Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Tuesday, 24 October 2017

JELAJAH SURGA-SURGA BARU PRAMBANAN BERSAMA BAPAK BUPATI SLEMAN

Pariwisata di Yogyakarta kian menggeliat di tengah era informasi yang membuat masyarakat luas dapat mengakses info mengenai spot-spot baru yang diposting di media sosial. CANDI IJO yang ada di postingan sebelumnya juga sekarang tengah naik daun dengan panorama sunset luar biasanya yang juga banyak diblow up melalui media sosial. Spot-spot wisata di sekitar Candi Ijo kini juga banyak bermunculan yang menyajikan panorama alam spektakulernya. Hal tersebut kontras dengan beberapa tahun sebelumnya yang mana selain Candi Ijo tidak ada spot wisata lainnya.

Jalan-jalan Bareng Pak Bupati Sleman
Jalan-jalan Bareng Pak Bupati Sleman
Photo by: bajalanan.com

Aku. Travel Blogger yang Hilang

Hari Kamis tanggal 19 Oktober 2017. Siang itu saya sudah bersiap untuk berangkat dari kosan untuk memenuhi undangan yang saya terima, tentu sebelumnya semua perangkat ngeblog berupa kamera dan HP sudah saya siapkan. Undangan tersebut adalah untuk mengikuti acara Fam Trip (Familiarization Trip) dari Dinas Pariwisata Sleman yang bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman untuk menjelajah spot-spot baru di wilayah Sleman. Kali ini perjalanan tersebut diadakan di Kecamatan Prambanan. Acara tersebut melibatkan para blogger yang mana diharapkan melalui tulisan mereka, spot-spot wisata baru di tempat diadakannya acara ini akan semakin dikenal masyarakat.

Tentu saya sebagai seorang blogger segera mendaftar untuk mengikuti acara tersebut karena memang salah satu tujuan ngeblog saya adalah untuk semakin mengenalkan destinasi-destinasi wisata Indonesia kepada masyarakat luas. Sebelum memulai perjalanan, peserta berkumpul terlebih dahulu di The Rich Hotel Jogja untuk melakukan registrasi. Acara ini juga merupakan kali pertama saya berkumpul dengan blogger-blogger lain dan tim dari komunitas fotografi, dan juga rekan-rekan Genpi (Generasi Pesona Indonesia), sehingga rasanya cukup canggung karena belum ada yang kenal.
The Rich Hotel Jogja
Memang selama ini perjalanan-perjalanan saya ke berbagai destinasi wisata yang akhirnya menjadi postingan di blog kebanyakan saya lakukan seorang diri. Jikalau mengajak teman pun selalu saya pergi dengan mereka yang sudah cukup akrab. Oleh karena itu meskipun canggung pada awalnya, ada harapan saya pribadi untuk semakin mendapat banyak kenalan-kenalan baru di banyak kalangan traveller; entah itu blogger, media, atau Genpi. Tentu saja akan sangat menyenangkan apabila mempunyai banyak kenalan sesama traveller.
Registrasi Peserta
Setelah semua peserta yang berkumpul di The Rich Hotel Jogja sudah selesai melakukan registrasi, perjalanan akan segera dimulai. Saat itu waktu hampir menunjukkan puku 12.30 WIB yang menurut panitia adalah jadwal keberangkatan kami. Tujuan pertama kami adalah Tebing Breksi yang merupakan titik dimulainya Fam Trip. Rombongan sebenarnya berangkat dengan menggunakan bus, akan tetapi saya harus menggunakan motor karena pada malam hari sudah ada acara di Kecamatan Manisrenggo; Klaten sehingga jarak tempuh akan lebih dekat apabila ditempuh dari Tebing Breksi.
Bus Peserta

Tamu yang Tak Terduga

Sekitar pukul 13.30 WIB saya sudah tiba di Tebing Breksi, sementara rombongan yang menggunakan bus masih belum tiba. Rasanya seperti tidak ada momen spesial di obyek wisata yang kini sedang naik daun ini. Saya segera memarkir motor di tempat parkir yang ada kemudian berkeliling untuk mencari titik lokasi diadakannya acara nanti. Tebing Breksi ini cukup ramai, meskipun bukan weekend. Media sosial memang benar-benar memiliki efek besar dalam perkembangan sebuah destinasi wisata.
Tebing Breksi, Yogyakarta
Tebing Breksi, Yogyakarta
Terdapat tenda-tenda acara yang dipasang di sebelah timur kawasan Tebing Breksi. Saya pun segera berjalan ke sana sembari menduga bahwa tempat itu adalah lokasi diadakannya acara nanti. Sesampainya di sana, ada beberapa bapak-bapak yang sedang becengkerama dan beberapa petugas dari pihak kepolisian yang duduk di kursi yang telah disediakan. Kembali karena tidak ada seorang pun yang saya kenal, saya hanya duduk dan mempersiapkan perangkat dokumentasi seperti kamera dan HP.
Bapak Bupati Sleman yang sudah rawuh
Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa sudah ada tamu penting yang tiba di sana. Saya baru sadar saat mengobrol dengan petugas kepolisian dan beliau mengatakan bahwa salah satu dari bapak-bapak yang sedang becengkerama tersebut adalah Bapak Bupati Sleman; Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I dengan pakaian adat Jawa berupa jarik, baju lurik, dan blangkon. Rasanya benar-benar tidak terduga sama sekali karena saat itu adalah pertama kali saya bertemu dengan Bapak Bupati Sleman secara langsung. Memang sebelumnya sudah diinfokan bahwa Pak Bupati akan turut serta dengan kami, tetapi tetap tidak menyangka bahwa beliau sudah tiba.
Briefing oleh Pak Camat Prambanan
Tak lama kemudian rombongan yang menggunakan bus sudah tiba sehingga rangkaian acara segera dimulai. Pertama-tama setelah acar dibuka, Bapak Bupati melakukan sambutan kepada kami kemudian dilanjutkan dengan briefing yang dilakukan oleh Pak Camat Kecamatan Prambanan. Kami pun diarahkan untuk naik jeep yang sudah disiapkan untuk menuju destinasi-destinasi wisata pada acara ini. Bapak Bupati Sleman dan Pak Camat Prambanan juga ikut serta dalam perjalanan ini dengan menggunakan jeep, tapi yang tertutup.
Naik Jeep Tebing Breksi
Naik Jeep Tebing Breksi

Selo Langit (Watu Payung) Menggapai Angkasa di Tepi Yogyakarta

Segera saja kami menuju jeep yang sudah berjejer rapi dan siap untuk berangkat. Masing-masing jeep memiliki kapasitas 5 orang termasuk sopir. Saya berkenalan dengan peserta lain yaitu Bung Agung yang merupakan sesama blogger dan Bung Andi; perwakilan dari Genpi Jogja. Hanya ada 3 peserta termasuk saya di jeep yang kami gunakan sehingga sebenarnya masih menyisakan 1 slot kosong. Iring-iringan jeep kami segera berangkat menuju spot pertama yaitu di Selo Langit (Watu Payung). 
Konvoi Jeep
Menuju Selo Langit (Watu Payung)

Secara administratif, Selo Langit (Watu Payung) ini terletak di Dusun Gedhang Atas, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jarak dari pusat Kota Yogyakarta (Tugu Jogja) sekitar 21 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih 1 jam. Belum tersedia transportasi umum menuju ke lokasi ini sehingga kendaraan pribadi menjadi salah satu alternatif yang bisa digunakan. Namun apabila tidak ingin terlalu lelah dan ingin menikmati perjalanan sepenuhnya, maka bisa menggunakan jasa jeep.


