Laman

Tuesday, 6 December 2016

GUNUNG MATI LAN MODAR; PAKU UTAMA PULAU JAWA

Gunung-gunung yang terkenal biasanya memiliki ketinggian hingga ribuan meter. Khusus di Pulau Jawa, memang banyak terdapat gunung-gunung favorit dengan ketinggian hingga menembus langit di atas ribuan meter di atas permukaan laut. Sebut saja Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur yang merupakan gunung tertinggi di Tanah Jawa dan Gunung Slamet yang menjadi penyangga langit Provinsi Jawa Tengah; keduanya merupakan gunung terkenal yang menjadi tujuan berbagai kalangan.

Gunung Tidar



Tidar di Kota Magelang

Jika nama Tidar disebut, mungkin belum banyak orang yang menyadarinya. Nama tersebut merupakan nama dari sebuah bukit atau gunung yang terletak di tengah Kota Magelang. Wajar saja jika tidak banyak orang yang tahu mengenai Gunung Tidar, walaupun Magelang menjadi kota transit antara Yogyakarta dan Semarang karena tinggi gunung tersebut hanya 503 meter di atas permukaan laut.

Magelang

Sebenarnya tidaklah sulit untuk menemukan Gunung Tidar karena keberadaannya yang cukup mencolok. Begitu memasuki wilayah Kota Magelang dari arah selatan (Yogyakarta), akan ada sebuah bukit besar yang menjulang tinggi dengan lebat pepohonannya di sebelah kiri jalan utama. Memang terlihat hanya seperti sebuah bukit biasa, akan tetapi Gunung Tidar memiliki kisah legenda yang menarik tentang asal mulanya hingga awal penyebaran Islam di tanah Jawa.


Legenda Gunung Tidar; Paku Pulau Jawa

Zaman dahulu kala, Pulau Jawa belumlah seperti ini dengan tingginya angka kepadatan penduduknya. Hanya ada hutan belantara di atas Pulau Jawa dan tidak ada seorang pun yang berani tinggal di sana karena konon pada saat itu juga Pulau Jawa bagaikan sebuah perahu di tengah laut yang mudah oleng jika terkena ombak. Keadaan tersebut membuat pada Dewa tidak bisa tinggal diam.


Hutan Gunung Tidar

Para Dewa kemudian berkumpul dan mendiskusikan bagaimana cara untuk membuat Pulau Jawa berdiri tenang dan tidak lagi terombang-ambing oleh ombak. Berbagai cara ditempuh, namun sayangnya gagal. Hingga pada akhirnya muncul sebuah ide dari para Dewa dengan cara menancapkan sebuah paku raksasa tepat di tengah-tengah Pulau Jawa.

Upaya tersebut pun berhasil. Setelah sebuah paku raksasa tersebut ditancapkan tepat di bagian tengahnya, Pulau Jawa tidak lagi terombang-ambing oleh hantaman ombak lautan dan menjadi tenang. Masyarakat mempercayai bahwa konon paku yang ditancapkan itu adalah Gunung Tidar yang mana jika dilihat dari letaknya memang berada di tengah-tengah Pulau Jawa.


Legenda Syekh Subakir dan Awal Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Gunung Tidar memiliki kisah legenda lainnya. Diceritakan bahwa konon pada zaman dahulu kala, Gunung Tidar merupakan kawasan yang sangat angker dan menjadi pusat berkumpulnya jin, setan, dan bangsa dedemit lainnya. Pemimpin dari bangsa dedemit ini adalah Kiai Semar yang mana tidak akan segan mengutus prajuritnya berupa genderuwo dan raksasa untuk menghabisi orang yang mendekati atau tinggal di sekitar Gunung Tidar. Maka gunung ini bernama Tidar yang berarti MATI LAN MODAR dan mendapat julukan Jalma Mara Jalma Mati (Siapa yang Berani Mendekat maka Akan Mati).

Menurut Babad Tanah Jawa, datanglah seseorang yang merupakan utusan Sultan Muhammad I dari Kerajaan Turki Usmani di Istambul untuk menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Akan tetapi dalam perjalanannya untuk menyebarkan Islam, beliau mendapat rintangan dari makhluk halus penguasa Tanah Jawa. Syekh Subakir yang memang hali dalam hal rukyah menggunakan batu hitam dari Arab yang sudah dirukyah dan memasangnya di Gunung Tidar yang merupakan pusat kekuatan ghaib Tanah Jawa.

Petilasan Syekh Subakir

Batu hitam tersebut memancarkan hawa panas bagi makhluk halus sehingga mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri karena tak kuat menahan hawa panas tersebut. Mengetahui hal tersebur, Kiai Semar yang merupakan penguasa bangsa jin yang telah bersemayam di Gunung Tidar selama 9000 tahun keluar dan mencari sumber dari hawa panas tersebut.

Kiai Semar pun bertemu dengan Syekh Subakir dan menanyakan apa maksud dari peletakan batu hitam tersebut. Syekh Subakir menjawab bahwa maksud dari peletakan batu hitam tersebut adalah untuk mengusir bangsa jin dan dedemit yang mengganggu upaya penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Perdebatan pun terjadi di antara mereka dan akhirnya terjadilah adu kekuatan. Pertempuran akhirnya berhasil dimenangkan oleh Syekh Subakir. Kiai Semar yang kewalahan akhirnya mengizinkan beliau beserta para ulama untuk menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa.


Petilasan Kiai Sepanjang

Versi lain mengatakan bahwa Syekh Subakir juga membawa serta senjata bernama Kiai Sepanjang. Senjata ini berupa sebuah tombak sakti yang panjang. Saat tombak Kiai Sepanjang ditancapkan di Puncak Gunung Tidar, hawa panas langsung menyerang para jin dan dedemit yang mendiami Gunung Tidar sehingga mereka lari meninggalkan Gunung Tidar. Usai menyelesaikan tugasnya menumbali Tanah Jawa, Syekh Subakir kembali lagi ke tempat asalnya yaitu Turki.


Gunung Tidar, Magelang

Kini Gunung Tidar banyak dikunjungi oleh masyarakat dengan tujuan yang bermacam-macam. Kunjungan favorit adalah untuk berziarah, pada saat hari libur banyak masyarakat dari lain daerah yang berkunjung untuk berziarah di petilasan Syekh Subakir. Masyarakat pun banyak yang berkunjung ke Gunung Tidar untuk keperluan wisata dan olah raga. Rimbunnya pepohonan membuat keadaan di Gunung Tidar begitu sejuk dan rimbun.


Menuju Puncak Tidar

Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di puncak Gunung Tidar dengan melewati jalan yang sudah ditata rapi dengan tangga-tangganya. Sebelum mencapai puncak, perjalanan akan melewati 2 buah petilasan yaitu petilasan Syekh Subakir dan makam Kiai Sepanjang; tempat senjata tombak milik Syekh Subakir diletakkan yang berbentuk seperti makam dengan panjang mencapai 7 meter.


Lapangan Puncak Gunung Tidar

Berjalan menuruti tangga lebih ke atas lagi, maka sampailah di puncak Gunung Tidar berupa lapangan yang cukup luas. Terdapat sebuah tugu di tengah-tengah lapangan luas tersebut yaitu Tugu Paku Pulau Jawa yang memiliki ukiran huruf jawa “sa” di sampingmya berarti Sapa Salah Seleh (Siapa yang Berbuat Salah Pasti Akan Kalah). Tugu ini merupakan simbol bahwa Gunung Tidar merupakan paku Tanah Jawa.


Petilasan Eyang Ismaya Jati

Masih ada beberapa petilasan yang bisa ditemui di puncak Gunung Tidar ini, yang pertama yaitu petilasan Eyang Ismoyo Jati atau Eyang Semar. Bentuk dari petilasan ini berupa kerucut kuning besar yang dikelilingi oleh dinding bata. Ada sebuah pohon jati yang berdiri di tengah-tengah petilasan yang konon tidak bisa ditebang.


Petilasan Pertapaan Pangeran Purboyo

Terdapat pula petilasan tempat pertapaan Pangeran Purboyo di pohon beringin dekat lapangan sekitar puncak. Sementara terdapat Monumen Akademi Militer yang berdiri di titik tertinggi Gunung Tidar.



Monumen Akademi Militer

No comments:

Post a Comment