Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Tuesday, 11 June 2019

Melawan Penguasa Spot Foto di Geoforest Watu Payung Turunan

Bulan Mei adalah kabar baik bagi para pemburu matahari terbit. Hal itu karena Mei normalnya merupakan peralihan antara musim penghujan dengan musim kemarau yang otomatis membuat suasana langit menjadi lebih cerah untuk memulai perburuan matahari terbit.

Momen matahari terbit di Geoforest Watu Payung Turunan
Momen matahari terbit di Geoforest Watu Payung Turunan
Tentu sebagai seorang sunrise hunter, musim kemarau merupakan kabar baik bagi saya. Kebetulan pertengahan Ramadan tahun 1440 Hijriyah ini jatuh pada peralihan musim hujan menuju kemarau. Saya pun senantiasan memperhatikan kondisi langit dan memang benar jika langit semakin cerah, tepatnya pada pertengahan Mei 2019.

Oleh karena itu, saya pun memutuskan jika inilah waktu yang tepat untuk mulai berburu keindahan matahari terbit. Kebetulan pula saat Ramadan saya harus bagun pagi untuk makan sahur sehingga hal itu merupakan saat yang pas untuk lanjut berburu sunrise, daripada langsung tidur setelah shalat subuh.

Lokasi Geoforest Watu Payung Turunan

Hari itu tanggal 19 Mei 2019, perburuan matahari terbit di awal musim kemarau tahun ini saya mulai. Lokasi pertama saya berburu matahari terbit bukanlah tempat baru karena sudah pernah saya kunjungi sebelumnya, yakni di Geoforest WatuPayung Turunan. 

Geoforest Watu Payung Turunan yang Semakin Memesona
Pada kunjungan saya ke Geoforest Watu Payung Turunan sebelumnya, kondisi obyek wisata ini masih ala kadarnya. Namun saat saya kembali berkunjung, ternyata Geoforest Watu Payung Turunan sudah berbenah dan menjadi semakin memesona dengan berbagai ornamen dari kayu yang begitu artistik serta Instagramable.
Ornamen foto di Geoforest Watu Payung Turunan
Ornamen foto di Geoforest Watu Payung Turunan
Berbagai ornamen itu tersebar, mulai dari pintu masuk hingga spot panorama. Keberadaannya seolah menggoda siapa pun untuk berfoto di sana. Salah satu ornamen ternyata telah dibangun di dek foto yang merupakan tempat terbaik untuk menanti keindahan matahari terbit di Geoforest Watu Payung Turunan.

Saat itu waktu masih menunjukkan sekitar pukul 05.20 WIB. Saya pun masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan perangkat dan mulai bereksperimen dengan pemandangan yang tersaji sebelum matahari terbit di depan mata. Meski matahari belum muncul, tetapi sungai kabut yang tersaji nampak begitu menawan.
Sebelum sunrise di Geoforest Watu Payung Turunan
Sebelum sunrise di Geoforest Watu Payung Turunan
Awalnya saya mengira jika hanya sedikit pengunjung lain yang berkunjung di Geoforest Watu Payung Turunan ini. Namun, ternyata menjelang momen matahari terbit banyak orang yang datang. Kebanyakan dari mereka mungkin adalah anak SMP atau SMA.

Penguasa spot foto
Yah, mungkin karena masih muda, mereka belum tahu etika untuk berfoto di tempat wisata. Langsung saja mereka berbondong-bondong menuju dek foto dan berfoto, serta ber-selfie tidak karuan. Awalnya hal itu tidak masalah karena matahari masih belum muncul sehingga biarlah mereka berfoto sepuasnya.
Sudah Menguasai Spot Foto sejak Sunrise
Namun saat matahari mulai muncul, mereka tidak kunjung pergi. Momen sunrise malah menjadi babak baru bagi mereka untuk kembali berfoto. Yah, pupus sudah harapan untuk bisa berfoto di dek foto tersebut saat momen matahari terbit berlangsung. Untunglah saat saya tidak kesal sendirian.

Saat yang bersamaan, ternyata ada teman bloger lain yang juga hunting di Watu Payung. Ia adalah Bung Nasrul pemilik blog Lensanasrul. Ternyata kami sama-sama jengkel karena orang-orang yang menguasai tempat foto dalam waktu yang lama. Idealnya 3 sampai 5 menit merupakan waktu berfoto seseorang saat pengunjung lain menunggu.
Matahari sudah tinggi, belum minggir juga
Bahkan saya beberapa kali berteriak “Gantiannn..!” agar mereka merasa tidak nyaman dan segera pergi. Namun tetap saja ada beberapa orang yang seolah cuek, seperti spot foto itu buatan kakeknya. Untung saja saat itu saya sedang berpuasa sehingga kata-kata kasar tidak boleh sampai keluar karena bisa mengurangi pahala puasa.

Kesiangan
Akhirnya mereka baru pergi sekitar pukul 06.30 WIB. Tentunya saat itu matahari sudah cukup tinggi. Yah, mau bagaimana lagi, daripada tidak berfoto sama sekali lebih baik berfoto dengan kondisi yang ala kadarnya. Matahari setengah 7 pagi jelas berbeda dengan matahari saat momen sunrise yang tidak begitu terang.
Ketemu sesama blogger: Lensanasrul.com
Kondisi matahari saat itu sudah sangat terang. Rasanya mustahil untuk memperoleh detail foto langit dan obyek dengan sempurna tanpa filter GND. Pemotretan hanya bisa dilakukan sebisanya dengan melakukan post editing pada aplikasi edit foto di laptop seperti photoshop atau lightroom.

Syukur Alhamdulillah, saya masih berhasil mengabadikan beberapa momen di Geoforest Watu Payung Turunan ini. Namun, tentu saja hasil foto yang saya dapat tidak sesuai ekspektasi awal. Saat kembali pulang, saya senantiasa beharap agar hasil jepretan bisa diedit dengan baik nantinya.
Akhirnya foto di Geoforest Watu Payung Turunan (matahari sudah tinggi)
Nah bagi para traveller yang gemar berfoto, ketahuilah bahwa menguasai spot foto dalam waktu yang lama saat ramai kunjungan merupakan tindakan yang kurang terpuji. Spot foto di obyek wisata adalah milik siapa saja yang sedang berkunjung. Tidak ada yang berhak menguasainya, tentu selain yang punya tempat.

Info
Jam buka
05.00 – 18.00 (Tiket)

Harga tiket
Rp5.000 (motor)

Tarif parkir
-

Fasilitas
Area parkir, warung makan, mushalla, toilet, joglo, dan spot foto

Waktu kunjungan terbaik
Pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB (Bulan Mei-Juli)

7 comments:

  1. sumpaahh keren banget subhanallah.
    aku baru tahu ada geopark yang kayak gini di Yogyakarta. suka banget sama ornamen kayunya berasa masuk kedimensi lain.

    ReplyDelete
  2. Hahahaha geram emang kalo negur tapi yang salah tetep cuek bebek💆‍♀️

    ReplyDelete
  3. Tapi ya mas,, biar pun terkesan penuh, foto pas sunrise tetep cakep kok. Emang spotnya cakep bener ya ini. Noted ah buat main ke sana, pas sunrise.

    ReplyDelete
  4. Ngekek aku mocone 😂
    Tapi tetep ae, hasil jepretane apik. Jempol lima lah

    ReplyDelete
  5. Duh aku malah baru baca mas, haha. Ya kalau tempat hits emang begitu cuma berharap keajaiban datang, spot terbaik yang sepi, gak "kemruyuk" haha...

    semoga bisa nyepot bareng...

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin