Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 25 May 2018

MENEMBUS BADAI KENANGAN SANG MERAPI

Tahun 2017 bukanlah tahun yang penuh dengan kisah pendakian bagi saya. Berbeda dengan tahun 2016; yang mana saya bisa menjelajahi delapan gunung, di tahun 2017 ini hanya ada tiga gunung yang saya sambangi. Catatan pendakian kali ini pun merupakan catatan pendakian terakhir saya di tahun 2017 kemarin. Tujuan pendakian ini pun bukan gunung nan jauh, melainkan Merapi yang selalu menghiasi pandangan di perantauan saya saat itu; Yogyakarta.

Merapi, 2930 Mdpl
Merapi, 2930 Mdpl
Hari itu adalah dua hari setelah perayaan HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. Matahari sudah ada di ufuk barat sore itu saat saya berangkat. Saat itu entah mengapa pula cuaca di Yogyakarta masih cukup basah. Padahal menurut perhitungan musim, Bulan Agustus merupakan puncak musim kemarau di Indonesia, termasuk juga Yogyakarta.

Kenangan yang takkan pernah padam
Kali ini pendakian ke Merapi tidak akan sama lagi seperti Pendakian-pendakian Merapi Sebelumnya. Hal tersebut bukanlah karena ada peristiwa yang terjadi pada pendakian ke Merapi saya saat ini, melainkan karena sebuah cerita masa lalu saat pendakian Merapi yang saya lakukan di tahun 2016 silam.
Merapi Dilihat dari Merbabu
Merapi Dilihat dari Merbabu
Yah, memang saya sengaja untuk tidak menuliskan catatan pendakian tersebut dan memilih untuk menyimpannya saja dalam ingatan. Memang ingatan tersebut termasuk kenangan indah. Akan tetapi tetap saja seindah apapun kenangan, ia malah akan terasa menyedihkan saat tidak bisa diulang kembali untuk selamanya.

Singkat saja, pada pendakian Merapi saya tahun 2016 silam saya ditemani oleh seseorang yang pada akhirnya bisa merampok hati saya habis-habisan. Syukur Alhamdulillah pula kami berhasil sampai kawasan puncak dan kembali ke perantauan kami di Yogyakarta dengan selamat usai berjuang menapaki terjalnya tanjakan Sang Meru Api.

Kisah kami pun masih berlanjut usai pendakian Merapi 2016 silam itu. Namun sayang, kedekatan kami harus berakhir. Entah mengapa dia pergi saat level cinta ada di puncaknya, seakan membuang hati yang sudah ia curi ini ke tempat pembuangan sampah. Sampai detik ini pun saya tidak tahu apa alasan dirinya.
Pendakian Terindah; Merapi 2016
Mau bagaimana lagi, yang jelas ini adalah ketetapan Sang Maha Kuasa yang Maha Membolak Balikkan Hati. Apa pun yang dilakukan seakan percuma karena cinta itu bagai hujan yang tidak bisa dipaksakan kapan turun dan redanya. Yah meski berusaha ikhlas, tetap saja menghapus kenangan tidak semudah menghapus file komputer. Satu hal yang pasti, kenangan itu masih tersimpan baik dalam ingatan hingga sekarang.

Bisa dibilang kenangan itu bagaikan hantu. Sejauh mana berlari, saya takkan pernah mempu untuk lari dari kenangan itu sehingga opsi yang tersisa hanyalah menghadapi dan menerimanya dengan ikhlas serta lapang dada karena kenangan adalah bagian masa lalu yang memang menjadi bagian dari keseluruhan jiwa dan raga ini.

Merapi akhirnya saya sambangi kembali, hanya berselang sekitar satu tahun usai kenangan indah tersebut. Tentu saya paham akan konsekuensi diterjang badai kenangan nan dahsyat saat menapaki jalan setapak Merapi. Namun saya sudah bertekad menghadapinya untuk menjadi lebih kuat ke depannya melalui rintangan tersebut yang ditambah dengan terjalnya rute pendakian Merapi.

Kembali ditemani sang travelista tangguh
Kali ini saya juga tidak sendirian. Kembali saya ditemani oleh travelista super tangguh yaitu Rani Theresia yang juga menemani perjalanan saya saat MENGGAPAI MERBABU VIA CUNTHEL-SELO di awal musim pendakian 2017 lalu. Jika mengajaknya, saya sudah tidak perlu lagi meragukan kemampuan fisiknya yang bahkan melampaui laki-laki.
Ketemu Lagi dengan Kak Rani
Pendakian ke Merapi kali ini kami lakukan dengan format tek-tok, yakni pendakian tanpa berkemah. Saat itu kami memulai perjalanan pada malam hari, bahkan tengah malam itu kami baru sampai di Base Camp Barameru Merapi yang merupakan gerbang registrasi pendaki Gunung Merapi via Kecamatan Selo; Boyolali atau jalur utara.