Jalur yang kami gunakan searah dengan jalur menuju Candi Ijo yaitu naik ke arah timur menyusuri jalan utama. Rasanya begitu menyenangkan mengadakan perjalanan dengan jeep wisata karena kami bisa dengan bebas menikmati pemandangan di sekeliling dan mengabadikannya melalui kamera. Jeep terus berjalan saat melewati Candi Ijo, terus melaju ke arah timur, melewati jalan menanjak di kawasan perbukitan. Hijaunya pepohonan di kanan-kiri jalan beserta semilir angin benar-benar meghadirkan sensasi relaksasi bagi kami.
Melewati Candi Ijo
Melewati Candi Ijo
Selo Langit (Watu Payung)

Kami akhirnya di belokan menuju Selo Langit (Watu Payung). Sudah ada spanduk dan tulisan yang menunjukkan arah menuju destinasi tersebut. Menjelang area parkir Watu Payung, jalan belum begitu bagus sehingga guncangan di jeep cukup keras. Akan tetapi justru hal ini menjadi sensasi yang menyenangkan saat naik jeep. Tak lama kemudian jeep sampai di area parkir dan kami segera turun untuk selanjutnya berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju destinasi yang sudah tidak lagi jauh.
Menjelang Sampai Selo Langit
Akhirnya kami tiba juga di lokasi Selo Langit (Watu Payung) setelah sejenak berjalan kaki. Terdapat sebuah batu di dekat tebing jurang yang posisinya agak menggantung sehingga dinamai Watu Payung. Pengelola menambahkan patung berbentuk naga untuk semakin mempercantik Watu Payung. Meskipun letaknya agak menggantung, Watu Payung dapat dinaiki oleh pengunjung. Terdapat juga tulisan-tulisan unik yang bisa dipakai pengunjung untuk berfoto.
Watu Payung dengan Ornamen Naga
Watu Payung dengan Ornamen Naga
Panorama yang tersaji di Selo Langit ini pun sangat luar biasa. Pemandangan terbuka tersaji di sebelah timur berupa hamparan luas hingga ke ujung cakrawala. Bahkan Rawa Jombor yang berada di Kabupaten Klaten turut terlihat. Jika cuaca sedang sangat cerah, Gunung Lawu di ujung timur juga dapat terlihat dari Selo Langit ini. Sementara itu agak ke selatan atau di sebelah tenggara jajaran pegunungan selatan yang menghijau, termasuk juga Puncak Nglanggeran tampak begitu gagah dan memesona.
Pemandangan Terbuka ke Arah Timur
Rawa Jombor di Kabupaten Klaten dilihat dari Selo Langit (Watu Payung)
Rawa Jombor di Kabupaten Klaten dilihat dari Selo Langit (Watu Payung)
Pegunungan Selatan Dilihat dari Selo Langit (Watu Payung)
Pegunungan Selatan Dilihat dari Selo Langit (Watu Payung)
Bapak Bupati dan Pak Camat juga tidak ketinggalan ikut berjalan kaki sampai di lokasi Watu Payung. Pak Camat yang memang sangat mengerti kawasan tersebut turut menjelaskan kepada kami seputar lokasi Selo Langit ini. Salah satu dari penjelasan beliau yang menarik adalah mengenai pembagian wilayah antara Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat pada peristiwa Perjanjian Giyanti 1755 atau Palihan Nagari di masa silam. Melalui penjelasan dari Pak Camat, diketahui bahwa wilayah hutan di lokasi Selo Langit ini merupakan perbatasan dengan wilayah Surakarta Hadiningrat. Tentu hal ini menarik bagi saya karena baru beberapa saat yang lalu melakukan JELAJAH PERADABAN MATARAM ISLAM bersama Komunitas Malam Museum.
Pak Bupati Jalan-Jalan
Pak Bupati Jalan-Jalan
Selo Langit (Watu Payung) yang kami kunjungi ini terletak di wilayah perbatasan antara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Provinsi Jawa Tengah. Hanya beberapa kilometer ke arah timur, wilayah tersebut sudah merupakan bagian dari Provinsi Jawa Tengah yang ada di Kabupaten Klaten. Pemandangan terbuka ke arah timur yang terbuka menjadikan Selo Langit sebagai salah satu spot untuk berburu sunrise di sebelah timur Kabupaten Sleman.
Perkampungan di Bawah
Usai puas menjelajah Selo Langit, kami segera kembali ke jeep untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya. Sebelum kembali, kami sempat berfoto bersama-sama; tentunya juga bersama Bapak Bupati dan Pak Camat. Setelah peserta kembali naik di jeepnya masing-masing, iring-iringan jeep kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini tujuan kedua kami adalah menuju Bukit Teletubbies.

Perjalanan Menembus Perbukitan
Melewati Jalan Kampung
Perjalanan kami dengan jeep kembali berlanjut. Konvoi jeep rombongan kami berjalan menembus medan perbukitan dengan kondisi jalannya yang berkelok dan naik-turun. Jeep yang kami gunakan tidak berjalan melalui jalan utama, melainkan berbelok melewati sempitnya jalan perkampungan. Awalnya saya sempat mempertanyakan alasan sopir jeep yang tidak melewatkan kami di jalan utama. Namun pada akhirnya saya mengerti mengapa jeep tidak lewat jalan utama.
Melewati Hutan Jati Bonsor (Jabon)
Rute yang dilewati jeep ternyata memiliki panorama alam yang indah. Usai melewati Dusun Klumprit kami mulai melewati kawasan hutan di yang ada di area perbukitan. Terkadang pemandangan terbuka ke arah barat terlihat dari balik pepohonan. Pemandangan paling bagus adalah ketika kami melewati kawasan hutan jati bonsor (Jabon). Pohon-pohon jabon yang berdiri tegak membuat tempat yang kami lewati terasa begitu spesial. Tentu kami tidak melewatkan momen ini untuk mengabadikannya dengan perangkat kami.
Kawasan Hutan Jabon

Bukit Teletubbies, Perkembangan yang Begitu Pesat

Setelah menyusuri jalan perbukitan, akhirnya kami sampai juga di destinasi selanjutnya yaitu Bukit Teletubbies. Sebenarnya saya sudah pernah berkunjung ke sini hampir satu tahun yang lalu. Kunjungan saya pada waktu itu merupakan rangkaian kunjungan ke DESA WISATA DOME. Akan tetapi meski pernah berkunjung sebelumnya, saya tetap terkejut dan kagum karena ternyata Bukit Teletubbies sekarang telah berubah menjadi semakin cantik dengan fasilitasnya yang kian lengkap.
Bukit Teletubbies, Prambanan, Yogyakarta
Bukit Teletubbies, Prambanan, Yogyakarta
Keadaan tersebut kontras dengan saat terakhir saya berkunjung ke sini sebelumnya. Dahulu tempat ini hanyalah sebuah puncak bukit dengan tulisan “Bukit Teletubbies” dan tulisan itu pun masih begitu sederhana. Akses jalan pada saat kunjungan saya sebelumnya juga masih tidak bagus. Bukit ini dinamakan Bukit Teletubbies karena pengunjung dapat memandang rumah-rumah dome di Desa Wisata Dome yang menyerupai rumah Teletubbies dari ketinggian.
Bukit Teletubbies, Prambanan, Yogyakarta
Bukit Teletubbies, Prambanan, Yogyakarta
Kini keadaan Bukit Teletubbies sudah sangat bagus. Puncak bukit sudah dipaving sehingga memudahkan kaki untuk melangkah. Terdapat pula gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk berlindung dari panasnya matahari. Papan tulisan “Bukit Teletubbies” pun tak lagi sederhana, melainkan sudah berwarna-warni sehingga bisa menjadi latar berfoto yang bagus. Tidak ketinggalan pula adanya gardu pandang agar semakin memudahkan pengunjung menikmati pemandangan. Infrastruktur berupa jalan kini sudah baik dan mulus. Bukit Teletubbies berkembang begitu pesat hanya dalam waktu singkat.
Fasilitas Bukit Teletubbies yang Sudah Lengkap
Fasilitas Bukit Teletubbies yang Sudah Lengkap

Menuju Bukit Teletubbies

Letak dari Bukit Teletubbies sebenarnya tidak begitu jauh dari Tebing Breksi, Candi Ijo, dan Selo Langit. Memang rute jalannya juga bisa ditempuh dari jalan yang sama dengan jalan menuju ketiga destinasi tersebut, akan tetapi rute menuju Bukit Teletubbies akan lebih mudah ditempuh dari Desa Wisata Dome. Secara administratif letak Bukit Teletubbies ini masih ada di Kecamatan Prambanan.


Jarak tempuh dari pusat Kota Yogyakarta (Tugu Jogja) adalah sekitar 22 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Transportasi umum menuju Bukit Teletubbies masih belum ada sehingga sama seperti di Selo Langit yaitu kendaraan pribadi adalah salah satu sarana transportasi terbaik. Jeep wisata juga tersedia di Desa Wisata Dome beserta paket-paket wisatanya yang akan mengantar wisatawan ke berbagai destinasi, bahkan hingga menjangkau Tebing Breksi, Candi Ijo, dan lainnya. 


Bukit Teletubbies

Setibanya kami di area parkir Bukit Teletubbies, sebenarnya Bapak Bupati menghendaki untuk melaksanakan Sholat Ashar terlebih dahulu. Akan tetapi sayangnya saat kami tiba di sana, akses air sedang tidak mengalir. Pengelola dari Bukit Teletubbies menjelaskan bahwa ada kerusakan pada sistem penyuplai air dari bawah. Pak Camat Prambanan yang mendengar penjelasan tersebut langsung bergerak cepat dengan menelepon pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran suplai air supaya masalah air cepat teratasi. Ibadah Sholat Ashar pun dilakukan usai kunjungan di Bukit Teletubbies ini.
Bapak Bupati dan Pak Camat Sedang Berdiskusi dengan Pengelola
Kami segera berjalan menapaki anak tangga menuju puncak Bukit Teletubbies. Suasana sangat nyaman begitu kami sampai di puncak karena lokasinya yang sudah dibenahi dan dipercantik. Bapak Bupati dan beberapa dari kami sempat naik ke atas gardu pandang. Benar saja, pemandangan terbuka ke arah barat tampak begitu luar biasa termasuk rumah-rumah dome. Jika cuaca cerah, maka sunset akan terlihat begitu menawan dari sini.
Pemandangan dari Gardu Pandang Bukit Teletubbies
Pemandangan dari Gardu Pandang Bukit Teletubbies
Desa Wisata Dome dari Gardu Pandang Bukit Teletubbies
Desa Wisata Dome dari Gardu Pandang Bukit Teletubbies
Foto Bareng Bapak Bupati Sleman; Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I
Foto Bareng Bapak Bupati Sleman; Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I
Selain pembenahan pada fasilitas wisatanya, perkembangan pesat pun juga dialami oleh fasilitas-fasilitas penunjang wisatanya. Sekarang telah tersedia kamar mandi atau toilet yang bagus dan bersih. Mushalla yang ada pun sudah sangat bagus dan bersih. Jika haus atau lapar, sudah tersedia warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Semuanya sudah lengkap, andai saja suplai air tidak mengalami gangguan saat kunjungan kami ini. Setelah cukup menikmati Bukit Teletubbies, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali.


Mampir Sholat

Kali ini arah dari perjalanan kami adalah kembali menyusuri jalan yang sebelumnya telah kami lewati ke utara. Destinasi perjalanan kami selanjutnya adalah di sebuah bukit bernama Bukit Klumprit. Akan tetapi karena ibadah Sholat Ashar sempat tertunda, maka kami terlebih dahulu mampir ke sebuah masjid untuk menjalankan kewajiban tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.
Sholat Ashar Dulu
Kami mampir di sebuah masjid yang letaknya agak di bawah, dekat dengan Balai Desa Wukirharjo. Beruntung air di sini mengalir dengan lancar sehingga bisa digunakan untuk berwudhu atau bagi peserta yang ingin ke kamar kecil. Kami Sholat Ashar di sini dengan Bapak Bupati sebagai imam sholatnya. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan kembali. Rute yang kami lewati searah dengan rute kembali ke Tebing Breksi.


Suatu Senja di Bukit Klumprit

Awalnya kami tidak mengerti mengapa jeep berhenti di tengah jalan. Sopir jeep kemudian menjelaskan kepada kami bahwa perjalanan menuju Bukit Klumprit harus dilakukan dengan berjalan kaki. Kami kemudian turun dan mulai berjalan setelah rombongan berkumpul. Akses menuju Bukit Klumprit memang belum baik dan hanya ada jalan setapak untuk menuju lokasi tersebut. Sementara itu jeep yang kami gunakan berhenti dan parkir di jalan utama dan sebagian lagi di perbatasan dengan jalan setapak.
Jalan Setapak yang Harus Dilalui
Rombongan segera berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ada. Kondisi jalan setapak pun tidak terlalu lebar, bahkan sebagian besar hanya cukup untuk dilalui seorang saja. Jalur yang kami lalui pun tidak selalu datar karena di beberapa titik kami harus berjalan sedikit mendaki sehingga perlu kehati-hatian untuk melaluinya. Meskipun demikian, waktu tempuh berjalan kaki menuju lokasi Bukit Klumprit tidaklah terlalu lama. Sekitar 10 menit berjalan kaki, akhirnya kami tiba di Bukit Klumprit.
Menyusuri Jalan Setapak Menuju Bukit Klumprit
Menyusuri Jalan Setapak Menuju Bukit Klumprit
Menyusuri Jalan Setapak Menuju Bukit Klumprit
Menyusuri Jalan Setapak Menuju Bukit Klumprit
Menuju Bukit Klumprit

Bukit Klumprit secara administratif terletak di Dusun Klumprit, Desa Wukirharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jarak tempuh dari Kota Yogyakarta hampir sama dengan 2 destinasi sebelumnya, akan tetapi waktu tempuh sedikit lebih lama karena harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Transportasi umum juga belum ada sehingga kendaraan pribadi menjadi alternatif terbaik selain menggunakan jeep wisata dari Tebing Breksi atau Desa Wisata Dome.


Bukit Klumprit

Sesampainya di Bukit Klumprit, kami langsung disuguhkan dengan panorama terbuka ke arah barat. Kondisi topografi di Bukit Klumprit ini tidak sepenuhnya datar karena terdiri dari batuan breksi yang terkikis air hujan. Desa Wisata Dome juga dapat terlihat dari sini, serta Bukit Teletubbies yang berada di bukit sebelah selatan dari Bukit Klumprit. Sementara itu di ujung selatan Puncak Nglanggeran turut terlihat. 
Pemandangan Terbuka ke Arah Barat di Bukit Klumprit
Pemandangan Terbuka ke Arah Barat di Bukit Klumprit
Desa Wisata Dome dari Bukit Klumprit
Desa Wisata Dome dari Bukit Klumprit
Berlatar Gunung Api Purba Nglanggeran di Ujung Selatan
Seluruh rombongan tiba di Bukit Klumprit ini setelah berjalan kaki termasuk Bapak Bupati dan Pak Camat dengan pakaian tradisional Jawanya. Pak Camat yang memang tahu banyak mengenai kawasan ini menjelaskan kepada kami seputar Bukit Klumprit ini termasuk akan dibukanya akses jalan utama sehingga pengunjung tidak perlu lagi berjalan kaki menyusuri jalan setapak ke depannya.
Bapak Bupati Sleman dan Pak Camat Prambanan
Bapak Bupati Sleman dan Pak Camat Prambanan
Bukit Klumprit sendiri merupakan tempat yang pas untuk menikmati keindahan sunset karena pemandangan terbuka ke arah barat. Akan tetapi saat kunjungan kami ini, ufuk barat cukup berawan sehingga sunset tidak begitu sempurna. Namun bukan berarti pemandangan tidak cantik. Keindahan senja masih dapat kami saksikan di sini beserta lembutnya embusan angin yang menenteramkan hati.
Suatu Senja di Bukit Klumprit
Suatu Senja di Bukit Klumprit
Matahari Sore dan Awan di Ufuk Barat
Matahari Sore dan Awan di Ufuk Barat
Kami kembali sebelum hari semakin gelap karena masih belum ada penerangan yang memadai di Bukit Klumprit ini. Terlebih kami masih harus melalui jalan setapak sehingga akan berbahaya apabila berjalan dalam kondisi gelap. Sekitar pukul 18.00 WIB kami tiba kembali di Tebing Breksi kemudian menjalankan ibadah Sholat Maghrib dengan Bapak Bupati Sleman sebagai imam.


Penutup

Setelah selesai menjalankan ibadah Sholat Maghrib, kami beristirahat terlebih dahulu setelah melakukan perjalanan panjang selama setengah hari. Kami dipersilakan untuk makan malam oleh pihak penyelenggara sehingga tenaga kami kembali terisi setelah sebelumnya terkuras untuk perjalanan hari ini. Makan malam pun kami santap dengan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat makanan ini.
Alhaldulillah, Makan Malam
Penjelajahan kami di spot-spot baru yang terletak di Kecamatan Prambanan ini pun usai. Tentu ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada pihak penyelenggara karena telah membuka wawasan dan pengetahuan kami mengenai spot-spot baru yaitu Selo Langit, Bukit Teletubbies, dan Bukit Klumprit. Besar harapan bagi saya pribadi agar sektor pariwisata semakin berjaya di Yogyakarta, bahkan di seluruh Indonesia.


Info Jeep

Koridor Tebing Breksi
Short Trip
IDR 200k / Max 4 penumpang per jeep / durasi 1 jam
Rute: Tebing Breksi – Candi Ijo – Batu Papal – Tening Breksi

Medium Trip
IDR 350k / Max 4 penumpang per jeep / durasi 2 jam
Rute: Tebing Breksi – Candi Barong – Spot Riyadi – Gunung Pegat – Watu Tepak – Candi Ijo – Tebing Breksi

Long Trip
IDR 500k / Max 4 penumpang per jeep / durasi 2,5 jam
Rute: Tebung Breksi – Candi Ijo – Bukit Klumprit – Jati Bon – Bukit Teletubbies – Mbelik Pereng, Batu Kura-Kura, Air Terjun Watu Payung – Desa Wisata Dome – Watu Balik – Kebun Tebu Sembir – Tebing Tinjon – Tebing Breksi.

FASILITAS:
Sewa jeep plus sopir, asuransi, masker, free parkir di tiap destinasi, air mineral.


Koridor Desa Wisata Dome
Short Trip
IDR 250k / Max 4 penumpang per jeep / durasi 1 jam
Rute: Rumah Dome - Bukit Teletubbies - Curug Kembar - Mbelik Pereng – Batu Kura-Kura – Curug Watu Payung – Rumah Dome

Long Trip
IDR 500k / Max 4 penumpang per jeep / durasi 2,5 jam
Rute: Rumah Dome – Watu Balik – Kebun Tebu Sembir – Tebing Tinjon – Tebing Breksi – Candi Ijo – Bukit Klumprit – Jati Bon – Bukit Teletubbies – Mbelik Pereng, Batu Kura-Kura, Air Terjun Watu Payung – Rumah Dome

FASILITAS:
Sewa jeep plus sopir, asuransi penumpang, masker, free parkir di masing-masing destinasi, air mineral.


Info Lengkap dan Pemesanan

CAHAYA SEJATI TOUR YOGYAKARTA

Nologaten RT 01/RW 04 No 40, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

Phone:+62 274 485672

Mobile: +628112640967 or +6281904130290

Whatsapp: +628112640967

PIN BB: D54EFE50

Email: borobudursunrise.net@gmail.com OR eko.wijoyanto@gmail.com


4 comments:

  1. wah mantap mas sya jadi kepengen gabung dengan travelbloger lainnya termasuk mas juga kapan ya bisa bareng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gabung aja ms kalo ada acara.. Banyak komunitas" yg share info di IG dan sosmed lainnya...

      Delete
  2. Wah mantepp tuh mas, gimana ya gabung sama komunitasnya?? Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk acara ini mah saia juga cuman diajakin.. haha

      Pertamanya dijarpi temen trs ndaftar..
      Komunitas Blogger Jogja sendiri saya termasuk belum gabung..

      Delete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda