Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Thursday, 3 July 2014

HARGO DUMILAH, SEORANG DIRI AKU KEMBALI

Tiga hari setelah pertengahan bulan Mei; tepatnya tanggal 18 Mei 2014. Beberapa hari sebelumnya entah mengapa muncul keinginan dari dalam diri saya untuk melakukan sebuah petualangan yaitu menyapa kembali puncak sang Lawu. Berbeda dari biasanya karena pada kesempatan kali ini sebuah rencana beberapa hari sebelumnya harus dibatalkan karena anggota tim pendakian yang membatalkan satu per satu. Namun entah kenapa saya tidak kuasa bersabar menahan panggilan jiwa untuk melakukan pendakian; dan akhirnya dengan mamantapkan diri saya ambil keputusan “TETAP BERANGKAT” walaupun sendirian.

Lawu:

Melakukan pendakian sendirian tentu saja akan berbeda dengan pendakian pada umumnya yang dilakukan secara rombongan. Pendakian seorang diri memerlukan persiapan yang lebih karena satu orang harus membawa segala kebutuhannya sendiri. Persiapan mental juga tidak kalah penting; untuk melakukan sebuah pendakian dengan rombongan saja persiapan tersebut masih termasuk persiapan yang penting, terlebih saat melakukan pendakian seorang diri. Tidak akan ada kawan yang bisa diajak bercanda serta bercerita dalam perjalanan untuk mengurangi kelelahan. Juga harus siap jikalau nanti terjadi apa – apa karena tidak akan ada kawan yang siap menolong. 

Pendakian:

Hari itu adalah hari sabtu, hari yang cukup cerah walaupun pada hari – hari seblumnya hujan masih sesekali mengguyur. Perjalanan terpaksa baru saya mulai dari kota Yogyakarta ketika matahari sudah berada di ufuk barat karena suatu kesibukan yang tidak bisa saya tinggalkan pada siang harinya. Membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai gerbang pendakian; kali ini saya berencana melakukan pendakian melalui jalur Cemoro Kandang yang menurut berbagai sumber adalah jalur pendakian Lawu yang paling mudah, walaupun sebenarnya ada resiko lebih karena saya belum pernah mendaki melalui jalur ini terlebih lagi kali ini saya melakukan pendakian seorang diri.

Cemoro Kandang:

Sumber foto : http://infopendaki.blogspot.com/2012/05/jalur-pendakian-gunung-lawu.html


PERJALANAN DIMULAI


Sesampainya di gerbang pendakian Cemoro Kandang saya langsung mengisi perut dan tenaga terlebih dahulu di warung sate kelinci khas Tawangmangu setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dari kota Yogyakarta. Udara dingin khas pegunungan sangat terasa saat itu, terlebih di malam hari. Cukup lama saya beristirahat, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB saat saya beranjak dari tempat istirahat dan melakukan persiapan dengan pemanasan selama 10 menit kemudian mengecek kembali perlengkapan sebelum akhirnya saya berangkat sekitar pukul 22.00 WIB. Sebenarnya saat itu ada dua orang WNA asal Polandia yang juga akan melakukan pendakian ke puncak Lawu, namun saya tetap memutuskan untuk berangkat sendirian.


MENUJU POS II

Rute perjalanan melalui Cemoro Kandang benar tidaklah terlalu sulit dan menanjak seperti yang telah tertulis di berbagai sumber internet yang saya baca; namun jalurnya labih jauh karena jalurnya harus memutar. Ada satu hal yang cukup menyusahkan perjalanan saya, kondisi jalan ternyata mash cukup licin; terlebih lagi tanah merah basah yang cukup membuat saya beberapa kali terpleset. Bahkan pernah saya terpleset dan karena reflek senter saya terbanting kemudian mati sehingga saya sempat diselimuti oleh kegelapan; namun beruntung senter tersebut mati karena baterainya terlepas dan setelah saya pasang kembali baterainya senter itu kembali menyala, walaupun jelas saya harus meraba tanah dalam kegelapan untuk menemukan baterai yang tercecer. Beruntung saya tidak meraba sesuatu yang aneh – aneh.

Melakukan perjalanan seorang diri seolah semakin mendekatkan diri sendiri dengan alam semesta. Sepanjang perjalanan serasa semua yang berada di sekitar adalah teman walaupun tidak berwujud manusia melainkan pepohonan, rerumputan, daun, ranting, angin, awan, serta bintang yang bertaburan di langit, hingga bulan yang menerangi langit malam dengan terangnya. Malam itu saya merasa sangat dekat sekali dengan alam, mereka seakan adalah sahabat bagi kedamaian batin saya. Satu hal lagi yang lebih penting, batin terasa jauh lebih dekat dengan Allah SWT; Tuhan Sang Pencipta alam raya ini. Sepanjang perjalanan mulut beserta batin senantiasa berdoa kepada-Nya memohon perlindungan, penjagaan, serta keselamatan selama perjalanan; puji dan syukur juga sering kali menghiasi mulut sekaligus batin saat itu karena kebesaran-Nya yang ditunjukkan dari suasana “Perfect Harmony” hingga panorama alam dari bumi hingga ke langit yang seolah menunjukkan keberadaan-Nya.

Bicara soal persiapan mental; jelas selain hal – hal yang mendamaikan tadi sempat beberapa kali terlintas di dalam benak serta hati saya beberapa ketakutan dan juga keparnoan selama perjalanan. Beberapa kali saya mengingat cerita – cerita horror atau mitos – mitos mengerikan yang sempat saya baca di internet juga sebelumnya, entah kenapa mengapa ingatan – ingatan tersebut muncul di saat yang tidak tepat seperti itu. Hal yang cukup membuat saya sempat terkejut dan membuat langkah kaki menjadi lebih cepat adalah perjalanan dari pos 1 ke pos 2 di mana saya mendengar suara seperti teriakan, seperti teriakan manusia; pada awalnya saya sempat mengira bahwa itu adalah suara pendaki lain yang sudah berada di depan saya atau berhenti di pos selanjutnya, namun lama kelamaan saya merasa aneh karena suara teriakan itu terus menerus; mungkin lebih dari sepuluh kali. Entah suara apa itu, seperti manusia atau anjing atau monyet; yang jelas saya sempat ditemani oleh suara teriakan itu hingga akhirnya menjelang pos 2 saya merasa lega karena tidak mendengarnya lagi, terlebih di sana ada beberapa tenda sehingga saya merasa tidak sendirian lagi walaupun sebenarnya tidak ada lagi aktivitas di dalam tenda tersebut alias penghuninya sudah terlelap tidur.


MENUJU POS III

Menuju pos III (Siang):

Menuju pos III (Siang):

Perjalanan kembali saya lanjutkan karena Alhamdulillah dengan banyak berdoa saya bisa segera menepis segala ketakutan dan kekhawatiran di dalam hati dan kembali mantap untuk melangkah kembali. Perjalanan ke pos 3 saya lalui dengan nyaman; terlebih pemandangan dari sisi timur mulai terlihat sehingga dengan melihatnya sejenak saat lelah bisa segera mengusir rasa lelah dan juga mengembalikan lagi semangat perjalanan. Sesampainya di pos 3 saya memutuskan untuk beristirahat dan juga mengisi tenaga kembali dengan memasak bekal yang saya bawa. Terdapat dua tenda saat saya sampai di pos 3 ini sehingga saya merasa tidak lagi sendiri, bahkan salah satu rombongan yang hendak akan tidur memberi saya dua bungkus minuman instant. Saat saya sedang memasak tiba rombongan di belakang saya yang jumlahnya cukup banyak, mereka membuat api unggun sehingga saya bergabung sebentar dengan mereka untuk menghangatkan diri dan berbagi cerita; dua orang WNA asal Polandia yang saya temui di gerbang pendakian tadi juga sudah tiba di pos 3 ini, namun mereka hanya berhenti sebentar dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan kembali. Saya kembali melangkah setelah makan dan membereskan kembali perlengkapan, tentunya juga setelah berpamitan kepada rombongan yang sempat saya tebengi api unggunnya.


MENUJU POS IV 

Perjalanan selanjutnya saya jalani dengan senang, mungkin karena sudah merasa ramai akibat dari bercengkrama dengan orang – orang tadi. Medan yang saya lalui masih sama seperti sebelumnya, bahkan lebih nyaman karena rutenya tidak begitu menanjak terjal. Setelah agak lama berjalan ada sesuatu yang sempat sedikit menyusahkan ketika saya tiba di suatu tempat dengan banyak percabangan, saya pun tetap melangkah naik sambil berharap jalan akan kembali menjadi satu lagi. Beruntung karena entah bagaimana di tengah kebingungan tersebut saya bisa kembali lagi melangkah di jalan yang benar dengan adanya arah panah penunjuk arah ke puncak. Ternyata letak jalur yang bercabang – cabang ini tidak jauh dari pos 4 karena sesaat setelah mampu melewatinya saya berhasil tiba di pos 4. Pos 4 merupakan tempat yang cukup nyaman karena di sana terdapat shelter dan juga tempatnya berupa tanah lapang datar yang cukup luas. Sebenarnya akan sangat nyaman untuk beristirhat di sini, namun karena saya masih belum lelah maka saya memutuskan untuk melanjutkan perjalan daripada stamina drop karena beristirahat. 

Pos IV (Siang):

Pos IV (Siang):

Sekitaran pos IV (Siang):



POS TERAKHIR


Bulan di langit semakin cerah, seloah alam memberikan senyuman kedamaiannya kepada saya. Usai pos 4 pemandangan semakin menjadi – jadi indahnya, terlebih jajaran perbukitan, lembah dan tebing terbentang diterangi cahaya bulan membuat hati semakin bergetar karena kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Bisa perjalanan setelah pos 4 sudah memasuki kawasan puncak gunung Lawu karena cahaya lampu senter para pendaki yang telah mencapai puncak sudah terlihat dari sebuah puncak yang tak begitu jauh lagi. Hanya singkat; mungkin karena terlalu menikmati suasana, saya tiba di pos 5 jalur Cemoro Kandang yang merupakan pos terakhir sebelum puncak. Rute selanjutnya berupa tanjakan; tanjakan terakhir menuju puncak Lawu.

Pos V (Siang):

Sekitaran pos V (Siang):

Sekitaran pos V (Siang):


HARGO DUMILAH; AKHIRNYA...

Akhirnya setelah sekitar 15 menit berjalan melalui tanjakan usai pos 5 saya tiba kembali di puncak Lawu; Hargo Dumilah. Rasanya rindu sekali karena sudah tiga tahun lamanya saya tidak berkunjung ke puncak gunung yang selalu menghiasi langit timur kota kelahiran saya. Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.30 WIB saat saya menginkajkkan kaki kembali di Hargo Dumilah, tentu saja keadaan masih belum terang; namun dari ufuk timur warna merah samar – samar mulai terlihat, pertanda bahwa pagi akan segera datang. Tidak mudah untuk menunggu munculnya sang mentari dari ufuk timur karena selain udara yang dingin, hembusan angin dari arah timur juga cukup kencang karena tempat yang terbuka sehingga menambah dinginnya pagi itu. Kekhawatiran sempat menghampiri saya waktu itu karena di kaki langit sebelah timur tampak awan yang menggantung sehingga akan menghalangi cahaya matahari terbit. Perlahan tapi pasti pagi mulai tiba, syukur Alhamdulillah karena kekhawatiran saya tidak terjadi; sang matahari pagi tetap menunjukkan sinar cantiknya dari sebelah timur. Keadaan pun menjadi semakin baik, suhu udara menjadi semakin hangat begitu juga hembusan angin yang perlahan semakin pelan menjadi sepoi – sepoi. Sungguh nyaman sekali keadaan pagi itu; sebuah pagi yang cerah di ujung sang Lawu.

Dawn:

Sunrise:

Morning Sun:

Morning Lawu:

Mountain shadow:

Merapi, Sumbing, Merbabu, Sindoro:

Puncak Irung Petruk:

Kawah Telaga Kuning:

Langit Barat:

Tugu Hargo Dumilah:

Kibarkan Sang Merah Putih:



AKHIR PERJALANAN


Minyak Beku:

Setelah cukup puas menikmati puncak saya segera kembali turun agar tidak kemalaman di perjalanan kembali menuju Yogyakarta. Saya kembali lewat jalur Cemoro Kandang juga; selain motor ada di sana saya juga ingin menikmati pemandangan yang tidak terlihat jelas saat malam hari; tentunya akan semakin indah jika disinari dengan cahaya terang matahari. Pukul 13.30 WIB saya sampai kembali di base camp Cemoro Kandang yang menjadi akhir dari perjalanan saya “Hargo Dumilah Seorang Diri Aku Kembali”

Bonus:

Edelweiss:

4 comments:

  1. ketika menghayati berjalan sendirian digunung ada suatu hal yg tak bisa diungkapkan yang terasa dalam sisi ruang batin.

    Sekedar share saja bro...
    Nice trip..
    Saya rindu Hargo Dumilah,..

    saling berkunjung ya bro
    penikmatnafas.blogsopt.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar.. Tapi lumayan serem juga.. haha

      Okey gan.. Saya mampir..

      Delete
  2. Ingin liat foto2nya tapi ngga bisa ya gan. Isinya ngga ada saat di buka spoilernya , perlu di update keknya gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ms.. Masih perbaikan postingan demi postingan....

      Delete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda