Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Saturday, 7 October 2017

BELL’S PALSY; KALA TUHAN MEMINJAM SENYUMAN DI SETENGAH WAJAHKU

Hari Rabu, tanggal 13 September 2017. Sebenarnya tidak ada peristiwa besar bagi saya yang terjadi pada tanggal tersebut. Hari itu saya menjalani rutinitas harian seperti biasa dan saat sore hari saya masih menyempatkan diri untuk berjogging di lapangan Grha Shaba Pramana Universitas Gadjah Mada, tempat saya menuntut ilmu sewaktu kuliah di sana dahulu. Tak sekalipun terbayang di dalam pikiran mengenai apa yang akan terjadi beberapa jam setelahnya.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Saat petang pun semua masih normal-normal saja. Tidak ada peristiwa yang terjadi. Petang berjalan seperti biasa. Malam itu usai ibadah maghrib, saya masih sempat bercengkerama dengan teman satu kosan menggunakan bahasa Inggris untuk semakin mengasah kemampuan kami. Tidak disangka, sesaat setelah itu terjadi suatu peristiwa yang cukup mengejutkan saya.


Terjadi Tiba-Tiba

Saat sudah memasuki waktu isya, tentu saya bergegas untuk wudhu dan menjalankan kewajiban harian yaitu sholat isya. Akan tetapi di sinilah keanehan yang akan saya alami dimulai. Saat melakukan kumur dalam berwudhu, tiba-tiba saja saya tidak bisa berkumur dengan baik. Bibir sebelah kiri saya seakan tidak mau menurut untuk mengatup sehingga air keluar dari mulut saya. Saat itu saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan diri saya.

Usai wudhu saya langsung becermin dan ternyata saat mecoba menggerakkan wajah, ternyata wajah sebelah kiri saya tidak digerakkan!

Astaghfirullah.. Apa gerangan yang terjadi..???”

Pertanyaan tersebut otomatis muncul begitu saja di dalam hati setelah saya tahu bahwa wajah sebelah kiri tidak bisa digerakkan. Ketakutan dan kepanikan seakan mengikuti pertanyaan tersebut. Tentu saja, siapa yang tidak takut jika wajahnya tidak bisa digerakkan?? Terlebih lagi:

“Bagaimana jika kondisi ini berlangsung untuk selamanya..!????”


Apakah Saya Terkena Stroke..??

Saat itu saya berspekulasi. Spekulasinya adalah saya mengira bahwa saya terkena stroke yang mana ada gangguan di otak. Tentu spekulasi tersebut cukup mengguncang moral karena tentu pengobatan untuk sroke tidaklah murah. Jangankan pengobatan, pemeriksaan semacam scan otak dan tetek bengek lainnya tentu sudah menguras budget. Tidak ingin terlarut dalam spekulasi yang tidak jelas, saya langsung mencari informasi sebanyak-banyaknya lewat internet. Syukurlah di kosan saya terdapat wifi dengan koneksi cepat sehingga saya tidak kesulitan untuk mengakses internet.

Muka yang Terkena Bell's Palsy
Setelah saya mencari informasi di internet, ternyata memang ada suatu penyakit tersendiri yang saya alami saat itu. Bell’s Palsy, itulah nama sakit yang menyebabkan wajah kiri saya mengalami kelumpuhan dan tidak bisa digerakkan. Saat itu saya sedikit lega setidaknya sakit yang saya alami bukanlah stroke. Saya terus mencari informasi mengenai Bell’s Palsy yang ternyata ada banyak sekali sumbernya di internet mulai dari pengetahuan umum hingga pengalaman penderitanya. Saya kemudian langsung tidur sambil berharap keesokan harinya kondisi muka akan membaik.

Secara singkat, Bell’s Palsy merupakan sakit yang merupakan gangguan pada saraf no.7 yang bertugas mengendalikan otot muka. Saraf no.7 ini ada 2 yang letaknya di seputar telinga kiri dan kanan. Apabila yang mengalami gangguan adalah saraf no.7 sebelah kiri, maka wajah bagian kiri akan lumpuh sepeti yang saya alami.


Pengobatan

Pagi harinya saat saya bangun tidur ternyata harapan muka kembali normal belumlah terkabul. Bahkan pagi itu kondisi muka bertambah buruk terutama pada bagian kelopak mata kiri yang tidak bisa tertutup sempurna saat menutup mata seperti biasanya. Saya juga tidak bisa hanya menutup mata sebelah kiri saja dan untuk berbicara pun rasanya susah karena mulut bagian kiri yang tidak mau bergerak sesuai keinginan. Lebih parahnya lagi bibir sebelah kiri saya posisinya agak turun sehingga tidak sama dengan bibir sebelah kanan.

Siang itu saya berusaha untuk mengobati sakit ini di Poli Saraf Rumah Sakit Dr. Sardjito. Sayangnya poli saraf hanya melayani pasien hingga pukul 14.00 WIB saja. Sungguh sangat mengecewakan karena jam 2 siang masih termasuk waktu yang pagi untuk mengakhiri layanan. Ditambah lagi kondisi saya saat itu cukup kerepotan jika berada di tempat terang karena mata sebelah kiri tidak bisa melakukan refleks jika silau. Saya harus menutup mata sebelah kanan sepenuhnya jika ingin mata kiri agak menutup.

Sore itu saya kembali jogging untuk meredakan kekecewaan saya sembari berharap jogging yang saya lakukan akan bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan Bell’s Palsy ini secara alami. Malah harinya saya melakukan donor darah di unit transfusi darah RS. Dr. Sardjito, selain berdonor juga supaya sekalian mendapat pemeriksaan darah. Untungnya tidak ada masalah dalam darah sehingga saya tidak perlu khawatir tentang adanya virus atau penyakit berbahaya di dalam darah.

Malam itu untuk tidur saya harus mengenakan buff untuk sedikit menekan kelopak mata sebelah kiri agar mau menutup sepenuhnya. Jika dibiarkan tidak menutup, maka saya berisiko mengalami komplikasi Bell’s Palsy berupa sakit mata karena kering akibat kelopak yang tidak bisa menutup. Setidaknya dengan mengenakan buff mata kiri saya bisa tertutup sepenuhnya saat tidur dan tidak kering.

Keesokan harinya pada Hari Jumat, saya kembali lagi ke Poli Saraf RS Dr. Sardjito untuk memeriksakan diri. Kali ini saya tidak terlambat dan mendapat penanganan oleh dokter saraf yang ada. Ternyata pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter saraf tersebut tidak seribet yang saya bayangkan sebelumnya. Setelah melakukan pemeriksaan singkat, dokter kemudian memberikan saya resep yang harus dibeli di apotek terdekat. Dokter juga memberikan surat rujukan bagi saya untuk menjalani fisioterapi di bagian rehab medik RS Dr. Sardjito.

Sayangnya usai pemeriksaan, waktu sudah melewati pukul 14.00 WIB sehingga bagian fisioterapi di rehab medik sudah tidak lagi menerima pasien. Kembali hal tersebut merupakan suatu kekecewaan bagi saya yang menginginkan Bell’s Palsy ini supaya bisa segera disembuhkan. Beruntung saya masih bisa mendapatkan obat di apotek rumah sakit yang semoga dengan meminumnya saya akan segera sembuh.

Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, ternyata harga obat yang harus saya tebus di apotek cukup terjangkau yaitu seharga Rp20.000,00 saja. Sebelumnya saya membayangkan obat untuk saraf harganya cukup mahal hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Obat yang saya dapatkan saat itu adalah RINCOBAL dengan kandungan MECOBALAMIN sebanyak 500 Mg untuk mengobati Neuropati Perifer.

Keinginan saya untuk segera sembuh tidak membuat saya pulang begitu saja. Bagaikan mendapat suara dari langit, secara inisiatif saya pergi ke klinik fisioterapi Universitas Negeri Yogyakarta untuk mendapat terapi. Awalnya saya sempat ragu apakah klinik fisioterapi yang biasanya menangani keseleo, terkilir, dan cedera lainnya tersebut dapat menangani Bell’s Palsy. Untunglah saat saya bertanya kepada petugas yang ada, ternyata klinik fisioterapi UNY tersebut bisa melakukan terapi untuk Bell’s Palsy.

Suatu keberuntungan bagi saya karena pada saat itu seorang ahli fisioterapi yang juga dosen di sana bernama Pak Ali sedang ada di tempat. Beliau mengatakan bahwa bisa melakukan terapi untuk Bell’s Palsy. Segera saja saya mendapat penanganan terapi. Entah terapi apa yang biasanya didapatkan oleh penderita Bell’s Palsy pada umumnya karena di klinik fisioterapi UNY ini terapi yang saya dapatkan adalah melalui pemijatan. Fungsi dari pemijatan tersebut adalah untuk melancarkan peredaran darah dari leher menuju kepala.

Awalnya terapi yang saya dapatkan dilakukan oleh terapis di sana dengan pemijatan di leher, bahu, dan muka. Setelah dirasa cukup, barulah Pak Ali turun tangan melakukan terapi. Melalui pemeriksaan singkat yang beliau lakukan, ternyata memang terdapat banyak sumbatan di leher dan juga di beberapa titik pada bagian wajah sebelah kiri saya. Bahkan yang lebih parah lagi ternyata bahu kiri saya mengalami dislokasi sehingga semakin menyumbat aliran darah. Beliau kemudian melakukan terapi untuk menghilangkan sumbatan-sumbatan tersebut dan memperbaiki bahu saya yang terkena dislokasi.

Terapi pemijatan untuk melancarkan aliran darah pun dimulai. Selain melakukan pemijatan, Pak Ali juga memperbaiki struktur tulang leher saya dengan cara menarik kepala saya kemudian memposisikan tulang leher kembali ke struktur baiknya yang mana merupakah hal berbahaya jika dilakukan oleh seseorang bukan ahlinya. Setelah melancarkan peredaran darah saya di bagian bahu dan leher, giliran muka yang mendapat penanganan. Kali ini saya hanya mendapat pijatan-pijatan untuk melancarkan darah di kepala sehingga suplai darah ke seluruh bagian kepala termasuk saraf no.7 menjadi lancar sehingga membantu mempercepat proses penyembuhannya.


Terapi di Rumah

Terapi yang saya dapatkan berlangsung selama sekitar 15 menit. Selain perbaikan tulang leher dan pemijatan wajah, posisi rahang saya juga turut dibenarkan supaya tidak mencong. Usai pemijatan selesai, Pak Ali mengatakan bahwa Bell’s Palsy biasa terjadi karena akumulasi paparan dingin di otot sejak lama. Biasanya penyakit ini dialami oleh orang-orang yang gemar menggunakan AC atau kipas angin sewaktu tidur sehingga dingin akan terkumpul di otot.

Selain karena dingin, Pak Ali juga mengatakan bahwa Bell’s Palsy yang saya alami juga disebabkan karena penyumbatan pada bahu, leher, hingga beberapa titik di wajah sebelah kiri. Penyumbatan tersebut membuat saraf no.7 tidak mendapat pasokan darah secara optimal sehingga mengalami gangguan fungsi. Introspeksi pun saya lakukan saat itu juga dan rasanya memang benar apa yang Pak Ali katakan barusan.

Jika diingat-ingat, sejak Bulan September 2015 hingga akhirnya terkena Bell’s Palsy pada bulan yang sama di tahun 2017 saya sama sekali tidak tersentuh air hangat. Kegemaran saya melakukan pendakian gunung sehingga menerima paparan udara yang begitu dingin juga menjadi andil terhadap sakit Bell’s Palsy yang saya alami saat itu. Begitu juga posisi tidur saya yang sudah lama salah dengan mengangkat tangan, terutama sebelah kiri sehingga terjadi penyumbatan darah dan dislokasi pada bahu sebelah kiri.

Pak Ali kemudian menyarankan saya untuk memperbaiki posisi tidur dengan tidak lagi mengangkat tangan saat tidur. Saran Pak Ali lainnya agar Bell’s Palsy saya lekas menghilang adalah dengan sesering mungkin mengompres bahu, leher, hingga muka dengan air hangat. Saran lain yang tidak kalah penting adalah untuk menghindarkan muka dari paparan udara dan angin dingin supaya lekas sembuh. Beliau akhirnya menyelesaikan tugasnya sehingga terapi saya kali ini berakhir. Tarif terapi di klinik fisioterapis ini cukup terjangkau yaitu Rp70.000,00.

Tentu saja karena ingin segera sembuh, saya mengikuti saran dari Pak Ali. Saat ada waktu luang saya selalu mengompres bahu, leher, dan muka dengan air panas. Metode yang saya gunakan adalah mengisi air panas ke dalam botol plastik kemudian menempelkan botol tersebut ke bagian-bagian tersebut. Tentu saat masih panas saya tidak langsung menempelkannya di kulit, melainkan dengan melapisi botol dengan kain agar tidak terlalu panas saat menyentuh kulit.

Saya melakukan terapi panas tersebut 2 kali sehari pada pagi dan malam. Beruntung kehadiran kompetisi Liga 1 dan Liga 2 Indonesia di TV One pada sore dan malam hari membuat saya cukup enjoy memanaskan bahu, leher, dan wajah tanpa rasa bosan. Jika akan beraktifitas ke luar saya mengenakan masker, selain untuk melindungi wajah dari terpaan angin juga untuk menyembunyikan wajah yang tidak bisa tersenyum dengan normal saat itu. Tidak lupa posisi tidur juga saya perbaiki dengan tidak lagi mengangkat tangan.


Perjuangan Menuju Penyembuhan

Usai menjalani terapi, hari demi hari saya lalui dengan penuh perjuangan. Hampir seminggu berlalu usai terapi, akan tetapi saya belum merasakan perkembangan yang cukup berarti. Saya terus mencari informasi mengenai lama penyembuhan Bell’s Palsy (BP). Ternyata memang BP tersebut memerlukan waktu lama untuk pulih kembali karena pertumbuhan saraf hanya sekitar 1 mm per harinya. Rata-rata penderita akan kembali pulih dalam waktu 3 minggu. Melegakan tentunya, akan tetapi ada beberapa kasus penderita yang mengalami BP hingga 6 bulan, bahkan ada beberapa lagi yang fungsi mukanya tidak bisa kembali normal lagi.

Informasi tersebut tentunya bagaikan hantu yang gentayanga di pikiran saya. Kekhawatiran akan BP yang sembuh sangat lama jujur membuat saya agak down. Rasanya benar-benar tidak nyaman saat setengah bagian muka mengalami kelumpuhan. Saat itu saya baru merasakan bahwa nikmat Tuhan yang diberikan oleh-Nya kepada kita semua begitu melimpah. Sering kali saya menyepelekan nikmat-nikmat tersebut dan hanya meminta, meminta, dan meminta lagi kepada-Nya dengan sering lupa menyukuri nikmat yang sehari-hari saya dapatkan. Saat Dia mengambil senyuman di muka ini, meskipun hanya setengahnya saja rasanya sudah tidak karuan seperti ini. Memang nikmat baru bisa dirasakan saat dia diminta kembali oleh Sang Segala Pemilik Sesuatu di semesta raya ini.

Tentunya meskipun kondisi moral cukup buruk, bukan berarti lantas saya berprasangka buruk kepada Tuhan. Bagaimanapun juga Tuhan adalah Sang Maha Pengasih dan Sang Maha Penyayang. Mungkin Dia menitipkan sakit ini untuk menggugurkan dosa saya yang sudah entah menumpuk seberapa banyaknya. Saya mencoba untuk selalu bersyukur di tengah kondisi BP yang sedang saya alami. Mungkin juga Yang Maha Kuasa memberikan sakit ini untuk mengingatkan saya supaya semakin mendekatkan diri dengan-Nya. Tentu yang tidak ketinggalan adalah Dia untuk sesaat meminta kembali senyuman di wajah ini agar saya tahu betapa berharganya nikmat dari-Nya, meskipun itu hanya sebuah senyuman yang selama ini saya sepelekan.

Selain rutin melakukan terapi panas, tentunya doa juga tidak lupa senantiasa saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Doa agar Dia bersedia mengembalikan senyuman saya kembali seperti sedia kala. Akhirnya setelah seminggu usai menjalani terapi, Alhamdulillah gejala penyembuhan mulai tampak. Penyembuhan mulai terasa dari bagian mulut yang mulai ringan sehingga saya menjadi lebih mudah berbicara kembali. Rasanya sangat bersyukur kembali bisa merasakan awal dari penyembuhan BP ini. Akan tetapi entah mengapa saya mulai merasakan nyeri pada wajah yang lumpuh, terutama apabila ditekan. Rasa nyeri juga saya rasakan di sekitar telinga sebelah kiri letak saraf no.7. Sementara itu pendengaran di telinga kiri saya mengalami pengingkatan sehingga rasanya cukup mengganggu terutama saat ada suara yang keras.

Hari-hari berlalu dan saya tetap berjuang untuk sembuh dari BP ini melalui terapi panas dan berdoa. Saya sempat kembali ke klinik fisioterapi untuk memeriksakan diri. Oleh terapis saya kembali dipijat di bagian bahu, leher, dan wajah untuk melancarkan peredaran darah. Kali ini pemijatan cukup menyakitkan karena wajah sebelah kiri saya yang sakit saat ditekan, namun demi kesembuhan saya tetap menahan rasa sakit tersebut. Selain terapis yang ada, saya juga diperiksa oleh Pak Ali yang merupakan ahlinya.

Kembali Syukur Alhamdulillah karena menurut Pak Ali penyembuhan saya termasuk baik dengan kondisi bibir yang sudah mulai simetris; tidak lagi mencong sebelah. Beliau mengatakan bahwa tinggal menunggu waktu saja untuk kesembuhan saya. Beliau juga bercerita bahwa dulunya juga pernah mengalami BP; bahkan pada kedua wajahnya. Membutuhkan waktu sekitar 3 minggu bagi beliau untuk bisa sembuh dari BP. Pak Ali lanjut menjelaskan bahwa rasa nyeri di wajah yang lumpuh memang wajar karena sel-sel saraf  sedang memperbaiki dirinya sendiri.

Hari-hari selanjutnya saya jalani dengan semangat karena saya mulai merasakan progress dari penyembuhan BP ini. Setiap hari saya selalu bercermin dan melihat dengan mata kepala sendiri perkembangannya, seperti alis bagian kiri saya yang mulai sedikit terangkat saat saya berusaha mengangkatnya. Meskipun sedikit demi sedikit, rasanya sangat bersyukur sekali saat kesembuhan mulai berangsur datang.


Menuju Sembuh

Kini (06/10/20017) sudah 3 minggu usai pengobatan saya lakukan dan syukur Alhamdulillah kembali saya ucapkan kepada Tuhan yang telah berkenan mengembalikan senyuman di muka ini. Kini saya sudah bisa tersenyum sepenuhnya sehingga kepercayaan diri untuk berbincang dengan orang lain kembali saya dapatkan. Memang saya masih belum sepenuhnya sembuh karena rasanya masih cukup berat untuk hanya menutup mata kiri saja; tidak seperti saat saya mencoba hanya menutup mata kanan, meskipun saya sudah bisa melakukannya.

Akhirnya Bisa Tersenyum Kembali (2 minggu lebih 4 hari usai pengobatan)
Ketidakseimbangan masih saya rasakan di mata. Kedipan mata memang sudah seimbang, akan tetapi saat melakukan refleks terhadap cahaya silau atau saat tertawa, mata kiri saya masih kurang menutup daripada yang kanan. Bisa dibilang saat ini saya sudah 95% sembuh dari BP yang sempat melumpuhkan wajah kiri saya. Tentu saja perjuangan untuk bisa sembuh 100% masih saya lakukan dengan menghangatkan wajah dan terus berdoa serta beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga terus mengingat bagaimana rasanya saat Dia untuk sementara waktu meminjam senyuman saya, agar jiwa dan hati ini selalu senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya.


Tips Menghindari Bell’s Palsy

  • Usahakan tidak terlalu sering terkena paparan udara dingin di muka.
  • Usai bepergian ke daerah dingin/terkena paparan uda dingin, cuci muka/mandi dengan air hangat untuk menghilangkan dingin di otot.
  • Penting untuk beberapa waktu mencuci muka dengan air hangat untuk menghilangkan dingin di otot muka.
  • Jaga kondisi agar tidak terjadi penyumbatan darah pada bagian leher yang menyuplai saraf no.7.


Tips Mengobati Bell’s Palsy

  • Segera periksakan diri ke dokter saraf saat mengalami gejala Bell’s Palsy
  • Lakukan terapi untuk menyembuhkan Bell’s Palsy. (Saya menggunakan terapi untuk melancarkan peredaran darah menuju kepala)
  • Secara rutin kompres bahu, leher, dan muka dengan air hangat.
  • Lakukan senam muka dengan menggerak-gerakkan muka, walaupun yang bergerak hanya setengahnya.
  • Hindari paparan udara dan angin dingin dengan memakai masker dan buff saat bepergian.
  • Pastikan mata menutup sempurna saat tidur agar mata tidak kering. (saya menggunakan buff)
  • Tetap sabar dan berprasangka baik kepada Tuhan Yang Maha Pengasih & Penyayang.
  • Berdoa dengan tulus dan meminta ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

6 comments:

  1. yaa Allah.. baru saja saya dapat info bahwa ada teman saya kena sakit ini, eh sekarang ada artikel tentang BP ini berdasarkan pengalaman dari masnya langsung.
    Alhamdulillah jika sudah berangsur-angsur pulih, la ba'sa thohurun insyaAllah. semoga bisa kembali sehat 100% seperti sedia kala ya mas. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Terima kasih atas doanya mbak..
      Semoga temannya mbak juga lekas diberi kesembuhan dari Bell's Palsy nya... Aamiin

      Delete
  2. subhanallah ternyata nyata ya
    aku baru kali ini sih baca tulisan seorang blogger yang membahas tentang bells palsy, terjadinya hanya pada setengah wajah, juga menyambar kepada seseorang yang berusia muda pula
    tulisan ini mengingatkan aku juga, bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur daripada banyak meminta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Semoga bisa menambah wawasan orang lain juga tentang BP..
      Saya pun pertama cukup terkejut dan g menduga sama sekali karena sebelumnya normal-normal saja.. Ternyata emang BP bisa menyerang siapa saja; tidak memandang gender dan usia..

      Benar.. Bahkan senyum pun rasanya sangat berharga pas g bisa senyum..

      Delete
  3. Subhanallah, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan dijauhkan dari berbagai penyakit. Aamiin

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda