Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 2 March 2018

TERDAMPAR DI TENGAH HAMPARAN HIJAU GREEN VILLAGE GEDANGSARI

Akhir pekan kembali menyapa di Hari Sabtu tanggal 10 Februari 2018. Tentu akan sangat disayangkan apabila libur akhir pekan dilewatkan begitu saja tanpa suatu penjelajahan sebagai sarana refreshing dari rutinitas lima hari kerja. Pagi itu saya kembali melakukan perjalanan “iseng” tanpa tujuan yang jelas saat keberangkatan seperti perjalanan ke TELAGA WAHYU sebelumnya.

Green Village Gedangsari, Gunungkidul
Green Village Gedangsari, Gunungkidul
Kali ini tujuan perjalanan iseng saya (meski sebenarnya tidak ada) adalah mencari rute jalan menuju Gunung Kidul yang tidak biasa. Jika biasanya kebanyakan orang pergi ke Gunung Kidul lewat jalan utama Solo-Yogyakarta kemudian lewat Piyungan, rute yang akan saya tempuh kali ini adalah melalui jalan tembus Klaten-Wonosari.

Menuju Bayat-Wedi
Saya harus menuju Kecamatan Wedi terlebih dahulu yang terletak di Kabupaten Klaten. Sebenarnya rute termudah ke Kecamatan Wedi adalah melewati jalan utama Solo-Yogyakarta kemudian berbelok ke arah selatan saat tiba di Kota Klaten. Namun kali ini saya memutuskan untuk melewati rute lain di luar jalan utama.
1. Menuju Bayat; Rute Tengah

Beruntung karena kemajuan teknologi sangat membatu saya dalam perjalanan kali ini. Melalui aplikasi Google Maps, tersedia gambaran rute yang bisa saya gunakan. Tujuan awal yang saya tetapkan adalah menuju Kecamatan Bayat untuk mencapai Jalan Sunan Pandanaran. Meski cukup “mblusuk”, akhirnya melalui panduan Google Maps saya bisa sampai di Jalan Sunan Pandanaran tersebut. 

Jalan Raya Wedi-Wonosari
Setelah sampai di Jalan Sunan Pandanaran, perjalanan saya berlanjut ke arah barat menyusuri jalan tersebut. Mulai dari sini juga saya mengubah rute perjalanan di Google Maps menuju Wonosari; Kabupaten Gunung Kidul. Tertera rute di aplikasi tersebut bahwa rute yang digunakan adalah melalui Jalan Wedi-Wonosari.

2. Pakai Jalur yang Paling Kiri
Jika mengikuti rute Google Maps dari Jalan Sunan Pandanaran, maka nantinya perjalanan akan sempat melewati jalan-jalan desa yang sempit. Namun tak lama kemudian perjalanan akan sampai di jalan utama Wedi-Wonosari yang sudah diaspal halus. Selanjutnya perjalanan tinggal mengikuti jalan tersebut ke arah selatan.

Menembus Bukit Sriten
Saat menyusuri Jalan Wedi-Wonosari ke arah selatan, di depan terbentang hamparan bukit yang memanjang. Pegunungan itu bernama Bukit Sriten yang membatasi Klaten dengan Gunung Kidul. Meski jalannya sudah diaspal halus, tetapi kondisinya masih begitu sepi. Padahal jika dihitung secara jarak, rute ini adalah yang paling dekat untuk ke Wonosari dari Kecamatan Wedi dengan jarak sekitar 35 kilometer.
Dinding Hijau Bukit Sriten di Depan
Dinding Hijau Bukit Sriten di Depan
Sepinya kendaraan yang melintas di jalur penghubung Wedi-Wonosari ini akhirnya terjawab saat perjalanan saya berlanjut ke arah selatan memasuki wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya saya tidak menyangka jika daerah yang masih berada di kaki bukit sebelah utara ini sudah masuk Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Gedangsari.
Jalan Menembus Bukit Sriten
Zoom: Jalan Menembus Bukit Sriten
Usai memasuki Kecamatan Gedangsari, rute perjalanan mulai memasuki kawasan pegunungan yang mana kondisinya mulai menanjak. Jawaban akan mengapa sepinya kendaraan yang melintas pun terjawab di Bukit Sriten sini. Ternyata tanjakan yang harus dilalui begitu terjal. Bahkan motor Supra X 125 saya dengan kapasitas mesin 125 CC hanya bisa melaju dengan gigi satu.
Indah ya, tapi perhatikan kemiringan jalannya
Wajar dengan kondisi seperti itu tidak ada bus atau truk yang melintas. Memang dibutuhkan kondisi kendaraan yang mumpuni dan fit untuk melewati tanjakan terjal tersebut. Namun di balik seramnya tanjakan yang harus dilalui, pemandangan ke arah utara tersaji begitu indah. Sempat saya berhenti sebentar untuk memfotonya, meski motor sempat dikira mogok oleh orang lain yang melintas.

Destinasi dadakan
Akhirnya kondisi jalan dengan tanjakan terjal pun berakhir juga. Syukur Alhamdulillah motor saya bisa melalui tanjakan tersebut dengan lancar, meski dengan gigi satu. Perjalanan saya pun terus berlanjut ke arah selatan. Beruntung saat itu tidak hujan sehingga saya tak perlu mengkhawatirkan risiko longsong yang lebih berpotensi terjadi pada saat hujan.
Menembus Bukit Sriten
Menembus Tanjakan Bukit Sriten
Nantinya akan dijumpai pertigaan ke arah kiri dan kanan yang mana jika ingin ke Wonosari adalah ke arah kiri. Rencana perjalanan saya pun berubah begitu sampai di sini karena adanya plang penunjuk arah ke “Green Village Gedangsari”. Sama seperti saat perjalanan ke MARKAS TERAKHIR JENDERAL SUDIRMAN, saya pun memutuskan untuk berkunjung ke Green Village Gedangsari karena kapan lagi bisa berkunjung ke sini kalau tidak sekarang.
Ijo-ijo
Jalur menuju Green Village Gedangsari adalah ke arah kiri dari pertigaan tersebut dengan tetap melewati jalan aspal halus pada awalnya. Sebenarnya saya juga tidak tahu rute menuju Green Village Gedangsari, tetapi sepanjang jalan sudah banyak terdapat plang penunjuk jalan ke lokasi tersebut sehingga tinggal diikuti saja sesuai arah yang ditunjukkan.
Pertigaan & Sisi Selatan Bukit Sriten
Pertigaan & Sisi Selatan Bukit Sriten

Menuju Green Village Gedangsari
Jalan yang saya tempuh usai berbelok kiri dari pertigaan tersebut jika diikuti terus nantinya akan sampai kembali ke Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Jalur menuju Green Village Gedangsari adalah berbelok kanan ke luar jalan utama tersebut sesuai yang ditunjukkan oleh petunjuk jalan. Rute perjalanan kemudian mulai memasuki jalan desa yang sempit.
Akhir Jalan Aspal
Jika baru pertama kali melewat jalan desa tersebut, rasanya pasti akan meragukan apakah jalan yang dilalui itu benar atau salah. Namun tenang saja karena di pinggir jalan plang penunjuk jalan masih senantiasa memandu perjalanan. Perlu diketahui bahwa setelah tanjakan terjal tadi, smartphone saya dengan kartu IM3 kehilangan sinyal sehingga tidak bisa lagi digunakan untuk memandu perjalanan.
Turut Dalan Ndeso
Bahkan nantinya jalan yang harus dilalui tidak lagi terbuat dari aspal, melainkan jalan khas pedesaan yang terbuat dari semen dengan dua ruas jalan (corblok). Namun tenang saja karena jalan tersebut sudah benar. Sebagai hiburan, pemandangan terbuka ke arah utara yang tersaji dari ketinggian akan terlihat begitu menawan. Syukur Alhamdulillah saya akhirnya sampai juga di Green Villlage Gedangsari.

Green Village Gedangsari
Tulisan Green Village Gedangsari yang besar menjadi tanda bahwa saya sudah sampai di sana. Sebuah area parkir yang luas menyambut saya untuk memarkir kendaraan di sana. Meski letaknya berada di area pedesaan, kondisi Green Village Gedangsari cukup bersih dan bagus sehingga saya merasa tidak sabar untuk segera masuk ke dalam.
Area Parkir Green Village Gedangsari
Area Parkir Green Village Gedangsari
Konsep Green Village sendiri merupakan taman yang berada di ketinggian Bukit Sriten sebelah utara. Secara administratif lokasinya terletak di Dusun Guyangan Lor, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul. Waktu tempuh saya dari Kota Solo saat itu adalah sekitar dua jam perjalanan. Sebenarnya perjalanan akan lebih nyaman dan cepat tanpa tanjakan terjal jika lewat Kecamatan Bayat, bukan Wedi seperti yang saya lalui kali ini.
Green Village Gedangsari; Bersih dan Indah
Green Village Gedangsari; Bersih dan Indah
Green Village Gedangsari sendiri bisa dibilang merupakan destinasi wisata baru di Gunung Kidul karena pembangunannya dimulai pada tahun 2016. Pembangunan Green Village Gedangsari sendiri tidak lepas dari bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI).
Jalan Setapak di Green Village Gedangsari
Jalan Setapak di Green Village Gedangsari
Saat sampai di taman, pengunjung akan dapat berjalan di jalan setapak yang sudah ditata dengan baik. Beberapa gubug yang menghadap ke arah selatan atau Bukit Sriten dapat digunakan untuk sekadar duduk-duduk menikmati hijaunya kawasan perbukitan. Selain itu ada juga spot foto yang bisa digunakan untuk berfoto dengan latar belakang hijaunya Bukit Sriten.
Menikmati Kehijauan Bukit Sriten di Green Village Gedangsari
Menikmati Kehijauan Bukit Sriten di Green Village Gedangsari

Flying fox terpanjang kedua se-Asia Tenggara
Terus berjalan ke atas, maka pemandangan ke segala arah akan tersaji dengan indah. Pemandangan terbuka paling spektakuler ada di sisi utara ke arah Klaten atau Provinsi Jawa Tengah. Bahkan Waduk Rawa Jombor pun turut terlihat seperti kolam yang luas dari ketinggian. Jika cuaca sedang sangat cerah, Gunung Merapi akan menampakkan dirinya di kaki langit sebelah barat laut.
Panorama Utara
Green Village Gedangsari juga merupakan tempat yang pas untuk menanti sunrise atau matahari terbit. Pemandangan ke arah timur yang terbuka menjadikan saat-saat munculnya matahari pagi tidak terhalang apa pun, dengan catatan cuaca cerah. Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur pun akan terlihat jika cuaca cerah.
Bentang Timur
Beberapa gubug juga masih ada di kawasan atas Green Village Gedangsari ini sehingga pengunjung bisa bebas memilih tempat beristirahat dengan karakteristik pemandangan yang berbeda-beda. Selain itu, spot foto juga tidak hanya ada di sisi selatan karena tersedia pula spot foto di sisi utara dengan latar belakang pemandangan terbuka.
Gubug Istirahat di Green Village Gedangsari
Gubug Istirahat di Green Village Gedangsari
Hal spesial di Green Village Gedangsari adalah terdapat flying fox terpanjang kedua di kawasan Asia Tenggara dengan panjang 625 meter. Lintasan flying fox pun dapat dilihat dengan jelas ke arah timur yang tampak begitu panjang membentang. Tarif untuk menikmati flying fox ini juga cukup terjangkau yaitu Rp100.000,00 saja. Tentu sebuah harga tersebut sepadan mengingat flying fox ini adalah yang terpanjang kedua di Asia Tenggara.
Flying Fox Terpanjang Kedua se-Asia Tenggara
Flying Fox Terpanjang Kedua se-Asia Tenggara
Lintasan Flying Fox Green Village Gedangsari
Lintasan Flying Fox Green Village Gedangsari
Jika lapar atau haus menyerang, masyarakat setempat telah membuka warung yang menjual makanan dan minuman. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Green Village Gedangsari ini adalah di pagi hari karena saat siang hari teriknya matahari siang terasa begitu menyengat. Sore pun sebenarnya adalah waktu yang pas, tetapi jangan terlalu malam karena melewati medan perbukitan saat gelap tentu berisiko.
Madhang Rek..!
Saya sendiri tidak sempat menjajal serunya flying fox terpanjang kedua se-Asia Tenggara tersebut karena tidak membawa cukup uang di dalam dompet saat berkunjung ke sana. Usai puas menikmati suasana hijau di Green Village Gedangsari, saya kembali melanjutkan perjalanan kembali menuju Wonosari. Perjalanan saya kali ini pun belum selesai...

Info
Tiket masuk
Rp5.000,00

Tarif parkir
Rp2.000,00 (motor)

Hari & Jam buka
-

Fasilitas
Area parkir (motor-mobil-elf-minibus), masjid, mushalla, taman bermain anak, joglo, spot foto, gubug istirahat, flying fox terpanjang kedua se-Asia Tenggara warung makan

Waktu kunjungan terbaik
Pagi hari saat cuaca cerah

30 comments:

  1. Iya betul, GVG lebi deket kalo lwt jalur Klaten. Tp kok km cm maen di situnya doang sih. Harusnya skalian ke desa wisatanya jg sm air terjunnya. Gak nyoba flying fox nya jg? Yaaaah... *Duh jd inget blm nulis kan aku* wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walah, g sempet kang.. Gak gowo duit akeh juga.. haha
      Kan rencana awal emang g berkunjung dimari..

      Coba kapan-kapan pas balik lagi bisa explore lebih banyak...

      Delete
  2. Berarti spot fotonya itu pemandangan ijo2 bukit sitren ya. Semoga bukit sitren selalu menghijau dan lestari


    Btw, piringnya cuma satu Mas? Makan sendirian? Lah pasangannya mana? 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..
      Emm, pasangan..? Mau tau aja apa mau tau banget ni..? hehe

      Delete
    2. Mau tau bangeeeeet 😆😆

      Delete
    3. Eeeeeh Mas masih nyebelin yaaaaaa
      Kukira mau dijawab 😂😂

      Delete
  3. Oalah corblok buat ini to.
    Pengin kesitu tapi ngeri juga jalannya, qeqeqe.
    Lebih ekstrim mana dengan jalur ke candi cetho mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. hehe
      La bingung mau nyebut apa eh..

      Kalo yg nggak eksterim lewatnya Kecamatan Bayat, itu jalur yg aku lewatin lewat Wedi.. Tanjakannya mungkin hampir sama kayak Candi Cetho..
      Tapi kalo lewat Bayat tanjakannya gak begitu curam..

      Delete
  4. Flying fox terpanjang ke 2 se Asia tenggara, woooow itu tarifnya berapa mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rp100.000,00 sekali pakai..
      Itu udah ditulis hlo..

      Delete
  5. segimana itu panjangnya, sampe terpanjang ke 2 se asia..
    ga serem ya naiknya itu..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Se Asia Tenggara mbak...
      Justru yg bikin asik keseremannya.. hehe

      Delete
  6. Pas nyari curug di sekitar Green Village Gedangsari, aku sempat menyusuri seberapa panjang flying foxnya itu (lewat jalan) wkwk ternyata emang lumayan puanjaang. E tapi aku malah belum sempat mampir ke sini. Pingin nyobain deh kapan-kapan aamiin. Biar bisa njerit-njerit lama. Tarif retribusi masuk Rp.5000,- menurutku lumayan terjangkau... udah apik tempatnya.

    Eh btw pas liat semangkuk mi ayam, perutku jadi krucuk-krucuk huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, kok gak sekalian ke GVG aja mbak.. Kan tinggal deket lagi..
      Aku malah belum tau kalo ada curug di sekitar situ malahan...

      Iya ni, mesti coba kapan-kapan buat naik flying foxnya... hehe
      Habis itu kan laper, nah makannya mie ayam..

      Delete
  7. wuihhh... ini flying foxnya kayaknya seru. tapi harganya segitu. huhu.
    masalah pemandangan alamnya keren, jogja emang jos baca potensi alam untuk dikelola jadi tempat wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo eh, kalo pas duite mepet repot.. haha

      Sebenere banyak tempat yang potensial buat jadi destinasi wisata favorit hlo.. Nggak cuman Yogyakarta aja..

      Delete
  8. Jalanannya nyeremin tapi pemandangannya menakjubkan, hijauuu dan biru berpadu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru pemandangan yang indah adalah reward setelah menempuh perjalanan yang sulit..

      Delete
  9. pas baca terdampar, langsung inget kata2nya syahrini. Terpampang nyata wkwkwk

    jalan kaya gitu, pulangnya enak ya mas, tinggal ngglinding hehe

    jadi pengen main flying fox. trus ngebayangin, gimana kalo di sini dibuat semacam kereta gantung gitu. kereen :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, kok isoo..? haha

      Hmm.. betul juga ya..
      Tapi nanti kalo jadinya kendaraan gak boleh sampe GVG dan harus bayar naik kereta gantung ya malah nggak jadi bagus..

      Delete
  10. Keren sih lokasinya juga bisa jajal seru main flyingfox terpanjang ke 2 di Asia Tenggara ..

    Yang perlu dibenahi rute jalannya,ya .. biar mulus dilalui ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemaren denger dari pengelolanya bahwa jalannya bakal dibenerin og..
      Jadi kemungkinan besok" kalo ke sini lagi jalannya udah bagus..

      Delete
    2. Semoga ya, Tri ...
      Cepet direalisasikan pengerjaan jalannya.

      Ngomong-ngomong, tentang kondisi jalan Sriten itu mirip kondisinya ke ekowisata Sungai Mudal dari arah kedatangan Muntilan saat aku kesana,ya .... menanjak, meliuk-liuk,sepi dan saat itu banyak badan jalan yang rusak.

      Delete
    3. Hmm.. Iya, kemungkinan nggak jauh beda...

      Delete
  11. destinasi wisata baru kayaknya ya, mas. baru liat hehe
    klo liat sudut kemiringan jalannya emang ngeri sih, tapi worth it sama viewnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emm.. Udah agak lama sih, tapi emang belum jadi favorit tujuan orang-orang karena lokasinya jauh dari Kota Yogyakarta...

      Tapi pemandangannya emang keren og...

      Delete
  12. Bentar bentar... :-/
    iku jalan yang superrr nanjak + miringnya nggak ketulungan aku pernah nyasar disitu mas.. Wkwkwkw..
    #Curhat Bentar
    Waktu itu mau ke Gunung Kidul, ke pantai. dari arah Semarang saya pake GPS, secara waktu itu udah lama nggak ke Yogya jadi pake GPS. Nggak tau lewat manalah pokoknya lewat kampung kampung gitu, terus ujung ujungnya nemu tuh jalan yang nanjaknya Subhanallah... sempet mikir "Iki aku dewean, nek motorku rak kuat pie, mending mending rak kuat, nek mogok, jaluk tulung sopo?" Hahahaha.. Alhamdulillah tetep strong motor tua yang saya kendarai, meskipun pas tengah-tengah sinyal ilang,, -.- main logika aja deh seterusnya. Hahahaha.. Begitu nemu jalan senenge rak karuan. :D :D :D Wkwkwkw... btw sempet ngeambil foto pemandanganya juga, cuma nggak tau kehapus atau kemana tak cari di memory nggak ada. Wkwkwkw...

    ..
    Btw view Gedangsarinya joss ya mas, waktu itu nggak tau kalau ada kayak beginian.. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wealah, lewat mana tu ms..?
      Kok kayaknya menantang buat dijajal tanjakannya.. haha

      Bagusnya bisa nglewatin rutenya bisa selamat ya.. Jadi termasuk pengalaman menarik tu.. hehe
      kemungkinan lewat jalur trabasan yg membelah bukit tu kalo nanjak kayak gitu..

      Delete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Jika bermanfaat, mohon kesediaannya untuk menshare postingan yang ada.