Laman

Wednesday, 23 November 2016

WATU PAYUNG PANGGANG: PRIMADONA BARU WISATA ALAM YOGYAKARTA

Yogyakarta kembali menampilkan pesona keindahan alamnya. Wisata ketinggian yang menyajikan keindahan bentang panorama alam satu per satu mulai bermunculan, meskipun Yogyakarta tidak memiliki gunung dengan ketinggian hingga mencapai ribuan meter. Salah satu wisata alam dari ketinggian adalah PUNCAK MANGUNAN yang memang menjadi idola bagi wisatawan yang mengunjunginya. Ternyata tidak hanya Puncak Mangunan saja yang menyimpan pesona keindahan wisata ketinggian, masih ada lagi tempat dengan pemandangan bentang alam yang begitu indah saat dilihat dari ketinggian.

Samudera Kabut Yogyakarta

Tempat dengan pemandangan yang indah ini ini adalah Watu Payung. Jika Puncak Mangunan terletak di Kabupaten Bantul, maka Watu Payung terletak di Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Bedakan dengan Watu Payung di daerah Semin agar jangan sampai salah tempat jika tujuan sebenarnya adalah ke Watu Payung di Panggang. Adalah hal yang wajar apabila banyak orang yang tidak tahu mengenai tempat ini karena memang belum terekspos secara maksimal.

Puncak Mangunan yang Sudah Terkenal

Objek wisata Watu Payung ini tepatnya terletak di Geoforest Watu Payung Turunan ujung barat Geopark Gunung Sewu. Secara administratif letaknya ada di Dukuh Turunan, Desa Girisuka, Panggang, Gunung Kidul. Sebenarnya jarak menuju lokasi tidaklah jauh dari pusat Kota Yogyakarta, hanya sekitar 30 kilometer saja dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dengan kendaraan pribadi.


Menuju Watu Payung Panggang

Rute menuju lokasi Watu Payung Panggang awalnya sama dengan rute menuju JEMBATAN GANTUNG SELOPAMIORO. Cara termudah adalah terlebih dahulu mencapai Terminal Giwangan yang ada di Jalan Ring Road Selatan Yogyakarta. Perjalanan dilanjutkan sebagai berikut:

Perempatan Giwangan


  • Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi Jalan Ring Road Selatan terus ke arah selatan memasuki Jalan Imogiri Timur.

Jalan Imogiri Timur

  • Cukup lurus saja terus mengikuti Jalan Imogiri Timur tersebut hingga pertigaan setelah Pasar Imogiri yang jika ke timur (kiri) adalah menuju Makam Para Raja Imogiri dan jika ke barat (kanan) adalah menuju Jalan Imogiri Barat.

Ambil Arah Kanan (SPN Selopamioro)

  • Ambil arah barat (kanan) hingga nanti ada pertigaan ke arah Selatan (kiri) yang merupakan Jalan Imogiri – Siluk (Arah SPN Selopamioro).



Terminal Giwangan -Geoforest Watu Payung Turunan


  • Apabila jalur menuju JEMBATAN GANTUNG SELOPAMIORO adalah belok kiri usai SMP Negeri 2 Imogiri, jalur menuju Watu Payung masih terus mengikuti jalan utama Imogiri-Siluk tersebut.

Plang Belok Kiri

  • Usai berkendara cukup jauh dengan medan menanjak dan berkelok di perbukitan, maka di kiri jalan akan ada plang penunjuk jalan yang bertuliskan “Hutan Wisata Watu Payung Turunan 1 km”.
  • Belok kiri dan ikuti saja jalan tersebut. Jangan khawatir karena walaupu sempit, tetapi keadaan jalannya cukup baik dan sudah diaspal. Setelah 1 kilometer akan ada tulisan yang menyatakan bahwa lokasi tersebut adalah Geoforest Watu Payung Turunan.

Sampai Kawasan Geoforest Watu Payung Turunan

  • Perjalanan menjadi agak sulit dari tulisan tersebut sampai ke area parkir kendaraan. Walaupun hanya sekitar kurang dari 5 menit perjalanan, kondisi jalan cukup buruk; hanya jalan bebatuan yang licin dan cukup berlumpur jika basah. Tentu pengunjung harus berhati-hati saat melaluinya.

Jalan Menuju Parkiran

  • Setelah dengan sedikit perjuangan, sampailah pada tujuan yaitu Geoforest Watu Payung Panggang. Terdapat sebuah joglo dari kayu untuk berteduh jika hujan dan mushalla. Fasilitas wisata juga sudah dilengkapi dengan toilet.
Parkir di Depan Joglo
  • Usai memarkir kendaraan, pengunjung harus menyusuri jalan setapak dari batu, melewati hutan jati untuk sampai di spot panorama. Beruntung karena jaraknya hanya dekat dan tidak menanjak sehingga cukup mudah untuk dilalui.

 Jalan Setapak di Hutan Jati


Spot Panorama Geoforest Watu Payung Panggang

Pemandangan yang spektakuler akan langsung menyambut pengunjung begitu keluar dari hutan jati. Hamparan bentang alam perbukitan yang menghijau seakan memberi standing aplause akan keberhasilan pengunjung mencapai lokasi tersebut.

Spot Panorama Geoforest Watu Payung Panggang

Pemandangan alam berupa Sungai Oya yang berkelok semakin mempercantik suasana; tidak hanya melalui indera pengelihatan saja, melainkan suara aliran sungainya menghadirkan suasana yang begitu damai saat didengarkan.

Sungai Oya Berselimut Kabut

Waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat ini adalah pada saat pagi hari, sebelum matahari terbit. Tidak hanya soal waktu, tapi saat yang juga tepat untuk mengunjunginya adalah pada peralihan musim hujan dan kemarau sekitar Bulan Mei-Juni. 

Samudera Kabut

Syahdunya Pagi

Alasan pemilihan waktu tersebut adalah saat pagi hari pemandangan akan semakin cantik dengan kabut yang melayang-layang, bersandingan dengan hamparan luas perbukitan. Sementara alasan Mei-Juni merupakan waktu yang tepat karena saat itu posisi matahari mulai berada di lintang utara sehingga matahari terbit akan terlihat.


Jika berkunjung pada bulan November-Maret atau pada saat musim hujan, posisi matahari berada di lintang selatan sehingga letak terbitnya matahari menjadi terhalang oleh perbukitan. Sebaliknya, saat pucak musim kemarau antara Agustus-September, kondisi begitu kering dengan dedaunan pohon yang menguning. Bahkan aliran sungai Oya pun bisa saja mengering jika kemarau panjang.


Lautan Kabut Yogyakarta

No comments:

Post a Comment