Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Sunday, 29 April 2018

DE TJOLOMADOE; PABRIK GULA TUA ITU BANGKIT KEMBALI

Ada yang berbeda di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar baru-baru ini. Sebuah bangunan pabrik gula yang sebelumnya tidak terawat kini tampak bagaikan bangunan baru. De Tjolomadoe adalah nama dari bangunan pabrik gula nan megah itu yang tulisannya tampak jelas di samping jalan besar Adi Sucipto.

De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar
De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar
Keberadaan De Tjolomadoe ini kian mencolok dan kontras sehingga akan mudah ditemukan oleh siapa pun yang melintas di Jalan Adi Sucipto. Akan tetapi sebenarnya bangunan tersebut bukanlah sebuah bangunan baru, melainkan bekas sebuah pabrik gula tua. Sebelum membahas tentang De Tjolomadoe, ada baiknya untuk mengetahui sedikit mengenai sejarah industri gula di Indonesia.

Industri gula yang tak lagi manis
Sejarah Indonesia tidak bisa dipisahkan dari era kejayaan industri gula. Dahulu industri gula menjadi salah satu urat nadi perekonomian dengan banyaknya lahan tebu dan pabrik gula yang didirikan, serta luasnya jaringan rel kereta api untuk mengangkut hasil tebu. Bahkan saat itu wilayah Indonesia pernah mendapat predikat sebagai pengekspor gula terbesar dunia.

Sayangnya masa kejayaan tersebut terjadi pada rentang abad ke-19 hingga awal abad ke-20 pada masa Hindia Belanda. Industri gula di Indonesia mulai runtuh saat pendudukan jepang di tahun 1942. Saat itu hanya ada 51 pabrik tersisa dari 179 pabrik pada masa kejayaannya, itu pun sebagian dialihkan untuk fungsi militer Jepang sehingga hanya ada 34 unit yang beroperasi.

Usai Indonesia merdeka, nasionalisasi yang dilakukan terhadap pabrik-pabrik gula ternyata malah semakin membuat industri gula kian pahit. Hal tersebut dikarenakan para manajer dan teknisi ahli berkebangsaan Belanda tiba-tiba diusir tanpa mendapat pengganti yang sepadan. Nasionalisasi aset tanpa persiapan pun gagal membawa perbaikan dalam bidang industri.

Industri gula semakin lesu usai era reformasi di tahun 1998 karena para petani mulai bebas untuk menanam lahannya dengan berbagai varietas apa saja. Produksi tebu sebagai bahan baku utama pengolahan pabrik gula pun semakin berkurang akibat petani tidak lagi wajib menanam tebu. Akibatnya banyak pabri gula yang ditutup.

Bermula dari Pabrik Gula Colomadu
Seperti yang sudah dijelaskan tadi, sebelumnya De Tjolomadoe adalah sebuah pabrik gula. Terkenal dengan nama PG Colomadu atau Pabrik Gula Colomadu, pabrik gula ini didirikan pada Hari Minggu, tanggal 8 Desember 1861 saat industri gula sedang berkembang pesat di wilayah Indonesia ketika masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Pabrik Gula Colomadu atau PG Colomadu
Pabrik Gula Colomadu atau PG Colomadu
Pabrik Gula Colomadu sendiri didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya  (KGPAA) Mangkunegara IV (1853-1881). Perlengkapan canggih di pabrik gula ini langsung didatangkan dari Benua Eropa. Biaya pembangunan pabrik gula ini mencapai 400.000 gulden yang diperoleh dari keuntungan perkebunan kopi Mangkunegaran.

Pabrik gula itu pun diberi nama Colomadu yang berarti gunung madu oleh Mangkunegara IV. Tesirat harapan pada nama tersebut agar kelak kehadiran pabrik gula ini nantinya menghasilkan simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung. Bahkan PG Colomadu dulunya merupakan pabrik gula paling moderen pada saat itu.
Lambang Mangkunegaran
Lambang Mangkunegaran
Sayangnya kejadian yang cukup kontroversial terjadi usai kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu turut melakukan nasionalisasi PG Colomadu yang merupakan aset Mangkunegaran. Hal tersebut tentu kurang tepat karena Mangkunegaran bukanlah bangsa asing, melainkan salah satu kadipaten otonom yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

PG Colomadu kemudian dengan dalih nasionalisasi menjadi dikelola oleh Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI). Tahun 1981 PG Colomadu dikelola oleh Perusahaan Nasional Perkebunan (PNP) dan mulai tahun 1996 dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Akhirnya karena kesulitan bahan baku, PTPN IX kemudian menutup PG Colomadu pada tanggal 1 Mei 1998.

De Tjolomadoe berdiri
Setelah terbengkalai selama kurang lebih 20 tahun, PG Colomadu seakan bangkit kembali. Akan tetapi kebangkitan PG Colomadu ini bukanlah kembali beroperasi sebagai pabrik gula seperti sebelumnya, melainkan sebagai sentra budaya atau culture center, convention center, dan concert hall dengan nama yang baru yaitu De Tjolomadoe.
De Tjolomadoe
De Tjolomadoe
PG Colomadu mulai direvitalisasi pada tahun 2017 untuk menjadi destinasi wisata. Guna mewujudkan hal tersebut dibentuklah joint venture yang bernama PT Sinergi Colomadu, terdiri dari beberapa BUMN yaitu PT PP tbk, PT PP Properti, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko, serta PT Jasa Marga.

De Tjolomadoe mulai dibuka untuk umum pada Bulan Maret 2018. Peresmiannya diadakan pada tanggal 24 Maret 2018 yang semakin dimeriahkan musisi ternama dunia, David Foster. Acara tersebut diadakan di concert hall De Tjolomadoe yang memiliki nama Tjolomadoe Hall.

De Tjolomadoe
Secara administratif, De Tjolomadoe terletak di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jarak tempuh dari Kota Surakarta relatif dekat yaitu hanya sekitar 12 kilometer dengan waktu tempuh sekitar setengah jam. Nantinya begitu sampai di Jalan Adi Sucipto, fokus ke kiri jalan.
De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar
De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar
Sebuah bangunan bagus dengan cerobong asap akan tampak begitu jelas di kiri jalan sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Telah tersedia area parkir yang sangat luas yang bisa menampung ratusan kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, bus kecil maupun besar. Saking besarnya bahkan mungkin tank pun bisa parkir di sini.
Area Parkir yang Luas
Saat ini belum ada tiket masuk alias gratis bagi pengunjung yang ingin masuk ke dalam De Tjolomadoe. Revitalisasi De Tjolomadoe sendiri tidak menghilangkan bentuk asli bangunan pabrik gula. Bahkan mesin-mesin penggilingan gula yang besar masih ada di dalamnya. Tentu mesin-mesin tersebut tidak lagi beroperasi, melainkan hanya berfungsi sebagai ornamen.
Ketel Penguapan
Justru adanya mesin-mesin tersebut menjadikan De Tjolomadoe unik karena pengunjung bisa menjadikannya latar berfoto. Tentu saja foto yang dilakukan hendaknya tidak berlebihan seperti naik di atas mesin karena dapat merusaknya. Beberapa petugas keamanan juga senantiasa berpatroli untuk memastikan mesin-mesin itu aman dari tangan pengunjung.
Ketel Penguapan di Stasiun Penguapan
Ketel Penguapan di Stasiun Penguapan
Nama-nama ruangan yang ada di De Tjolomadoe pun masih dinamakan sesuai fungsinya saat menjadi Pabrik Gula. Contohnya adalah Stasiun Penguapan yang dulunya digunakan untuk menghilangkan kandungan air dalam bahan baku gula. Saat ini mesin penguapan pun masih ada yang berfungsi sebagai ornamen ruangan tersebut.
Mesin Penggiling
Mesin Penggiling
Selain Stasiun Penguapan, ada pula nama ruangan yaitu Stasiun Penggilingan yang dulunya berfungsi untuk menggiling bahan baku gula. Mesin giling yang besar pun masih ada yang mana menjadi spot foto favorit pengunjung. Namun perlu diperhatikan bahwa ada bagian yang harus steril dari pengunjung agar mesin itu tetap terjaga.
Stasiun Gilingan
Stasiun Gilingan
Selain tetap mempertahankan nama bangunan dan mesin-mesinnya, beberapa bagian dari De Tjolomadoe juga masih mempertahankan kondisinya seperti saat belum direvitalisasi. Seperti menuju Stasiun Ketelan yang mana kondisi pintu masuknya masih dengan bentuk batu bata dan tidak dicat seperti lainnya.
Masih Sama seperti dahulu
Lamanya PG Colomadu terbengkalai juga menyebabkan akar pepohonan besar sampai merambat di dindingnya. Ternyata akar pohon tersebut tetap dipertahankan di pojok Stasiun Penguapan. Sementara itu di Stasiun Penggilingan, terdapat rekahan cat di dinding yang sepertinya memang disengaja untuk menjadi spot foto.
Akar Sisa Terbengkalai
Akar Sisa Terbengkalai
Pengunjung pun tidak hanya bisa melihat-lihat dan berfoto saja di De Tjolomadoe. Terdapat pula kafe dan kios toko busana sehingga pengunjung juga bisa bersantap dan membeli suvenir.  Tentu bersantap di tempat yang berdampingan dengan mesin pengolahan bahan baku gula akan memberikan sensasi tersendiri.
Kafe dengan Mesin Pabrik Gula
Semua ruangan yang ada di De Tjolomadoe pun bisa dikunjungi dengan bebas oleh pengunjung. Namun sayangnya jika ingin mengunjungi concert hall atau convention hall, maka hal tersebut tidak bisa dilakukan karena ruangan tersebut hanya dibuka saat ada pertunjukan saja seperti saat pembukaan De Tjolomadoe lalu.
Concert/Convention Hall
Sumber: 
https://travel.kompas.com/read/2018/03/27/092000727/mengenang-sisa-sisa-kejayaan-pabrik-gula-colomadu
De Tjolomadoe pun sekarang dikelola oleh PT Sinergi Colomadu. Saat sore hari, banyak warga masyarakat yang berkunjung kemari. Semua ruangan De Tjolomadoe (kecuali concert hall atau convention hall) pun akan ramai dengan lalu lalang pengunjung yang melihat-lihat atau berfoto. Saat malam pun De Tjolomadoe masih buka hingga pukul 21.00 WIB.
Sore Hari di De Tjolomadoe
Sayangnya proses revitalisasi PG Colomadu menjadi De Tjolomadoe hingga sekarang masih diwarnai konflik antara pihak pemerintah dengan Mangkunegaran. Pihak Mangkunegaran sebenarnya masih merupakan pemilik lahan PG Colomadu meski sudah dinasionalisasi sehingga merasa keberatan saat tidak diajak berdiskusi ketika proses revitalisasi akan dilakukan. Semoga saja konflik tersebut tidak berlangsung lama dan segera berakhir.

Info
Jam buka
10.00 WIB – 21.00 WIB

Tarif masuk
(belum ada)

Tarif parkir
Rp2.000,00 (sepeda motor)

Fasilitas
Area parkir luas, toilet, kafe, stand suvenir, convention hall/concert hall

Waktu kunjung terbaik
Sore hari saat cuaca cerah


No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin