Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjalanan Menuju Pantai Bandealit yang Jalanannya Makadam

Assalamualaikum wr wb

Rasanya nggak adil bila saya rajin update di blog halokakros namun melupakan blog travel yang ini. Yok mari yok. Rawat baik-baik. Diisi dengan cerita yang asyik-asyik.

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman acara seru-seruan 2 pekan lalu di Jember. Kebetulan teman-teman blogger, influencer, dan para pegiat wisata diajak untuk seru-seruan jelajah wisata di ujung selatan Jember, yaitu Bandealit.

Sekilas Jelajah Wisata dan Funcamp Jember 2

Nama acaranya adalah "Jelajah Wisata dan Funcamp Jember 2". Iya, ini merupakan sekuel kedua dari acara sebelumnya yang funcamp 1 di Air Terjun Tancak. Pesertanya ya kurang lebih sama. Lo lagi, lo lagi, hahaha. 

Pas mereka ketemu saya, "Loh mbak ini lagi? Siapa namae samean mbak?" Yak mereka udah hafal dengan muka saya, tapi belum kenal dengan nama saya. Nggak papa, mari kita berkenalan dan bersaudara.


Lagipula teman-teman pegiat wisata ini orangnya asyik-asyik. Sebagian besar udah kenal sih ya. Yang pada kenal ya orang-orang Duta Wisata sih. Soalnya pernah ada kegiatan bareng di Tanoker, Ledokombo.

Berangkat Bareng Komunitas Panthermania Indonesia

Kami sudah sama-sama tahu ya bahwa medan/track Bandealit itu begitu susah. Jauh pula. Jalanannya masih makadam. Lalu naik apa kita ke sana?

Ternyata sudah ada solusinya dan kita cukup tenang-tenang saja. Kami diberangkatkan dengan naik mobil Panther. Sudah ready belasan mobil Panther yang siap mengantarkan kami hingga tiba di Bandealit. Mereka berasal dari komunitas Panthermania Indonesia yang sudah biasa road trip ke tempat jauh.

Saya ada di mobil nomor 7, bareng Mbak Munas. Teman-teman lainnya ada di mobil 5 dan 6. Kemudian tiba-tiba ada 3 barista yang mobilnya ditempati oleh peserta lain. Jadilah kami mempersilakan ketiga barista tersebut untuk naik ke mobil kami.

Pemberangkatan dari Pendopo Bupati - Alun-Alun Jember

Ternyata kami diberangkatkan dan diantar secara resmi oleh Pak Hendy selaku Bupati Jember. Sebagian teman-teman mengikuti acara seremonial sebagai perwakilan. Sedangkan saya foto-foto aja di depan pendopo, sekaligus berkenalan dengan teman-teman. 

Alumni Maraton Banyuwangi

Untuk teman-teman blogger, yang ikutan Mbak Ernyk, Mbak Triana, Mbak Malica, Mbak Munas, Alfiyah, Mas Ilham, Mas Vadil, Bang Joe, Bima, dan Mas Dito. Total 11 orang dengan saya. Beberapa ada yang baru kenal, dan sebagian lagi wajah-wajah lama.

Perjalanan Menuju Bandealit

Perjalanan menuju Bandealit cukup menyenangkan. Kurang lebih membutuhkan waktu 90 menit hingga sampai di kecamatan Tempurejo. Kemudian ketika memasuki Taman Nasional Meru Betiri di Bandealit, masih membutuhkan waktu 2,5 jam untuk tiba di Pantai Bandealit. Iya, lama banget cuy!

Tetapi pemandangannya luar biasa indah. Keren banget. Cuaca kadang mendung, kadang cerah. Tapi sekalinya cerah, wuah saya berhasil mengambil momen yang cakep banget. Asyik banget wes.

Di lapangan Tempurejo, kami sempatkan istirahat sejenak. Saya dan teman-teman keluar mobil. Alhamdulillah cuaca cerah banget. Langitnya biru bersih. Cakep euy buat foto-foto. Saya dan teman-teman tentu saja tak melewatkan momen untuk foto-foto dong, hahaha.

