Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Thursday, 6 June 2019

Mudik “Ngantuk” 2019

Assalamualaikum Wr. Wb. Dalam momen Hari Raya Idul Fitri 2019/1440 Hijriyah ini saya kembali meminta maaf kepada dulur-dulur bloger se-antero jagad karena kembali jarang update. Hal itu karena porsi bekerja dan berkarya yang harus dikurangi selama Ramadan untuk lebih prioritas ke ibadah.

Perjalanan Menuju Kali Talang
Perjalanan Menuju Kali Talang
Akhirnya setelah Ramadan usai, ada waktu bagi saya untuk kembali menulis di blog Menggapai Angkasa ini. Karena masih momen lebaran, maka tulisan kali ini memiliki tema yang serupa. Sama seperti catatan tahun lalu, momen seputar lebaran yang saya tulis adalah seputar mudik.

Meski domisili dan kampung halaman sama-sama ada di Kota Solo, ternyata mudik masih bisa saya lakukan. Tepat dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, ternyata ada urusan yang mengharuskan saya untuk pergi ke perantauan semasa kuliah, yakni Yogyakarta. Yah, ini semacam de ja vu karena tahun lalu juga demikian.

Meski sama dengan MUDIK ASYIK 2018, yakni dari Jogja ke Solo, kali ini saya mampir ke tempat yang berbeda. Tentu akan membosankan jika kunjungan dilakukan di tempat yang sama dengan kisah mudik sebelumnya. Dan inilah kisah perjalanan mudik saya tahun 2019 ini.

Sahur on the road
Perjalanan mudik saya kali ini dimulai sejak pukul 03.00 WIB dari kosan teman pada hari Selasa (04/05/2019). Karena hari itu adalah puasa terakhir tahun 1440 Hijriyah, saya sekalian makan sahur. Beruntung ada penjual gudeg yang masih buka. Sementara menjelang lebaran, kebanyakan warung makan tutup karena ditinggal mudik pemiliknya.
Sarapan Gudeg (Kamera HP)
Saya tidak langsung menyantap gudeg di tempat, melainkan membungkusnya dan memakannya saat dekat waktu Imsak. Usai membeli gudeg, saya pun mulai berkendara ke arah timur. Setengah jam kemudian di kawasan Candi Prambanan, saya berhenti untuk makan sahur. Lokasi sahur saya ada di posko mudik yang didirikan oleh relawan.

Selain terlindung dari polusi udara karena ada di dalam ruangan sementara, para relawan juga menyediakan air minum gratis. Saya pun bisa leluasa membuat susu hangat dan nutri sari untuk sahur. Saat itu hanya saya yang makan sahur di posko mudik itu. Makan sahur saya lakukan selama 15-20 menit dengan santai.

Setelah makan sahur, waktu menunjukkan sekitar lima menit sebelum azan subuh. Saya pun berpamitan dengan relawan yang berjaga dan melanjutkan perjalanan mencari masjid untuk shalat subuh. Masjid tujuan saya tuju berada di sekitar kecamatan Prambanan yang dekat dengan Tebing Breksi dan Candi Ijo.

Nyunrise di Watu Payung
Meski dekat dengan Tebing Breksi dan Candi Ijo, tujuan pertama saya bukanlah di kedua obyek wisata tersebut. Hal itu karena sunrise tidak bisa terlihat jelas dari sana. Tempat yang akan saya tuju adalah Watu Payung yang berada di Kecamatan Prambanan (ada yang di Panggang, Gunungkidul).
Matahari Terbit dari Watu Payung Prambanan
Matahari Terbit dari Watu Payung Prambanan
Saya shalat subuh dahulu di Masjid Miftahul Huda yang berada sebelum obyek wisata Tebing Breksi. Saya mulai melanjutkan perjalanan dari masjid sekitar pukul 05.10 WIB karena momen matahari terbit baru akan dimulai sekitar pukul 05.45 WIB. Terlebih lokasi Watu Payung juga tidak lagi jauh.

Sekitar pukul 05.30 WIB, saya akhirnya sampai di obyek wisata Watu Payung. Ini merupakan kunjungan kedua saya di sini. Kunjungan pertama saya ke Watu Payung adalah saat FAMTRIP bersama Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, M.S,I pada tahun 2017 silam.

Kali ini saya cukup kagum dengan perubahan di Watu Payung. Jika saat kunjungan pertama dahulu kondisi akses jalannya masih ala kadarnya, saat ini kondisinya sudah semakin baik. Selain aksesnya mudah, telah dibangun pula fasilitas-fasilitas pendukung lain seperti joglo hingga spot berfoto.
Selo Langit atau Watu Payung Prambanan
Selo Langit atau Watu Payung Prambanan
Meski sudah berubah, Watu Payung dengan ornamen naga masih tetap sama. Selain SPOT RIYADI, di sinilah tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit di kawasan pegunungan Kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Selain menyajikan pemandangan terbuka ke timur, panorama pegunungan juga terlihat mengagumkan.

Namun, pagi itu langit timur tidak sepenuhnya cerah. Memang Gunung Lawu di kaki langit sebelah timur menampakkan dirinya. Akan tetapi kemunculannya dibarengi dengan tirai hitam yang memanjang di ufuk timur. Saya pun sudah menduga jika sunrise kali ini tidak akan jernih.
Barisan Perbukitan dari Watu Payung Prambanan
Barisan Perbukitan dari Watu Payung Prambanan
Ternyata dugaan saya tepat. Momen matahari terbit terhalang awan. Meski demikian, keindahan pagi tetap tersaji di Watu Payung ini. Warna langit dan bentang lanskap arah timur tetaplah menawan.

Menyapa kegagahan puncak Merapi di Kali Talang
Usai puas menikmati momen matahari terbit di Watu Payung, saya tidak langsung pulang. Gunung Merapi yang terlihat cukup jelas di sisi utara membuat saya memperoleh bisikan hati untuk mengunjunginya. Saya pun memutuskan untuk menyapa Gunung Merapi dengan berkunjung ke obyek wisata Kali Talang.
Puncak Gunung Merapi Dilihat dari Kali Talang
Puncak Gunung Merapi Dilihat dari Kali Talang
Lokasi Kali Talang tepatnya berada di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Obyek wisata ini berada di sisi selatan Gunung Merapi (agak ke tenggara) dan berada di ketinggian sekitar 1180 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Saya berkendara sekitar 45 menit dari Watu Payung sampai ke Kali Talang. Syukur Alhamdulillah Gunung Merapi masih cerah sehingga puncaknya terlihat sangat jelas pagi itu. Hal itu membuat saya seolah tidak sabar untuk segera sampai di Kali Talang dan mulai mengabadikannya melalui lensa kamera.
Berlatar Belakang Puncak Merapi di Kali Talang
Meski masih bulan Ramadan, pagi itu sudah ada beberapa orang yang berkunjung ke Kali Talang. Setidaknya saya tidak sendiri dan bisa memotret mereka atau minta tolong untuk dipotret. Jarak Kali Talang dengan puncak Merapi cukup dekat, yakni kurang-lebih hanya 4,71 kilometer.
Ketemu di Lokasi; Kenalan Sama @Ikhaanisa
Meski aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini cukup tinggi, Kali Talang masih bisa untuk dikunjungi. Obyek wisata ini baru akan ditutup saat kondisi Gunung Merapi memasuki level III (siaga) atau awas di Level IV. Dari Kali Talang, kawah utama Merapi tampak begitu jelas, terlebih jika menggunakan lensa tele atau zoom.

Syukur Alhamdulillah kunjungan saya ke Kali Talang berjalan lancar. Merapi senantiasa menampakkan dirinya selama saya di sana. Beberapa hasil jepretan yang cukup baik pun sukses saya bawa pulang untuk kenang-kenangan. Setelah puas berfoto, saya baru memulai perjalanan mudik ke Kota Solo.

Mudik ngantuk 2019
Berbeda di tahun sebelumnya yang mana saya masih sempat tidur sebelum memulai perjalanan pulang, kali ini saya tidak sempat tidur. Saya langsung memulai perjalanan pulang sekitar pukul 09.00 WIB. Pada jam-jam itu, biasanya rasa kantuk sudah mulai menyerang jika usai sahur tidak tidur.
Mudik via Wonosari-Ponjong-Eromoko
Meski demikian, perjalanan saya dari Jogja ke Solo tidak melewati rute normal. Saya malah mengambil rute via Gunungkidul. Jika akses menuju Wonogiri via Gunungkidul biasanya adalah Wonosari-Semanu-Pracimantoro, kali ini saya mencari jalan tembus yang belum pernah dilewati, yakni Wonosari-Ponjong-Eromoko.

Saya sempat beristirahat sejenak saat tengah hari di sebuah masjid di Kota Wonosari. Shalat zuhur sembari tidur sejenak ternyata sudah bisa mengusir lelah. Usai puas beristirahat, saya kembali melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh Google Maps. Tentu saya juga berharap agar Google Maps tidak membuat saya keblasuk.
Wonosari-Ponjong-Eromoko
Wonosari-Ponjong-Eromoko
Ternyata jalur menuju Wonogiri via Wonosari-Ponjong-Eromoko sudah cukup baik. Memang jalannya tidak begitu luas, tetapi kondisinya mulus. Usai melewati pusat Kecamatan Ponjong, jalur mulai menanjak di kawasan pegunungan. Tak perlu khawatir tersesat karena jalan utama sudah baik dan jelas untuk diikuti.

Saya tidak mampir-mampir dalam perjalanan mudik kali ini. Selain karena tidak ada obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi sepanjang jalan, saya juga ingin segera beristirahat saat sampai di rumah. Perjalanan melewati medan pegunungan saya juga tidak mengalami kendala.
Waduk Gajah Mungkur Dilihat dari Eromoko
Waduk Gajah Mungkur Dilihat dari Eromoko
Sesampainya di Kecamatan Eromoko, kondisi jalan mulai menurun. Ada satu titik di mana panorama ke arah timur benar-benar terlihat menawan. Waduk Gajah Mungkur yang begitu luas terlihat jelas dari ketinggian. Saya berhenti sejenak untuk mengabadikan pemandangan ini.

Selanjutnya kondisi jalan mulai menurun. Di beberapa titik turunan cukup terjal dengan bonus tikungan. Saya pun melaju pelan agar sepeda motor mudah untuk dikendalikan. Perjalanan saya ternyata sampai di Waduk Parang Joho. Waduk ini terletak tidak jauh dari Pasar Eromoko.
Waduk Parang Joho di Kecamatan Eromoko
Waduk Parang Joho di Kecamatan Eromoko
Setelah sampai di Pasar Eromoko, perjalanan tidak lagi sulit karena saya sudah memasuki jalan utama Pracimantoro-Wonogiri yang sudah baik. Saya pun terus memacu kendaraan menuju Kota Surakarta melalui jalan itu. Meski momen mudik, kondisi jalan tidak terlalu ramai. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa.

1 Syawal 1440 Hijriyah
Berbeda dengan tahun sebelumnya, syukur Alhamdulillah saya sampai di rumah dengan selamat sekitar pukul 14.30 WIB. Sementara mudik tahun lalu saya sempat menghabiskan waktu di jalan ketika takbir sudah berkumandang.

Meski senang karena esok hari sudah tidak lagi harus berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi rasa kehilangan tetap menghampiri hati ini. Bulan Ramadan nan penuh berkah tahun ini akan segera pergi.

Yah, hanya ada dua doa pada momen ini, yakni semoga amal ibadah puasa Ramadan kita diterima oleh Allah SWT dan semoga kita semua masih akan dipertemukan kembali oleh bulan Ramadan tahun 1441 Hijriyah besok.. Aamiin

3 comments:

  1. Wuih.. Ternyata jogja banyak spot yang saya baru tahu bro.. Mantap..

    ReplyDelete
  2. perjalanan mudik yang panjang ya..
    pasti seru banget karena bisa mampir ke spot-spot objek wisata yang baagus

    ReplyDelete
  3. Aaamiiin... Semoga kita semua dipertemukan dengan bulan Ramadan 1441H..

    Enaknya mudik naik motor bisa mampir-mampir yah, apalagi kalo banyak tempat wisata yang menarik, bisa foto-foto sejenak. BTW, gimana kelanjutan ceritanya sama kenalannya di jalan?? Hehe

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin