Menyapa Kembali Kawan Lama part II

Posting Komentar
Konten [Tampil]
(Lanjutan dari part sebelumnya...)

Pendakian belum dimulai karena kami belum sampai juga ke base camp. Setelah turun dari jalan utama Salatiga – Magelang kami masih harus berjalan sampai base camp Cunthel, tapi sebelumnya kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu (waktu menunjukkan sekitar pukul 10.00 WIB). USai makan perjalanan menuju base camp pun dimulai, melewati jalan aspal dengan pemandangan kebun penduduk dan juga hutan di samping kiri – kanan kami, dari ketinggian rawa pening terlihat cukup jelas. Akhirnya setelah setengah jam menempuh perjalanan kami tiba di base camp Cunthel untuk beristirahat sambil mengurus administrasi pendakian mulai dari perizinan hingga pembayaran tiket masuk + asuransi.


PENDAKIAN DIMULAI 
 
Gerbang pendakian Cunthel:

Sekitar pukul 11.00 WIB kami memulai pendakian menuju puncak Merbabu dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu agar fisik kami siap untuk bekerja keras, tentu saja  tidak lupa juga dimulai dengan berdoa terlebih dahulu kepada Allah SWT karena hanya dengan seizin-Nya lah kami bisa sampai di puncak dan kembali pulang dengan selamat.

Sesaat selepas kami meninggalkan base camp kami melewati daerah perkebunan penduduk, tak lama setelah itu kami mulai memasuki kawasan hutan lindung karena tidak ada lagi perkebunan penduduk setelah memasuki area konservasi. Dan inilah rute yang harus kami lalui yaitu hutan gunung Merbabu.
Kergo Pasar:


Kondisi medan berupa hutan dengan cuaca yang sedikit berkabut saat itu. Rute berupa hutan mulai berubah usai pos 3 Kergo Pasar yang merupakan camping ground, mulai dari sini ketinggian pohon mulai berkurang dan rute mulai terbuka dengan tanaman perdu di sekitar jalur pendakian. Kondisi rute yang mulai terbuka membuat pemandangan yang menakjubkan dari ketinggian ke arah utara, timur, serta barat menjadi terlihat.

Sore itu tempat di mana kami menginjakkan kaki memang cerah, namun di belakang kami yang merupakan sisi utara terbentang awan hitam dengan suara gemuruh petir menyelimuti gunung Ungaran. Suatu keadaan yang membuat aku sempat was – was, semoga saja awan hitam itu tidak bergerak menuju Merbabu. Beruntung angin berhembus ke arah selatan sehingga awan hujan tersebut bergerak semakin meninggalkan kami. Sementara itu pemandangan dari tempat kami berpijak tetaplah sangat menakjubkan, kami seakan disuguhi dengan lautan awan yang terbentang di hadapan kami. “Subhanallah” sebuah kata yang berulang kali kami ucapkan.
View:


Saat matahari mulai menghilang kami tiba di puncak. Bukan puncak Kenteng Songo atau Triangulasi tapi puncak 1 alias pos pemancar. Seiring dengan lapar yang mulai datang kami segera mengeluarkan perlengkapan memasak kami + bahan makanan yang kami bawa kemudian mulai memasak dan menyantap makanan untuk mengusir lapar sekaligus menambah tenaga. Usai sang mentari menghilang suhu udara mulai turun sehingga kami harus mulai mengenakan jaket dan sarung tangan untuk menghalau dingin. Usai makan dan beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali.
Makan Malam:


Rute selepas pos pemancar bisa dibilang lebih berat dan berbahaya, selain rutenya menjadi semakin menanjak dan terdiri dari bebatuan, jurang yang menganga di sisi kanan dan kiri kami siap menerkam siapa saja yang terjatuh ke dalamnya sehingga kami harus berkonsentrasi penuh terhadap pijakan yang akan kami lalui. Ditambah lagi kondisi medan yang terbuka membuat hempasan angin dingin leluasa berhembus. Beruntung malam itu langit cerah dengan bintang yang bertaburan menghiasinya.

Sekitar pukul 21.00 WIB kami tiba di sebuah tanah lapang, mungkin itu merupakan pos Helipad. Dari pos Helipad pemandangan ke arah timur benar – benar mengagumkan, cahaya lampu kota Solo berkerlap – kerlip menghiasi bumi, walaupun begitu kondisi mata yang sudah ngantuk ditambah dengan dinginnya udara membuat kami segera mendirikan tenda kemudian tidur di dalam tenda berkapasitas lima yang dipaksakan menampung tujuh orang. Bisa dibayangkan betapa berdesakannya kami.

SUMMIT ATTACK..!!



Pukul 03.00 WIB dini hari kami terbangun karena banyak pendaki lain yang berlalu lalang menuju puncak, selain itu udara dingin membuat kami terbangun. Dan usai melipat tenda kembali kami segera melanjutkan perjalanan kembali menembus gelap dan dinginnya dini hari denga rute yang masih sama seperti sebelumnya. Fajar mulai menyingsing ketika kami tiba di persimpangan menuju puncak Syarif dan Kenteng Songo, kami mengambil rute belok kanan menuju Kenteng Songo.
Menjelang Puncak:

Menjelang Puncak:



Setelah melewati punggungan dan merayap melewati tebing akhirnya kami tiba di puncak Merbabu yaitu puncak Kenteng Songo dan puncak Trianggulasi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan kami untuk menginjakkan kaki di puncak tertinggi sang Merbabu dengan selamat. Tentu saja di sini kami berlama – lama menikmati pemandangan indah karya agung Sang Pencipta. Di sebelah selatan kami saudara muda Merbabu yaitu gunung Merapi tampak menjulang tinggi dengan puncaknya yang mengeluarkan asap, di sebelah barat tampak si kembar Sindoro – Sumbing berdiri anggun di bawah langit biru, di sebelah timur sang Lawu tampak melayang di atas awan, sementara di sisi utara tampak gunung Telomoyo – Ungaran serta rute pendakian kami tadi. “Subhanallah” Maha suci Allah, Tuhan Semesta Alam.
Puncak Merbabu:

Puncak Merbabu:

Merapi from Merbabu:

Pose 1:

Pose 2:

Pose 3:

Pose 4:

Sarapan:



Sekitar pukul 09.30 WIB kami mulai turun meninggalkan puncak melalui jalur sebelah selatan Merbabu atau melalui Selo. Cuaca cerah bermandikan sinar matahari mengiringi perjalanan turun kami. Di tengah perjalanan kami sempat salah jalur dengan mengikuti pendaki lain yang ternyata salah mengambil jalur, namun kejadian tersebut tidaklah terlalu parah karena pada akhirnya kami tiba kembali ke jalur yang benar walaupun jalur salah yang kami lewati barusan bisa dibilang sangat curam.
Rest:

Jalur Selo:

Istirahat lagi:



Pukul 13.00 WIB akhirnya kami tiba di base camp Selo setelah menempuh perjalanan panjang. Kami hanya beristirahat sebentar di Selo karena kami harus segera ke jalan utama Selo agar tidak kehabisa bus menuju Boyolali, walaupun akhirnya kami kehabisan bus juga sehingga harus menyewa pick up. Dan perjalanan kami menuju Merbabu pun telah sampai pada akhirnya. See you at the next adventure..
Gerbang Pendakian Selo:


Anggarawepe
Setitik debu di tengah besarnya alam semesta dibawah kuasa kebesaran Allah SWT

Related Posts

Posting Komentar