Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Tuesday, 23 April 2019

Tidak terasa sudah hampir dua tahun sejak pendakian saya ke Gunung Merbabu. Pada tahun 2018 silam, saya memang tidak mendapat kesempatan untuk kembali mengunjungi gunung setinggi 3142 meter di atas permukaan laut itu. Namun Sabtu (9/03/2019) kemarin, saya berkesempatan kembali menyapanya.

Keindahan Panorama dari Gardu Pandang Agrowisata Kopeng Gunungsari
Keindahan Panorama dari Gardu Pandang Agrowisata Kopeng Gunungsari

Wednesday, 20 March 2019

Lakukan selagi bisa. Frasa itu sepertinya cocok untuk saya. Yah, saya telah menyia-nyiakan kesempatan menjelajah Yogyakarta selagi saya masih merantau di sana dulu. Sekarang saya tidak lagi berdomisili di sana dan rasanya cukup kerepotan untuk menjelajah Jogja lagi karena faktor jarak.

Foto Malam di Wisata Pinus Pengger, Bantul
Foto Malam di Wisata Pinus Pengger, Bantul

Monday, 18 March 2019

Ada yang berbeda di Provinsi Jawa Tengah akhir tahun 2018 silam. Jika sebelumnya masyarakat Jawa Tengah harus pergi ke Batu atau Jakarta untuk menjajal berbagai wahana taman rekreasi, kini hal itu tak perlu lagi dilakukan.

Saloka Theme Park, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Saloka Theme Park, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Sunday, 3 March 2019

Usai menghadiri acara KENDURI NUSANTARA di Benteng Vastenburg, saya iseng untuk mampir ke Pasar Gedhe. Meski wong Solo, sudah lama sekali sejak terakhir saya masuk ke dalam pasar legendaris Kota Surakarta ini.

Pasar Gedhe Solo
Pasar Gedhe Solo
Usai memarkir sepeda motor di tempatnya, saya langsung berjalan masuk ke Pasar Gedhe. Ternyata keisengan saya kali ini akhirnya berujung pada perburuan kuliner khas Solo. Tentu sangat memalukan jika wong Solo tetapi tidak tahu sajian khas Kota Bengawan ini:

Berikut ini beberapa sajian yang saya dapatkan dalam perburuan tersebut:

1. Gempol Pleret

Gempol Pleret
Gempol Pleret
Buruan pertama langsung saya dapatkan, bahkan sebelum masuk ke dalam Pasar Gedhe. Tepat di pintu masuknya, ada penjual kuliner yang saya gemari sewaktu kecil. Kuliner khas Solo yang satu ini adalah gempol pleret.

Jika berkunjung ke rumah kakek-nenek di Klaten sewaktu kecil dulu, saya sering menyanyap kuliner ini. Bedanya, dahulu namanya jenang atau bubur gempol. Sementara yang saya santap di Pasar Gedhe disajikan dalam bentuk es sehingga dinamakan es gempol pleret.

Meski demikian, rasa gempol tidak berubah sejak zaman dahulu. Gempolnya tetap terasa gurih. Biasanya gempol pleret disajikan dengan santan dan diberi manisan gula jawa sehingga rasanya gurih bercampur manis. Menyantapnya di hari yang panas terasa begitu menyegarkan.

2. Es Dawet Telasih

Es Dawet Telasih
Es Dawet Telasih
Selanjutnya perburuan saya ada di dalam kawasan Pasar Gedhe. Hanya beberapa saat berjalan, akhirnya saya menemukan buruan kedua. Kuliner kali ini masih merupakan minuman yang menyegarkan, yakni es dawet telasih.

Berbeda dengan dawet-dawet dari daerah lain. Satu hal yang unik dari dawet telasih adalah terdapat semacam bintik-bintik hitam yang melayang-layang di air santannya. Bintik hitam itu adalah selasih yang semakin menyegarkan minuman dawet ini.

Dawet telasih juga menambahkan beberapa bubur di dalamnya sehingga menambah variasi rasa. Adalah bubur sumsum dan ketan hitam yang semakin mewarnai cita rasa dawet teasih. Rasanya akan kurang jika hanya menyantap satu porsi es dawet telasih.

3. Brambang Asem

Brambang Asem
Brambang Asem
Usai menjajal dua minuman legendaris, buruan saya selanjutnya adalah makanan. Hanya beberapa meter dari tempat saya membeli es dawet telasih, ternyata ada penjual aneka makanan khas Solo. Saya menjajal salah satu menu bernama brambang asem.

Sekilas, tampilan brambang asem seperti pecel. Bahannya adalah daun ubi jalar atau jenglor dan gembus. Keduanya kemudian dijadikan satu dalam piring dari daun pisang dan disiram oleh sambal brambang asem.

Ternyata, itulah asal penamaan brambang asem. Sambal sajian ini terbuat dari campuran cabai, bawang merah (brambang), dan asam. Rasanya pun pedas bercampur manis dan asam. Ketika menyantapnya, lidah seakan penuh dengan cita rasa yang berpadu sempurna.

4. Grontol Jagung

Gronton Jagung
Gronton Jagung
Setelah menghabiskan brambang asem, saya kembali ke penjual yang sama untuk memesan menu selanjutnya. Sajian kuliner itu ada di samping brambang asem, bentuknya bulat-bulat kecil sehingga mengundang rasa penasaran saya.

Saat saya menanyakan kepada penujual tentang sajian itu, ternyata namanya adalah grontol. Makanan yang satu ini terbuat dari bahan dasar jagung. Penyajiannya pun sederhanya, hanya diberi parutan kelapa dan sedikit garam.

Ketika disantap, kuliner ini rasanya gurih bercampur asin. Memang ketika dikunyah, rasanya gurih. Namun tiba-tiba rasa asin seakan muncul begitu saja sehingga mampu menambah cita rasa kuliner tradisional yang satu ini.

5. Jenang krasikan

Jenang Krasikan
Jenang Krasikan
Saya hanya menjajal empat sajian khas Solo di Pasar Gedhe. Saya berniat langsung pulang sebelumnya. Namun di tengah jalan, saya terlebih dahulu mampir ke toko oleh-oleh khas Solo yang berada di sekitar Pasar Jongke.

Tujuan saya datang ke sana adalah menambah wawasan tentang oleh-oleh khas Solo. Tentu agar jika suatu saat ada teman yang menanyakan seputar oleh-oleh khas Solo, saya bisa menjawabnya sehingga tidak memalukan.

Ternyata ada satu jajanan khas Solo yang belum pernah saya cicipi, yakni jenang (bubur) Krasikan. Bubur padat ini terbuat dari campuran kelapa, gula merah, ketan, dan air. Rasanya adalah campuran gurih kelapa dan manis gula jawa dengan aroma yang harum.

Itulah lima kuliner lezat khas Solo yang menjadi buruan saya. Ada sekitar lima jam dari acara Kenduri Nusantara sampai perburuan kuliner berakhir. Syukur Alhamdulillah #5jam5rasa ini setidaknya menambah wawasan saya tentang kuliner khas Kota Solo tercinta.
Ada yang berbeda di Kota Surakarta pada Hari Minggu (03/03/2019). Bertempat di Benteng Vastenburg, diadakan acara Kenduri Nusantara dengan tajuk “Merawat NKRI, Menjaga Indonesia”. Acara ini dimulai pukul 07.00 WIB.

Kenduri Nusantara Bersama Gus Muwafiq
Kenduri Nusantara Bersama Gus Muwafiq