Sejarah Museum Kereta Api Ambarawa

Posting Komentar
Konten [Tampil]
Ambarawa memang penuh dengan sejarah. Setelah berkunjung ke FORT WILLEM I yang merupakan bangunan peninggalan Belanda, saya melanjutkan perjalanan ke tempat bersejarah terkenal lainnya yang letaknya tidak begitu jauh, yaitu Museum Kereta Api Ambarawa.

Koleksi Lokomotif Uap di Museum Kereta Api Ambarawa
Koleksi Lokomotif Uap di Museum Kereta Api Ambarawa

Menuju Museum Kereta Api Ambarawa
Rute menuju Museum Kereta Api Ambarawa tidaklah sulit karena tempat ini merupakan destinasi wisata yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan saat hari libur atau akhir pekan banyak pengunjung dari berbagai daerah yang datang kemari menggunakan macam-macam kendaraan mulai sepeda motor hingga bus besar.

Museum Kereta Api Ambarawa dari Salatiga

Sudah tersedia banyak plang penunjuk jalan menuju Museum Kereta Api Ambarawa saat berada di kawasan Ambarawa. Perjalanan pun tinggal mengikuti plang petunjuk jalan itu. Hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 menit bagi saya untuk sampai ke sana dari Benteng Pendem Ambarawa. 

Sejarah Stasiun Willem I
Museum Kereta Api Ambarawa secara administratif terletak di Jalan Stasiun Nomor 1, Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Museum ini sekilas terihat seperti stasiun kereta api lainnya karena dulu pernah berfungsi sebagai stasiun kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang via Magelang.
Jalur Kereta Api Yogyakarta-Kedungjati (Semarang)
Jalur Kereta Api Yogyakarta-Kedungjati (Semarang)
Stasiun Ambarawa didirikan pada tanggal 21 Mei 1873 oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda atas perintah RajaWillem Frederik Prins van Oranje-Nassau (Willem I) dan awalnya bernama Stasiun Willem I.
Stasiun Ambarawa
Stasiun Ambarawa
Stasiun Ambarawa mulai berhenti berfungsi sebagai stasiun kereta api pada tahun 1976 saat dinonaktifkannya jalur kereta api Yogyakarta-Semarang via Magelang. Penutupan itu selain dikarenakan faktor bencana alam, juga karena perjalanan lebih cepat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Museum Kereta Api Ambarawa
Meski kereta tidak ada lagi layanan kereta api jurusan Yogyakarta-Semarang via Magelang, tetapi Stasiun Ambarawa tidaklah sepenuhnya ditutup. Stasiun Ambarawa pada tanggal 21 April 1978 dialihfungsikan sebagai cagar budaya yakni Museum Kereta Api Ambarawa yang masih buka hingga sekarang.
Lini Masa Sejarah Perkeretaapian di Indonesia
Lini Masa Sejarah Perkeretaapian di Indonesia
Usai membeli tiket seharga hanya Rp10.000,00 per orang, perjalanan di museum akan dimulai dengan melewati sebuah lorong yang di dindingnya tertempel informasi mengenai sejarah perkeretaapian di Indonesia. Informasi yang disajikan cukup komplet, lengkap dengan gambarnya.
Sejarah Stasiun Ambarawa
Sejarah Stasiun Ambarawa
Terus berjalan, maka bagian museum selanjutnya adalah bangunan utama Stasiun Ambarawa yang masih dijaga keaslian arsitekturnya hingga sekarang. Tidak hanya arsitektur bangunannya saja yang dijaga, berbagai perlengkapan penunjang perjalanan kereta api zaman dulu masih terjaga di sini.
Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa
Berbagai perlengkapan itu antara lain mesin cetak tanggal & tiket Edmonson, timbangan zaman dulu, dan Genta PJL, roda kereta api, dan sinyal alkmaar yang dulu sering digunakan saat stasiun ini masih disibukkan dengan aktivitas pelayanan perjalanan kereta api.
Mesin Cetak Tanggal dan Tiket Edmonson
Mesin Cetak Tanggal dan Tiket Edmonson
Timbangan Kuno
Timbangan Kuno
Selain itu, ada banyak koleksi lokomotif uap yang menjadi saksi bisu sejarah perkeretaapian di Indonesia. Lokomotif-lokomotif yang terparkir rapi itu jelas merupakan obyek atau latar belakang foto yang menarik bagi pengunjung.
Koleksi Lokomotif Uap
Koleksi Lokomotif Uap
Tidak ada tarif tambahan untuk berfoto dengan lokomotif tua itu. Pengunjung juga bisa naik ke kabin masinis untuk sekadar merasakan bagaimana menjadi masinis kereta api uap zaman dahulu. Namun hendaknya tidak melakukan hal berlebihan seperti naik ke atas cerobong dan melakukan vandalisme agar lokomotif tua itu tetap awet.

Sang Ular Besi Masih Belum Mati
Matinya jalur kereta api Yogyakarta-Semarang via Magelang tidak lantas membuat tidak adanya layanan kereta api yang melintas di bekas Stasiun Ambarawa ini. Hingga kini masih ada kereta api yang melintas di jalur rel Museum Kereta Api Ambarawa.

Kereta yang melintas bukanlah kereta antarkota atau kereta transportasi seperti lainnya, melainkan kereta api wisata. Ada dua pilihan kereta wisata yang beroperasi di museum ini, yaitu:

1. Kereta Uap Wisata
Tidak perlu menunggu mesin waktu ada untuk merasakan pengalaman naik kereta uap seperti zaman dahulu kala. Museum ini melayani mereka yang ingin berwisata sambil naik kereta uap dengan tujuan Stasiun Ambarawa sampai Stasiun Bedono pulang-pergi.
Kereta Uap di Museum Kereta Api Ambarawa
Kereta Uap di Museum Kereta Api Ambarawa
Namun jika ingin menikmati layanan ini, pengunjung harus menyewanya dengan harga Rp3-15 juta untuk kapasitas 80 orang dengan dua gerbong. Memang harganya mahal, tetapi wajar karena biaya perjalanan dengan kayu bakar dan perawatan lokomotif uap memang tidak murah.

2. Kereta Lori Wisata
Layanan perjalanan kereta api kali akan membawa pengunjung menempuh perjalanan dari Stasiun Ambarawa sampai Stasiun Tuntang pulang-pergi. Nantinya perjalanan dengan kereta api ini akan melewati jalur kereta api di tepi Rawa Pening sehingga pemandangannya akan memesona.
Kereta Lori Jurusan Ambarawa-Tuntang PP
Kereta Lori Jurusan Ambarawa-Tuntang PP
Perjalanan dengan kereta lori ini cukup terjangkau, yakni hanya Rp10.000,00 saja per orang. Namun kereta ini hanya beroperasi saat hari libur atau akhir pekan dengan jadwal keberangkatan tiga kali sehari.

Antusias pangunjung yang tinggi untuk menikmati perjalanan dengan kereta ini pun membuat tiket lekas terjual habis. Bahkan saat masih pukul 10.00 WIB, tiket untuk semua jadwal keberangkatan hari itu sudah habis terjual. Ada baiknya pembelian tiket dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB saat museum baru dibuka.

Info
Buka setiap
Senin-Minggu

Jam buka
08.00-17.00

Tarif masuk
Rp10.000,00 (dewasa)
Rp5.000,00 (anak-anak)

Tarif parkir
Rp2.000,00 (sepeda motor)

Tarif kereta
Rp3.000.000,00 – Rp15.000.000,00 (sewa kereta uap)
Rp10.000,00 (Ambarawa-Tuntang PP)
Rp50.000,00 (Kereta Wisata)

Fasilitas
Area parkir, toilet, mushalla, toko suvenir, koleksi lokomotiv tua, layanan perjalanan wisata, pusat informasi, warung makan

Waktu kunjungan terbaik
Pagi hari sewaktu baru buka ketika cuaca cerah
Anggara Wikan Prasetya
Perkenalkan, Anggara Wikan Prasetya, pemilik Menggapai Angkasa.

Related Posts

Posting Komentar