Menggapai Angkasa

Jelajahi Indahnya Negeri Pecahan Surga

Friday, 24 August 2018

GUA SELOMANGLENG, KEDIRI; TEMPAT PERTAPAAN LEGENDARIS DEWI KILISUCI

Destinasi wisata kali ini letaknya cukup jauh dari Kota Surakarta; tempat domisili saya, yakni berjarak 188 kilometer jauhnya. Destinasi ini saya kunjungi saat menempuh perjalanan ke Kabupaten Kediri di akhir pekan terakhir Bulan Juni tahun 2018 lalu. Tidak ada tujuan khusus dalam perjalanan ini, melainkan hanya dalam rangka mengisi hari libur akhir pekan.

Gua Selomangleng, Kediri
Gua Selomangleng, Kediri
Kali ini perjalanan saya menuju Kediri tidaklah sendirian, melainkan ditemani oleh lima orang, yang mana satu orang adalah rekan kerja saya dan lima lainnya adalah temannya dan teman dari temannya lagi. Perjalanan menuju Kediri kami mulai sekitar pukul 07.30 WIB dari Kampus UNS.
Teman Perjalanan Kali Ini

Menuju Selomangleng
Singkat cerita, perjalanan kami akhirnya sampai juga di Kediri sekitar pukul 12.30 WIB. Selama di Kediri, kami dipandu oleh “warlok” yang merupakan teman dari anggota rombongan. Kami pun tak perlu ragu mengenai jalan menuju Gua Selomangleng karena sudah ada yang tahu jalannya.

Alun-alun Kediri_Gua Selomangleng

Saat itu matahari sudah mulai condong mendekati cakrawala barat barat saat kami melaju menuju Selomangleng usai mengunjungi Gereja Puhsarang yang memiliki arsitektur unik. Letak Gua Selomangleng berada di sebelah barat Kota Kediri, atau sekitar 6 kilometer dari Alun-alun Kediri dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Gereja Puhsarang, Sebelum ke Gua Selomangleng
Gereja Puhsarang, Sebelum ke Gua Selomangleng
Sekitar pukul 16.00 WIB, kami akhirnya sampai juga di area parkir Gua Selomangleng. Area parkir yang tersedia sudah cukup besar karena bisa memuat puluhan motor, mobil, serta bus besar. Tidak ingin membuang waktu, kami langsung berjalan menuju gua usai memarkir kendaraan.
Area Parkir Gua Selomangleng
Area Parkir Gua Selomangleng

Gua Selomangleng
Gua yang terletak di kaki Gunung Klotok ini sebenarnya bukanlah gua yang besar seperti GUA GONG di Kabupaten Pacitan atau GUA SEPLAWAN di Kabupaten Kulonprogo. Bentuknya lebih sesuai dengan namanya yakni Selo yang berarti batu dan Mangleng yang berarti miring; berupa batu yang berlubang di atas ketinggian sekitar 40 meter.
Gua Selomangleng, Kediri
Gua Selomangleng, Kediri
Gua ini pun tidaklah terlalu lebar. Ruang di dalamnya pun berukuran sempit dengan dua ruangan yang memiliki dua pintu besar dan satu pintu kecil. Meski demikian, pada dinding gua terdapat ukiran relief. Gua ini selain difungsikan utntuk wisata, juga berfungsi sebagai tempat ritual dan tirakat orang-orang tertentu sehingga bau dupa cukup menyengat di dalam.
Bagian Dalam Gua Selomangleng
Bagian Dalam Gua Selomangleng
Selain gua yang merupakan obyek utama, kawasan Gua Selomangleng juga sering dijadikan pengunjung untuk berolah raga, tentu bukan di titik goa, melainkan di sekelilingnya. Tersedia rute untuk sampai di atas bukit menembus semak. Nantinya di sana pemandangan terbuka ke arah timur akan cukup terbuka.
Pemandangan Terbuka ke Arah Timur
Pemandangan Terbuka ke Arah Timur
Kawasan atas bukit juga sering digunakan untuk berfoto dengan latar berupa sebuah pohon besar tanpa daun dan juga dengan posisi berada di lorong semak. Ada pula jalan ke atas goa sehingga yang nyaman sebagai tempat duduk-duduk dan bercengkerama di atas ketinggian. Tentunya harus selalu berhati-hati agar tidak sampai terjatuh.
Kenalan Sama: Luthfia Ayu Azanella

Sejarah Gua Selomangleng
Gua Selomangleng ini meski kecil, tetapi menyimpan kisah sejarah yang cukup menarik. Kisah sejarah di sini bahkan sudah dimulai sejak sebelum zaman Kerajaan Kediri, yakni pada masa Kerajaan Kahuripan saat Raja Airlangga memerintah. Tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi Kediri karena memiliki situs sejarah yang sudah begitu lama ini.
Gua Selomangleng, Kediri, Jawa Timur
Gua Selomangleng, Kediri, Jawa Timur
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Gua Selomangleng ini dulunya adalah tempat pertapaan Dewi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadewi); putri Raja Airlangga dari perkawinan dengan dengan Putri Dharmawangsa Teguh yang mewarisi tahta Kahuripan.
Patung Dewi Kilisuci
Patung Dewi Kilisuci
Namun Sanggramawijaya Tunggadewi lebih memilih menyepi di Gua Selomangleng dan mundur sebagai pewaris tahta Kahuripan dan menjadi pertapa bergelar Dewi Kilisuci. Raja Airlangga pun membagi dua Kerajaan Kahuripan kepada dua putranya yakni Sri Samarawijaya sebagai Kerajaan Panjalu dan Mapanji Garasakan sebagai Kerajaan Jenggala.

Kedua kerajaan itu terus bersaing untuk menguasai satu sama lain. Akhirnya persaingan dimenangkan oleh Kerajaan Panjalu dengan ibu kota di Daha (Kediri) sehingga berdirilah kerajaan yang baru yaitu Kerajaan Kediri.

Info
Jam buka:
08.00-18.00 WIB

Tiket masuk:
Rp5.000,00

Tarif Parkir:
Rp2.000,00

Fasilitas:
Area parkir, toilet, mushalla, pura, warung makan, toko suvenir

Waktu kunjungan terbaik:
Pagi hari yang cerah

18 comments:

  1. Unik sekali pohonnya ..., tetap tumbuh meski ngga ada daunnya.

    Salut dengan penataan area pertapaan Sanggramawijaya Tunggadewi dibuat rapi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena masuk musim kemarau tu..
      Sebenernya masih banyak yang bisa dikembangin hlo di sini...

      Delete
  2. Sejarahnya menarik banget Kak.
    Kapan-kapan main ke sana, ah. Siapa tahu bisa dapat pengetahuan baru soal Kerajaan Jenggala yang misterius.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada museumnya, bisa mampir ke sana kalau pengen tau kisah sejarah Kerajaan Jenggala..
      Kemaren udah kesorean, jadi museumnya tutup..

      Delete
  3. Batu miring, namanya kok ya lucu ya? Selomangleng.
    Sebenarnya saya penasaran dengan reliefnya. Tapi sayang kurang jelas gitu.
    Maklumlah, ditempat saya, gua-gua juga dipergunakan untuk tirakat. Bau menyan jadinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan berasal dari kata Selo: Batu dan Mangleng: miring..
      Baru nyadar pula kalau arti Selo tu artinya batu..

      Hmm.. Bagus sih, jadi wangi.. haha

      Delete
  4. yang seru itu menggali sejarahnya itu ya,, ternyata dulunya memang dipakai juga di jaman kerajaan..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kalau ada kisah sejarahnya emang jadi lebih menarik..

      Delete
  5. Sejarahnya sungguh mengangumkan dan patung dewi kali sucinya juga sungguh cantik. Belum lagi ada pohon yang tak berdaun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu perkiraan aja mungkin patungnya.. Sebagai penarik..
      Kalau pohon itu, entah masih hidup atau sudah sekarat pohonnya..

      Delete
  6. Asik kalau maen ke tempat yang ada sejarahnya itu. Bisa belajar juga. Dan tiket masuknya juga cukup terjangkau lah. Untuk yang pertama kali tau agak susah mengingat nama goanya, Mas..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar inget dicari asal muasal katanya ms.. Ntar jadi inget.. hehe

      Delete
  7. goanya tampak luar apik yo. hitam legam.

    Samean kok ndak onok fotone?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan dari batu, ya item..
      La aku ngefoto eh..

      Delete
  8. Keren pohonnya, terlihat menarik di lensa meskipun ga ada daunnya, hehehe.

    Ngomong-ngomong itu ga kesorean ya, baru sampai lokasi jam 4 sore? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kemaren nggak nyangka nemu pohon itu.. Pas naik nemunya..

      Betul.. Kesorean itu ms.. haha

      Delete
  9. Dulu yaa aku takuuut banget masuk ke gua. Pertama gelap, yg kedua krn sering baca, biasanya dlm gua ada ular :D. Makanya ga prnh mau masuk ke dalam. Baru setelah dipaksa masuk ke gua tabuhan dan gua gong di pacitan, jd suka deh kalo ketemu wisata gua lg. Walopun kdg msh ttp dag dig dug takut ketemu ular hahahaha. Kapan2 kalo ke kediri, aku mampirin deh gua nya. Bntuknya menarik yaaa. Misterius gitu, mungkin krn hitam..

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Silakan tinggalkan komentar, semoga yang komen rezekinya lancar dan berkah selalu.. Aamiin