Menembus gelapnya jalan setapak
Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 01.00 WIB menapaki gelapnya jalan setapak Merapi. Malam itu suasana pendakian cukup ramai karena esok adalah hari libur sehingga kami tidak perlu khawatir karena ada banyak teman. Perjalanan malam itu berlangsung dengan begitu cepat karena memang perjalanan malam membuat kami tidak butuh banyak istirahat.

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami sudah sampai di Pasar Bubrah. Sebenarnya kami berencana untuk langsung naik ke puncak yang hanya membutuhkan sekitar satu jam perjalanan lagi. Akan tetapi cuaca sedikit berawan pagi itu sehingga kami memilih untuk beristirahat di balik bebatuan untuk tidur sejenak dan membuat minuman hangat.

Menuju kawasan puncak Meru Api
Sekitar pukul 06.30 WIB kami mulai berjalan naik dengan hanya membawa makanan dan minuman seadanya, sementara peralatan lain seperti kompor dan nesting ditinggal di Pasar Bubrah. Kondisi cuaca saat itu sedikit berawan dengan awan tipis yang menggantung di atas Merapi. Beruntung karena meski berawan, pagi itu cuaca tidaklah berkabut.
Summit Attack Merapi
Summit Attack Merapi
Jalur yang kami lalui pun meski terdiri dari pasir dan bebatuan seperti lazimnya jalur pendakian khas gunung api, tetapi kondisinya cukup basah yang ditandakan dengan bebatuan berwarna sedikit hitam, bukan putih seperti saat sepenuhnya kering. Hal tersebut menandakan bahwa hujan sebelumnya masih sempat mengguyur kawasan puncak Merapi.
Bebatuan Merapi yang Agak Basah
Menjelang puncak pun kondisi bebatuan berwarna agak hitam yang menandakan bahwa kondisinya cukup basah karena masih sempat diguyur hujan sebelumnya. Baiknya adalah kondisi tersebut menyebabkan debu tidak beterbangan seperti saat kering. Jikalau sedang kering-keringnya, saat angin berembus maka debu akan langsung menerpa wajah.
Menjelang Puncak
Meski demikian, masker dan kacamata hendaknya tetap dibawa saat mendaki Merapi karena pasir yang basah pun masih mampu menimbulkan debu walau tidak sebanyak saat kering. Cuaca yang tidak begitu panas juga membuat stamina tidak lekas habis saat menapaki terjalnya rute summit attack menuju kawasan puncak Merapi.

Kawasan puncak gunung api paling aktif sedunia
Sekitar pukul 07.40 WIB, syukur Alhamdulillah kami berhasil mencapai kawasan puncak Gunung Merapi. Kami sempat khawatir jika sesampainya di puncak nanti cuaca akan berkabut sehingga pemandangan ke arah kawah utama menjadi terhalang. Namun ternyata meski sedikit berkabut, pemandangan ke arah jauh masih terlihat termasuk juga kawah utama Merapi.
Kawah Utama Merapi
Kawah Utama Merapi
Kondisi kawasan puncak Merapi saat itu tidaklah terlalu ramai. Meski sudah tergolong kondisi yang ramai, tetapi keramaiannya tidak seramai yang saya bayangkan karena hari itu sudah masuk hari libur. Mungkin saja puncak keramaian Merapi ada di Hari Minggu pagi saat lebih banyak orang yang mendapat jatah hari libur.
Puncak Merapi yang Dilarang untuk Dikunjungi
Memang pemandangan ke arah jauh terlihat seperti Gunung Merbabu yang tampak begitu besar di sisi utara Merapi dan juga Gunung Lawu di ujung kaki langit sebelah timur. Namun pemandangan ke wilayah perkotaan di bawah tidak tampak karena kabut. Hanya ada lapisan putih kebiruan yang menyelimuti kawasan bawah.
Merbabu di Utara
Bahkan Sindoro-Sumbing-Prau yang juga biasanya menghiasi pandangan di sebelah barat laut Merapi kali ini tidak terlihat karena terhalang kabut. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mampu menghilangkan keindahan yang ada di puncak Merapi. Terlebih kami mencapai puncak dengan perjuangan sehingga rasa puas akan menjadi lebih berlipat ganda.
Lawu di Ujung Timur
Lawu di Ujung Timur
Sekitar pukul 08.30 WIB, kami sudah merasa puas menikmati kondisi di puncak dan memutuskan untuk turun. Syukurlah langit di atas kami mulai beranjak cerah sehingga birunya langit mulai terlihat yang menjadikan kombinasi pemandangan menjadi semakin indah. Turun dari kawasan puncak Merapi cukup mudah karena bisa sedikit seluncuran di atas pasirnya.
Turun dari Puncak
Dari Atas Sana
Sekitar 20 menit kemudian kami hampir sampai di kawasan Pasar Bubrah. Entah rasanya begitu letih, mungkin karena kami kurang istirahat akibat perjalanan malam. Tidak lama kemudian rasa kantuk juga mulai datang menyerang karena semalaman tadi kami nyaris tidak tidur, malah menguras fisik dengan menapaki terjalnya jalan setapak Merapi.
Sampai Pasar Bubrah Kembali

Turun dan kembali pulang
Kami kembali beristirahat begitu sampai di Pasar Bubrah. Selain istirahat, kami juga mengisi perut terlebih dahulu sebelum turun. Akan tetapi ternyata setelah makan tiba-tiba rasa kantuk semakin menjadi-jadi sehingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur sebentar. Usai merasa baikkan, kami mulai berkemas dan berjalan menuruni Merapi.
Turun Gunung
Sekitar tengah hari kami akhirnya sampai di pos pendakian Merapi via Selo kembali dengan fisik yang letih karena kurang istirahat. Memang pendakian dengan format tek-tok akan lebih menguras tenaga karena tidak ada jeda istirahat atau tidur yang bisa dilakukan saat mendaki dengan format berkemah. Bahkan Rani yang tangguh pun menyatakan kapok mendaki secara tek-tok.

Epilogue
Usia melapor, kami pun memulai perjalanan dengan sepeda motor menuju Yogyakarta. Kali ini giliran saya yang harus melawan kantuk dan menjaga konsentrasi di jalan agar selamat sampai tujuan. Perjalanan kami berlangsung cepat karena sore harinya kami sudah sampai kembali di Yogyakarta dengan selamat, meski lelah.
Sampai Jumpa Lagi Merapi
Akhirnya dengan berakhirnya catatan pendakian saya di Merapi ini, berakhir pulalah catatan pendakian saya di tahun 2017 itu. Memang sebenarnya saya masih ingin menambah catatan pendakian, tetapi sayangnya Allah SWT tidak mengizinkan saya melakukannya sehingga total hanya ada tiga catatan pendakian di tahun 2017 yaitu Merapi ini, kemudian sewaktu menggapai GUNUNG SUMBING dan GUNUNG MERBABU.

Entah apa yang akan terjadi di musim pendakian 2018. Apakah saya masih diperkenankan mendaki oleh Allah SWT? Hanya Dia yang tahu. Namun yang pasti dalam benak saya masihlah menginginkan adanya banyak catatan pendakian yang bisa dituliskan di tahun 2018. Rencana pun sudah dibuat, semoga Dia mengizinkan rencana itu terlaksana.. Aamiin

Catatan pendakian 2017 Tamat.

45 comments:

  1. Dri judulnya: "Menembus Badai Kenangan Merapi" epik judulnya, ditambah pas masuk di prolognya kok bikin gimanaa gitu :(
    ditinggal pas sayang-sayangnya :(
    Ternyata kamu bakat juga nulis model campur curhat begini mas, asique wkwkwk.
    Di postingan ini, aku bisa melihat Merapi secara dekat. Biasanya kan cuma dari bawah thok aja udah bahagiaaa...

    Semoga 2018 ini tambah lagi deh list pendakiannya :) ditemani orang-orang tangguh lagi, terus terabadikan di postingan berikutnya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali-kali lah mbak curhat sitik.. haha

      G pengen cobain pandakian mbak..? Seenggaknya sekali aja..
      Aamiin.. Semoga terlaksana di tengah waktu dan tenaga yang semakin berkurang ini...

      Delete
  2. Aku dulu pertama mendaki juga ke Merapi, meski hanya sampai pasar bubrah saja..
    Kangen sebenarnya kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, padahal sedikit lagi sampe kawasan puncak..
      Tapi emang lebih baik kalau ndakinya sampai Pasar Bubrah aja..

      Delete
  3. Whuaa keren! 3 kali naik gunung setahun saja itungannya masih dikit ya untuk anak gunung. Sukaak lihat Merapinya, cantik banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya seenggaknya 5 atau 6.. hehe
      Merapi emang memesona..

      Delete
  4. Ngelihat gambar puncaknya aja udah ngeri... apa lagi kalau ngelihat langsung ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai kecebur kawahnya aja ms.. haha

      Delete
  5. Masa lalu, biarkan berlalu. yang penting sekarang udah ada gantinya 😂
    Baca post merapi di sini, sama di postnya relung langit, jadi pengen ikutan post tentang merapi. Tapi ini nekat beneran, tektok ke merapi. Kalau aku udah lambaikan tangan mendaki ke merapi tanpa ngecamp, endah kesele

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa.. tetep wae kan g iso lali dengan mudah.. hoho..

      Gek posting mbak.. Taktunggu postingane ttg Merapi..
      Soale Merapi kan jarak tempuhe menurutku g terlalu panjang.. Dadi isih layak nggo tektok.. Tapi y kesel sih..

      Delete
  6. dulu ke Merapi cuma sampai ke pasar bubrah, itu pun malamnya camp dulu sebulum pasar bubrah. pas mau ke puncak belum sampe atas turun lagi, berat bawa tas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, tasnya ditinggal di tenda ms biasanya...
      Jadi ke atas paling cuman bawa air sama cemilan biar nggak berat..

      Delete
  7. 3 gunung dalam 1 tahun. Bagiku itu udah banyak pakai bangeta :D
    Eh, bukan e di kawasan Pasar Bubrah itu ada papan keterangan "Batas aman mendaki", ya? Kalau tetep nekat sampai puncak, gakpapa to?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Standar 5-6 lah ms.. Kan musim kemarau terbatas cuma sekitar 5 bulanan aja...

      Hmm.. Gimana ya..
      La guidenya yg biasanya bawa pendaki aja sering ttp naik.. Yaudah yg lain jadi ikutan..
      Tapi ttp lebih baik sampai Pasar Bubrah aja..

      Delete
  8. mencekam mengawali cerita kenanganny, pajang fotonya terus menulis kenangan tandanya masih teringat terus ;D hahhaha biasanya pelariannya biar lupa itu naik gunung tapi karena punya kenangan di gunung malah jadi nya sesak di dada, njuk sampeyan pelariannya kemana mas ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menghapus kenangan/ingatan nggak semudah menghapus file di flashdisk euy.. hehe

      Y g bisa lari sih.. Harus dihadapi dan diterima kenyataan/kenangan itu...

      Delete
  9. seumur-umur saya ga pernah naik gunung, nampaknya ini menyenangkan sekali ya bisa berada dipuncak. Yeahh,,, apalagi di Merapi yang beberapa hari lalu infonya sedang erupsi dan ada banyak pendaki disana.

    Gambarnya cerah dan bagus-bagus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba naik gunung yg buat pemula ms, seperti Prau atau Andong..
      Tapi pas weekdays, soalnya kalau weekend ruame..

      Delete
  10. wihhh ada rani!!! ((seneng liat rani))

    ayo mas diniatin naik gunung lagi, InsyaAllah 2018 ini pasti tercapai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, kenal Rani..??

      Aamiin.. Terima kasih doanya..

      Delete
  11. Menyebalkan sih tulisan ini. Untung udah diklarifikasi 😂😂😂

    Btw, ternyata cuma selisih 30 meter ya sama B29 😆😆😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoho.. Ya maap atuh..
      Tanya dulu dong neng.. hehe

      Iya.. Bedanya kalo ini dari bawah jalan kaki, enggak naik motor.. hoho

      Delete
  12. Wah bacanya dan lihat foto-fotonya jadi kangen akan ketinggian, Maret lalu ke Merbabu, akhir april rencana pengen ke merapi hingga ngaret mendekati waktu erupsi kemarin. Gak tahu kenapa, rasanya kok waktu itu kurang sreg aja, eh taunya merapi erupsi..

    Terakhir dapat kabar juga masih peringatan. Semoga segera membaik dan bisa kesana. Kalau kata teman saya malah minta dijenguk merapinya..hehe

    Duh masalah ditinggal disaat sayang2nya, saya pernah ngalamin juga nih, tapi udah biasa sih sekarang mah, memang diawal duh nyesek bet dah. Kesel ya iya. Tapi ya mau gimana lagi..ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalau begitu misal statusnya udah turun, segera naik Merapi ms.. Keburu meletus lagi..
      Sama doa juga biar pas di atas nggak tiba-tiba meletus.. Seriusan ini kalao naik Merapi begitu sampai Pasar Bubrah doanya biar nggak tiba-tiba meletus..

      Y emang harus diterima kenyataannya...
      Kan yang jelas kalau misal hubungan bubar berarti dia bukan yang terbaik..

      Delete
  13. Karena Merapi gunung paling aktif sampai saat ini sy belum minat mendaki Merapi walau pernah terbesit keinginan tapi pupus lagi krn erupsi kemarin...heuheu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Besok kalau udah tenang kembali coba mendaki Merapi mbak..
      Sayang kalau g pernah melakukan pendakian ke Merapi.. hehe

      Delete
  14. Kisahnya jadi mengalir diantara waktu...ngomong ngomong mendaki gunung lebih kepada petualangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih ke perjuangan gan.. Karena untuk sampai ke puncak harus berjuang..

      Delete
  15. Ya klo dibanding 7 ya emang dikit ya klo cm 3 gunung. Tp buat aku mendaki 3 gunung itu wes ruarrr biasahh mas broo 😂

    Eh tapi itu pas nulis cerita tentang kenangan indah yg telah ambyar sambil nangis ga mas? 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih.. Soalnya sebelumnya seenggaknya 6 gunung.. hehe

      Enggak og.. InsyaAllah sudah ikhlas..

      Delete
  16. Cuma baca rute pulang pergi merapi aja udah bisa ngebayangin capeknya bukan main, apalagi yang ngejalanin XD

    Untung sejauh ini saya gak pernah tek tok, selalu inap satu malam dan nikmatin sunrise. Merapi keren yaa, bisa berdiri diatas awan itu rasanya memuaskan ya kan? Jadi kangen nanjak, tapi gak mau nanjak ke tempat yang curam-curam kayak merapi gitu, cukup ke gunung cantik cantik aja hahaha XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. emang capek..
      Kalau mendaki gunung kan yg didapetin capek.. hehe

      Wah, gunung-gunung cantik tu mana aja eh..?

      Delete
  17. Rupanya badai kenangan lebih dahsyat dari badai hujan, ya, mas... Semoga menjadi lebih kuat.

    Suka geleng-geleng kepala kalo baca cacatan orang yang naik gunung tek tok, apalagi gunung yang tinggi, gak sanggup saya mah.
    Tahun 2017 malah cuma 2 gunung yang sempat saya sambangi, padahal rencana sudah banyak termasuk rencana ke merapi, tapi ternyata belum diijinkan ya sudah, semoga di tahun 2018.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, emang itu tujuannya mendaki kembali Merapi.. hehe

      Wah, sayang sekali..
      Semoga tahun 2018 ini bisa kesampean semuanya..

      Ke mana aja rencananya btw..?

      Delete
    2. rencana mau ke ciremai, pangrango, dalam waktu dekat mau ke sumbing sama andong, semoga aja tercapai :D

      Delete
  18. Ngomongin gunung saya rada-rada mager buat naik apalagi merapi. Mungkin ini syndrom sama letusan kali yah, jadi kalau diajakin naik ke puncak selalu nolak. Padahal dalam hati pengen juga sih. Tuh kan liat foto-fotonya mas jadi tambah penasaran. Itu beneran mas, jalur naiknya terjal kayak gitu, kok serem liatinnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Musti dilawan ms rasa malesnya.. hehe
      Emang selalu ada kekhawatiran meletus tiba-tiba kalau pas mendaki Merapi, tapi y banyakin berdoa aja..

      Yup.. Menjelang puncak jalurnya emang menanjak, khas gunung api..

      Delete
  19. hati hati mas, katanya merapi meletus lagi ih :

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Masih ditutup untuk oendakiannya..

      Delete
  20. Sistim Tek-Tok ? Wah.. apa gak persiapan dulu ya buat baca situasi ? tapi kayaknya udah ketalar nih ya, haha..

    ReplyDelete
  21. Uayuu pacarmu bien mas haha
    Sabar yaaa

    ReplyDelete
  22. Entah kenapa ya setiap kali foto-foto tentang Merapi, aku selalu muncul peraaan begidik sekaligus juga kagum lihat pemandangan disana ...

    Mungkin pengaruh efek dari kejadian erupsi besar 2010 lalu ya yang sempat membuat lumpuh kota tempat keluargaku tinggal.

    Keren kamu, Pras .. punya nyali treking mendekati puncak merapi 👍

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin