Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 21 September 2018

Menikmati kolam renang terbuka di atas ketinggian tentunya merupakan sesuatu yang langka. Biasanya fasilitas itu hanya disediakan oleh hotel atau penginapan mewah di dataran tinggi. Namun ternyata di sudut Wonogiri terdapat kolam renang seperti itu yang mana biayanya cukup terjangkau untuk semua kalangan.

Kolam Renang Terbuka di Padepokan Soko Langit, Slogohimo, Wonogiri
Kolam Renang Terbuka di Padepokan Soko Langit, Slogohimo, Wonogiri
Kolam renang ketinggian itu tepatnya berada sisis selatan dari Pegunungan Lawu Selatan, yakni di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Tempatnya berada sebenarnya bukanlah daerah tujuan wisata mainstream seperti Tawangmangu dan juga tidak pula dekat dengan kota besar. Tempatnya terpencil di tengah pedesaan dan pegunungan.

Perjuangan Menuju Padepokan Soko Langit
Hari Minggu (22/7/2018) itu sudah cukup siang saat saya memulai perjalanan menuju Padepokan Soko Langit. Segera setelah siap berangkat, saya segera menentukan tujuan melalui Google Maps. Karena saya belum tahu tempatnya, saya pun tetap mengikuti rute yang ditunjukkan oleh aplikasi canggih penunjuk jalan itu.
Dari Solo Jangan Langsung Setel Google Maps
Dari Solo Jangan Langsung Setel Google Maps
Akan tetapi ternyata saya mengalami masalah setelah berkendara sampai di Kecamatan Jatipuro, Wonogiri. Ponsel yang waktu itu menggunakan paket data “Tiga” kehilangan sinyal karena berada di pedalaman sehingga Google Maps pun kehilangan kemampuan untuk menunjukkan jalan.

Akhirnya saya menggunakan GPS satunya yakni “Gunakan Penduduk Sekitar” atau bertanya. Saya pun akhirnya sampai di jalan utama Wonogiri-Ponorogo yang mana tahu begitu saya langsung saja bekendara mengikuti jalan utama Solo-Wonogiri-Ponorogo karena lebih cepat, tanpa harus tersesat.
JANGAN IKUTI..! JANGAN..!

Usai kembali ke jalan utama, Google Maps kembali aktif. Seolah tidak kapok dengan kejadian sebelumnya, saya kembali mengikuti aplikasi itu. Saya pun diarahkan melewati Jalan Ngadirojo-Jatipuro; meninggalkan jalan utama Wonogiri-Ponorogo. Sebenarnya jalan itu juga merupakan alternatif menuju Ponorogo lewat Kecamatan Puhpelem. 

Awalnya jalan yang saya tempuh bagus dan cukup lebar, seperti jalan utama kecamatan pada umumnya, meski kondisinya penuh kelokan dan naik-turun. Namun lama kelamaan jalannya menjadi sempit dan hanya hanya berupa jalan desa dari semen. Hal itu pun diperparah dengan Google Maps yang kembali tidak berfungsi.

Google Maps: Nikmati Perjalanannya ya.. ha ha ha
Saya masih mencoba mengikuti rute yang telah ditentukan oleh Google Maps sebelumnya, meski terkadang belokan yang ditunjukkannya cukup meleset dari belokan yang sebenarnya. Dengan cukup nekat, saya tetap melaju ke arah yang tidak diketahui nanti akan berakhir di mana.

Benar saja, kondisi jalan semakin lama semakin tidak meyakinkan. Saya harus melewati jalan dari semen khas desa. Hanya ada petunjuk yakni sebuah plang sederhana dari kayu menuju Kecamatan Bulukerto. Setidaknya saat sampai di sana nanti saya bisa bertanya kepada masyarakatnya.
Dalan Ndeso
Tersesat di Tengah Ndeso
Saya terus melaju dan akhirnya sampai di sebuah perkampungan. Yah, setidaknya saya sudah ada di peradaban sehingga bisa bertanya jika benar-benar terdesak. Namun saya tidak bertanya dan tetap melanjutkan perjalanan karena rute saat itu masih merupakan rute yang ditentukan oleh Google Maps.
Berkah di Tengah Tersesat
Berkah di Tengah Tersesat
Terus melanjutkan perjalanan, saya sampai di perbatasan sawah dan hutan. Panorama sawah di sini begitu menawan. Bahkan sempat terlihat burung elang (kalau tidak salah) yang terbang melayang di angkasa. Saya pun terus melanjutkan perjalanan dan kini mulai memasuki kawasan hutan kembali.

Beruntung ada sebuah plang kecil dari kayu di sebuah pertigaan bertuliskan “Soko Langit” sehingga saya sedikit lega. Perjalanan berlanjut mengikuti arah yang ditunjukkan oleh plang tersebut. Kondisi jalan yang saya lewati saat itu cukup buruk, dari batu-batu dan berada di tengah hutan.
Di Tengah Hutan
Di Tengah Hutan
Namun memang hanya ada satu jalan itu saja yang saya lalui. Dengan keberanian yang ada saya tetap melaluinya hingga akhirnya syukur Alhamdulillah saya sampai kembali di perkampungan. Saya sempat bertanya kepada warga di sini dan ternyata memang tujuan saya sudah tidak jauh lagi. Terlihat dari kejauhan area parkir Soko Langit.

Akhirnya Sampai di Soko Langit
Awalnya saya mengira Soko Langit akan sepi mengingat rumitnya jalan yang saya lalui untuk sampai. Namun kenyataannya tidak demikian karena ternyata area parkirnya cukup ramai, bahkan cukup banyak mobil yang parkir. Ternyata memang ada jalan yang enak untuk bisa mencapai Soko Langit.
Rute Termudah dari Pom Bensi Slogohimo

Saya pun langsung memarkirkan motor dan berjalan menuju pintu masuk. Tiket yang harus dibayar tidaklah mahal, yakni hanya sebesar Rp 5.000,00 saja untuk satu orang. Kondisi saat itu cukup ramai karena memang Soko Langit sedang naik daun sehingga banyak orang yang penasaran untuk datang kemari.
Area Parkir Padepokan Soko Langit
Area Parkir Padepokan Soko Langit
Usai membayar tiket, perjalanan melalui jalan setapak yang sedikit menanjak harus dilakukan untuk sampai lokasi utama. Sepanjang jalan, dapat dijumpai kebun buah naga. Tentu pengunjung dilarang sembarangan memetiknya jika sedang berbuah. Jalan setapak tersebut tidaklah panjang sehingga hanya membutuhkan waktu singkat untuk menapakinya.

Kolam Renang di Ketinggian Padepokan Soko Langit
Akhirnya saya pun sampai di lokasi utama Padepokan Soko Langit yang mana terdapat sebuah kolam renang di atas ketinggian dengan latar belakang panorama hamparan pegunungan hijau Lawu Selatan. Tentu kolam renang seperti ini cukup jarang ditemukan. Jika ada, itu pun kebanyakan ada di hotel dengan biaya mahal.
Latar Belakang Kolam Renang Padepokan Soko Langit
Latar Belakang Kolam Renang Padepokan Soko Langit
Jika berkunjung ke Padepokan Soko Langit ini, ada baiknya untuk membawa pakaian ganti agar bisa merasakan sensasi berenang di kolam renangnya. Namun perlu diketahui bahwa saat hari libur, kolam renang ini akan dipadati oleh masyarakat sehingga jika ingin sepi, maka hendaknya datang saat hari kerja.
Kolam Renang Atas Ketinggian di Padepokan Soko Langit
Kolam Renang Atas Ketinggian di Padepokan Soko Langit
Pengunjung harus membayar biaya tambahan cukup sebesar Rp5.000,00 saja untuk menikmati kolam renang ini. Tentu biaya tersebut tidaklah mahal untuk kolam renang di atas ketinggian seperti itu. Tidak ada batas waktu yang ditentukan untuk berenang. Pengunjung bisa berenang di sini sepuasnya.
Latar Belakang Pegunungan
Latar Belakang Pegunungan
Sayangnya kamar mandi dan ruang ganti hanya ada sedikit sehingga pengunjung harus mengantre, terutama saat ramai kunjungan seperti ketika hari libur. Lebih baik jika aktivitas mandi dan ganti pakaian dilakukan secepat mungkin agar bisa lekas bergantian dengan pengunjung yang lain.
Padepokan Soko Langit dengan Kolam Renangnya
Padepokan Soko Langit dengan Kolam Renangnya
Karena kondisinya yang ramai, saya tidak menjajal kolam renangnya. Selain itu, saya juga tidak membawa alat mandi dan baju ganti. Saya hanya menikmati suasana pegunungan dan menyaksikan aktivitas pengunjung yang berwisata di Soko Langit ini.

Gardu Pandang dan Gazebo
Selain gardu pandang, di Padepokan Soko Langit ini juga memiliki fasilitas semacam gardu pandang untuk menikmati pemandangan ke segala arah, mulai dari pegunungan hingga kolam renang. Untuk naik ke atas, pengunjung cukup membayar Rp3.000,00 saja untuk satu orang dengan tanpa batasan waktu.
Pemandangan dari Gardu Pandang
Pemandangan dari Gardu Pandang
Pemandangan dari Gardu Pandang
Latar Belakang Berfoto di Gardu Pandang
Selain itu, untuk berlindung dari panas matahari, disediakan beberapa gazebo. Tidak ada biaya tambahan bagi pengunjung untuk bisa menikmati gazebo ini. Saat ramai, tentu saja gazebo-gazebo yang ada akan penuh dengan pengunjung.
Gazebo
Selain kolam renang, gazebo, dan gardu pandang, ternyata di kawasan Soko Langit ini juga terdapat flying fox yang bisa dinikmati pengunjung. Mengenai harganya sayangnya saya lupa tetapi tetap terjangkau untuk masyarakat. Flying fox-nya memang tidak terlalu panjang, tetapi lengkap dengan pengamannya.
Flying Fox di Padepokan Soko Langit
Flying Fox di Padepokan Soko Langit
Kolam renang di Padepokan Soko Langit ini baru selesai dibangun usai lebaran 2018 dan dalam waktu singkat langsung populer karena fotonya banyak diposting oleh akun-akun instagram wisata area Soloraya. Kawasan ini adalah milik pribadi dan pengelolaannya dilakukan oleh anggota keluarga besar pemiliknya.

Info
Jam buka
07.00-18.00 WIB

Hari buka
Setiap hari

Harga
Masuk: Rp5.000,00 Kolam Renang: Rp7.000,00 Gardu Pandang: Rp2.000,00

Parkir:
Rp2.000,00 (sepeda motor)

Fasilitas
Toilet, mushalla, area parkir (motor-mobil), warung makan, kolam renang, gazebo, gardu pandang, flying fox

Waktu kunjungan terbaik
Weekdays siang hari menjelang sore

Friday, 14 September 2018

Pekan kedua di bulan kedua tahun 2014 adalah saat yang tak terlupakan bagi Yogyakarta ketika itu. Jogja pada Hari Jumat itu begitu kelam; bukan karena awan gelap atau awan badai, tetapi abu putih dari sebuah gunung berjarak lebih dari 200 kilometer-lah penyebabnya. Yah, erupsi Kelud pada malam hari tanggal 13 Februari  2014.

Gunung Kelud via Kediri
Gunung Kelud via Kediri

Friday, 7 September 2018

Senja menjadi saat yang dinanti oleh kebanyakan orang. Panorama yang tersaji di ufuk barat, yakni matahari oranye yang semakin perlahan tenggelam ke cakrawala memang begitu indah. Tidak jarang orang-orang sampai rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menanti keindahan senja.

Senja di Kebun Teh Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Senja di Kebun Teh Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar

Friday, 31 August 2018

Ada yang berbeda dengan peringatan HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 ini. Jika biasanya saya hanya merayakannya di sekitar tempat tinggal atau domisili, kali ini saya berkesempatan langsung untuk merasakan 17 Agustus di lokasi yang berjarak sangat jauh dari tempat tinggal di Kota Surakarta.

Tugu Perbatasan Garuda Perkasa; Pulau Sebatik, Kalimantan Utara
Tugu Perbatasan Garuda Perkasa; Pulau Sebatik, Kalimantan Utara