Btw ini video perjalanan menuju Bandealit yaaa

Minum Jamu di Herbal Village Andongrejo

Sebelum memasuki Taman Nasional Meru Betiri, kami mampir dulu ke Andongrejo. Di sana ada kampung jamu, namanya yaitu Herbal Village Andongrejo. Mereka jual jamu bubuk khas Tempurejo. Kami cobain jamunya. Wuah seger banget. Apalagi yang jahe merah. Pengen bawa pulang, hoho.

Di sana mereka juga memamerkan hasil karya hiasan dinding. Ada tulisannya Bandealit sehingga bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kayu ukiran yang mereka buat berasal dari hutan di sekitar rumah mereka. Hasil karya ukiran ini telah dipasarkan hingga ke luar negeri loh!

Medan yang Sulit Menuju Bandealit

Di mobil, saya sengaja duduk di kursi depan supaya lebih puas melihat jalanan yang ada di depan mata. Track atau medan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini tentu saja berupa makadam. Kalau taman nasional itu kan emang nggak boleh diaspal atau dipaving. Khawatir kalau diaspal, akan banyak yang mampir ke sini. Jadi flora dan fauna di TNMB dibiarkan alami. 

Jadinya jalanannya nggronjal-nggronjal. Kami menikmati perjalanan dengan terpental-pental, hahaha. Nggak pa-pa, kami sungguh menikmatinya.

Dipikir-pikir ya, rasa-rasanya tuh kayak ikutan Jimny Challenge yang dulu selalu trending di Youtube itu loh. Bedanya, mereka naik jeep sedangkan saya naik Panther. Medannya juga sama-sama berat. 

Wuah ternyata salah satu mimpi receh saya terwujud. Tak terasa ya. Rupanya Allah mewujudkan salah satu mimpi saya dalam waktu dan keadaan yang tak disangka-sangka. Alhamdulillah...

Percakapan Antar Sopir Via HT

Ada yang seru nih selama di perjalanan. Kita kan rombongan naik mobil ya. Koordinasinya tuh susah ya. Makanya sopir-sopir koordinasinya pakai HT. Nah mereka tuh pakai kode-kode gitu kalau ngomong.

"Hati-hati ada 2 laron di depan"

"2 laron diterima ke belakang"

Laron apaan? Ternyata lewatlah 2 sepeda motor, hahaha. Berarti laron adalah sepeda motor.

Ada juga: "Awas ada gajah putih" maksudnya truk molen.

"Hati-hati di depan ada roti tawar"

Apa dah roti tawar ini. Ternyata truk cuy. Hadeeeh, ada-ada aja. Hahaha.

Ada Bunga Bangkai di Bandealit

Ternyata di Bandealit ada bunga bangkai loh. Kami terheran-heran ketika di tengah perjalanan, ada sebuah pagar yang luas di sisi tebing. Ada penjaganya juga, kayaknya petugas dari TNMB. Pertanyaan saya, mereka menjaga apa ya?

Ternyata mereka menjaga bunga bangkai atau bunga raflesia. Nama latin bunga bangkai di Bandealit adalah Raflessia zollingeriana. Kami gak mampir turun sih. Cukup tahu bahwa di Bandealit ada bunga bangkai yang masih dijaga kelestariannya.

Sumber gambar: http://ksdae.menlhk.go.id/

Hutan Bandealit Isinya Apa Aja?

Saya kurang paham ya, hutan di Bandealit ini masuk jenis hutan apa. Hutan hujan tropis mungkin ya. Cukup lebat sih. Pohonnya heterogen dan tumbuh besar.

Namun di beberapa tempat, pepohonannya diganti sengon. Padahal sengon rentan terhadap erosi. Hadeeh.

Di dalam hutan juga masih ada rumah warga loh! Ini bagaimana warga mendapatkan listrik ya? Juga nggak ada sinyal di sini. Sinyal terakhir adanya di warung terakhir saat kita mampir istirahat di dalam TNMB.

Tiba di Pantai Bandealit

Pukul 1 siang, tibalah kita di Pantai Bandealit. Yeeeey! Wuah begini ya rupanya wujud dari Pantai Bandealit. Hmm cantik sekali...

Banyak keseruan dan kegiatan yang kami lakukan di sini. Kisah selengkapnya tunggu di postingan selanjutnya ya!

Wassalamualaikum wr wb

Posting Komentar untuk "Perjalanan Menuju Pantai Bandealit yang Jalanannya Makadam"