-->

Anggara W Prasetya

I am a Writer

Anggara W Prasetya

Seorang laki-laki yang senang berpetualang. Mengabadikan setiap perjalanannya dalam bentuk tulisan dan video. Saat ini sedang semangat-semangatnya mendokumentasikan perjalanan di channel Youtube. Suka main ke gunung, ke air terjun, ke pantai, ke mana saja kaki melangkah.

  • Surakarta
  • anggarawepe@yahoo.co.id
  • www.menggapaiangkasa.com
Me

My Professional Skills

The future belongs to those who learn more skills and combine them in creative ways

Writing 90%
Editing Video 85%
Photography 80%
Translator 75%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
mountain
0
blog post
0
video project
0
city tour
  • Menggapai Hargo Dumilah 3265 MDPL

    Menggapai Hargo Dumilah 3265 MDPL

     PROLOG

                15 Oktober 2011. Sabtu itu mungkin berjalan seperti biasanya bagi kebanyakan orang, namun tidak dengan aku. Pada hari itu SMA Negeri 4 Surakarta mengadakan sebuah acara yaitu pendakian massal ke Gunung Lawu yang merupakan acara tahunan ekstra kurikuler Plasma (nama ekskul pecinta alam di SMA 4) yang dibuka untuk umum. Bagiku ini sebuah kesempatan untuk bisa kembali merasakan puncak sekaligus mencegah agar 2011 tidak menjadi “tahun tanpa puncak”, setelah beberapa pendakian yang sebelumnya yaitu ke Merbabu dan Sumbing selalu kandas tidak sampai puncak karena sakit dan yang satu lagi karena kehabisan air. Seharusnya tak ada masalah jika saja saat itu aku masih menjadi siswa SMA 4, namun karena sudah 2 tahun yang lalu lulus maka muncul beberapa masalah untuk bisa mengikuti pendakian tersebut. Masalah yang paling utama adalah karena sudah 2 tahun yang lalu lulus, susah sekali untuk mengajak teman-teman seangkatanku untuk menjadi teman selama pendakian nanti. Wajar, hanya tinggal sedikit sekali orang-orang yang ku kenal di SMA itu, bahkan guru-gurunya pun sudah pada lupa kalau aku tidak mengenakan kembali jaket kelasku SMA dulu saat berkunjung ke SMA, itupun aku tidak tahu apakah orang-orang yang ku kenal itu ikut pendakian atau tidak. Akhirnya aku tidak menemukan seorangpun dari angkatanku untuk menjadi teman di pendakian nanti, sempat bimbang juga apakah jadi mau ikut atau tidak. Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup hebat akhirnya aku memutuskan untuk ikut, melihat tulisan di internet “Gunung Mempertemukan Kita” membuatku yakin bahwa tidak masalah kalau tidak ada teman di pendakian ini, pasti nanti bakal dapat teman-teman baru.

    Jadilah pada hari itu aku pulang ke Solo terlebih dahulu karena domisiliku memang di Yogyakarta. Setelah mempersiapkan diri dengan perlengkapan strandard pendakian minus tenda aku berangkat, namun karena aku berangkat kesorean jadi sudah ketinggalan rombongan, ya sudah aku langsung menuju base camp Cemoro Sewu karena aku pernah ke sana sebelumnya sehingga masih hapal jalannya. Perjalanan menuju Cemoro Sewu memakan waktu kurang-lebih satu jam, perjalanan seorang diri pada saat petang benar-benar merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Jalan menanjak, udara dingin, serta petang yang suram menjadi temanku di atas sepeda motor yang aku kendarai, tapi syukurlah aku tiba di base camp dengan selamat.

    Jalan di sekitar Cemoro Sewu

  • Mengenang Kinahrejo dan Pendakian Pertama

    Mengenang Kinahrejo dan Pendakian Pertama

    Bicara mengenai Kinahrejo, barangkali semua orang di sebagian besar penjuru tanah air sudah tahu. Bagaimana tidak, selain desa ini adalah tempat tinggal sang juru kunci Merapi, erupsi gunung api paling aktif di planet tempat kita berpijak satu tahun silam ini telah membuat desa Kinahrejo berulang kali tayang di layar kaca seluruh Indonesia. Namun sayang, jika pada erupsi sebelumnya desa ini tayang di layar kaca dengan kondisi yang masih baik juga ditambah wawancara dengan mbah Maridjannya, pasca erupsi 2010 yang lalu desa ini muncul lagi ke layar kaca dengan keadaan yang jauh berbeda. Ya, erupsi eksplosiv Merapi yang paling besar sejak 100 tahun terakhir telah menghancurkan desa ini dan juga nyawa sang juru kunci.

  • Content Placement

    Bersedia dititipi link produk/jasa

    Review

    Siap terima sesuatu untuk direview

    Speaker

    Berbagi ilmu dan pengalaman nggak ada salahnya

    Collaboration

    Kuy kerjasama bareng dan saling support