Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Saturday, 22 July 2017

TAHUN LA NINA PART 4; MENYIBAK KABUT ANDONG

Perjalanan Masih Berlanjut

Catatan perjalanan ini masih ada hubungannya dengan kisah perjalanan saya yang sebelumnya saat menjelajahi PESONA KEINDAHAN GUNUNG PRAU. Sebenarnya rencana untuk melanjutkan penjelajahan ke Gunung Andong bukanlah rencana yang sepenuhnya matang, bahkan malah nyaris tidak jadi terlaksana karena faktor cuaca. Akan tetapi rasa penasaran memang bisa mengalahkan segala keraguan yang ada di dalam hati sehingga akhirnya saya memutuskan untuk tetap membelokkan motor ke arah timur saat sampai di Kota Magelang.

Andong Peak; 1726 MASL


Menuju Andong

Matahari sudah condong ke arah barat saat saya mulai memacu sepeda motor meninggalkan wilayah Wonosobo. Rasanya cukup aneh karena saat saya memasuki wilayah Temanggung yang berada di antara Gunung Sumbing dan Sindoro, cuaca mendadak berubah menjadi begitu cerah; kontras dengan hujan lebat yang mengguyur wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Dieng-Andong

Saya terus saja melaju dengan melalui rute menuju Kopeng. Sebenarnya jika cuaca cerah pemandangan Gunung Andong di sisi utara akan menemani perjalanan. Sayangnya saat itu kabut dan awan menyelimuti wilayah utara Gunung Merbabu termasuk Gunung Andong sehingga menjadikannya tidak tampak. Hal tersebut tentunya menyusahkan saya yang sebelumnya belum pernah menyambangi Gunung Andong sehingga mengakibatkan 2 kali salah mengambil jalan.

Usai matahari terbenam saya akhirnya baru sampai di kawasan Base Camp Gunung Andong, lagi-lagi setelah mengalami perjalanan yang berputar-putar terlebih dahulu karena memang kondisi saat itu begitu sepi sehingga tidak bisa bertanya kepada seseorang. Akhirnya sayapun sampai juga di Base Camp Gunung Andong usai adzan Isya. Entah base camp mana yang saya tuju saat itu karena yang terpenting adalah akhirnya bisa kembali beristirahat.


Andong Via Pendem

Saya diantar masuk ke dalam rumah salah seorang warga masyarakat setelah memarkir motor. Berbeda dengan base camp gunung lainnya yang mana pendaki akan ditempatkan di bangunan khusus untuk menginap, sementara di sini pendaki ditempatkan di rumah-rumah warga yang memang dipersiapkan juga sebagai tempat bermalam pendaki. Akan tetapi jangan dibayangkan jika pengunjung akan mendapat fasilitas berupa tempat tidur seperti di hotel. Tidur beralas tikar menjadi fasilitas yang saya nikmati malam itu; sebagai tambahan, pemilik rumah memberikan selimut untuk melindungi diri dari dinginnya udara malam.

Ngaso di Rumah Warga

Tentunya fasilitas-fasilitas tersebut sudah lebih dari cukup bagi saya. Pemilik rumah juga memberikan teh hangat gratis yang sangat saya butuhkan saat itu setelah menjalani perjalanan panjang. Malam itu saya berencana untuk bermalam dahulu di base camp dan baru mulai berjalan dini hari. Setelah mengobrol dengan beberapa warga, saya baru menyadari ternyata gerbang pendakian ini bukan melalui Sawit yang bisa dibilang merupakan pintu utama pendakian Gunung Andong. Akan tetapi menurut warga setempat, rute tempat saya akan memulai pendakian ini merupakan rute tercepat menuju puncak Gunung Andong. Rute yang akan saya pergunakan ini adalah melalui Pendem. Malam itu pun saya pergunakan untuk beristirahat dengan maksimal mengingat masih lelahnya fisik usai menjelajahi Gunung Prau dan juga perjalanan dari Dieng menuju base camp Gunung Andong.


Perjalanan Singkat Menapaki Andong

Pagi harinya menjelang adzan subuh, saya baru terbangun dari tidur. Jelas hal tersebut merupakan keterlambatan bangun karena rencana sebelumnya adalah memulai perjalanan pada pukul 03.00 WIB. Akhirnya karena sebentar lagi sudah memasuki waktu sholat subuh, saya memutuskan untuk berangkat usai subuhan.

Usai menunaikan ibadah sholat subuh di masjid kampung setempat, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi saya segera berangkat. Niatan saya adalah sampai di puncak sebelum matahari terbit, meskipun hal tersebut merupakan mission impossible karena jarak antara terbitnya matahari dengan waktu sholat subuh yang tinggal sebentar lagi. Meskipun demikian, saya tetap berusaha sekuat tenaga secepat mungkin untuk menggapai Puncak Andong sebelum matahari muncul.

Kabut Tebal

Rute pendakian menuju Puncak Gunung Andong sudah cukup jelas dengan adanya banyak rambu-rambu petunjuk arah yang telah dipasang oleh pihak karang taruna desa. Rute awal usai melewati permukiman penduduk adalah berupa hutan. Saat saya melewati kawasan hutan ini, langit masih gelap sehingga senter masih digunakan untuk menerangi jalan. Menjelang puncak Andong, pepohonan sudah mulai jarang dan digantikan oleh rerumputan.


Andong Peak

Sesampainya saya menjelang kawasan Puncak Gunung Andong, langit sudah mulai terang dan terbitnya matahari tinggal menunggu hitungan menit saja. Merasa sudah cukup lelah karena berjalan dengan ngebut, akhirnya saya memutuskan untuk menunggu saja terbitnya matahari di sini. Benar saja, tak lama kemudian matahari pagi pun muncul dari ufuk timur dengan indahnya, meskipun pagi itu kabut menyelimuti kawasan Gunung Andong.

Sunrise

Saya beristirahat sambil menikmati indahnya matahari terbit dari balik tirai kabut. Setelah merasa cukup beristirahat, saya kembali melanjutkan perjalanan ke kawasan puncak Andong. Hanya berselang kurang dari 5 menit kemudian akhirnya saya tiba juga di kawasan puncak gunung Andong. Cukup banyak tenda yang didirikan di kawasan puncak sehingga suasananya cukup ramai. Entah bagaimana ramainya pendakian di Gunung Andong saat libur akhir pekan mengingat sudah cukup ramainya suasana pendakian saat itu yang mana saya lakukan pada Hari Selasa atau pertengahan pekan.

Rame Rek..

Sesampainya di Puncak Andong, saya masih harus menunggu antrian untuk berfoto di plang penanda puncak Gunung Andong karena saking banyaknya pendaki saat itu. Sembari menunggu saya tentu menikmati pemandangan yang tersaji di puncak, yang mana di sebelah selatan Gunung Merbabu dengan ketinggian 3142 mdpl berdiri dengan gagahnya.

Merbabu-Merapi

Sementara itu di sisi barat laut Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau yang saya kunjungi sebelumnya nampak cukup samar terhalang oleh kabut. Selebihnya pemandangan ke arah jauh cukup terhalang oleh kabut.

Sumbing-Sindoro

Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, saya mendapat giliran untuk berfoto di plang penanda puncak Gunung Andong. Setelah berfoto saya segera turun kembali ke base camp karena merasa sudah cukup puas untuk menikmati suasana yang tersaji di puncak Gunung Andong. Perjalanan turun bagi saya cukup mudah sehingga hanya memakan waktu singkat. Bahkan sekitar pukul 07.30 WIB saya sudah tiba kembali di Base Camp Gunung Andong.

Akhirnya Foto Juga

Epilogue

Sesampainya kembali di Base Camp, seorang warga mengira bahwa saya belum berangkat mendaki padahal yang sebenarnya adalah saya baru saja menyelesaikan perjalanan menjelajahi Gunung Andong. Singkat saja waktu istirahat saya di Base Camp karena fisik memang belum lelah usai menuruni Gunung Andong yang hanya memakan waktu kurang lebih sekitar 15 menit saja. Langsung saja saya berkemas dan berpamitan sebelum perjalanan pulang menuju Yogyakarta dimulai.

Bersamaan dengan bergeraknya saya meninggalkan Base Camp Gunung Andong, maka berakhir pulalah rangkaian penjelajahan saya di Gunung Prau dan Gunung Andong yang berlangsung selama 3 hari. Tentunya syukur Alhamdulillah senantiasa saya panjatkan atas berkat Allah SWT yang telah mengizinkan saya untuk menjelajahi 2 tempat dengan view yang menakjubkan tersebut serta karena telah melindungi saya sehingga bisa kembali pulang dengan selamat.

Perjalanan saya di tahun LA NINA 2016 pun belum berakhir…….>>>LANJUTAN

1 comment:

  1. Perjalanan turun 15 menit aja???
    Jalurnya pendek, ya, curam gak?

    Jadi pengen merencanakan perjalanan tek-tok ke Andong kalo pas pulang.

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda