Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Tuesday, 16 July 2019

Kembali saya mohon maaf karena beberapa purnama tidak kunjung merilis postingan blog terbaru. Itu karena kesibukan yang harus saya jalani sehingga belum sempat menulis. Namun, Alhamdulillah saya akhirnya bisa kembali menulis di blog ini sebelum penuh debu dan sarang laba-laba.

Momen Matahari Terbenam di Gunung Kunir Purworejo
Momen Matahari Terbenam di Gunung Kunir Purworejo

Wednesday, 12 June 2019

Siapa yang tidak tahu keindahan Pulau Dewata, Bali? Keindahannya bahkan sudah dikenal hingga ke berbagai negara di dunia. Bagi kebanyakan orang, wisata di Bali mungkin sebatas menikmati pantai yang indah. Padahal ada banyak wisata lain yang tidak kalah menarik, seperti wisata alam dan petualangan. 

Kintamani, Bali, Indonesia
Kintamani, Bali, Indonesia (Shutterstock)

Tuesday, 11 June 2019

Bulan Mei adalah kabar baik bagi para pemburu matahari terbit. Hal itu karena Mei normalnya merupakan peralihan antara musim penghujan dengan musim kemarau yang otomatis membuat suasana langit menjadi lebih cerah untuk memulai perburuan matahari terbit.

Momen matahari terbit di Geoforest Watu Payung Turunan
Momen matahari terbit di Geoforest Watu Payung Turunan

Thursday, 6 June 2019

Assalamualaikum Wr. Wb. Dalam momen Hari Raya Idul Fitri 2019/1440 Hijriyah ini saya kembali meminta maaf kepada dulur-dulur bloger se-antero jagad karena kembali jarang update. Hal itu karena porsi bekerja dan berkarya yang harus dikurangi selama Ramadan untuk lebih prioritas ke ibadah.

Perjalanan Menuju Kali Talang
Perjalanan Menuju Kali Talang

Tuesday, 23 April 2019

Tidak terasa sudah hampir dua tahun sejak pendakian saya ke Gunung Merbabu. Pada tahun 2018 silam, saya memang tidak mendapat kesempatan untuk kembali mengunjungi gunung setinggi 3142 meter di atas permukaan laut itu. Namun Sabtu (9/03/2019) kemarin, saya berkesempatan kembali menyapanya.

Keindahan Panorama dari Gardu Pandang Agrowisata Kopeng Gunungsari
Keindahan Panorama dari Gardu Pandang Agrowisata Kopeng Gunungsari
Memang bukan kisah pendakian karena saya tidak mendaki gunung tinggi di musim penghujan antara Bulan Oktober sampai April. Hal itu karena cuaca ekstrem seperti hujan dan petir yang kerap melanda gunung di musim penghujan. Selain itu, kemungkinan cuaca kerap berkabut sehingga pemandangan indah akan terhalang.

Jalur Cunthel-Selo merupakan rute favorit pendakian Gunung Merbabu saya. Hari Sabtu itu pun saya setidaknya bisa cukup mengenang saat-saat mendaki Merbabu via jalur itu karena obyek wisata bernama Agrowisata Kopeng Gunungsari yang saya datangi tidak jauh dari Basecamp Pendakian Merbabu via Cunthel.
Solo-Agrowisata Kopeng Gunungsari

Agrowisata Kopeng Gunungsari tepatnya berada di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Lokasinya searah dengan jalan menuju Basecamp Pendakian Gunung Merbabu via Cunthel. Dari Kota Surakarta, jaraknya sekitar 62 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih dua jam.

Agrowisata Kopeng Gunungsari yang Masih Baru

Sebelumnya saya tidak menyangka kalau ada obyek wisata Agrowisata Kopeng Gunungsari yang tidak jauh dari Basecamp Pendakian Merbabu via Cunthel. Saat saya melintas terakhir pada pertengahan 2017 silam, obyek wisata ini masih belum ada.

Oleh karena itu, saya cukup terkejut ketika melihat gardu pandang dari kejauhan yang sepertinya cukup megah ketika hendak mencari obyek wisata lain, yakni Air Terjun Umbul Sanga. Penasaran dengan gardu pandang itu, saya segera memacu kuda besi Supra X 125 ke sana.
Agrowisata Kopeng Gunungsari
Agrowisata Kopeng Gunungsari
Setelah sampai dan memarkir kendaraan, saya segera menuju loket untuk membayar tiket masuk. Ternyatra harga tiketnya adalah Rp20.000. Sempat mengeluh di dalam hati karena harga itu bagi saya cukup mahal. Namun setelah masuk, saya pun mengerti mengapa harga tiketnya seperti demikian.

Ternyata konsep Agrowisata Kopeng Gunungsari adalah semacam gardu pandang dengan pemandangan sekitar yang begitu menawan. Tak hanya gardu pandang, taman bunga yang begitu indah dan tertata rapi juga telah dibangun di sekitar gardu pandang sehingga cocok bagi mereka pencinta fotografi atau selfie.
Taman Bunga dan Gardu Pandang di Agrowisata Kopeng Gunungsari
Taman Bunga dan Gardu Pandang di Agrowisata Kopeng Gunungsari
Selain memadukan gardu pandang dan taman bunga, ada pula kebun buah jambu. Pengunjung ternyata juga bisa menikmati buah jambu segar secara gratis di sini, asalkan tidak dibawa pulang. Rasanya cukup wajar jika semua itu dihargai sebesar Rp20.000.

Keindahan panorama utara merbabu

Disuguhi panorama yang indah di depan mata, saya langsung mengeluarkan senjata andalan yaitu kamera DSLR Canon 200D dengan lensa sapu jagad 18-135 seken non STM yang sudah agak jamuran dan sedikit kocak. Untungnya kondisi itu tidak memengaruhi hasil jepretan.

Saking banyaknya obyek untuk difoto, saya sempat bingung akan memulai dari mana. Memotret di atas menara pandang atau taman bunga, keduanya sama-sama bagus. Saya pun memutuskan untuk memoret dari taman bunga terlebih dahulu.
Taman Bunga di Agrowisata Kopeng Gunungsari dengan Latar Belakang Gunung Andong dan Telomoyo
Taman Bunga di Agrowisata Kopeng Gunungsari dengan Latar Belakang Gunung Andong dan Telomoyo
Mengombinasikan warna-warni bunga seperti cosmos dan bunga kertas dengan latar belakang Gunung Andong serta Telomoyo yang deselimuti awan musim hujan benar-benar menghasilkan hasil jepretan yang menarik. Jika cuaca sedang cerah, hasil jepretan akan semakin baik.

Taman bunga membentang dari bagian tengah kawasan Agrowisata Kopeng Gunungsari sampai bagian utara. Semakin ke utara, pemandangan terbuka semakin terlihat jelas. Selain Gunung Andong dan Telomoyo yang mendominasi sisi utara Merbabu, dari kejauhan tampak pula Rawa Pening saat kabut menipis untuk beberapa saat.
Datang Sendirian dan Disuguhi Pemandangan Seperti Ini -_-
Usai memotret dari taman bunga, saya tidak langsung menuju gardu pandang. Saya mampir dulu di warung makan untuk beristirahat. Ternyata cuaca semakin mendung dan turun hujan. Pada kesempatan itu juga saya berkesempatan untuk mengobrol dengan pemilik obyek wisata ini sembari menunggu hujan reda.

Mulai dari nol bangun Agrowisata Kopeng Gunungsari

Pemilik Agrowisata Kopeng Gunungsari bernama Pak Slamet Buang. Beliau menceritakan jika obyek wisata ini benar-benar dibangun dari nol. Pak Slamet juga menceritakan jika pembangunan tempat wisata ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak perjuangan yang harus dilakukan.

Pak Slamet Buang pun tidak berasal dari kalangan keluarga mampu. Ia mengisahkan jika hidupnya penuh perjuangan. Ia pernah menjadi penambang batu, tenaga kebersihan lepas, berdagang, dan bertani. Kisah hidupnya pun jatuh-bangun, mulai dari mendapat penghasilan pas-pasan dan rugi dalam usaha dagang.
Kisah Pak Slamet Buang Membangun Agrowisata Kopeng Gunungsari
Kisah Pak Slamet Buang Membangun Agrowisata Kopeng Gunungsari
Namun, semua itu tidak membuat Pak Slamet menyerah dalam berusaha. Pada akhir 2017 ia mulai merintis usaha wisata alam, yakni Agrowisata Kopeng Gunungsari. Pembangunan wisata alam itu tidak dilakukan sekaligus, melainkan bertahap.

Gardu pandang setinggi 20 meter dari bambu dan tali serabut menjadi yang pertama ia bangun di sini. Setelah itu secara bertahap, dimulailah pengerjaan taman bunga hingga menjadi indah seperti sekarang ini.

Keindahan Panorama dari Gardu Pandang

Setelah hujan reda, saya kemudian menuju gardu pandang setinggi sekitar 20 meter tersebut. Ternyata penorama dari atas menyajikan keindahan yang bisa dilihat dari segala arah. Area taman bunga bisa terlihat seluruhnya dengan latar belakang Gunung Telomoyo yang menawan.

Sementara itu sisi selatan meski terhalang Gunung Merbabu yang menjulang tinggi, keindahannya tetap terpancar. Tampak barisan hutan pinus yang begitu rapat. Sementara itu, Pos Pemancar di puncak Bukit Watu Tulis yang merupakan bagian jalur pendakian Merbabu via Cunthel turut terlihat.
Lereng Utara Gunung Merbabu
Lereng Utara Gunung Merbabu
Pos Pemancar di Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Cunthel
Pos Pemancar di Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Cunthel (zoom 135 mm)
Tentu keindahan panorama Gunung Merbabu seperti itu membuat saya semakin kangen mendaki Merbabu. Semoga musim kemarau 2019 ini (setelah lebaran) saya bisa kembali bisa menapakkan kaki di gunung terindah ke-2 di Indonesia setelah Rinjani ini (menurut saia hlo), Aamiin.

Pemandangan di sisi barat laut juga tak kalah indah. Di ujung kaki langit, Gunung Sindoro tampak samar. Warna birunya seolah menyatu dengan langit. Jika cuaca cerah, maka keindahan matahari terbenam akan terlihat begitu indah. Untuk sisi timur, pemandangan terhalang oleh punggungan bukit.
Gunung Andong dengan Puncak yang Tertutup Awan dan Gunung Sindoro di Cakrawala Barat
Gunung Andong dengan Puncak yang Tertutup Awan dan Gunung Sindoro di Cakrawala Barat
Setelah puas memotret, saya memutuskan untuk pulang. Terlebih langit semakin gelap sehingga udara pun semakin dingin. Usai berpamitan dengan Pak Slamet, saya pun segera kembali. Mengenai jambu, tentu saja saya tidak lupa menyantap beberapa buah kaya vitamin c tersebut saat di warung menunggu hujan reda.

Info Agrowisata Kopeng Gunungsari

Jam buka
Pagi-malam (yang punya tidur di dalam)

Harga tiket masuk
Rp20.000 (dewasa)
Rp15.000 (anak-anak dan pelajar)

Tarif parkir
Rp2.000 (sepeda motor)

Fasilitas
Jambu gratis makan di tempat, warung makan, mushalla, toilet, dan gardu pandang

Waktu kunjungan terbaik
Siang-sore hari jika cuaca cerah
Malam hari (pemburu milky way)