Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 29 September 2017

NAPAK TILAS JALUR KERETA API PURWOREJO-KUTOARJO

Presiden Republik Indonesia pertama yaitu Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa jangan pernah melupakan sejarah. Perkeretaapian di Indonesia pun juga memiliki banyak sejarah semenjak kemunculannya pada zaman kolonial Belanda dahulu. Postingan kali ini merupakan lanjutan dari napak tilas jalur mati pertama saya di JALUR MATI YOGYAKARTA-PALBAPANG; BANTUL. Kali ini target napak tilas saya adalah di jalur yang belum lama mati yaitu Purworejo-Kutoarjo untuk mengingatkan kembali akan saat-saat kejayaan sang ular besi yang melintasi jalur tersebut.

Jalur KA Purworejo-Kutoarjo
Jalur KA Purworejo-Kutoarjo
Menuju Purworejo via Menoreh

Kembali rasa terima kasih saya haturkan kepada Bung Prima Utama pemilik https://blusukanjalurmati.blogspot.co.id yang telah banyak menginspirasi untuk melakukan blusukan jalur mati. Tanggal 27 September 2017 itu memang sudah agak kesiangan saat saya akan memulai perjalanan napak tilas saat ini. Pertama-tama tujuan saya adalah Stasiun Purworejo yang terletak di Kabupaten Purworejo. Akan tetapi kali ini perjalanan saya menuju Purworejo tidaklah lewat Wates yang merupakan jalan utama, melainkan terus ke arah barat jika dari Tugu Yogyakarta melalui Perbukitan Menoreh.

Jogja-Purworejo via Pegunungan Menoreh
Jogja-Purworejo via Pegunungan Menoreh
Sebenarnya jika dihitung secara jarak, menuju Purworejo melewati Pegunungan Menoreh akan lebih dekat, akan tetapi kondisi jalan yang naik-turun dan berkelok membuat waktu tempuh menjadi sedikit lebih lama daripada jika lewat jalan utama. Kondisi motor pun juga haruslah kuat jika lewat rute Pegunungan Menoreh ini karena banyaknya tanjakan, turunan, dan belokan.

Pegunungan Menoreh di Depan Mata
Pegunungan Menoreh di Depan Mata
Membutuhkan waktu satu jam bagi saya untuk sampai di sisi barat Pegunungan Menoreh dengan selamat setelah melewati jalan yang kondisinya naik-turun, dan berkelok. Selanjutnya kondisi jalan sudah datar karena berada di dataran rendah. Tak lama kemudian saya pun sampai di Purworejo dan bergegas untuk makan terlebih dahulu sebelum mencari Stasiun Purworejo sebagai titik awal napak tilas kali ini.

Sisi Barat Menoreh
Sisi Barat Menoreh

Napak Tilas Dimulai

Usai makan pagi di sebuah warung mie ayam di daerah sekitar Universitas Muhammadiyah Purworejo, saya segera mencari Stasiun Purworejo. Memang tidak ada plang penunjuk arah menuju Stasiun Purworejo mengingat stasiun tersebut yang kini sudah tidak aktif melayani penumpang, namun atas petunjuk bapak penjual mie ayam akhirnya saya dapat menemukannya.

Stasiun Purworejo
Stasiun Purworejo
Bangunan Stasiun Purworejo masih terlihat begitu baik dari jalan di depannya. Wajar saja karena jalur kereta api Purworejo menuju Kutoarjo baru ditutup pada tahun 2010 silam. Penutupan tersebut sebenarnya adalah penutupan sementara saja dan jalur akan kembali diaktifkan setelah perbaikan jalur secara menyeluruh dilakukan karena rel dari Stasiun Purworejo menuju Stasiun Kutoarjo masih menggunakan ukuran R 33, sementara sekarang yang harus digunakan adalah ukuran R 42. Selain itu kondisi jalur juga sudah membahayakan karena berbagai kerusakan di antaranya bantalan rel kayu yang sudah lapuk dan balas (batu-batu yang menopang rel) banyak yang hilang. Akan tetapi entah mengapa hingga entry ini dibuat pada tahun 2017 perbaikan belum dilakukan.

Emplasemen Stasiun Purworejo
Emplasemen Stasiun Purworejo
Stasiun Purworejo yang Sunyi
Stasiun Purworejo yang Sunyi
Bagian dalam Stasiun Purworejo juga kondisinya masih baik dan bersih. Emplasemen Stasiun Purworejo masih bagus, meskipun bangku-bangku tempat penumpang menunggu kini sudah tidak ada. Tinggal sebuah emplasemen luas yang kosong dengan 2 jalur kereta api dengan suasana sepi karena tak ada lagi lalu-lalang penumpangnya dan juga kereta api di atas jalur besinya. Sementara itu Pegunungan Menoreh memanjang di sebelah timur stasiun, seakan menjadi dinding raksasa yang menghalangi jalur rel berlanjut hingga ke Yogyakarta.

Pegunungan Menoreh di Timur Stasiun
Pegunungan Menoreh di Timur Stasiun
Jalur menuju Kutoarjo memanjang ke sebelah barat. Menurut petugas yang ada, panjang jalur menuju Kutoarjo adalah sekitar 13 kilometer. Beliau juga mengatakan bahwa penyusuran terbaik adalah dengan berjalan kaki karena jika naik motor kondisi jalur di depan sudah ditutupi oleh semak tinggi dan juga terdapat banyak jembatan. Akan tetapi saat itu saya tidak mempunyai pilihan karena semakin siang kemungkinan akan turun hujan sehingga sepeda motor tetap saya gunakan meski pun tidak bisa selalu berada di atas rel.


Menyusuri Jalan Kampung

Benar saja, saat berusaha menyusuri jalan langsung di atas rel beberapa meter ke arah barat Stasiun Purworejo, saya langsung dihadang oleh semak-semak yang tinggi sehingga mustahil bagi kuda besi untuk melaluinya. Jadilah saya kembali ke jalan sebelah utara stasiun kemudian jika ada gang ke arah kiri maka saya berbelok. Akhirnya saya bertemu kembali dengan lanjutan jalur mati tersebut dan mengikutinya lewat jalan kampung yang berada di samping rel.

Semak yang Tinggi di Depan Sana

Menyusuri Jalan Kampung
Rasanya sempat khawatir jika ternyata jalan kampung di samping rel ini nantinya buntu. Beruntung karena jalan kampung tersebut cukup jauh dan juga rel masih terlihat di sebelah kiri jalur. Akan tetapi tak lama setelah itu perkampungan pun berakhir otomatis dengan jalan kampungnya. Untungnya jalan di samping rel masih ada, akan tetapi bukanlah jalan kampung seperti sebelumnya, melainkan jalan setapak di tengah sawah.


Menyusuri Jalan Setapak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, saya harus melewati jalan setapak untuk menyusuri jalur mati Purworejo-Kutoarjo. Jalan setapak ini berada tepat di samping rel yang tertutup oleh semak, sementara di sisi lain dari jalan setapak terbentang areal persawahan luas. Jika sampai kehilangan keseimbangan maka bisa saja saya tercebur ke sawah tersebut.

Jalan Setapak Samping Rel
Jalan Setapak Samping Rel
Perjalanan saya yang semula lancar-lancar saja dengan motor di jalan setapak tersebut tiba-tiba saja mendapat hambatan yang cukup menguji mental. Seperti perkataan bapak petugas di Stasiun Purworejo tadi, sebuah jembatan membentang di depan motor saya. Memang bukan jembatan yang besar, tetapi mustahil bagi saya untuk lewat tengah rel karena jarak antarbantalan terlalu lebar, belum lagi risiko bantalan kayu yang sudah tua itu patah. Sementara hanya ada bilah-bilah kayu di jalan setapak samping rel sehingga kekuatannya untuk menopang motor cukup meragukan.

Pemandangan
Belum lagi apabila saya kehilangan keseimbangan, maka bisa saja tercebur ke sungai yang mana meskipun hanya sungai kecil tetapi tetap akan menimbulkan kerusakan bagi motor. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, muncullah keberanian saya untuk tetap melewatinya. saya pun segera berusaha melewati jembatan tersebut dengan menuntun motor melewati bilah-bilah kayu, sementara saya menapaki bantalan rel. Setidaknya hal tersebut akan mengurangi gaya tekan ke bawah seberat 60 kilogram. Syukur Alhamdulillah saya beserta motor berhasil melewati jembatan kecil tersebut dengan selamat.

Alhamdulillah Berhasil
Selanjutnya jalan setapak masih berlanjut hingga akhirnya saya sampai kembali ke jalan aspal. Tidak ada lagi jalan setapak di samping rel sehingga saya harus sementara meninggalkan rel dan berkendara melewati jalan aspal di sebelah utara rel. Akhirnya saya sampai di jalan besar dan berbelok kiri hingga akhirnya jalur rel kembali saya temukan. Kali ini jalan setapak tersedia di samping rel sehingga saya bisa melanjutkan perjalanan di samping jalur rel lagi.


Jalan Buntu!

Beberapa saat saya menyusuri jalan setapak tersebut, ternyata jalur rel kereta api sudah tidak ada lagi di tempatnya, mungkin dipreteli oleh masyarakat sekitar. Perjalanan menyusuri jalan setapak pun terus berlanjut di jalan yang sebelumnya merupakan rel kereta api. Cukup panjang jalan setapak bekas rel kereta api ini. Beruntung kondisinya cukup nyaman untuk dilalui dan juga masih terlihat jelas bahwa dulunya jalan setapak tersebut merupakan jalur kereta api melalui besi-besi di samping kanan-kiri nya sehingga saya tidak perlu khawatir salah jalan.

Rel Menghilang
Rel Menghilang
Cukup lama setelah saya melewati jalur rel yang hilang tersebut, ternyata jalur rel kembali muncul sehingga jalan setapak berlanjut di sampingnya. Beberapa jalan kampung turut saya lewati saat jalan setapak menghilang kemudian kembali ke jalan setapak kembali yang mana untungnya masih tetap ada jika jalan kampung habis.

Rel Muncul Kembali
Rel Muncul Kembali
Perjalanan saya terus berlanjut ke arah Kutoarjo. Saat ada jalan setapak di samping rel yang cukup jelas, maka saya senantiasa melewati jalan setapak tersebut. Akhirnya tibalah saya di sebuah jalan setapak yang berada di belakang pabrik PT. Indotama Omicron Kahar. saya sempat lega karena dari kejauhan tampak lalu-lalang kendaraan yang melewati jalan utama Purworejo-Kutoarjo sehingga saya terus memacu kendaraan melewati jalan setapak yang kadang berada di tengah rel. Harapan saya adalah sampai di jalan utama tersebut, setidaknya menjadi checkpoint sebelum memutuskan harus ke arah mana selanjutnya.

Perhatikan Foto ini
Sayangnya sesuatu terjadi tidak seperti harapan. Menjelang jalan utama ternyata perjalanan saya menyusuri jalan setapak di tengah rel terhalang oleh sebuah jembatan. Kali ini kondisi jembatan benar-benar mustahil untuk dilalui motor. Hanya ada bantalan rel kayu yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, terlebih bantalan paling ujung sudah jebol sehingga merupakan hal bodoh dan gila jika saya memaksakan motor untuk melewati jembatan tersebut. Jalan memutar di sekitarnya pun tidak ada karena terhalang oleh sungai yang mana meskipun tidak besar, namun tetap tidak bisa dilalui motor.

Buntu!
Buntu!
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali saja ke titik jalan kampung sebelumnya, meskipun jarak tempuhnya agak jauh. Ternyata untuk memutar hauan motor ke arah yang berlawanan cukup sulit karena jalan setapak yang sempit dan saat itu jalan setapak berada di tengah rel. Selain terhalang oleh besi rel, jika sampai salah prosedur maka motor saya bisa saja malah terperosok. Beruntung saya bisa memutar haluan motor ke arah sebaliknya dan kembali ke titik jalan kampung terakhir. Saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan utama melalui jalan kampung dan sampai di seberang jembatan yang menghalangi saya tadi.

Jalan Utama Purworejo-Kutoarjo
Jalan Utama Purworejo-Kutoarjo
Tempat Kesasar
Tempat Saya Buntu dari Jalan Utama

Bertemu Jalur Aktif

Selanjutnya tidak ada jalan setapak di samping rel sehingga saya harus berkendara di jalan utama Purworejo-Kutoarjo. Saat ada belokan ke arah kiri, saya berbelok memasukinya dan berusaha menemukan kembali jalur kereta api yang sejak tadi saya ikuti. Untungnya saya bertemu kembali dengan jalur kereta api, namun kali ini tidak hanya relnya saja melainkan gerbong kereta barang juga turut nangkring di atasnya.

Gerbong Barang
Gerbong Barang
ES mencoba untuk mencari jalan supaya terus bisa mengikuti jalur rel yang ada dengan melewati gang-gang sempit. Akhirnya saya menemukan kembali jalan setapak di samping rel yang kini banyak terdapat gerbong-berbong kereta barang di atasnya. Saya kemudian mengikuti jalan setapak tersebut sampai ke ujungnya.

Bertemu Jalur Aktif Kembali
Bertemu Jalur Aktif Kembali
Sebelum sampai di ujung jalan setapak tersebut, saya memarkir motor kemudian turun dan berjalan naik ke rel yang berada di sebelah kiri. Ternyata di tempat saya berada saat itu merupakan percabangan 2 jalur rel yaitu jalur mati Purworejo-Kutoarjo yang saya ikuti tadi, sementara satu lagi adalah jalur rel ganda Yogyakarta-Kutoarjo yang masih aktif. Jalur menuju Yogyakarta berbelok ke arah tenggara dan jalur menuju Purworejo berbelok ke arah timur laut jika dilihat dari arah barat.

Percabangan Jalur
Percabangan Jalur
Jalur mati menuju Purworejo ditandai dengan gerbong-gerbong kereta barang yang berada di atasnya. Memandang ke arah barat dari tempat saya saat itu, Stasiun Kutoarjo sudah terlihat. Melaju terus ke arah barat dengan sepeda motor tidak memungkinkan karena terdapat sebuah jembatan di atas sungai yang cukup besar. Saya pun memacu motor ke jalan utama dan ternyata perjalanan memang sudah dekat dengan Stasiun Kutoarjo. Saya segera memacu kendaraan ke Stasiun Kutoarjo melalu jalan aspal.

Stasium Kutoarjo di Depan
Stasiun Kutoarjo di Depan
Sesampainya saya di palang pintu kereta api di sebelah timur stasiun, saya membelokkan motor ke arah kiri sebelum palang untuk mencari sambungan rel. Benar saja, di tempat pemberhentian selanjutnya, saya bisa menemukan sambungan rel yang menghubungkan jalur mati menuju Purworejo dengan jalur aktif Yogyakarta-Kutoarjo. Tentu setelah ini saya tidak bisa lagi mendekati jalur rel ke arah stasiun karena larangan memasuki jalur kereta api aktif.


Epilogue

Penelusuran kedua saya kali ini pun selesai dengan berhasil. Pertanyaan mengenai bagaimana kondisi jalur mati Purworejo menuju Kutoarjo terjawab sudah, juga pertanyaan mengenai bagaimana kondisi percabangan dengan jalur aktif. Perjalanan kembali ke Yogyakarta pun saya lalui dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlah terjawab. Kali ini perjalan pulang saya adalah melalui jalan utama via Wates, bukan via Perbukitan Menoreh seperti sewaktu berangkat.

Stasiun Purworejo Tempo Dulu

Memang cukup disayangkan mengenai matinya jalur kereta api Purworejo menuju Kutoarjo padahal dulu sewaktu masih aktif jumlah rata-rata penumpangnya mencapai sekitar 400 orang. Tentu hingga kini masyarakat Purworejo masih berharap sang ular besi akan kembali berjalan di atas relnya untuk memudahkan saran transportasi mereka.

17 comments:

  1. Yah... kenapa nggak aktif lagi... sayang banget.
    suka banget naik kereta api. Nggak pake macet. Selalu didahulukan hahhaah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena jalurnya membutuhkan perbaikan secara menyeluruh..

      Sama, saia juga suka bepergian naik kereta api..

      Delete
    2. Karena penumpangnya sedikit, berat di biaya operasional

      Delete
  2. Rel kereta api memang selalu menarik utk diulas. Kereta api menjadi saksi bisu sejarah Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Seandainya foto-foto zaman dulu mudah untuk diakses, maka pembelajaran terhadap jalur kereta api di masa lalu akan lebih baik...

      Delete
  3. sayang banget ya, coba diaktifkan kembali dg pelayanan yg bgs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya memang diperbaiki fasilitas dan layanannya, bukan malah ditutup..
      Tapi semoga wacana untuk dihidupkan kembali segera terwujud..

      Delete
  4. ini ceritanya menyusuri jalur kereta api to mas hehe

    ReplyDelete
  5. Tempatnya epic banget, kalau dibuat foto-foto trus diolah pakai software hasilnya pasti epic.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Apalagi kalau waktunya pas bakal jadi lebih keren lagi..

      Delete
  6. Sedih melihatnya, dulu waktu kecil klo bapak meriksa stasiun suka liat ada feeder yah? cuma bawa 1 apa 2 gerbong kereta kutojaya gtu? pake loko BB yah, knapa sekarang dibiarkan akan mati lama kelamaan, sedih melihatnya......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Sungguh disayangkan..
      Padahal semestinya sarana dan prasarana kereta apinya semakin ditingkatkan untuk semakin memajukan Purworejo..

      Delete
  7. smoga aja, jalurnya bisa diaktifkan kembali biar ane pulang kampung tanpa angkot :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..
      Sudah sering wacana pengaktifannya kembali..

      Semoga segera terealisasi..

      Delete
  8. mungkin andai aja jalur ini dulu terhubung dengan stasiun di magelang pasti jalur ini akan jadi prioritas untuk di perbaiki dan tak di nonaktifkan seperti saat ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kalau ke Magelang kehalang sama Pegunungan Menoreh, jadinya susah..
      Tapi andai dibikin terowongan sampai Magelang, pasti efektif rutenya..

      Delete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda