mas Giyanto, pak Alex yang telah menemani kami selama pendakian di Gunung Kerinci, pihak PT Antar Lintas Sumater dengan armada dan crew tangguhnya yang telah mengantarkan kami ke Sumatera pulang – pergi, pihak ASDP yang telah membawa kami menyeberangi selat Sunda, pihak PT Kereta Api Indonesia yang telah mengantar saya dari Jogja hingga Jakarta pulang – pergi, hingga pihak – pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu – per satu. Rasa syukur tiada tara juga saya panjatkan kepada Allah SWT karena telah mengizinkan saya menjalani perjalanan panjang selama 13 hari ini.

“DAN PERJALANAN PUN MASIH BERLANJUT...”
Anggara Wikan Prasetya
Perkenalkan, Anggara Wikan Prasetya, pemilik Menggapai Angkasa.

Related Posts

Posting Komentar