Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 13 April 2018

MENGIKUTI UPACARA LABUHAN KERATON YOGYAKARTA DI LERENG SELATAN MERAPI

Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan memang sangat menjunjung tinggi kearifan lokalnya. Statusnya sebagai daerah istimewa memang berbada dengan daerah lain yang mana kepala daerahnya (gubernur) dijabat oleh sultan dari Keraton Yogyakarta. Keberadaan Keraton Yogyakarta sendiri turut berperan besar dalam usaha pelestarian budaya di Yogyakarta.

Upacara Labuhan Merapi Keraton Yogyakarta
Upacara Labuhan Merapi Keraton Yogyakarta
Salah satu upacara adat yang rutin dilangsungkan oleh Keraton Yogyakarta setiap tahunnya adalah Upacara Labuhan. Upacara ini dilangsungkan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa) dalam rangka memperingati jumenengan (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X. Upacara ini diadakan di tiga tempat berbeda yaitu di Pantai Parangkusumo, Gunung Lawu, dan Gunung Merapi.

Menuju Lereng Selatan Meru Api
Dini hari itu, Hari Jumat tanggal 28 April 2017, saya sudah mulai bersiap untuk menuju Desa Kinahrejo yang dulunya merupakan tempat tinggal Mbah Maridjan; juru kunci Gunung Merapi yang tewas terkena awan pasan saat erupsi Merapi 2010 silam. Upacara Labuhan Merapi sendiri akan dimulai dari bekas rumah Mbah Maridjan di Desa Kinahrejo tersebut.

Menuju Kinahrejo dari UGM

Saya menempuh perjalanan menuju Desa Kinahrejo melalui Jalan Kaliurang. Cukup cepat waktu tempuh saya di pagi yang lengang saat itu karena sebelum pukul 06.00 WIB saya sudah sampai di area parkir Desa Kinahrejo. Ternyata pagi itu sudah banyak orang; mulai dari kalangan wartawan dan fotografer yang berdatangan untuk menyaksikan rangkaian upacara Labuhan Merapi. 
Area Parkir Desa Kinahrejo
Area Parkir Desa Kinahrejo
Sebenarnya rangkaian Upacara Labuhan sendiri sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Malam hari sebelumnya pun di tempat saya berada saat itu diadakan pertunjukan wayang kulit. Sementara acara pada pagi itu baru akan dimulai pukul 07.00 WIB. Namun sudah ada beberapa orang dengan pakaian khas abdi dalem Keraton Yogyakarta yang mempersiapkan acara.
Puncak Merapi Full Zoom
Puncak Merapi Full Zoom
Sembari menunggu acara dimulai, terlebih dahulu saya berkeliling bekas kediaman Mbah Maridjan yang sekarang difungsikan sebagai museum. Beberapa benda mulai perabotan rumah tangga, kendaraan, hingga mobil yang rusak karena terkena luncuran awan panas Merapi pada tahun 2010 silam ditampilkan sebagai pengingat akan bencana tersebut.
Perabotan yang Hancur Diterjang Awan Panas di Museum Mbah Maridjan
Perabotan yang Hancur Diterjang Awan Panas di Museum Mbah Maridjan
Selain barang, terdapat pula beberapa gambar dan tulisan yang berisi keterangan mengenai bencana letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 silam. Perlu diketahui bahwa erupsi Meru Api pada tahun 2010 lau merupakan letusan terdahsyat dalam kurun waktu 100 tahun ini. Biasanya Merapi erupsi secara efusif atau embusan, tetapi pada letusan tersebut Merapi erupsi secara eksplosif.
Kehancuran Akibat Erupsi Merapi 2010
Kehancuran Akibat Erupsi Merapi 2010
Mbah Maridjan dan Mereka yang Menjadi Korban Erupsi Merapi 2010
Mbah Maridjan dan Mereka yang Menjadi Korban Erupsi Merapi 2010
Letusan Merapi pun meluluhlantakkan Desa Kinahrejo yang pada erupsi Gunung Merapi sebelumnya tidak pernah tersentuh awan panas. Letusan tahun 2010 tersebut bahkan telah menelan korban yaitu Mbah Maridjan yang merupakan juru kunci Gunung Merapi saat itu. Kini jabatan juru kunci tersebut diwariskan kepada putranya yaitu Mas Kliwon Surakso Hargo atau Mas Asih.
Motor dan Mobil Evakuasi yang Hancur Diterjang Awan Panas
Motor dan Mobil Evakuasi yang Hancur Diterjang Awan Panas

Upacara Labuhan Merapi
Sekitar pukul 06.40 WIB rombongan utama abdi dalem Keraton Yogyakarta tiba, lengkap dengan ubarampe atau perlengkapan upacara labuhan. Rangkaian Upacara Labuhan pun segera akan dimulai. Terlihat para abdi dalem Keraton Yogyakarta, baik putri maupun kakung (wanita dan laki-laki) telah berbaris untuk selanjutnya melakukan doa bersama sebelum berangkat.
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Siap Berangkat
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Siap Berangkat
Tak lama kemudian iring-ringan Upacara Labuhan Merapi mulai berangkat. Ratusan orang turut serta berjalan mengiringi para abdi dalem berjalan naik menapaki jalan setapak yang merupakan jalur pendakian Gunung Merapi via selatan ini. Selain abdi dalem, wartawan, dan fotografer, peserta pun semakin lengkap dengan adanya personel keamanan dan tim SAR untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Berangkat
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Berangkat
Ubarampe yang ada dibawa oleh seorang abdi dalem yang selangkah demi selangkah menapaki jalan setapak dan diikuti oleh peserta lainnya. Rombongan yang berjalan di jalan setapak terlihat bagaikan rangkaian kereta manusia saking banyaknya peserta. Agaknya memang banyak orang yang antusias mengikuti Upacara Labuhan ini.
Rangkaian Kereta Manusia di Jalur Pendakian Merapi via Kinahrejo
Rangkaian Kereta Manusia di Jalur Pendakian Merapi via Kinahrejo
Sekitar 20 menit berselang, sampailah rombongan di pemberhentian pertama yaitu Pos Bedhengan. Rombongan abdi dalem kembali menata barisan kemudian duduk di depan semacam altar yang digunakan untuk meletakkan ubarampe. Salah seorang abdi dalem kemudian mulai mengeluarkan isi kotak ubarampe tersebut dan membakarnya sambil berdoa.
Prosesi Upacara Labuhan di Pos Bedhengan
Prosesi Upacara Labuhan di Pos Bedhengan

Menuju Bangsal Sri Manganti
Rombongan kembali berjalan sekitar 15 menit kemudian usai ritual di Pos Bedhengan selesai. Sama seperti sebelumnya, para abdi dalem kembali berbaris rapi kemudian lanjut berjalan menapaki jalan setapak yang diikuti dengan peserta lainnya. Medan yang semakin menanjak tidak menyurutkan langkah para abdi dalem untuk terus melaju, meski sebagian besar dari mereka sudah tidak lagi muda.
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Kembali Berangkat
Rombongan Upacara Labuhan Merapi Kembali Berangkat
Lingkaran: Putra Mbah Maridjan; Mas Kliwon Surakso Hargo (Mas Asih); Juru Kunci Gunung Merapi
Kabut mulai turun saat rombongan berada di tengah perjalanan menuju Bangsal Sri Manganti; tempat acara utama dalam Upacara Labuhan Merapi ini dilaksanakan. Wajar saja karena akhir April tersebut masih memasuki musim penghujan, meski sudah ada di penghujungnya. Beruntung karena meski ada beberapa tetes air dari langit, hujan tidak turun.
Kabut Mulai Turun
Tanjakan demi tanjakan pun dapat dilewati oleh rombongan dengan lancar. Rasa salut sempat terbesit dalam benak saya kepada para abdi dalem yang melakukan perjalanan karena pakaian yang dikenakannya adalah pakaian adat seperti kain jarik sehingga cukup merepotkan apabila digunakan untuk melewati tanjakan di jalan setapak jalur pendakian tersebut. Tentu usia yang tak lagi muda membuat stamina mereka juga tak sekuat semasa mudanya.
Para Abdi Dalem Menapaki Jalan Setapak
Jalan setapak yang dilalui pun kondisinya cukup basah karena musim hujan menyebabkan hujan masih sering turun di kawasan Gunung Merapi. Mungkin bagi rombongan lain, mereka akan mengenakan sepatu atau sandal utuk melalui jalan setapak yang basah tersebut. Namun sebagian besar abdi dalem terus berjalan di jalan setapak tersebut dengan tanpa alas kaki.
Pantang Menyerah Melalui Tanjakan

Upacara Labuhan di Bangsal Sri Manganti
Akhirnya setelah sekitar 45 menit melangkah, rombongan sampai juga di Bangsal Sri Manganti atau Pos I Gunung Merapi via Kinahrejo. Ternyata di sini sudah disiapkan tikar di depan altar batu yang konon merupakan sebuah petilasan ini. Tentu saja tikar tersebut diperuntukkan bagi para abdi dalem yang melakukan upacara.
Bangsal Sri Manganti (Pos 1 Pendakian Merapi via Kinahrejo)
Bangsal Sri Manganti (Pos 1 Pendakian Merapi via Kinahrejo)
Tidak hanya tikar, tali rafia pun dipasang mengelilingi tempat pusat Upacara Labuhan Merapi tersebut sehingga mereka yang ingin menyaksikan atau meliput harus berada di luar tali rafia tersebut. Kembali para abdi dalem berkumpul dan kemudian bersiap untuk melangsungkan Upacara Labuhan usai kotak ubarampe diletakkan di batu semacam altar tersebut.
Upacara Labuhan Merapi di Bangsal Sri Manganti
Upacara Labuhan Merapi di Bangsal Sri Manganti
Rangkaian upacara pun dimulai dengan mengeluarkan ubarampe dari dalam kotak dan ditata rapi di altar batu oleh seorang abdi dalem. Nama masing-masing ubarampe pun disebutkan satu per satu saat dikeluarkan. Upacara dilanjutkan dengan menabur bunga di sekeliling altar batu oleh seorang abdi dalem sembari mengucapkan doa.
Ubarampe Upacara Labuhan Merapi Diperkenalkan Satu per Satu
Ubarampe Upacara Labuhan Merapi Diperkenalkan Satu per Satu
Menabur Bunga
Setelah itu giliran Mas Asih selaku juru kunci Gunung Merapi yang memimpin acara seperti Upacara Labuhan Merapi sebelumnya. Upacara pun dilaksanakan secara khidmat dengan doa bersama oleh oleh semua orang yang hadir di sana saat itu. Kami semua dengan dipimpin Mas Asih berdoa untuk keselamatan Yogyakarta dan juga negeri tercinta kami; Indonesia. Tentu doa tersebut ditujukan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.
Mas Asih Memimpin Doa pada Upacara Labuhan Merapi
Mas Asih Memimpin Doa pada Upacara Labuhan Merapi
Sebenarnya sebelum erupsi 2010, Upacara Labuhan diadakan di Pos II atau pos rudal (dinamakan demikian karena ada monumen rudal bekas perang dunia II). Namun erupsi 2010 tersebut menyebabkan kerusakan di jalur pendakian hingga Pos II sehingga lokasi utama Upacara Labuhan diadakan di Pos I Sri Manganti. Tempat ini juga merupakan batas pendakian bagi mereka yang mendaki Merapi melalui jalur Kinahrejo.
Pos II atau Pos Rudal Pendakian Merapi via Kinahrejo
Pos II atau Pos Rudal Pendakian Merapi via Kinahrejo
In Frame: Saia Delapan Tahun yang Lalu
Asal usul Labuhan Merapi tidak lepas dari sejarah masa lalu kerajaan Mataram. Dulu Mataram sempat berseteru dengan Kerajaan Pajang. Bahkan Pajang telah mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mataram. Namun usaha tersebut gagal karena letusan Merapi saat itu sehingga Mataram bisa mengalahkan pasukan Pajang. Penghormatan kepada Merapi inilah yang menjadi tujuan upacara labuhan Merapi.

Baca juga: http://www.kratonjogja.id/ulang-tahun-kenaikan-tahta/2/hajad-dalem-labuhan

41 comments:

  1. Replies
    1. Bayak fotonya ya Mz.. kapan bisa ke jogja ya? 😊

      Delete
    2. Luangkan waktu ke Jogja mbak.. hehe

      Delete
  2. Saya bangga jadi Orang Indonesia sebab Indonesia kaya akan Adat dan Budaya, salah satunya adalah Upacara Labuhan Ratu yang dibahas diatas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Acara budaya seperti inilah yang bikin kita seharusnya bangga menjadi bagian dari Bangsa Indonesia..

      Delete
  3. Ubarampe iku isine opo toh? Bunga2 ta?

    Aku yo salut nang abdi dalem. Kukira mereka pake sendal, ternyata gak pake alas kaki. Apalagi masih pake jarik yang nyerimpet. Aku ae sing nggae rok lebar naik bukit kerepotan, apalagi pake semacam rok yang nyerimpet itu

    Btw, pose kakinya manis2 manja banget di foto terakhir. Kukira siapa 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macem-macem sih.. Ada kain, bunga, dan sebagainya..

      Kalo Abdi Dalem memang hebat-hebat orangnya, terutama yg ikut prosesi Labuhan di Merapi ini... Jangan lupa kalo mereka udah nggak muda lagi hlo...

      Hadehh.. Iku pose biasa padahal..
      Maklum, jaman old.. haha

      Delete
  4. kira-kira tahun 2018 kapan adanya upacara ini mas? Rame banget yang dokumentasiin kayaknya. jadi inget jaman kuliah di Jogja, kalo ada temen dateng, pasti saya bawanya ke Museum Merapi dan rumahnya mbah maridjan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Besok Selasa ms.. Tanggal 17 April 2018...
      Dulu pas masih merantau di Jogja juga cukup sering main ke Museum Merapi sama Kinahrejo....

      Delete
    2. yaahh kelewat dong masak, bacanya. :( huft tahun depan lagi dong? apa ada lagi? :(

      Delete
    3. Tenang.. Tahun depan ada lagi..
      Tanggal 30 Rejeb (Penanggalan Jawa)..

      Infonya ada di IG resminya Keraton Yogyakarta...

      Delete
  5. Seru ya ikut upacara tradisional seperti ini. Bisa belajar soal bagaimana religi dari suatu kerajaan yang masih bertahan sampai sekarang dan tetap diterima masyarakat. Saya jadi tertarik nih. Mudah-mudahan ada kesempatan menyaksikan prosesinya secara lengkap, hehe. Saya yakin bahwa semua yang dilakukan dalam upacara ini pasti ada makna filosofisnya, sebagai bentuk kepasrahan manusia kepada Tuhan dan penghargaan manusia kepada alam tempatnya hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali.. Bagian dari prosesi upacara/ritual yg merupakan hasil asimilasi budaya dan ttp terjaga sampai sekarang..
      Kalau dikupas satu per satu makna filosofisnya, bisa puanjang banget nanti.. hehe

      Kalo mau ikut event-nya bisa cek di akun IG resmi Keraton Yogyakarta..

      Delete
  6. Keren sekali acaranya. tradisi yang harus dilestarikan. hebat juga ya orang-orangnya bisa jalan di medan seperti itu padahal tidak pakai sendal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah tradisinya masih lestari hingga sekarang..
      Semoga tetap selalu lestari untuk selamanya...

      Mereka mah udah biasa trekking tanpa alas kaki seperti itu.. hehe

      Delete
  7. Satu yang sangat saya kagumi dari budaya Jawa adalah pengabdian para Abdi dalem ini. Tata krama dan cara hidup mereka yang sepenuhnya mengabdi kepada istana, seperti terlihat dalam berbagai kesulitan dalam melakukan upacara di Gunung Merapi ini, sungguh mengagumkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul..
      Salut juga sama perjuangan mereka yang mana kebanyakan usianya nggak muda lagi..

      Delete
  8. Hmm baru tau aku potonya putra mbah Maridjan sebagai juru kunci merapi sekarang.
    Oh ya mas, itu jalan kakinya jauh banget kah? aku pingiiin bisa menyaksikan labuhan merapi tahun depan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama.. Kemaren juga baru tau beliau putranya almarhum Mbah Maridjan habis tanya-tanya...

      Emm.. Kalo menurutku nggak begitu jauh.. Sekitar 1,5 jam aja kok...
      Tahun ini besok Selasa tanggal 17 April 2018 hlo mbak...

      Delete
  9. Dari dulu pengen ksitu blm kesampaian jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Besok" luangkan waktu buat ikut acara tahunan ini gan...

      Delete
  10. Jogja sampai saat ini masih jadi kota yang paling aku rindukan... Dari suasananya, destinasinya bahkan makanannya masih kerasa banget. Semoga suatu saat bisa ke Jogja lagi.

    Aku juga salut banget sama tradisi dan adat Jogja yang saat ini masih terasa dan kental banget... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah khasnya Jogja yang selalu bikin kangen untuk ke sana..

      Semoga aja di tengah modernisasi yg kian gencar, seni tradisi budaya di Jogja tetap terjaga...

      Delete
  11. Wah, ternyata ada upacaranya. Jogja memang beda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. Udah sejak lama banget upacara Labugan yang satu ini hlo..

      Delete
  12. Di daerah ada juga sebetulnya upacara tiap suroan tapi ndak pernah kober mau mencoba ikut serta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, coba diliput.. Trs ditulis di blog..
      Siapa tau jadi terkenal nantinya..

      Delete
  13. Replies
    1. Wah, nggak kabar-kabar...
      Main ke Solo aja mbak.. AKu udah balik Solo.. hehe

      Delete
  14. Menarik.. Indonesia memang sangat kaya dengan sejarah dan budaya

    ReplyDelete
  15. Wah baru tahu aku detail acara labuhan merapi kayak gini. Salut sama para abdi dalem yang tetep setia menjalankan ritual, naik gunung pake pakaian adat lengkap dan tanpa alas kaki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan-kapan ikut juga ms.. Biar tau rasanya para abdi dalem itu..
      Mereka benar-benar mengabdi kepada keraton soalnya... Jadi melaksanakan tugas dengan maksimal...

      Delete
  16. Waaah keren nih, aku tertarik bgt loh kl ada upacara2 adat kaya gini mas.. Makin cinta indonesiaaaa uy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Purwokerto/Purbalingga adakah yang semacam ini..?

      Delete
  17. Rame dan seru ya acaranya,
    Ternyata ada upacaranya to, semoga terus di lestarikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Menarik untuk ditelusuri...
      Aamiin.. Sayang sekali kalo sampai musnah....

      Delete
  18. Ikut senang adat istiadat Kejawen ini tetap lestari sampai sekarang.
    Para abdi dalem keraton juga bikin kagum ... mereka dengan setia dan bangga menjadi bagian dari kebudayaan luhur tanah Jawa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kebanggaan tersebut tetap terjaga untuk selamanya...
      Dan Yogyakarta akan ttp menjadi wilayah konservasi budaya semacam ini...

      Aamiin

      Delete
  19. para abdi dalem itu luar biasa sekali ya dedikasinyaa..
    naik gunung pakai pakaian adat begitu plus nyeker pula.. saya mah nyerah dehh ..
    tp tradisi ini menarik untuk diabadikan ya..

    mudaha2an lain waktu main ke jogja bisa ikut melihat upacara labuhan merapi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah merupakan sebuah keharusan mbak soal pelestarian tradisi ini...

      Tahun depan pas tanggal 30 Rejeb kalo mau ikut (penanggalan Jawa)
      Informasinya ada di instgram resminya Keraton Yogyakarta..

      Delete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin