Laman

Wednesday, 8 June 2011

CATPER 8 Hours Adventure

Hari itu tanggal 6 Juni 2011. Solo di pagi itu selepas adzan subuh, aku baru terbangun dari tidurku. Hari itu juga aku berencana untuk kembali ke perantauan, Yogyakarta mengingat ada banyak tugas akhir semester dan juga untuk persiapan ujian akhir semester yang akan diadakan minggu depan. Namun entah mengapa, pagi itu juga jiwa eksplorasi / penjelajah / petualanganku seolah mengendalikanku untuk melakukan sebuah perjalanan panjang hari ini, bukan sekedar perjalanan kembali ke Yogyakarta saja. Aku tak kuasa membantah perintah itu, akupun menurutinya dan tidak membutuhkan waktu lama untuk merencanakan sebuah perjalanan. Ya, akupun telah memutuskan kemana harus melakukan perjalanan pada hari itu, tujuanku adalah menuju Gunung Sumbing-Sindoro. Dengan yakin akupun memulai petualangan pada hari itu, setelah mempersiapkan semuanya akupun berangkat. Good Bye My Beloved Solooo..!!

            Entah bagaimana aku bisa dengan cepat memutuskan harus lewat mana menuju Sumbing-Sindoro, apakah itu insting / wangsit karena dengan cepat pula aku memutuskan untuk lewat Kopeng (Salatiga) sekalian mengenang pendakian pertamaku yang sangat berarti di Gunung Merbabu yang juga melalui rute Kopeng. Perjalanan menuju Kopeng aku tempuh melalui Boyolali, keadaan langit pagi itu yang sangat cerah membuatku terpana akan pemandangan yang tersaji di depan mataku. Dua gunung berdiri dengan tegak di ufuk barat, menghiasi perjalananku, membuat aku semakin bersemangat. 

 
Merapi-Merbabu dari Jalan Solo-Boyolali

Dialah Merapi, sebagai gunung paling aktif di Bumi ini bersanding dengan saudara tuanya Gunung Merbabu. Melihat kedua gunung itu dari jalan Solo-Boyolali membuatku ingin untuk bisa berada lebih dekat.
            Perjalanan menuju Kopeng ditempuh melalui jalan menuju Semarang, namun ketika tiba di Salatiga tepatnya di pasar sapi ambil jalan yang berbelok ke arah Gunung Merbabu. Bisa juga bertanya dengan orang-orang di situ mengenai arah ke Kopeng. Jika teman-teman ingin menuju Kopeng dengan bus, ambil bus jurusan Semarang lalu turun di Pasar Sapi Salatiga, oper dengan bus kecil jurusan Magelang yang lewat Kopeng.
           


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya aku sampai juga di Kopeng. Seperti yang telah diceritakan tadi, kehadiranku di Kopeng kembali memngingatkanku akan pendakian pertamaku di Merbabu, ditambah dengan cuaca saat itu yang benar-benar cerah membuat pemandangan di sekitar Kopeng terlihat indah. Gunung Merbabu terlihat sangat mengagumkan karena cuaca cerah saat itu membuatnya terlihat seluruhnya, dari bawah hingga ke puncaknya. Ada lagi satu hal yang paling mengenang untuk dilihat, ternyata dari Kopeng terlihat pos pemancar yang terdapat di gunung Merbabu, sangat kecil tetntunya. Dulu di pos itu aku dan kawan-kawan pernah terjebak badai kabut yang sangat dingin, amat beruntung sekali karena Allah SWT masih menyelamatkan kami dengan berlindung di sebuah bangunan di pos tersebut.

Merbabu from Kopeng, Salatiga

 Gunung Telomoyo

Merbabu from Kopeng, Salatiga


Merbabu from Kopeng, Salatiga


Walaupun cuaca saat itu cerah, namun udara sangat dingin. Mungkin karena angin yang bertiup saat itu, padahal aku mengenakan jaket yang cukup tebal dan juga sarung tangan. Keadaan yang dingin itu membuatku sering berhenti unuk sebentar menghangatkan tubuh dengan berdiri di bawah sinar matahari. Sambil menikmati pemandangan tentunya.
 


Sumbing-Sindoro

Ada yang mengintip..! Puncak Merapi


Merbabu

Sesuatu terjadi, saat aku hendak menyalakan motorku untuk melanjutkan perjalanan dari tempat pemberhentianku saat mengambil ketiga foto di atas. Sesuatu yang membuatku sangat rindu akan pendakian ke sebuah gunung. Apakah itu..? “SUARA ANGIN”.. Bukan suara angin biasa, itu suara angin khas gunung. Saat angin mengenai pepohonan, maka akan menghasilkan suara yang membuatku merasa mrinding, merinding kagum mendengarkan nyanyian alam. Tentunya sebuah nyanyian yang tidak mungkin teman-teman jumpai di daerah perkotaan, di mana yang ada hanya kebisingan kendaraan bermotor saja.



Dan perjalanan berlanjut, terus menyusuri jalan di Kopeng ini akhirnya aku tiba di Magelang. Yah, aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Lagi-lagi instingku bekerja, tanpa pikir panjang kuambil arah menuju Semarang, dan ternyata itu benar, setelah aku menanyakan arah ke gunung Sindoro kepada seseorang. Jalan menuju Sindoro nanti aku harus berbelok kearah barat saat menemui plakat “Temanggung”, meninggalkan jalan Magelang-Semarang. Dan akupun terus melaju, melalui sebuah kota.., Temanggung.

Sumbing dari Jalan Magelang-Semarang

Sebelum masuk Temanggung


Gapura Temanggung


Welcome to Temanggung :

 Kantor Bupati Temanggung

Tugu Jam, Temanggung

Alun-alun Temanggung

Alun-alun Temanggung

Ini dia masjid rayanya


Sayangnya, setelah itu motorku harus mengalami gangguan. Roda bagian belakang mengalami kebocoran. Alhasil aku harus menuntunnya menuju tempat tambal ban yang cukup jauh dari alun-alun. Melelahkan, tapi kuanggap itu bagian dari petualangan kali ini.

Motor ane gan

Oke, motor pun selesai diperbaiki. Saatnya meneruskan perjalanan. Setelah bertanya kepada bapak yang tadi menambal ban motorku, perjalananku berlanjut. Menuju Gunung pos pendakian Sumbing-Sindoro.
           

Gunung Sumbing-Sindoro berada di sebelah selatan dan utara dari jalan Temanggung-Wonosobo, sehingga pemandangan di jalan sangat indah. Jika kita melihat ke selatan, gunung Sumbing menjulang tinggi, jika kita melihat ke utara, saudaranya gunung Sindoro terlihat melambai-lambai untuk didaki. Namun aku sempat kesulitan untuk menandai foto kedua gunung itu setelah kuambil gambarnya karena kedua gunung itu hamper sama bentuknya. Bagaikan Rafael dan Fabio nya Manchester united.

Miripnya hampir sama seperti ini


Sindoro

Sumbing

Sindoro

 Sumbing

 Sindoro


Akhirnya tiba juga aku di base camp kedua gunung tersebut. Sempat terlalu jauh melaju, untungnya tidak terlalu jauh. Letak kedua base camp adalah dekat dengan perbatasan mesuk wilayah Wonosobo. Pertama-tama aku menuju base camp Sindoro terlebih dahulu.

 Base camp Sindoro

 Base camp Sindoro

Sesampainya di base camp ini aku kemudian langsung bertanya mengenai informasi jalur pendakian menuju puncak Sindoro. Menurut informasi yang didapat :
  • ·         Perjalanan menuju puncak memakan waktu 6-8 jam
  • ·         Terdapat 6 pos di sepanjang jalur pendakian
  • ·         Tidak terdapat sumber air selama perjalanan
  • ·         Tempat nge camp yg bagus berada di pos terakhir sebelum puncak
Karena kupikir sudah cukup, akupun melanjutkan perjalanan, kali ini ke base camp saudara gunung Sindoro, yaitu base camp Sumbing yang terletak tak jauh dari base camp Sindoro. Tanggung kalu tidak sekalian.

Base camp Sumbing

Base camp Sumbing, inside


Peraturan pendakian

Pantangan-pantangan

Karena peraturan dan pantangan sudah tersedia dan tinggal di baca, maka aku hanya bertanya sedikit saja kepada petugas di base camp tersebut. Mendengar jawaban dari mas petugasnya, kelihatanya rute Sumbing lebih berat daripada Sindoro, karena jarak tempuhnya mencapai 7-9 jam. Soal mistik, mas petugas juga mengatakan bahwa di pos “Watu kotak” adalah tempat yang mistik, kita dilarang untuk buang air sembarangan di tempat itu dan juga di batu-batu besar, sering terjadi kesurupan kepada orang-orang yang nekat.

            
 Kelihatanya sudah cukup informasi mengenai rute pendakian kali ini. Saatnya kembali ke Yogyakarta. Karena sudah cukup lelah rasanya, maka aku memutuskan untuk lewat jalan yang tadi, kembali ke Magelang kemudian ke Jogja. Sebenarnya aku ingin lewat Wonosobo, tapi fisik sudah terlanjur lelah untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi. “Selamat tinggal Sindoro-Sumbing, kelak aku kan datang lagi tuk menuju ke puncakmu..”



Alun-alun Magelang


Alun-alun Magelang

Tugu Adipura Magelang

Waktu menunjukkan pukul 14.00. Benar-benar lelah rasanya setibanya di Jogja. Ingin rasanya segera merebahkan tubuh ini di atas tempat tidur. Tak terasa perjalanan selama lebih dari 8 jam telah usai. Lelah, ya memang. Tapi aku amat menikmatinya, melihat kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa bagiku sangat menyenangkan. 

“KUABADIKAN SEDIKIT CERITA MENGENAI PERJALANANKU KALI INI.. NAMUN PERCAYALAH KAWAN.., SEMUANYA AKAN TERLIHAT JAUH LEBIH INDAH JIKA KAU SAKSIKAN SENDIRI DENGAN KEDUA MATAMU..”







1 comment:

  1. cerita dan foto2 yang menarik bro.. senang membacanya :)

    ReplyDelete