Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Tuesday, 20 September 2016

3428 MDPL; MENGGAPAI MIMPI YANG SEMPURNA

Prolog

Masih terngiang di dalam kepala saat seorang guru sekolah dasar berkata bahwa arti dari Jawa adalah Padi yang berarti nama pulau ini adalah pulau Padi. Sebuah nama sangat pantas bagi sebuah pulau yang subur dan merupakan lumbung padi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Slamet; Sang Penyangga Langit Jawa Tengah

Ada salah satu faktor yang membuat tanah di pulau Jawa begitu subur, salah satunya adalah karena banyaknya gunung berapi yang tersebar di pulau ini. Apabila dilihat topografi dari pulau Jawa, gunung – gunung tersebut memanjang di tengah pulau bagai paku bumi yang membuat pulau tersebut kokoh berdiri di atas samudera Hindia.
Pulau Jawa

Gunung – gunung tersebut selain berperan untuk kesuburan tanah, kehadirannya juga menjadi daya tarik para pendaki untuk bisa mencapai puncaknya. Ada banyak gunung yang terkenal, salah satunya adalah ujung tertinggi pulau Jawa yaitu puncak Mahameru gunung Semeru dengan ketinggian 3676 meter yang kotor, ramai bagai pasar dan memakan banyak korban akibat dari film layar lebar yang tidak memberikan contoh yang baik.
Mahameru

Masih banyak beberapa gunung terkenal lainnya seperti gunung Merapi yang menurut informasi merupakan gunung teraktif di muka bumi hingga gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa sekaligus atap tertinggi provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 3428 meter di atas permukaan laut.


Impian yang Tertunda

Gunung Slamet mungkin sudah dirindukan oleh mereka para pecinta ketinggian dua tahun terakhir ini karena status vulkaniknya yang naik menyebabkan kegiatan pendakian ke atap Jawa Tengah ini ditutup sampai status vulkaniknya kembali ke aktif normal. Kerinduan terhadap gunung Slamet juga dirasakan oleh saya karena sudah sejak awal tahun 2014 kemarin saya berencana untuk mendaki ke atap Jawa Tengah tersebut. Sayangnya beberapa hari setelah saya membuat rencana pendakian, status vulkanik Slamet naik ke level 2 (Siaga) sehingga mau tidak mau harus bersabar untuk mewujudkan rencana tersebut.

Saya masih setia menanti sembari selalu berdoa agar status vulkanik gunung Slamet kembali turun ke level aktif normal, akan tetapi status vulkaniknya tak kunjung menurun sepanjang tahun 2014. Bahkan status vulkanik gunung Slamet sempat naik ke level 3 (siaga) karena aktivitas vulkaniknya yang terus naik. Selain kecewa statusnya malah naik, tentu hadir pula rasa khawatir karena ada sebuah ramalan bernama Jayabaya yang mengatakan jika letusan besar gunung Slamet bisa membelah Pulau Jawa menjadi 2. 
Slamet Kala Menggeliat

Tentunya saya tidak mempercayai ramalan tersebut begitu saja karena takdir murni di tangan Allah SWT, namun saya diberi tahu oleh salah satu teman bahwa memang gunung Slamet terhubung dengan fondasi pulau Jawa yang mana jika meletus besar bisa turut menghancurkan fondasi tersebut. Informasi tersebut tentunya harus diteliti lebih lanjut lagi oleh pihak terkait.

Setelah lama menunggu lebih dari satu tahun akhirnya Allah SWT memerintahkan gunung Slamet untuk menurunkan aktivitas vulkaniknya hingga ke level aktif normal kembali. Informasi tersebut benar adanya dan banyak tersebar di media sosial. Tentu saja bagi saya ini adalah kesempatan untuk kembali menggapai impian untuk berdiri di ujung tertinggi provinsi tempat kelahiran saya. Informasi dibukanya kembali pendakian ke gunung Slamet mulai tersebar awal pekan di bulan September; sekitar seminggu usai saya kembali dari perjalanan panjang dari atap vulkanik Indonesia di Tanah Pilih Pusako Betuah.
ATAP SUMATERA

Tentu saja ini adalah panggilan jiwa yang tidak bisa begitu saja diacuhkan. Panggilan jiwa yang membangkitkan tekad dan semangat petualangan dari dasar jiwa untuk mengatasi semua halangan dan rintangan yang menghadang nantinya. Langsung saja saya melakukan persiapan baik fisik, logistik, hingga pencarian personel. Sayangnya entah mengapa saya tidak mendapat teman mendaki satu pun hingga mendekati hari-H; kebanyakan tidak ada waktu, tidak ada niat, tidak ada uang, hingga sedang sakit. Tidak ada teman perjalanan tidak menyurutkan semangat dan niat saya untuk tetap berangkat. Memang sangat sulit untuk tidak menghiraukan panggilan hati.


Menuju Bambangan

Hari itu tanggal 18 September 2015 merupakan hari spesial bagi saya. Selain karena hari ini perjalanan menuju gunung Slamet akan dimulai, pada hari ini pula saya akhirnya didadar setelah sekian lama berjuang menyelesaikan skripsi. Mengenai kisah pendadaran saya tidak perlu diceritakan di catper ini. Langsung saja menuju siang hari sekitar pukul 14.00 WIB yang merupakan saat keberangkatan saya.

Saat - Saat Bahagia:


Matahari sudah agak condong ke arah barat saat saya bersiap berangkat dengan memanasi motor Fit-S setelah sebelumnya makan siang terlebih dahulu. Mengenai packing, hal tersebut sudah selesai pada malam hari sebelumnya yang seharusnya menjadi waktu belajar menjelang ujian pendadaran. Perjalanan kali ini saya memutuskan untuk menggunakan motor saja dengan pertimbangan akan lebih fleksibel, cepat, dan murah.

Siang itu Yogyakarta terasa begitu panas; selain karena teriknya cahaya matahari, kondisi jalan dalam kota juga cukup padat. Kondisi jalan mulai lancar saat saya memasuki jalan Magelang. Rute keberangkatan menuju yang saya ambil adalah:
  1. Melewati jalan utama menuju Magelang.
  2. Berbelok ke arah kiri via Kepil yang akhirnya sampai di selatan pasar Kreteg kabupaten Wonosobo.
  3. Belok ke arah barat lewat jalur alternatif kabupaten Wonosobo sampai jalan utama Wonosobo – Banjarnegara.
  4. Lurus ke barat melewati jalan utama tersebut sampai pertigaan Klampok. Belok kanan ke arah utara menuju Purbalingga.
Abang: Budhal; Kuning: Balik

Sesampainya di Purbalingga,adzan isya berkumandang sehingga saya memutuskan mampir di masjid agung Purbalingga yang berada di samping alun – alun Purbalingga untuk melaksanakan kewajiban sholat isya. Saya juga memutuskan untuk makan malam di alun – alun Purbalingga karena perjalanan panjang selain mengosongkan tangki bensin juga mengosongkan perut. Menu makan malam yang saya pilih adalah mie ayam yang berada di sisi timur alun – alun dekat dengan perigaan jalan utama Purbalingga. Mie ayam tersebut sangat enak dengan harga Rp 9000,00. Bagi yang mampir ke Purbalingga harus mampir ke warung mie ayam tersebut.
Makan Malam

Usai makan saya kembali melanjutkan perjalanan. Atas saran dari bapak penjual mie ayam sangat enak tadi saya memacu motor ke arah utara alun – alun kemudian berbelok ke arah timur, di sini ada sebuah pertigaan yang mana berdiri patung knalpot. Perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke arah kanan dari pertigaan patung knalpot ini menuju utara yang sekaligus merupakan jalan menuju kabupaten Pemalang. Lurus saja ke arah utara sampai nanti di kiri / barat jalan ada plang penunjuk arah menuju pendakian gunung Slamet. Belokan ini berada di selatan Bobotsari, jadi jika perjalanan sampai ke daerah Bobotsari maka bisa dipastikan kelewatan. Kondisi jalan saat itu cukup macet karena sedang dilakukan pengecoran jalan sehingga hanya satu sisi jalan yang digunakan.

Keadaan jalan menjadi lengang saat saya berbelok kiri / barat mengikuti petunjuk arah menuju pendakian gunung Slamet. Keadaan jalan benar – benar di luar bayangan saya karena sangat sepi bagaikan melewati kampung mati yang tidak ada sama sekali aktivitas masyarakat. Dinginnya udara juga semakin menusuk kulit, terutama saat kabut mulai turun, namun dengan keyakinan dan tekad dalam hati saya tetap mantab memacu motor; entah mengapa juga saya tetap yakin bahwa nanti pasti akan bertemu dengan manusia.

Terus melaju akhirnya saya sampai di kawasan kebun strawberry. Suasana tidak lagi begitu sepi di sini, beberapa aktifitas masyarakat terlihat di bawah dinginnya malam. Tidak lupa saya menanyakan di mana letak base camp Bambangan yang ternyata tidak jauh lagi dari tempat saya bertanya. Jalan yang saya lewati akhirnya sampai di sebuah pertigaan; di sini apabila belok ke kiri maka akan sampai di base camp Bambangan, dan apabila belok kanan adalah jalur alternatif ke Pemalang. Sampai sini tiba – tiba kekhawatiran saya muncul jika pendakian Slamet belumlah dibuka karena keadaan begitu sepi, padahal jika memang pendakian gunung Slamet sudah dibuka maka akan ada beberapa pendaki yang juga mengadakan perjalanan menuju base camp. Saya tetap memacu motor melewati jalan yang sepi menuju base camp walaupun dengan pertaruhan hanya numpang tidur di base camp jika memang kegiatan pendakian masih ditutup.
Base Camp Gunung Slamet via Bambangan

Akhirnya setelah menempuh sekitar 6 jam perjalanan, saya tiba di base camp Bambangan. Suasana cukup ramai di base camp dengan aktifitas beberapa pendaki dan warga setempat; kontras dengan kondisi jalan yang saya lewati tadi. 
Panggon Turu

Kekhawatiran saya pun tidak terbukti karena pendakian gunung Slamet memang sudah dibuka. Agenda saya selanjutnya adalah segera makan malam dan istirahat untuk mengisi tenaga karena perjalanan panjang sebelumnya begitu melelahkan. Malam itu saya tidur di sebuah sofa tempat penginapan depan base camp Bambangan.


Hari Baru, Petualangan Baru
Pagi di Bambangan

Pukul 04.30 WIB saya terbangun dari tidur seiring dengan adzan subuh yang berkumandang secara bersahut – sahutan. Tentunya panggilan untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT juga tidak boleh dilewatkan. Ternyata di daerah base camp Bambangan gunung Slamet ini akses air masih sulit sehingga saya sempat kesulitan saat akan buang air kecil dan berwudhu.
Selamat Pagi Slamet

Pagi pun tiba sekitar 06.00 WIB. Usai sarapan di tempat penginapan, saya berinisiatif untuk turun ke bawah mencari air untuk mandi. Inilah keuntungan mengadakan perjalanan menggunakan sepeda motor karena fleksibilitasnya. Ternyata cukup jauh juga untuk mencari air karena saya baru menemukan air yang melimpah di sebuah masjid di kabupaten Pemalang. Setelah mandi saya segera kembali ke base camp untuk segera mempersiapkan diri dan memulai pendakian. 


Menuju Atap Jawa Tengah

Sekitar pukul 08.00 WIB perjalanan pun dimulai. Tentunya tidak lupa mendaftar, pemanasan, dan berdoa terlebih dahulu. Terlebih saya melakukan pendakian tidak secara berkelompok sehingga selain bawaan yang lebih berat, resiko yang lain juga lebih tinggi. Kedua kaki ini pun mulai melangkah memasuki jalur pendakian gunung Slamet; puncak tertinggi provinsi Jawa Tengah.
Gerbang Pendakian Gunung Slamet via Bambangan; Purbalingga

Rute pendakian dimulai begitu memasuki gerbang pendakian gunung Slamet kemudian berbelok ke arah kanan menyusuri area perkebunan warga yang merupakan gambaran awal dari rute pendakian. Terdapat sebuah lapangan sepak bola setelah beberapa saat berjalan. 
Lapangan Balbalan

Terdapat tiga pilihan jalur dari lapangan bola ini; yang pertama jalan menurun di sisi kiri, kemudian jalan naik di depan dan sebelah kanan lapangan. Saya memutuskan untuk mengambil arah kiri karena tidak adanya papan petunjuk arah memang membingungkan. Terus menyusuri jalan tersebut saya bertemu dengan warga yang sedang mengambil air. Ternyata jalan uang saya ambil salah, jalan tersebut adalah rute menuju tempat pengambilan air oleh warga setempat. Jadilah saya kembali ke lapangan bola sebelumnya dan memilih jalur di sebelah kanan sesuai dengan saran warga tadi. Untung saja belum terlalu jauh.
Langit El Nino 2015

Akhirnya saya kembali lgi ke jalan yang benar. Terdapat sebuah patok yang menandakan bahwa jalan tersebut memang arah menuju puncak gunung Slamet. Keyakinan saya semakin bertambah saat bertemu dengan pendaki yang berangkat terlebih dahulu. Sekitar pukul 08.45 WIB saya tiba di pos I pendakian gunung Slamet via Bambangan yang berupa sebuah gardu pandang karena pemandangan ke arah timur terbuka luas. Banyak pendaki yang beristirahat di pos I ini, sementara saya hanya sebentar saja berhenti kemudian lanjut berjalan lagi.
Pos 1 Via Bambangan

Rute mulai memasuki hutan gunung Slamet usai pos I. Beberapa saat melangkah dari pos I terdapat tanjakan yang cukup curam dan licin di sebelah kiri jalur, sementara jalur yang tidak cukup berat berada di sisi kanan. Saya salah mengambil jalur sehingga menghadapi kesulitan saat menapaki tanjakan curam dan licin tersebut. Tiba – tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pengait carrier saya patah; mungkin karena beban yang terlalu berat sehingga membuat keseimbangan saya hilang dan terperosok ke bawah beberapa meter. Sempat saya merasa putus asa bahwa pendakian ini akan berakhir karena tidak mungkin membawa tas carrier tersebut dengan kondisi pengait yang patah. Saat saya berencana untuk kembali ke pos I muncul sebuah ide untuk mengikat tali carrier yang ternyata bisa untuk setidaknya membuatnya bisa untuk digendong kembali di punggung, walaupun kenyamanannya sedikit berkurang. Mungkin ini pertanda bahwa saya harus pensiun mendaki pada tahun 2015 ini usai dari gunung Slamet nanti.

Carrier memang sudah diperbaiki, namun untuk berdiri kembali rasanya susah sekali karena licinnya jalur. Untunglah saat itu ada beberapa pendaki yang naik sehingga saya bisa meminta tolong kepada mereka untuk membantu berdiri kembali. Akhirnya perjalanan menuju puncak gunung Slamet bisa kembali dilanjutkan. Kondisi cuaca saat itu cerah, namun rasanya begitu lembap saat di dalam hutan.
Hutan Gn.Slamet

Satu jam berselang saya tiba di pos II. Pos ini berupa tanah lapang yang bisa menampung sekitar 4 tenda. Hanya beberapa saat saya berhenti di sini. Kondisi memang begitu lembab apabila berada di tempat yang terkena sinar matahari, namun udara menjadi begitu dingin di tempat yang tidak terkena sinar matahari terlebih kondisi baju yang basah karena keringat. Beberapa saat melangkah dari pos II terdapat percabangan jalur yang mana salah satunya mengarah ke gerbang pendakian Dipajaya di kabupaten Pemalang.

Pos selanjutnya adalah pos III, kondisinya sama seperti pos sebelumnya hanya saja tanah datarnya tidak begitu luas. Saya beristirahat di sini cukup lama karena memang perjalanan menuju pos III cukup melelahkan dan membuat perut kembali kosong. Saya beristirahat sambil mengganjal perut dengan roti, colkat dan energen yang kandungan gizinya sudah cukup untuk mengisi perut dan tenaga. Usai makan saya tidak langsung berjalan kembali melainkan tidur sebentar di bawah cahaya matahari untuk menghilangkan kantuk sekaligus menghangatkan badan.
Pos 3

Sekitar setengah jam kemudian saya kembali melangkah melanjutkan perjalanan. Rute masih tetap setia berada di dalam hutan gunung Slamet sehingga pemandangan terbuka masih belum terlihat. Kondisi jalan juga masih tetap menanjak seperti sebelumnya walaupun tidak terlalu terjal, bonus jalan datar adalah sesuatu yang langka di gunung Slamet. Setengah jam berselang setelah kembali berjalan saya sampai di pos IV yang bernama Samarantu. Hanya sebentar saja saya beristirahat di pos ini bukan karena informasi keangkeran pos yang merupakan singkatan dari Samar Hantu atau berarti hantu yang tidak terlihat, namun karena memang fisik belum terlalu lelah sekaligus ingin mendapat tempat di dalam shelter begitu sampai di pos VII nanti.
Pos V Gunung Slamet via Bambangan

Pos selanjutnya adalah pos V. Saya tiba di pos tersebut sekitar pukul 13.00 WIB. Pos ini cukup luas dengan shelter yang bisa menampung 2 tenda. Beberapa pendaki dengan tujuan turun kembali tampak sedang beristirahat di pos ini sehingga ada teman bercengkrama saat saya beristirahat. Melalui percakapan tersebut saya mendapat informasi bahwa di pos V rawan akan serangan babi hutan terutama di malam hari, begitu pula di pos VII. Bahkan ada satu pendaki yang tendanya sampai bolong diseruduk babi hutan pada malam sebelumnya. Mereka menyarankan saya agar sebisa mungkin mendirikan tenda di dalam shelter saja. Setelah cukup beristirahat perjalanan kembali berlanjut.
Pos VI Gunung Slamet via Bambangan

Kondisi jalan selain mulai berdebu, usai pos V jalan menjadi sedikit lebih menanjak dari sebelumnya. Pepohonan pun sudah tak lagi tinggi menyebabkan pemandangan ke arah timur menjadi kembali terbuka. Puncak gunung Slamet juga mulai terlihat dari pos V. Bunga Edelweiss juga mulai banyak tumbuh di sekitar jalur pendakian. Berjalan menuju pos VI rasanya seperti melewati sebuah lorong yang merupakan jalan air saat hujan datang. Setengah jam dari pos V, saya tiba di pos VI. Keadaan pos VI sama seperti pos II hingga IV; hanya berupa tanah lapang yang tidak terlalu luas. Mengetahui bahwa pos selanjutnya adalah pos VII, saya tak berlama – lama berhenti di pos VI karena saat tiba di pos VII saya bisa langsung makan berat dan tidur sepuasnya sampai pagi.
Pos VII Gunung Slamet via Bambangan

Akhirnya saya tiba di pos VII sekitar pukul 14.00 WIB. Ada satu tim pendaki yang bersama saya saat itu sehingga kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dalam shelter. Hanya 2 tenda saja yang bisa berdiri di dalam shelter pos VII.
Pemandangan Setelah Sekian Lama

Syukur Alhamdulillah karena akhirnya saya tinggal berfokus untuk makan dan beristirahat sampai dini hari nanti. Usai menyantap nasi telor yang dibeli di penginapan pagi tadi, saya langsung tidur untuk mengistirahatkan fisik.


Ujung Menara Jawa Tengah

Pagi hari sekitar pukul 02.30 WIB alarm berbunyi membangunkan saya dari tidur panjang; menandakan bahwa sudah saatnya bersiap untuk melakukan perjalanan menuju puncak gunung Slamet. Para penghuni tenda di samping juga sudah bangun, bahkan saat saya bangun mereka sudah siap tancap gas menuju puncak. Jadilah saya mempersilakan mereka berangkat terlebih dahulu karena saya masih harus bersiap.

Selang 15 sampai 30 menit usai tim tenda sebelah berangkat, saya mulai melangkah keluar tenda untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Ternyata banyak sekali pendaki yang bermalam di pos VII ini sampai – sampai saya sempat kesulitan melewati tenda – tenda yang berdiri menuju untuk keluar dari area pos VII menuju jalur pendakian. Kebanyakan pendaki lain belum berangkat mendaki saat saya mulai menuju ke puncak. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB.

Perjalanan menuju titik tertinggi Jawa Tengah dari pos VII dimulai dengan melewati tanjakan berdebu. Terus melangkah naik sekitar setengah jam, saya menemukan sebuah plang dan patok yang bertuliskan pos IX yang bernama Plawangan. Cukup mengherankan karena sepanjang perjalanan dari pos VII saya tidak menemukan pos VIII. Medan pendakian berubah menjadi tipikal medan pendakian gunung api menjelang puncak yang mana merupakan tanjakan terjal terdiri dari pasir dan bebatuan, serta tidak ada lagi vegetasi yang tumbuh di sepanjang jalur. Kondisi medan memang menanjak terjal dan berpasir, namun kondisi pijakan menuju puncak gunung Slamet cukup padat sehingga untuk menaikinya tidak sesulit rute menuju Mahameru yang terdiri dari pasir halus. Memang lebih mudah dari Mahameru, namun tetap saja untuk menapakinya merupakan hal yang melelahkan.
The Rooftop of Central Java

Sekitar pukul 05.20 WIB akhirnya saya tiba di ujung atap provinsi Jawa Tengah. Kondisi saat itu masih gelap karena matahari memang masih belum muncul di langit timur. Beberapa orang di puncak sudah berfoto ria walaupun masih gelap. Setelah sholat subuh dan menunggu beberapa saat, akhirnya sang mentari pun muncul dengan cahaya oranye terangnya dari kaki langit timur sehingga area puncak gunung Slamet yang sebelumnya tidak tampak ditelan kegelapan malam menjadi terlihat.
Menunggu Pagi

Area puncak gunung Slamet membentang luas. Puncak tertinggi gunung Slamet berada di sisi utara, di sebelah selatan terdapat puncak lain yang tidak kalah tinggi dari puncak tertinggi gunung Slamet, namun dari puncak ini pemandangan menuju ke kawah aktif raksasa gunung Slamet yang berada di barat daya area puncak  terasa begitu dekat.
Sunrise
Sunrise
Dua puncak kembar Sindoro – Sumbing terlihat anggun di kaki langit sebelah timur bersandingan dengan matahari yang perlahan naik menyinari dunia. Sementara samar – samar dari balik kabut di sebelah barat tampak atap provinsi Jawa Barat; gunung Ceremai.
Para Pendaki Slamet
Para Pendaki Slamet
Luasnya area puncak gunung Slamet membuat saya ingin mengeksplor area lain selain di titik tertinggi yang berada di sisi utara. Tujuan saya selanjutnya ialah puncak yang berada di sebelah selatan yang untuk menggapainya harus terlebih dahulu menuruni sebuah lembah di antara keduanya. Berselang 10 menit saya tiba di puncak gunung Slamet sebelah selatan, ternyata puncak sebelah selatan ini semacam sebuah kaldera yang mengitari kawah utama gunung Slamet.
Kawah Raksasa Slamet
Kawah Raksasa Slamet
Saat saya berniat untuk kembali, tampak beberapa pendaki berfoto tepat di samping kawah utama gunung Slamet sehingga saya berniat untuk mengeksplor daerah tersebut yang ternyata bisa untuk dikunjungi. Jalan menuju kawah gunung Slamet adalah melalui lembah yang berada di antara kedua puncak. Lurus saja ke arah barat menyusuri lembah tersebut, maka nantinya akan dijumpai sebuah lereng yang cukup terjal sehingga butuh konsentrasi dan kejelian tinggi untuk menuruninya. Usai lereng terjal tersebut terlewati maka sampailah pada sebuah hamparan lembah yang luas bernama Segara Wedi atau lautan pasir. Cukup berjalan ke arah selatan untuk sampai di pinggir kawah utama. Tentu saja perlu pertimbangan dan kecermatan terhadap kondisi alam jika ingin mendekat ke kawah utama gunung Slamet. Beberapa tipsnya antara lain:
  1. Pastikan bahwa status vulkanik gunung Slamet berada di level normal.
  2. Lebih baik saat angin berhembus.
  3. Lebih baik lagi saat hembusan angin mengarah ke selatan


Tiga hal tersebut menjadi pertimbangan saya untuk mendekat ke kawah gunung Slamet. Poin pertama; jelas saat status vulkanik gunung Slamet berada di atas batas normal untuk mendakinya saja berbahaya, apalagi jika mendekat ke kawahnya. Poin kedua; saat angin berhembus maka sirkulasi udara segar akan terus terjadi. Poin ketiga; jika angin berhembus ke arah selatan maka asap dan uap belerang akan terbawa angin menjauh dari tempat berdiri yang berada di sebelah utara kawah. Khusus untuk poin kedua dan ketiga; selalu ada ancaman berupa gas CO2 yang tidak berbau dan berwarna di sekitar kawah gunung berapi sehingga dengan berhembusnya angin maka gas berbahaya itu akan menjauh tertiup angin. Hanya hipotesa dari pemikiran saya, semoga benar adanya dan bermanfaat.

Saia di Samping Kawah Utama Slamet
Saia di Samping Kawah Utama Slamet

Kawah Utama Menara Jawa Tengah
Kawah Utama Menara Jawa Tengah

Setelah puas menjelajah beberapa area di kawasan puncak gunung Slamet, saya memutuskan untuk kembali ke pos VII. Ternyata untuk turun tidak semudah naiknya karena pijakan yang seringkali longsor saat dipijak sehingga membutuhkan kecermatan mengenai pijakan yang akan diambil. Jika salah, selain bisa terpeleset longsoran batu juga akan mengancam pendaki di bawah. Sekitar pukul 10.30 WIB saya mulai bergerak turun dari pos VII setelah mengisi perut dan memberesi perlengkapan kembali.

Mahamerunya Jawa Tengah
Mahamerunya Jawa Tengah

Perjalanan Turun



Epilogue

Sekitar pukul 14.00 WIB perjalanan panjang saya kembali ke Yogyakarta dimulai setelah mandi, makan, dan juga mengemasi barang bawaan. Tidak lupa sholat Dzuhur terlebih dahulu dan meminum kopi dua bungkus sekaligus dengan susu agar mata tetap terjaga selama di perjalan panjang yang membutuhkan konsentrasi tinggi. 
Perjalanan Pulang
Jalan yang saya ambil saat kembali berbeda dengan saat berangkat karena saat tiba di daerah Mandiraja saya membelokkan motor ke arah selatan melewati jalan tembus Banjarnegara – Gombong yang sampai ke waduk Sempor di Kabupaten Kebumen. Saat sampai di jalur utama selatan Jawa Tengah saya tinggal mengikuti jalur tersebut ke arah timur sampai ke Yogyakarta sekitar pukul 19.00 WIB.
Waduk Sempor, Kebumen
Waduk Sempor, Kebumen
Akhirnya perjalanan saya menuju ujung menara tertinggi provinsi Jawa Tengah berakhir. Segala Puji bagi Allah SWT tentunya senantiasa saya ucapkan karena telah diizinkan oleh-Nya menjalani sebuah perjalanan panjang penuh makna kali ini sampai kembali dengan selamat. Perjalanan saya kali ini juga merupakan akhir dari rangkaian pendakian di tahun 2015 ini karena memang hati ini berkata “cukup”. Cukup yang berarti sekarang adalah gilirannya bersyukur atas segala karunia dan izin Allah SWT atas segala petualangan hebat di tahun ini.



Memang bagi sebagian orang apa yang saya lakukan merupakan sesuatu yang membuang waktu, uang, serta tenaga; namun hal tersebut tidaklah berlaku bagi saya. Karena bagi saya; apa yang lebih mahal dari sebuah pengalaman..? Pengalaman, bukannya hanya bisa dibeli dengan waktu, kesempatan, dan kemauan..? Kemauan mungkin bisa dikumpulkan..., akan tetapi bagaimana dengan waktu dan kesempatan..? Waktu dan kesempatan; jika terlewat sedikit saja maka uang sebanyak apapun tidak akan bisa mengembalikannya lagi, walaupun hanya 1 detik saja........





"SAMPAI JUMPA LAGI DI KISAH PERJALANAN SELANJUTNYA

JIKA ALLAH SWT; TUHAN SEMESTA ALAM MASIH BERKENAN MEMBERIKAN KESEMPATAN"



KISAH PENDAKIAN 2015 TAMAT

15 comments:

  1. Wah, mas penulis rupanya pendekar kemana-mana sendiri.
    He he, paragraf terakhir persuasif sekali. Jadi pingin ke sana juga. :)

    ReplyDelete
  2. Mantap artikelnya gaan, saya jadi teringat masa lalu, terakhir ke sana 6 tahun yang lalu sekitar 2011, sehabis itu misi pendakian berhenti total.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @teguh Cahyono Waduh, tahun 2011 masih sebatas angan untuk ke Slamet.. haha
      Alhamdulillah baru kesampaian tahun 2015 kemarin..

      Tapi lebih seru pendakian tahun 2011 dulu, soalnya masih belum booming..

      Delete
    2. Iya, saat itu masih cukup sepi gan, itu juga sudah kali ke-5 saya kesana. sekarang cuma kangennya aja wkwkwk :D

      Delete
    3. Monggo kembali mendaki aja bung kalo kangen.. haha

      Delete
    4. Sudah berat perut depannya ini ngalahin carrier wkwkwkw

      Delete
    5. Ya jadiin motovasi buat ngecilin perut kayak saia yg perut udah mulai berani offside.. haha

      Delete
  3. kalau baca ini teringat masa seneng2nya tracking pendakian. jadi teringat masa lalu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantab bang seneng ndaki juga...
      Memang sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya..

      Delete
  4. Replies
    1. "lagi.."?
      Loh, udah pernah pendakian tah mbak..?

      Delete
  5. Menarik sekali cerita pendakiannya. Terlebih lagi penyajian cerita yang rapi membuat saya bisa membayangkan perjalanan mas mendaki puncak tertinggi Jawa Tengah ini.

    Salam kenal, saya mamad dari blog madskitraveling.com. Baru mulai nulis, setelah kepikiran untuk bagi-bagi cerita jalan-jalan saya selama ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih gan..
      Saia juga masih terus belajar untuk membuat catatan perjalanan sebaik mungkin sehingga akan berguna bagi pembaca..

      Oke..
      Kapan-kapan saya main ke blognya..

      Delete
  6. Sepertinya sama, namun aku masih belum mendapat keberuntungan untuk bisa bercengkrama dengan gunung slamet. Berkali kali berencana disutu juga kandas. Hanya mampu memandang dari ketinggian yang lain


    Perjalanan luar biasa bang

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda