Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Monday, 1 January 2018

BLUSUKAN KE MARKAS TERAKHIR PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN

Syukur Alhamdulillah setelah bulan Desember libur, akhirnya blog ini kembali menyongsong hadirnya tahun 2018 dengan sebuah postingan baru. Lantas bagaimana dengan postingan sebelum ini? Yah, anggap saja itu sebuah selingan. Postingan kali ini merupakan hasil dari perjalanan panjang saya sejauh kurang-lebih 290 kilometer pada Hari Senin, 25 Desember 2017 silam.

Patung Raksasa Jenderal Sudirman
Patung Raksasa Jenderal Sudirman
Sebenarya, perjalanan saya saat itu tidaklah mempunyai tujuan yang jelas. Perjalanan tersebut dimulai karena hari itu selain bertepatan dengan libur natal, langit juga begitu cerah sehingga sangat disayangkan apabila hanya stay di rumah saja. Langsung saja sekitar pukul 08.00 WIB saya mulai memacu Supra X 125 saya menempuh perjalanan panjang hari ini.

Berawal dari keisengan belaka

Skip sampai ke tengah hari. Saat itu saya tengah makan mie ayam di Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri usai melewati jalan tembus dari Kab. Magetan. Tiba-tiba saja entah mengapa saya ingin ke Pacitan. Saya pun mengambil jalan alternatif/jalan tembus melalui Jalan Raya Purwantoro-Kismantoro atas saran penjual mie ayam. Nantinya jalan tersebut akan sampai di Pacitan tanpa harus memutar lewat Wonogiri.
Jalan Tembus Purwantoro-Pacitan
Saya pun mulai melewati jalan tersebut. Ternyata jalan tersebut juga searah dengan jalur menuju Monumen Jenderal Sudirman. Tentunya sangat disayangkan apabila saya melewatkannya begitu saja karena belum tentu dalam waktu dekat saya bisa kembali lagi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk berkunjung sekalian pada perjalanan kali ini.
Menuju Monumen Jenderal Sudirman

Menuju monumen sang jenderal

Jalan menuju Monumen Jenderal Sudirman tidaklah sulit. Cukup ikuti jalan utama tersebut ke arah Pacitan, maka nanti di sebelah kanan jalan akan ada tulisan besar yang menunjukkan arah ke Monumen Jenderal Sudirman. Selanjutnya tinggal ikuti jalan tunggal yang tidak bercabang itu. Nantinya akan dijumpai gerbang-gerbang di tengah jalan yang bertuliskan kalimat semangat militer Indonesia.
Menuju Kawasan Monumen Jenderal Sudirman
Menuju Kawasan Monumen Jenderal Sudirman
Tidak perlu ragu lagi karena jalan tersebut sudah benar. Museum dan Monumen Jenderal Sudirman ini tepatnya terletak di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Sebagai informasi, kawasan monumen ini mulai dibuka tahun 1998 silam, sementara kawasan museumnya selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 2008.
Kawasan Monumen Jenderal Sudirman
Kawasan Monumen Jenderal Sudirman

Patung raksasa sang jenderal

Pos registrasi akan dijumpai setibanya di Monumen Jenderal Sudirman. Saat berkunjung ke sana, saya hanya membayar Rp5.000,00 saja termasuk parkir. Monumen ini tampak begitu megah dengan lapangan luas di tengahnya. Hal paling mencolok di sini adalah patung raksasa Jenderal Sudirman setinggi delapan meter yang tampak begitu gagah di sisi barat.
Monumen Jenderal Sudirman
Monumen Jenderal Sudirman
Saya segera berjalan untuk mendekat ke patung beliau. Anak tangga yang cukup tinggi harus dilalui untuk sampai ke dekatnya. Ada tiga bagian tangga; bagian pertama berjumah 45, bagian kedua adalah 8, kemudian bagian tiga berjumlah 17. Jumlah tersebut mencerminkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia.
Lapangan di Monumen Jenderal Sudirman
Lapangan di Monumen Jenderal Sudirman
Sesampainya di sana, ada banyak masyarakat yang berkunjung. Kebanyakan dari mereka berfoto dengan latar patung raksasa jenderal Sudirman yang gagah sembari menikmati semilir angin pegunungan. Cukup susah bagi saya untuk mengambil foto patung beliau dengan kondisi bersih dari manusia karena saat itu ada beberapa pengunjung yang duduk-duduk di bawahnya.
Patung Raksasa Jenderal Sudirman
Warga duduk-duduk di Bawah Patung Raksasa Jenderal Sudirman
Selain patung, sebenarnya terdapat kompleks museum di sekeliling lapangan. Sayang, bangunan museum belum berfungsi. Ruang-ruang museum masih kosong, entah kapan akan optimal difungsikan mengingat peresmiannya yang sudah sejak tahun 2008 silam. Sebagai hiburan, di dinding luar ruangan terdapat relief yang menceritakan kisah hidup Jenderal Sudirman termasuk perjuangan gerilya beliau.
Relief Kisah Perjalanan Jenderal Sudirman
Relief Kisah Perjalanan Jenderal Sudirman

Markas terakhir sang panglima besar

Bagian dari Monumen Jenderal Sudirman yang paling bersejarah berada cukup terpisah dari kawasan museum dan patung raksasa. Ikuti saja jalan utama yang masih berlanjut hingga ujung. Sebuah rumah joglo sederhana tepat berada di ujung penghabisan jalan tersebut. Bukan rumah sederhana biasa, rumah itu dulunya pernah menjadi markas Panglima Besar Jenderal Sudirman saat berjuang merebut kembali kedaulatan Indonesia.
Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Sesampainya di sana, saya bertemu dengan seorang bapak yang usianya sudah tak lagi muda. Beliau adalah Bapak Supadi yang sekarang adalah pemilik rumah sederhanan nan penuh sejarah ini. Bukan hanya itu saja, beliau juga merupakan saksi hidup yang pernah bertemu langsung dengan Jenderal Sudirman dahulu.
Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Meskipun sudah tua, ingatan beliau mengenai masa-masa perjuangan Jenderal Sudirman di rumahnya ini masih tajam. Sang Jenderal mulai bermarkas di sini mulai satu April hingga Tujuh juli 1949 dan saat itu usia Pak Supadi baru tujuh tahun. Tentu akan lebih baik jika terlebih dahulu mengetahui sejarah gerilya Jenderal Sudirman ini.
Bapak Supadi, Saksi Hidup Perjuangan Jenderal Sudirman
Bapak Supadi, Saksi Hidup Perjuangan Jenderal Sudirman

Perjuangan gerilya dengan satu paru-paru

Perjuangan gerilya Jenderal Sudirman berawal dari peristiwa Agresi Militer Belanda II yang terjadi tanggal 19 Desember 1948. Saat itu Belanda melanggar perjanjian Renvile dan menyerang Yogyakarta; ibu kota Indonesia saat itu. Hasilnya Belanda berhasil menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta dan beberapa menteri.
Foto Perjuangan Jenderal Sudirman
Foto Perjuangan Jenderal Sudirman
Saat itu Jenderal Sudirman baru keluar dari rumah sakit karena penyakit tuberkulosisnya. Bahkan karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya harus dikempiskan. Kondisi tersebut tidak mengendurkan semangat sang jenderal untuk bergerilya. Bersama APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) beliau terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Rute Gerilya Jenderal Sudirman
Rute Gerilya Jenderal Sudirman
Perjuangan gerilya Jenderal Sudirman dan para gerilyawan kebanyakan dilakukan di Jawa Timur. Selama perjuangannya beliau selalu ditandu oleh pasukannya karena kondisi fisiknya yang lemah. Meski demikian, jarak tempuh pada perjuangan gerilya beliau mencapai sekitar 693 kilometer jauhnya.

Pakisbaru dan Jenderal Sudirman

Bapak Supadi bercerita pada saya bahwa saat itu; tanggal satu April 1949, rombongan pasukan Jenderal Sudirman tiba di desanya. Sang jenderal kemudian memutuskan untuk bermarkas di tempat tersebut. Pemilihan tempat tersebut adalah karena lokasinya yang memang strategis.
Tempat Tinggal Jenderal Sudirman Saat Bermarkas di Pakisbaru, Pacitan
Tempat Tinggal Jenderal Sudirman Saat Bermarkas di Pakisbaru, Pacitan
Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut membuat pengintaian terhadap musuh menjadi lebih mudah. Selain itu topografinya berupa pegunungan dan penuh jurang, menyebabkan aktifitas keluar-masuk masyarakat menjadi mudah dipantau sehingga jika ada orang asing yang datang, maka akan cepat diketahui.
Medan Pegunungan
Medan Pegunungan
Markas di Desa Pakisbaru ini selain menjadi markas terakhir pasukan gerilya Jenderal Sudirman, juga merupakan markas terlama yang ditempati. Sebelumnya pasukan gerilya sang jenderal hanya sejenak menempati suatu wilayah. Beliau dan pasukannya pun diterima oleh masyarakat desa dan tinggal di rumah-rumah warga.
Foto Jenderal Sudirman dengan Masyarakat di Depan Markas Gerilya
Jenderal Sudirman: Lingkaran Merah; Bapak Supadi: Lingkaran Kuning
Jenderal Sudirman sebagai pemimpin rombongan tinggal di rumah Bapak Karso Semito yang merupakan ayah dari Bapak Supadi. Beliau tinggal di sini bersama dua orang ajudannya. Sementara itu masyarakat desa bahu membahu melalui hasil pertanian mereka untuk mencukupi logistik pasukan selama bermarkas di sini.
Bagian dalam Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Bagian dalam Markas Jenderal Sudirman di Pakisbaru, Pacitan
Pasukan Jenderal Sudirman mulai meninggalkan markas di Desa Pakisbaru ini pada tanggal tujuh Juli 1949, kembali ke ibu kota RI saat itu; Yogyakarta. Ketika itu pihak Indonesia dan Belanda sepakat melakukan gencatan senjata melalui perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani pada 14 April 1949. 

Setelah itu Indonesia berhasil mendapatkan kedauatannya kembali melalui Konferensi Meja Bundar Pada 2 November 1949. Sayang, selang beberapa bulan setelahnya; tepatnya tanggal 29 Januari 1950, sang jenderal dipanggil menghadap Allah SWT untuk selamanya. Meski beliau sudah lama wafat, tetapi api semangatnya masih bisa dirasakan di markas terakhirnya ini hingga sekarang.


INFO

Jam Buka Tiket:
08.00 WIB – 17.00 WIB

Tiket Masuk + Parkir:
Rp5.000,00

Fasilitas:
Area parkir & toilet

Waktu kunjungan terbaik:
Pagi hari

33 comments:

  1. (Kolom komentar via mobile tidak tersedia jika tidak diawali dengan komentar via PC sebelumnya.. Ada yang bisa bantu..??)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantesan aku udah bolak balik buka tulisan ini mau komen nggak bisa.. Ku kira servernya eror, hhh
      Btw dekat rumahku juga ada Monumen tempat lahir Jend. Soedirman loh

      Delete
    2. Haha.. Iya..
      Baru nyadar soalnya kalo via web aman-aman aja eh.. Untung tadi cek via mobile..

      Yg di mana mbak..? Purbalingga kah..?

      Delete
    3. Sama euy,, kasusnya sama kaya di blog ane nih .. gara2 theme-nya atau apa ya?

      Delete
    4. Paling themenya..

      Mau ganti tapi udah terlalu banyak yg diutak-atik eh..

      Delete
  2. Nah iya kak barusan mau comment enggak bisa karna via mobile. Dan belum tau juga solusinya jadi belum bisa bantu hehe.
    Btw seru banget perjalanannya kak padahal berawal dari tujuan yg enggak jelas. Duh, baca tulisan kakak jadi pengen pulang kampung trus eksplore Wonogiri, Pacitan dan sekitarnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya sementara habis posting ak komen sendiri dulu..
      Trs kalo udah ada komen yg masuk, punyaku dihapus.. hehe

      Btw.. Rumahnya Wonogiri kah mbak..?
      Banyak hlo tempat" buat diexplore.. hehe

      Delete
    2. Rumah mbahku di Wonogiri, Kak. Kalo kesana cuma main ke Waduk Ngancar atau ke Gajah Mungkur doang. Nanti kalo aku mudik, aku minta info rekomendasi tempat keren di sana yaa hehe

      Delete
    3. Sipp".. Kalo pas balik hubungi aja.. Semoga bisa kasih referenzi terbaik..

      Delete
  3. Boleh banget solusinya, dikomen dulu, terus dihapus 😂😂

    Aku ninggalin jejak dulu
    Bacanya nanti yeeee... Jadi ntar kukomen lagi 😆

    ReplyDelete
  4. Wuih asiik jg menelusuri jejak sejarah Indonesia ya Bang. Kalo nengok ke belakang alias sejarah ada berfaedah begini, oke jg dilakukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Menarik dan masih ada banyak buanget yang kayak gini..

      Delete
  5. wuah jaman perang fotonya belum berwarna ya.. heuheuheu
    tapi seru juga, habis perang, terus foto bareng :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat kenang-kenangan..
      Sama jadi foto bersejarah juga..

      Delete
  6. Jadi merinding kalo melihat teringat para pahlawan yang berjuang untuk negara ini. lalu berkata dalam hati. Apa yang sudah saya lakukan selama ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadiin motivasi untuk melakukan yang terbaik untuk negeri..
      Seenggaknya kalau belum mampu ya berusaha untuk tidak merugikan negeri ini..

      Delete
  7. Saksi hidup masih bisa ditemuin ya :) senangnya. Sosok jendral yg aku pelajari saat sekolah dasar ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. G nyangka juga kemaren bisa ketemu sama saksi hidup perjuangan Jenderal Sudirman...
      Jaman SD pun saia juga belajar tentang beliau di buku sejarah..

      Delete
  8. Oooh di pacitan toh, kukira di jawa tengah

    Kalo aku ke sana, aku pengen baca reliefnya satu persatu, berbekal film jendral sudirman yang pernah aku tonton 😂😂

    Semoga lekas dihidupkan lagi museumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monumen Jenderal Sudirman ada juga kok yg di Jawa Tengah..
      Kalo markas gerilya terakhirnya ya di Pakisbaru, Pacitan ini..

      Iya mbak.. Reliefnya di dinding museum, bisa sekalian olah raga biar kurus.. hehe
      Sayangnya sejak diresmikan, museumnya belum berfungsi.. Bisa dibilang proyeknya mangkrak.. hadehh

      Delete
  9. Aku baru mengunjungi museum beliau yang di Magelang dan di Jogja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, saia malah belum pernah mengunjungi museum beliau selain di Pacitan ini..

      Delete
  10. Ketika disebut nama Jenderal Sudirman, pasti langsung terkait dengan label jenderal yang hebat. Dalam otak saya, imej yang tergambar itu laki2 tua yang sudah dalam gotongan karena sakit, namun semangatnya membara dalam mempertahankan harga diri bangsa dan kedaulatan negara.

    Dengan adanya monumen sang jenderal (dan museumnya itu), semoga bisalah jadi pengingat bagi generasi Indonesia mendatang. Bahwa pernah lahir putra daerah bernama Soedirman yang jasanya menawan, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Waktu dateng ke sini pun nuansa perjuangan beliau masih terasa..
      Apalagi rumah yang menjadi markas terakhir tersebut konstruksinya masih dipertahankan dan juga beberapa propertinya masih asli sejak dulu..

      Delete
  11. Bapak ini satu2nya saksi hidup yg pernah berinteraksi langsung dg jenderal soedirman di daerah ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya masih ada yang lain..
      Tapi bapak ini lebih sering karena rumahnya dulu jadi markas dan tempat tinggal jenderal Sudirman..

      Delete
  12. Baru tahu ada Monumen Sudirman di Kaupaten Pacitan. Pernah lihat semacam tugu kecil aja di Wonogiri (dekat Museum Wayang) yang jadi bukti jalur gerilya sang Jendral, tapi nggak nyangka kalau di Pacitan malah ada museum keren kek gitu. Mlipir ke sana ah. Nice share, Angg. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, yg di Wonogiri malah belum tau eh..
      Kemaren juga nggak nyangka sebelumnya kalo yg di Pacitan semegah ini...

      Sipp.. Sami-sami..

      Delete
  13. owalah, ternyata di pacitan markas terakhir sang panglima, hmb, kemaren sempet ke pacitan sih tapi gk nyampe ke monument ini. pertama karena tidak tahu, akhirnya cuman mampir ke gua Gong. BTW, markasnya gede ya, dan juga terawatt walau sudah bertahun-tahun tak terpakai ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalau dari Goa Gong masih jauh..
      Ini lokasinya perbatasan sama Jawa Tengah bagian barat laut... Mungkin sekitar 2 jamman kalo dari Goa Gong...

      Iya, bagusnya masih cukup terawat markasnya..

      Delete
  14. lagi kepurwokerto gak mapir ke sini krn tutup

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Jika bermanfaat, mohon kesediaannya untuk menshare postingan yang ada.